
...༻⊚༺...
Karena menangis, wajah Lika jadi sembab. Ia harus membasuh wajahnya berulang kali. Lika segera keluar setelah memastikan penampilannya membaik.
Di waktu yang sama, Zafran mendatangi Ramanda. Dia memberikan selamat atas kemenangan sahabatnya itu.
"Lo hebat banget," puji Zafran.
"Makasih... tapi lo kok malah dukung gue? Padahal tadi saingan gue dari sekolah lo." Ramanda menuntut jawaban.
Lidah Zafran berdecak. Tangannya mencubit gemas pipi Ramanda. "Ya iyalah gue dukung lo. Gue kan setia kawan, nggak kayak elo!" tukasnya.
"Iihh... gue juga setia kawan kali! Gue bakalan dukung, pas lo tanding nanti. Pokoknya gue akan duduk di garda kursi terdepan," sahut Ramanda yang terkesan seperti melantunkan janji.
"Awas aja kalau bohong." Zafran mengusap puncak kepala Ramanda. Keduanya saling bertukar pandang sejenak. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena ponsel Ramanda tiba-tiba berdering.
Panggilan telepon dari Rian diterima oleh Ramanda. Gadis itu memberitahukan kemenangannya dengan penuh semangat.
Mimik wajah Zafran seketika berubah. Dia menampakkan ketidaksukaannya terhadap gangguan Rian. Meskipun begitu, Zafran tetap berdiri di dekat Ramanda. Baginya yang terpenting, Rian tidak ada. Sambil menunggu Ramanda selesai menelepon, Zafran menyibukkan diri dengan bermain ponsel.
"Zaf! Ada kabar baik!" Ramanda mendadak berseru.
"Iya?" Zafran mengernyitkan kening.
"Rian katanya mau ke Bali juga. Dia baru berangkat hari ini sama keluarganya," ungkap Ramanda yang tidak bisa membendung rasa bahagia.
Ekspresi Zafran semakin suram. Ia menyembunyikannya dengan cara membuang muka. "Terus?" tanya-nya, ingin melihat respon Ramanda lebih lanjut.
"Ya gue senang dong. Kita bisa liburan bareng di pantai Kuta. Pasti seru!" ujar Ramanda.
Zafran mengangguk lemas. Suasana hatinya berubah jadi buruk. Dia akhirnya memutuskan kembali bergabung bersama rombongan sekolahnya. Memisah dari Ramanda yang terlihat terus bertukar pesan dengan Rian.
Zafran dan kawan-kawan kembali ke hotel. Kebetulan Pak Surya menyewa bus berukuran sedang untuk rombongan.
Lika memilih duduk sendirian di belakang. Semenjak menerima kekalahan, kepalanya terus tertunduk.
Zafran yang duduk di depan, juga menunjukkan wajah sendu. Dia membisu sambil menatap kosong keluar jendela.
__ADS_1
Keyla menyadari persamaan sikap Zafran dan Lika. Dia segera menggosip bersama Ayu.
"Eh, tumben banget pada diam ya?" cetus Keyla.
"Mereka udah capek kali. Tapi kok kesannya kayak putus cinta sih," tanggap Ayu seraya memperhatikan Lika dan Zafran secara bergantian.
"Bagus deh. Ini lebih baik dari pada mereka berantem terus," ucap Keyla dengan nada pelan.
Selepas beberapa menit, bus tiba di hotel. Sebagian besar rombongan pergi ke kamar masing-masing. Tidak seperti yang lain, Lika tidak langsung ke kamar. Ia lebih memilih pergi mencari makanan sendirian.
Lika mendatangi sebuah mini market dan menyeduh mie cup di sana. Dia juga tidak lupa membeli dua kaleng soda. Cewek itu memang terbiasa melakukan pelarian dengan cara begitu. Mie cup dan soda adalah penghilang stress bagi Lika.
"Aaaarrgg..." Lika bersendawa beberapa kali. Dia sudah menghabiskan mie dan satu kaleng soda.
Kini Lika bisa mendengus lega. Dia segera memberitahukan kabarnya kepada Selia.
"Lika, gimana lomba tadi?" sambut Selia dari seberang telepon.
"Maaf ya, Tante... aku nggak menang kali ini. Aku cuman dapat juara dua..." Lika lagi-lagi menangis. Dia takut Selia akan teramat kecewa kepadanya.
