Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 50 - Kencan Versi Zafran


__ADS_3

...༻⊚༺...


Keadaan Ramanda dipastikan akan membaik. Kini Zafran bisa tenang. Ia pulang karena harus melakukan temu janji.


Kebetulan sudah malam minggu. Zafran mempersiapkan kencan versinya. Baik dia dan Lika, sekarang tengah saling bersiap. Zafran menjemput Lika ke rumah.


Tidak perlu menunggu lama, Lika tampak keluar dari gerbang rumahnya. Gadis itu terlihat cantik dalam balutan dress selutut berwarna kuning motif bunga. Lika juga menambahkan jaket berbahan jeans untuk melengkapi penampilan.


Entah kebetulan atau tidak, Zafran juga mengenakan jaket serupa dengan Lika. Keduanya sempat sama-sama terkejut akan hal tersebut.


"Kita nggak janjian pakai jaket jeans kan?" tanya Lika memastikan.


"Enggak. Mungkin ini yang dinamakan jodoh," jawab Zafran sekaligus melemparkan rayuan terselubung.


"Wooo! Gombal!" Lika terkekeh sambil mendorong bahu Zafran. Mereka lantas berangkat ke tempat tujuan.


Hening sempat menyelimuti dalam sekian detik. Lika menjadi orang yang pertama untuk bicara. Dia membicarakan tentang Ramanda. Kebetulan Zafran belum membalas pesannya terkait hal itu. Terutama di bagian perasaan Ramanda terhadap Zafran.


"Oh iya, kau udah tanya perasaan Ramanda? Dia suka sama kamu nggak?" tanya Lika seraya mengaitkan rambut ke daun telinga.


"Enggaklah! Alasan dia sakit aja karena mantan pacarnya. Jadi kau nggak perlu pusingin Ramanda lagi. Fix! Dia cuman menganggapku sebagai sahabat," ujar Zafran. Dia fokus menatap ke depan. Berusaha menyetir dengan hati-hati.


Lika mengangguk tenang. Ia lega mendengar penuturan Zafran. Dengan begitu, dirinya bisa menjalani hubungan tanpa ada gangguan. Terutama dari sahabat dekat Zafran seperti Ramanda.


Zafran membawa Lika ke sebuah mall. Dia baru memakirkan mobil ke tempat parkiran.


"Jadi ini rencana kencannnya? Pergi ke mall? Ini sama aja go publik tahu nggak," imbuh Lika dengan kening yang mengernyit. Tetapi Zafran terlihat santai. Cowok itu mengambil dua topi dan masker yang ada di laci dashboard.


"Pakai ini!" suruh Zafran.


"Aku merasa kayak artis terkenal kalau gini." Lika mengambil topi dan masker yang disodorkan Zafran. Mereka bergegas memakai benda tersebut.


"Udah, jangan banyak bacot." Zafran keluar lebih dulu dari mobil. Di ikuti oleh Lika setelahnya. Mereka berjalan bersama sambil berpegangan tangan.


"Lumayan juga rencanamu. Mau makan atau ngajak aku shopping?" Lika menebak apa yang akan dilakukan Zafran selanjutnya.


"Bukan dua-duanya. Pokoknya jangan lepasin tanganku kalau mau tahu kemana," ucap Zafran. Menyunggingkan mulut membentuk senyuman miring.


Lika mengangkat bahu secara bersamaan. Dia semakin mengencangkan genggaman tangan. Memperhangat kulit serta debaran jantung yang selalu antusias kala bersama sang kekasih.


Zafran menuntun Lika memasuki area bioskop. Kedatangannya langsung disambut oleh beberapa karyawan di sana.

__ADS_1


"Semuanya sudah siap. Kalian bisa masuk sekarang," ujar lelaki yang mengarahkan ke pintu masuk. Dia juga tidak lupa memberikan satu wadah berondong jagung dan dua minuman soda.


Zafran menuntun Lika melangkah. Ketika masuk di ruang bioskop, Lika tidak melihat ada orang lain selain dirinya dan Zafran.


"Gila! Kamu sewa satu bioskop buat kita berdua?" Lika memastikan.


"Kalau udah tahu ngapain tanya?" balas Zafran sembari tergelak kecil. Dia dan Lika segera memilih tempat duduk. Keduanya dalam posisi duduk bersebelahan.


Lika melirik Zafran sambil mengembangkan senyum. Lalu menyandarkan kepala ke pundak cowok itu.


"Ngomong-ngomong kita akan nonton film apa?" tanya Lika.


"Film horor. Kau berani kan?"


"Masuk ke escape room tema horor aja aku berani." Lika menjulurkan lidah. Sengaja mengejek Zafran.


