Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 49 - Kabar Ramanda


__ADS_3

...༻⊚༺...


Zafran lebih dulu menghampiri Pak Surya. Langsung duduk bersimpuh ke lantai.


"Bapak itu guru favoritku di sekolah ini. Plis maafin kelakuanku sama Lika, Pak..." Zafran menyatukan telapak tangan. Memasang mimik wajah memelas.


"Iya, Pak. Aku sama Zafran nggak akan berduaan lagi." Lika ikut berlari ke hadapan Pak Surya. Bedanya dia berdiri sembari mengatupkan dua tangan.


Pak Surya menatap selidik Zafran dan Lika secara bergantian. "Apa kalian pacaran?" tanya-nya.


Zafran dan Lika saling bertukar pandang sejenak. Keduanya tentu tidak bisa berkutik. Terlebih Pak Surya sudah melihat apa yang mereka lakukan tadi. Meskipun begitu, Zafran berniat memastikan.


"Ngomong-ngomong... Bapak sejak kapan lihat kami berduaan di sini?" Zafran bertanya baik-baik.


"Sejak Lika senyum-senyum karena dicium sama kamu," jawab Pak Surya blak-blakkan. Membuat kepala Zafran dan Lika langsung tertunduk. Keduanya tentu merasa sangat malu.


"Pak Surya, aku mohon. Rahasiakan hubungan kami... Bapak tahu kalau keluargaku dan keluarganya Zafran musuh bebuyutan. Andai mereka tahu kami begini, masalahnya pasti akan tambah besar," mohon Lika.


"Benar, Pak. Aku sama Lika nggak masalah dihukum. Asal hubungan kami tetap dirahasiakan. Kami juga janji, nggak akan berbuat begitu lagi di sekolah. Kasih kesempatan buat kami, Pak." Zafran memohon sekali lagi. Dia memberanikan diri mendongakkan kepala. Menatap penuh harap ke arah sang guru.


"Kalian memang aneh," komentar Pak Surya sembari geleng-geleng kepala. Dia terdiam sejenak. Memakan waktu cukup lama untuk berpikir.


"Baiklah! Aku akan beri kalian kesempatan. Tapi bukan berarti kalian lepas dari hukuman! Jangan mojok berduaan lagi kayak tadi! Kalian pikir sekolah itu tempat buat pacaran?!" kata Pak Surya sekaligus menimpali. "Ingat! Bapak melakukan ini karena kalian merupakan murid berprestasi di sekolah. Bukan karena status sosial kalian!" tegasnya meneruskan.


Zafran dan Lika terdiam. Jauh dari lubuk hati, mereka sama-sama senang dengan keputusan Pak Surya.


"Makasih, Pak! Udah kasih kami kesempatan," ungkap Zafran bersungguh-sungguh. Dia membungkukkan badannya sekitar dua kali.

__ADS_1


"Sebagai hukuman, aku akan kasih kalian poin. Terus, kalian dilarang berduaan di tempat sepi. Kalau nanti aku berhasil memergoki kalian berduaan lagi, jangan harap aku akan kasih kesempatan untuk kali kedua!" Pak Surya mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah.


"Makasih ya, Pak... kami janji nggak akan mengulang kesalahan yang sama," ucap Lika. Untuk sementara, masalahnya dan Zafran teratasi.


"Lika! Sebaiknya kamu pergi!" perintah Pak Surya. "Dan Zafran, kau buang sampah ini ke belakang. Setelah itu ikut Bapak! Ada yang harus kita bicarakan terkait latihan karate hari ini," lanjutnya yang sekarang bicara kepada Zafran.


Semenjak itu, Zafran dan Lika semakin sulit bertemu di sekolah. Keduanya hanya bisa berkomunikasi lewat ponsel.


Tidak terasa waktu berlalu. Bel pertanda pulang telah berbunyi. Kini Zafran baru saja sampai di rumah sakit. Ia ingin memastikan keadaan Ramanda.


Zafran menyaksikan Ramanda duduk dengan balutan infus. Gadis itu sibuk menulis sesuatu di buku.


