Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 60 - Bertemu Lagi


__ADS_3

...༻⊚༺...


Zara tidak terkejut sama sekali dengan keinginan Zafran. Dia tahu sang putra pasti sangat malu dengan berita yang tersebar.


Usai menyajikan makanan ke meja, Zara duduk ke sebelah Zafran. Raut wajahnya tampak sendu.


"Maafin, Bunda ya... semua ini salah Bunda sama Papah..." tutur Zara lirih.


"Bunda, kenapa tiba-tiba ngomong gitu?" Zafran tidak tega menyaksikan penyesalan Zara. Dia memutar tubuhnya menghadap ibunnya. "Nggak ada yang perlu disesali. Hal yang aku syukuri, aku punya keluarga lengkap sampai sekarang. Harmonis dan sangat berkecukupan. Bunda sama Papah selalu memberi apapun yang kuinginkan," ungkapnya tulus.


Zara terenyuh. Dia sekali lagi membawa Zafran masuk ke dalam pelukan. "Bunda memang beruntung punya anak sepertimu dan Revita. Aku harap kalian tidak akan pernah melakukan kesalahan yang dilakukan Bunda dan Papah dulu," katanya sembari menepuk pelan pundak Zafran. Putranya itu lantas mengangguk dan membalas dekapan.


Di waktu yang sama, bel pertanda pulang sudah berbunyi. Lika sudah menunggu Galih dan kawan-kawan di parkiran. Kebetulan Lika tidak menyuruh sopirnya menjemput. Semuanya karena dia sudah berencana akan pergi menemui Zafran ke rumah.


"Eh, Lik! Sopir lo belum jemput juga? Biasanya jam segini udah," tegur Nadia. Dia datang bersama Chika.


"Gue pulang sendiri hari ini," jawab Lika. Ia tampak tidak fokus. Mencoba mencari kedatangan Galih sejak tadi.


"Kenapa?" tanya Chika.


"Ada urusan." Lika menjawab singkat.


"Urusan apa? Jangan-jangan ini masalah lo sama Zafran lagi?" tebak Chika sambil mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah Lika.


"Enggak. Ya udah, gue harus pergi sekarang!" Lika buru-buru pergi ketika melihat Galih dan kawan-kawan keluar dari gerbang. Mereka akan berkumpul di tempat yang tidak jauh dari lingkungan sekolah.


Ervan menjadi orang yang bertugas menyetir mobil. Dia dan Hendra sudah diberitahu Galih tentang hubungan spesial di antara Lika dan Zafran. Keduanya tentu tidak menduga hal tersebut. Mereka bahkan menampik berulangkali fakta yang diberitahu Galih.


Hingga saat melihat Lika masuk ke mobil, barulah Ervan dan Hendra percaya. Keduanya hanya bisa terpaku menatap Lika. Masih berusaha mencerna kenyataan.


"Tuh kan gue benar. Lika sama Zafran emang pacaran," ujar Galih. Menatap malas Ervan dan Hendra secara bergantian. Dia sedari tadi terus kena pukulan karena disebut memberi kabar burung.


"Itu benar. Jadi gue harap kalian rahasiakan semuanya dari siapapun," imbuh Lika. Dia duduk di kursi belakang bersama Hendra.


"Astaga! Bagaimana bisa lo bisa pacaran sama Zafran?!" Hendra masih merasa syok. Dia bahkan membulatkan mata dalam waktu cukup lama.

__ADS_1


"Gue nggak peduli gimana mereka pacaran. Hal yang paling gue inginkan sekarang adalah mengomeli Zafran! Berani-beraninya dia berlagak jadi orang yang paling benci, tapi malah berakhir memacari Lika," celoteh Ervan seraya melajukan kecepatan mobil.


"Berhati-hatilah!" Lika memperingatkan. Dia, Galih, dan Hendra berpegangan dengan erat.


Ervan terus mengemudikan mobil dengan cara mengebut. Lika yang kesal segera mencengkeram kerah baju cowok itu.


"Satu hal lagi, Van! Kepergian kita menemui Zafran bukan untuk mengomelinya, tapi membujuknya! Kalau lo berani mengomel, maka lo harus hadapi gue dulu!" ancam Lika dengan dahi yang berkerut dalam.


"O-oke Lik. Sorry... gue cuman syok dengar lo pacaran sama Zafran." Ervan tergagap sambil menganggukkan kepala. Dia segera memelankan kecepatan mobil.


Selang sekian menit, Lika dan kawan-kawan tiba di kediaman Zafran. Rencana pertama mereka adalah menyuruh Lika menunggu di mobil. Sedangkan Galih, Ervan, dan Hendra, ketiganya akan bertugas datang ke rumah Zafran.


Bel pintu dipencet oleh Galih. Dia dan dua temannya juga tidak lupa memberi kabar lewat ponsel. Mereka sengaja terlambat memberitahu agar Zafran tidak menghindari Lika.


