
...༻⊚༺...
Jam pulang sekolah sudah tiba. Seperti biasa, Lika selalu menunggu jemputannya terlebih dahulu.
Mengingat Ari terus mengejar, Lika sengaja bersembunyi ke parkiran. Dia mencoba menghindari cowok itu sebisa mungkin.
Lika menyandar ke tiang. Menampakkan raut wajah sayu nan lelah. Tenaganya memang sudah terkuras habis untuk kegiatan sekolah.
Atensi Lika mendadak teralih ke arah Zafran. Cowok itu tampak berjalan menuju mobilnya. Dengan gaya rambut acak-acakan serta seragam putih yang tidak dimasukkan ke celana, ketampanan Zafran masih tetap memancar.
Lika mencoba mengabaikan. Jantungnya selalu tidak tenang saat melihat Zafran. Bahkan saat menyaksikan cowok tersebut dari kejauhan.
"Zafran!" suara panggilan Jia mengharuskan Lika kembali menoleh. Dia melihat gadis itu berlari menghampiri Zafran.
Lika segera menyembunyikan diri. Berharap keberadaannya tidak diketahui oleh Zafran dan Jia. Meskipun begitu, telinganya mampu mendengarkan. Sebab jarak Zafran dan Jia tidak begitu jauh dari tempat persembunyian Lika.
"Maaf ganggu ya. Sebelumnya kenalin, nama gue Jia. Baru aja masuk ke sekolah hari ini," ungkap Jia sambil menyatukan dua tangannya dengan sopan.
"Oh, jadi lo anak baru itu? Tapi kayaknya lo udah tahu nama gue." Zafran merespon dengan mimik wajah datar.
"Iya. Kemunculan lo di kelas tadi menarik perhatian banget tahu nggak," sahut Jia. Dia tidak berhenti memandang lekat Zafran.
"Lo emang ada di kelas mana?" Zafran penasaran.
"Kelas 11 MIPA 1. Gue lihat lo nyamperin Lika tadi," jawab Jia.
"Ah iya, gue tadi memang mau ngasih tahu cewek itu sesuatu. Makanya terpaksa datang ke sana." Zafran memberikan alasan walau tidak ditanya. "Jadi lo satu kelas sama Lika?" tanya-nya, melanjutkan.
Jia mengangguk dan tersenyum. Lesung pipitnya yang kecil terukir di dekat sudut bibir. "Lo punya hubungan apa sih sama Lika? Tadi kayak dekat banget. Tapi pas gue tanya ke teman-teman lain, katanya kalian musuhan. Aneh banget," ucapnya.
Zafran melambaikan tangan ke depan wajah. Seakan menepis anggapan salah dari Jia. "Yang terakhir itu yang benar! Gue dan Lika udah musuhan dari kecil. Tolong jangan bicarain tentang dia terus pas sama gue," balasnya tegas.
__ADS_1
"Bagus deh. Kita satu hati kalau gitu." Jia tersenyum manis.
"Maksudnya?" Zafran tak mengerti.
"Menganggap Lika musuh. Gue juga gitu kok. Dia akan jadi saingan berat buat dapetin nilai akademik. Setelah apa yang terjadi tadi, gue berniat nggak mau kalah." Jia tampak bertekad. Zafran yang awalnya tidak begitu tertarik, akhirnya mengembangkan senyuman tipis.
"Emang tadi dia apain lo?" tanya Zafran. Tanpa sadar, obrolannya dengan Jia terus berlanjut. Padahal selama ini dia tidak pernah menanggapi gadis-gadis yang mengajaknya bicara. Kemungkinan rasa tertarik Zafran dikarenakan Jia berada satu kelas dengan Lika.
"Dia satu-satunya dapat nilai seratus di kelas. Padahal gue dikit lagi ngalahin dia. Gue dapat nilai sembilan puluh sembilan tahu nggak! Beda tipis banget kan?"
"Itu wajar untuk hari pertama lo. Kan masih banyak hari-hari lain," tanggap Zafran.
Jia tersenyum senang. Dia lega mendengar kalimat penenang dari Zafran.
"Ternyata lo nggak sedingin yang orang bilang ya. Oh iya! Gue mau ngundang lo ke pesta ulang tahun gue lusa malam nanti." Jia mengambil selembar kertas dari ransel. Lalu menyodorkannya kepada Zafran.
"Makasih, tapi gue nggak janji akan datang." Zafran mengambil kertas undangan dari Jia.
Kini yang tertinggal hanya Lika. Gadis itu masih berdiri di balik tiang. Memasang ekspresi cemberut karena merasa kesal.
"Jantung! Lo nggak pantes berdebar-debar sama cowok kampret itu! Dasar gila!" gerutu Lika kepada organ tubuhnya sendiri. Kakinya menghentak sebal.