"Kayaknya udah mendingan nih." Kedatangan Zafran sukses membuat Ramanda kaget. Cewek itu langsung menutup buku yang sedari tadi dituliskan sesuatu.


"Zafran!" Ramanda mengerutkan dahi. Wajah masamnya berubah ketika melihat Zafran membawakan es krim rasa permen karet. Kebetulan es krim itu adalah rasa favorit Ramanda.


"Lo bikin kaget tahu nggak!" timpal Ramanda. Meskipun begitu, tangannya segera meraih kotak berisi es krim pemberian Zafran.


"Aw!" Zafran hanya bisa mengerang kesakitan. "Tenaga lo lumayan juga ya pas sakit," komentarnya sambil mengepikkan tangan yang terpukul.


Zafran merebut kembali es krim bawaannya. Kemudian membuka tutup wadah es krim itu. Ia berinisiatif menyuapi Ramanda.


Perlahan es krim yang disendok Zafran diarahkan ke mulut Ramanda. Akan tetapi gadis tersebut tidak membuka mulut.


"Udah, nanti kalau Lika tahu, dia pasti marah." Ramanda mengambil sendok dan es krim yang dipegang Zafran. Dia memilih menyuapi dirinya sendiri.


"Maksud lo?" Zafran gugup dengan penukasan Ramanda barusan.

__ADS_1


"Gue lihat apa yang lo lakukan sama Lika pas keluar dari escape room," jelas Ramanda. Tanpa menoleh ke arah Zafran. Dia yang menyukai Zafran, tentu merasa berat membicarakan hal itu.


Mulut Zafran sedikit menganga. Dia mengusap kasar wajahnya. Hari ini Zafran menemukan dua orang orang yang sudah tahu hubungan dirinya dan Lika.


"Ra, jangan bilang sama bokap nyokap gue ya. Lo tahu kan kalau--"


"Ya enggaklah! Gue tahu keluarga lo gimana. Apalagi kakek lo yang super tegas itu. Yang gue cemasin itu justru hubungan lo sama Lika ke depannya. Pasti akan sulit kan?" Ramanda memotong perkataan Zafran. Sebagai sahabat yang mengenal sejak kecil, dia tentu tahu bagaimana keluarga Laksana.


Lidah Zafran berdecak kesal. "Gue nggak tahu. Gue sama Lika mau jalanin aja dulu. Lagian kita masih sekolah, mau fokus sama masa depan dulu," terangnya.


"Gue senang lo akhirnya punya pacar. Gila lo ya! Pas gue bertekad pengen jomblo, malah lo yang punya pacar." Ramanda mendorong sebal bahu Zafran. Tanpa sadar, dia keceplosan. Menyebabkan Zafran melayangkan tatapan heran.


"Jomblo? Bukannya lo udah balikan sama Rian?" selidik Zafran.


Ramanda lekas membuang muka. Dia reflek menutup mulutnya yang cerocos tanpa berpikir dahulu. "Gue..." belum sempat menjelaskan, Elsa datang dari balik pintu. Ibu kandung Ramanda itu membawakan buah-buahan.


"Eh, ada Zafran." Elsa menegur sembari mengamati apa yang dilakukan anaknya dan Zafran. Dia tersenyum saat melihat Ramanda menyuap makanan ke mulut.


"Akhirnya Ramanda mau makan. Jujur ya, Zaf. Alasan Ramanda dibawa ke rumah sakit tuh karena dia nggak mau makan selama hampir dua hari. Dia nggak mau makan kalau tangan dan kakinya tidak dipegangi," ujar Elsa memberitahu.


"Mamah!" protes Ramanda yang merasa aibnya dikuak secara gamblang.


"Yang benar, Tante?" Zafran menanggapi dengan serius. Dia langsung mendelik ke arah Ramanda.


"Kenapa lo bisa nggak makan selama hampir dua hari, hah?!" timpal Zafran.


Ramanda mendengus kasar. "Lo tahu lah semuanya karena siapa..." ujarnya lirih.

__ADS_1


Zafran yang mengerti segera berbisik, "Pasti karena Rian kan?"


Ramanda mengangguk. Padahal dalam hatinya berkata, 'Semuanya karena lo, Zaf."


__ADS_2