
...༻⊚༺...
"Kamu kenapa, Zaf?" Zara tentu cemas melihat raut wajah putranya yang memerah padam. Dia segera melangkah cepat menghampiri. "Kamu baik-baik saja kan?" ucapnya lagi.
Zafran mundur satu langkah menjauhi Zara. Lalu mengambil ponsel dari saku celana. Ia menunjukkan video dan berita yang sudah tersebar tentang dirinya.
Gamal otomatis mendekat. Kini dia dan Zara menyaksikan apa yang telah dilakukan Selia terhadap Zafran.
"Wanita itu..." Gamal menggertakkan giginya. Ia segera beranjak pergi entah kemana. Yang jelas Gamal tampak melenggang melalui pintu keluar.
Berbeda dengan Zara. Dia lebih fokus menenangkan Zafran. Tangannya perlahan membawa sang putra masuk ke dalam pelukan.
"Nggak ada yang namanya anak haram! Kamu itu justru anak Bunda yang paling berharga. Buah hati Bunda sama Papah yang pertama. Jangan dengarkan--"
"Itu anggapan Bunda sama Papah! Tapi orang lain enggak!" Zafran melepas dekapan Zara. Dia memotong perkataan Zara yang belum selesai. Setelah itu, Zafran berlari memasuki kamar.
"Zafran..." Zara memanggil pelan. Dia mengikuti putranya dari belakang.
Ketika sudah tiba di depan kamar Zafran, Zara tidak bisa membuka pintu. Ia lantas hanya bisa mengetuk dan bicara dengan lembut. Berusaha mengajak Zafran mengobrol baik-baik.
"Zaf... bicaralah sama Bunda. Jangan memendam masalahnya sendiri. Nggak baik sayang..." ujar Zara. Ia menatap nanar pintu bercatkan putih di hadapannya.
Zafran tidak menjawab. Dia sedang tidak berniat menanggapi perkataan Zara. Sekarang cowok itu duduk di lantai. Dalam posisi menyandar ke tempat tidur. Zafran duduk dengan cara melipat salah satu kaki kirinya. Membiarkan kaki kanannya berselonjor tenang.
Sebatang rokok dinyalakan Zafran. Pikiran yang runyam membuatnya tidak berpikir dua kali untuk menikmati suguhan berbahan tembakau tersebut.
Di depan pintu kamar masih ada Zara. Dia berdiri di sana cukup lama. Berharap sang putra baik-baik saja. Namun penciumannya justru disambut dengan bau asap rokok.
Zara mendengus kasar. Sebagai mantan perokok, dia tidak tahu harus bagaimana menasehati Zafran. Apalagi putranya itu sedang mengalami kekalutan.
Tangan Zara mengusap satu kali parasnya yang cantik. Dia berjalan menuruni tangga sambil berpikir untuk mencari cara agar bisa mengajak Zafran bicara. Zara tidak akan membiarkan anak sulungnya tersebut depresi sendirian. Satu hal yang pasti, Zara tak akan membiarkan Zafran seperti dirinya dulu.
Hingga terlintas nama seseorang di kepala Zara. Nama yang memiliki kemungkinan besar bisa mengajak Zafran bicara. Siapa lagi kalau bukan Ramanda. Mengingat gadis itu sudah mengenal Zafran sejak kecil.
__ADS_1
Zara lantas menghubungi Ramanda. Menyuruh gadis tersebut untuk datang ke rumah. Zara juga tidak lupa memberitahu masalah yang sedang di alami Zafran.
"Aku sudah tahu, Tante. Beberapa saat lalu aku melihat video tentang Zafran dari grup pertemanan." Ramanda bicara melalui telepon. Ternyata dia sudah dalam perjalanan ke rumah Zafran.
"Benarkah? Ya sudah kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Ra..." sahut Zara terenyuh.
Sementara di kamar, Zafran masih belum beranjak dari posisinya tadi. Rokok yang dia hisap juga belum habis. Cowok itu menghisapnya lebih lambat.
Kecamuk di kepala Zafran tidak hanya memikirkan Lika. Tetapi juga bagaimana masa lalu kedua orang tuanya. Gambaran tentang ayah tirinya yang seorang preman juga masih tergambar jelas dalam memori.
Tok...
Tok...
"Zaf? Lo nggak tidur kan? Ini gue Ramanda. Gue boleh masuk nggak?" ucap Ramanda sembari mengetuk pintu dengan pelan.