Tidak butuh menunggu lama, film sudah terputar. Lika berhenti menyandar ke pundak Zafran. Dia mulai fokus menonton film.


Berbeda dengan Zafran. Dia justru menontoni Lika. Bahkan saat suasana ruangan telah sepenuhnya gelap sekali pun.


Saat Lika menoleh, Zafran lekas-lekas membuang muka. Berusaha menutupi tindakannya tadi. Dia bahkan segera memakan berondong jagung yang ada dalam wadah.


Lika yang melihat merasa gemas. Dia langsung mencubit pipi Zafran.


"Semua orang tahu kali kalau kau itu cantik. Pokoknya secantik bidadari," goda Zafran.


"Lebay!" Lika memutar bola mata malas. Dia terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Memaklumi rayuan Zafran yang terdengar memalukan. Akibat interaksi tersebut, film yang terputar jadi diabaikan oleh mereka.


"Lah! Malah dibilang lebay. Aku kan serius," tanggap Zafran. Menggerakkan badan menghadap Lika.


"Iya, iya... kita ini mau ngobrol atau nonton sih? Bioskopnya loh yang jadi nontonin kita," ucap Lika. Dia mencoba kembali fokus menonton film.


"Biarin!" Zafran tak acuh. Ia memaksa Lika untuk membalas tatapannya.


"Aku mau lanjutin yang tadi siang bolehkan?" pinta Zafran. Menyinggung perihal ciumannya yang tidak jadi karena kedatangan Pak Surya. Satu tangannya memegangi pelipis Lika.


"Kau ternyata naf*suan juga ya. Aku nggak bisa bayangin kalau kita nikah nanti," cibir Lika.


"Ca elah... bayangannya udah sampai nikah aja. Kalau mau jawabannya, ya harus tiap hari dong!" sahut Zafran.


"Apanya yang tiap hari?" tanya Lika dengan raut wajah polos.

__ADS_1


"Ciumannya dong. Emang apaan? Bwahaha... ternyata pikiranmu mesum juga ya."


"Diam nggak! Aku kan cuman pastiin!" Lika melakukan pembelaan.


"Kalau ngomongin perihal reproduksi, aku ingat itu ada di pelajaran Biologi. Prosesnya--"


Plak!


Lika sengaja memukul mulut Zafran. Menghentikan celotehan yang membuatnya cemas.


"Kalau pelajaran itu kayaknya dihafal banget ya," kritik Lika.


"Iya dong, itu kan penting buat masa depan." Zafran mengulurkan dua tangan ke depan. Berlagak sangat percaya diri.


"Semua pelajaran itu penting untuk masa depan, Zaf."


"Bagiku enggak." Mendengar Zafran berucap begitu, Lika mengangkat tangan ke arah Zafran. Berniat melayangkan pukulan yang lain.


Zafran sigap menghentikan serangan pukulan Lika. Ia malah menggenggam lembut dan mencium tangan itu.


"Zafran..." Lika langsung menarik tangannya. Dia tidak bisa menahan tawa karena menyaksikan tingkah Zafran yang selalu tak terduga.


Lika sudah tidak fokus menonton film. Atensinya dan Zafran hanya tertuju pada satu sama lain.


Zafran tiba-tiba berdiri. Tepat menghadap Lika yang masih duduk. Perlahan dia membungkuk. Lalu melayangkan tatapan elang yang selalu sukses membuat jantung Lika berdegub serampangan.


Seolah tahu maksud Zafran, Lika memejamkan mata. Sedikit mencondongkan mulutnya ke depan.


Zafran mengikik geli. "Dih! Tadi bilang aku naf*suan. Ternyata sendirinya juga," komentarnya.


Wajah Lika sontak memerah padam. Dia lagi-lagi menyerang Zafran dengan pukulan. Kali ini Lika menepuk dada cowok itu. Akan tetapi Zafran hanya tergelak.


"Aku mau pulang! Rencana kencanmu nggak seru. Mau nonton di ajak ngobrol mulu. Sekarang malah halangin pandanganku lagi!" gerutu Lika merajuk. Dia bangkit dari tempat duduk.


"Lucunya ada yang ngambek." Zafran tetap menghalangi jalan Lika.


"Minggir gih! Aku mau ke--" perkataan Lika terhenti, tatkala Zafran mengecup singkat bibirnya.


Lika terkesiap. Zafran segera berkata, "Aku punya ide bagus agar kita bisa sering bertemu di tempat yang aman."


"A-apa?" Lika yang masih terkejut, bertanya dengan tergagap.

__ADS_1


"Kita harus bikin tempat sendiri. Aku akan membeli apartemen," kata Zafran. Menyebabkan mata Lika terbelalak.


__ADS_2