Tak lama kemudian, mobil jemputan datang. Lika bergegas masuk, tepat sebelum Ari sempat menemukannya.
Keesokan harinya, undangan ulang tahun Jia menjadi berita hangat di sekolah. Bagaimana tidak? Semua orang di sekolah di undang olehnya. Termasuk Lika sendiri. Akibat hal itu, sosok Jia semakin disukai banyak orang.
Hal yang menarik perhatian adalah, Jia bisa dekat dengan Zafran sangat cepat. Keduanya bahkan makan bersama beberapa teman masing-masing. Banyak yang sudah beranggapan kalau Zafran dan Jia sedang ada di tahap pendekatan.
"Orang ganteng demennya sama orang cantik juga ya. Kroco-kroco kayak kita bukan apa-apa," ucap Chika sambil menopang dagu dengan satu tangan. Menatap malas ke arah Zafran dan Jia.
"Kalau Jia jadi pacar Zafran, gue jamin mereka bakalan jadi pasangan cetar di sekolah. Iyakan?" tanggap Nadia sembari mendengus kasar.
__ADS_1
Lika yang sejak tadi sudah panas melihat kedekatan Zafran dan Jia, jadi tambah kesal. Dia mengepalkan tinju di kedua tangan dalam keadaan wajah memerah padam. Kepalanya seolah akan meledak.
Bruk!
Lika memukul meja cukup keras. "Kalian berdua bisa berhenti ngomongin mereka nggak sih?! Gue muak tahu nggak!" geramnya seraya bangkit dari tempat duduk. Kemudian melangkah laju meninggalkan area kantin. Tindakan Lika sukses menarik perhatian banyak pasang mata.
"Lika!" Ari yang menyaksikan buru-buru mengejar. Ia belum menyerah dengan perasaannya terhadap gadis itu. Parahnya Ari selalu saja membawakan sesuatu untuk Lika. Sekarang saja dia memegang setangkai mawar merah di tangannya.
Zafran melirik selintas ke arah Lika dan Ari. Terlintas dalam bayangannya apa yang dilakukan Lika dan Ari di belakang sekolah. Entah kenapa itu terus mengganggunya.
Zafran berusaha mengabaikan tentang Lika dan Ari dengan cara mengobrol. Namun tetap saja, hatinya merasa tidak enak. Dia penasaran terhadap apa yang dilakukan Lika dan Ari. Zafran bahkan menggedik-gedikkan kakinya karena merasa gelisah.
"Gue mau ke toilet!" akibat tidak bisa menahan rasa penasaran, Zafran akhirnya menyusul Lika dan Ari.
...***...
Lika berlari memasuki toilet. Sebelum masuk, dia berbalik badan sejenak. Melotot tajam ke arah Ari yang nyaris menggapai posisinya.
"Lo bisa berhenti nggak?! Gue udah nggak tahan sama obsesi lo tahu nggak!" timpal Lika. Masih dalam keadaan wajah yang memerah marah.
Mendengar pengusiran Lika, Ari perlahan menundukkan kepala. Dia tidak mengatakan apapun dan beranjak pergi. Sedangkan di balik dinding, ada Zafran yang sempat menguping semua perkataan Lika. Cowok itu malah tersenyum puas.
Sementara di dalam toilet, Lika menangis tersedu-sedu. Kedekatan Zafran dan Jia terus menghantui kepalanya. Sungguh, dia sudah tidak tahan memendam perasaannya terus-menerus.
"Gue nggak kuat lagi..." gumam Lika seraya menatap cermin dengan penuh tekad. Ia segera berderap keluar toilet. Saat itulah Lika melihat kehadiran Zafran. Cowok itu bersikap seakan-akan hendak ke toilet. Padahal kenyataannya dia sedari tadi menunggu Lika muncul.
"Muka lo kenapa coba?! Kasihan..." Zafran berdecak sambil geleng-geleng kepala. Ia memasukkan dua tangan ke saku celana. Berdiri sekitar tiga meter dari posisi Lika.
"Lo habis putus dari..." perkataan Zafran terjeda, tatkala Lika tiba-tiba mendekat. Gadis itu menarik kerah baju Zafran. Lalu menempelkan bibirnya ke mulut cowok tersebut.
Mata Zafran membulat sempurna. Jantungnya berdentum bagaikan gendang yang ditabuh cepat. Dia juga merasakan sesuatu yang menggelitik tajam di perut. Zafran tidak bisa membantah kalau ciuman Lika adalah sesuatu yang sudah lama dirinya nantikan.
__ADS_1
Lika hanya sekedar menempelkan bibir ke mulut Zafran. Itu bahkan tidak berlangsung lama. Puas bertindak nekat, dia mundur satu langkah dari Zafran. Menutup rapat matanya dan berkata, "Sial! Gue jatuh cinta sama lo!"