"Lo bareng nyokap gue?" tanggap Zafran. Mendelik ke arah pintu yang terututup rapat.
"Gue sendiri. Nyokap lo ada di bawah bareng Revita." Ramanda menyahut sembari menoleh ke arah Zara. Memberikan kode agar ibu kandungnya Zafran tersebut pergi.
Ceklek!
Pintu akhirnya dibuka oleh Zafran. Dia membiarkan Ramanda masuk. Bau asap rokok sontak tercium kemana-mana.
"Zafran! Lo merokok lagi?" Ramanda reflek menutup hidung beserta mulut.
"Lo kalau mau marah-marah, mending pulang aja." Zafran memutar bola mata sebal. Dia segera menutup pintu.
"Enggak! Bukan gitu." Ramanda lekas menghentikan. Hingga pintu urung ditutup oleh Zafran.
Ramanda tersenyum tipis. Ia masuk ke dalam kamar. Zafran otomatis langsung menutup pintu.
Zara yang melihat nyaris berteriak. Tetapi tangannya sigap membekap mulut sendiri. Dia berusaha tenang sambil mengelus dada berulang kali.
__ADS_1
"Aku harus percaya sama mereka. Zafran dan Ramanda pasti nggak akan berbuat aneh-aneh di kamar kan?" gumam Zara seraya menggigit bibir bawahnya. Dia ingin beranjak, namun tidak jadi. Zara memutuskan menguping pembicaraan Zafran dan Ramanda di depan pintu.
...***...
Usai masuk ke kamar Zafran, Ramanda langsung mematikan pendingin ruangan. Kemudian membuka jendela kamar lebar-lebar.
"Harusnya kalau mau merokok, jendelanya dibuka dulu. Dan jangan lupa matikan AC-nya juga," kata Ramanda sekaligus menasehati.
Zafran hanya diam. Dia terlihat berdiri menyandar ke dinding dekat jendela. Menyesap rokok sambil menatap keluar.
"Sekarang apa yang lo khawatirkan? Tentang perkataan tantenya Lika atau hubungan lo sama Lika?" tanya Ramanda. Dia berada tidak jauh dari Zafran. Berdiri sambil melipat dua tangan di depan dada.
Zafran tetap diam. Masalah yang dia pikirkan sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Segalanya begitu rumit.
Rokok Zafran telah habis. Dia mematikan, lalu membuangnya keluar jendela. Zafran segera memutar tubuhnya menghadap Ramanda.
"Semua orang bicarain tentang perselingkuhan yang dilakukan bokap dan nyokap gue, Ra. Gue..." mata Zafran tampak berkaca-kaca. Dia berusaha keras menahan tangis. Sebagai seorang lelaki, menangis tentu adalah hal yang sangat memalukan. Terlebih ada Ramanda di hadapannya.
"Gue..." Zafran ingin melanjutkan ucapannya, tetapi masih tidak sanggup.
"Udah, Zaf... lo kalau mau nangis, nangis aja. Gue ngerti apa yang lo rasakan..." Ramanda segera memeluk Zafran. Mengusap pelan punggung sahabatnya tersebut.
"Keluarkan semuanya, Zaf. Gue nggak permasalahkan cowok yang nangis kok," ucap Ramanda.
Dua tangan Zafran perlahan melingkar ke pinggang Ramanda. Ia menenggelamkan wajah ke pundak gadis itu. Kemudian memecahkan tangis sakit hatinya.
"Ngomong-ngomong... kita senasib kok. Gue sama lo adalah hasil anak di luar nikah. Tapi di sini gue cuman mau bilang... bokap sama nyokap lo itu sayang banget sama lo. Jangan salahin mereka, Zaf." Ramanda berharap yang diucapkannya dapat merubah sudut pandang Zafran.
'Lika benar-benar keterlaluan! Gue nggak akan biarin cewek itu dekat-dekat sama Zafran lagi,' batin Ramanda. Kebencian perlahan muncul dalam dirinya.
Puas menangis dalam dekapan Ramanda, Zafran segera mendudukkan diri ke tepi kasur. Memegangi kepalanya dengan dua tangan.
Ramanda masih mematung di tempat tadi. Dia menatap serius Zafran.
__ADS_1
"Gue punya masukan. Gimana kalau lo pindah sekolah ke SMA gue?" usul Ramanda.