"Iya, Tante..." Selia mengangguk dan mengakhiri telepon. Jujur saja, dia masih rada sedih. Lika berjalan gontai kembali ke hotel. Gadis itu melangkah memasuki lift dan memencet tombol angka dua puluh.
Lika masih belum berminat kembali ke kamar. Dia ingin mencari udara segar di balkon atap. Di tangannya masih ada satu kaleng soda yang belum diminum.
Ketika tiba di balkon atap, Lika melihat Zafran sudah ada di sana. Cowok itu berdiri sambil menyesap rokok.
"Ini pasti adalah perayaan buat lo kan? Puas lo, lihat gue kalah?" imbuh Lika. Membuat Zafran menengok ke belakang.
"Banget. Tapi gue lagi nggak mood ngomong sama lo sekarang!" Zafran kembali menatap ke depan. Berlagak benar-benar mengabaikan Lika.
"Gue mau sendiri. Lagian lo kayaknya udah lama di sini, pergi gih!" usir Lika ketus.
"Tempat ini luas kali! Sana ke ujung aja tuh." Zafran enggan beranjak.
Lika mendengus kasar. Dia melangkah cepat ke arah berlawanan yang ditunjukkan Zafran tadi. Lika memilih berdiri ke depan pagar pembatas balkon. Ia segera meminum soda yang dibawanya.
Hening menyelimuti suasana. Zafran dan Lika diam dan mematung di tempatnya masing-masing. Menatap pemandangan kota Denpasar serta hamparan laut di ujung cakrawala.
__ADS_1
Rokok Zafran telah habis. Dia mematikan rokok itu dan membuangnya. Sekarang Zafran memasukkan tangan ke saku celana. Kebetulan dia mengenakan kemeja motif kotak-kotak saat itu.
"Aaaarg..." sendawa nyaring Lika memecah kesunyian.
Zafran sontak tergelak geli. Itu terdengar sangat lucu baginya. Lama-kelamaan Zafran tertawa sampai terpingkal-pingkal. Suara sendawa Lika sangat menghibur. Baru kali ini dia mendengar cewek tidak malu memperdengarkan sendawanya. Ramanda saja selalu jaga sikap saat di depannya. Tetapi Lika?
"Diam lo! Pergi sana!" geram Lika yang dapat mendengar tawa pecah Zafran.
"Lo terdengar laki banget. Bwahahaha..." ujar Zafran sambil berderap ke arah pintu. Nampaknya dia sudah puas meratapi kesedihan.
Zafran lebih memilih lewat tangga dibanding lift. Dia juga ingin sekalian olahraga. Zafran memang gemar membuat tubuhnya bergerak aktif.
Kaki Zafran melangkah laju menuruni tangga. Awalnya semua berjalan lancar. Hingga sesuatu yang licin menyebabkan Zafran terjatuh. Tubuh lelaki itu terjerembab ke lantai pembatas tangga. Untung saja Zafran tidak terjatuh dari tangga yang tinggi.
Sekarang Zafran merintih di lantai 19. Perlahan dia berdiri dan mencoba berjalan. Akan tetapi Zafran tidak mampu, karena kaki kanannya terasa sangat sakit.
"Aaakh..." erang Zafran. Dia hampir tidak bisa menggerakkan kaki kanannya. Zafran lantas mengambil ponsel dari saku celana. Ia langsung berdecak kesal ketika menyaksikan ponselnya sudah kehabisan baterai.
Sekali lagi Zafran memaksakan diri untuk berjalan. Namun tetap saja tidak bisa. Rasa sakit di kakinya justru tambah parah.
Zafran kebingungan. Terlebih dia ada di jalur tangga darurat sekarang. Tentu dirinya tidak akan menemukan orang lain di sana.
Sebuah ide terlintas dalam benak Zafran. Dia mengingat Lika yang kemungkinan masih ada di balkon atap.
'Haruskah gue minta tolong sama dia? Tapi kalau nggak, gue bakalan tidur di sini semalaman. Setidaknya sampai ada tukang bersih atau pihak keamanan yang lewat,' batin Zafran dengan mimik wajah cemas.
'Panggil nggak ya? Aduh... kenapa harus Lika coba.' Zafran lanjut mengeluh dalam hati.
Zafran menghela nafas panjang. Memanggil Lika memang adalah satu-satunya jalan. Dia juga takut gadis itu terlanjur pergi.
'Sialan! Gue nggak punya pilihan.' Zafran sudah membuat keputusan. Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dan berteriak, "Likaaaaa!!!"
..._____...
Catatan Author :
Siapa yang mau triple up? 😆
__ADS_1