Pintu dibuka langsung oleh Zafran. Cowok itu memicingkan mata. Memandangi tiga temannya satu per satu.


"Tumben kalian datang bareng. Mencurigakan banget," ujar Zafran yang masih menyelidik.


"Tahu banget sih lo. Ayo ikut kami!" Galih langsung merangkul Zafran. Menyeret cowok tersebut keluar dari rumah.


"Eh, gue mau dibawa kemana?!" protes Zafran tak percaya.


Zafran menurut saja. Dia berjalan sambil terus berpikir. Menduga-duga maksud dari kelakuan Galih dan kawan-lawan. Sampai akhirnya terlintas nama Lika dalam benak.


Dugaan Zafran terbukti saat dirinya dapat melihat keberadaan Lika di mobil. Gadis itu segera keluar dan menghampiri. Terlihat jelas ekspresi penuh penyesalan diwajahnya.


Lika berjalan pelan ke hadapan Zafran. Menyatukan dua tangan ke depan. Sungguh, hanya kata maaf yang ingin di ucapkannya. Namun ketika baru mengangakan mulut, Zafran justru lebih dulu bicara.


"Lo bertiga bisa pulang. Biar gue yang antar Lika pulang," ucap Zafran seraya berbalik badan. Dia berniat mengambil mobil terlebih dahulu.


"Tapi kami..." Ervan yang ingin menyahut, urung melanjutkan. Ia, Galih, dan Hendra perlahan menatap Lika.


"Kalian pulang aja. Ngomong berdua memang lebih baik. Makasih banyak ya!" Lika menepuk pundak Galih, Ervan, dan Hendra secara bergantian. Kemudian menyuruh ketiganya untuk segera masuk ke mobil.


"Sekarang gue paham kenapa lo sama Zafran bisa jadian. Sikap kalian mirip banget tahu nggak," tukas Galih. Dia masuk ke mobil dengan mimik wajah merengut.

__ADS_1


"Daaah..." Lika tak peduli dengan kritikan Galih. Dia melambaikan tangan dan tersenyum tipis.


Galih dan kawan-kawan lantas pergi. Selanjutnya, barulah Zafran muncul dengan mobil. Lika yang mengerti langsung masuk ke dalam mobil. Sengaja duduk di samping Zafran.


Hening menyelimuti suasana. Lika terus berusaha mencuri pandang ke arah Zafran. Dia hendak memulai pembicaraan. Tetapi saat cewek itu siap bicara, Zafran lagi-lagi bersuara lebih dulu.


"Bicaranya nanti aja kalau udah sampai," cetus Zafran dengan nada datar. Bahkan tanpa ada sedikit pun senyuman di wajahnya.


Lika tertunduk sedih. Sikap Zafran sangat dingin. Cowok itu tidak pernah bersikap begitu sebelumnya. Bahkan saat belum pacaran.


"Aku benar-benar minta maaf dengan semua yang sudah terjadi, Zaf. Aku juga minta maaf atas nama tante Selia," ungkap Lika. Matanya tampak berkaca-kaca. Akan tetapi Zafran tidak menggubris sama sekali.


Lika mengamati Zafran dari samping. Namun kekasihnya tersebut masih saja tak peduli. Zafran sangat fokus melihat ke depan.


"Maafin aku, Zaf... pliss... Zafran... hiks..." Lika akhirnya menangis. Dia menarik-narik ujung kaos baju Zafran. Berharap segera mendapat tanggapan. Lika berniat tak akan berhenti sebelum Zafran menjawab.


"Zafran... jawab dong. Jangan gini... kita tuh masih sekolah, kenapa kamu jadi serius banget?" seru Lika.


Zafran mendengus kasar. Karena Lika terus merengek, dia akhirnya menghentikan mobil ke tepi jalan. Lalu menoleh ke arah Lika.


"Aku serius karena tantemu udah menghina keluargaku." Zafran bicara pelan namun penuh penekanan.


"Kalau begitu, harusnya kamu nggak perlu kasih tahu hubungan kita secara terang-terangan. Andai kamu nggak gitu, hubungan kita pasti akan baik-baik aja sampai sekarang!" balas Lika.


Zafran tercengang. "Oh, jadi maksudmu semua masalah yang terjadi itu salah aku?!"


"Bukan gitu, Zaf. Aku cuman pengen kau lebih hati-hati kalau mau melakukan sesuatu." Nada suara Lika memelan. Sebab dia tidak mau melihat Zafran tambah marah.


Zafran membuang muka. Dia menghentakkan punggung ke sandaran kursi.


"Kita mending bicara sambil minum." Zafran sengaja merubah topik pembicaraan. Dia kembali menjalankan mobil.


..._____...


Catatan Author :

__ADS_1


Harusnya bab 60 udah tamat. Tapi karena keterusan nulis jadi kayaknya sekitar dua atau tiga bab lagi ya...


Oh iya, nanti di bab terakhir bakal ada kejutan. Semoga betah terus ya...


__ADS_2