
...༻⊚༺...
Cowok yang menegur Lika ternyata adalah Zafran. Dia nampaknya juga datang terlambat. Namun bedanya, Zafran punya mobil sendiri. Sedangkan Lika sudah terlanjur ditinggal sopirnya pergi.
Lika memejamkan rapat matanya. Dia mencoba tidak mau peduli dengan Zafran. Lalu kembali memohon kepada Pak Rudi yang terus mengabaikan.
"Cepat, Pak! Hari ini ada ulangan harian Matematika. Aku nggak bisa ketinggalan!" mohon Lika dengan perasaan gelisah. Wajahnya bahkan tampak masam karena merasa saking takutnya. Sebab baru kali ini dia datang terlambat.
Menyaksikan tingkah Lika, Zafran memutar bola mata jengah. Dia menarik pundak Lika, hingga gadis itu bisa menjauh dari gerbang.
"Udah... lo nggak akan bisa luluhin hati Pak Rudi, kecuali air mata lo berubah jadi darah!" ujar Zafran seraya memutar tubuh Lika untuk menghadapnya.
"Datang terlambat bukan kebiasaan gue kali!" tukas Lika. Dia membuang muka dari Zafran.
"Kalau lo mau masuk ke sekolah dengan cara lain, ikut gue!" ucap Zafran. Dia memimpin jalan lebih dulu. Meninggalkan mobilnya yang terparkir di depan sebuah toko.
Lika mematung di tempat. Ia tentu diserang perasaan bingung. Mengingat cowok yang membantunya sekarang adalah Zafran.
Walaupun begitu, Lika tahu kalau dirinya tidak mau ketinggalan pelajaran. Jadi dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti.
Lika mengekori Zafran dari belakang. Cowok itu berjalan menyusuri pinggiran pagar sekolah.
"Kalau lo berani ngerjain gue, awas aja!" ancam Lika. Melenggang dengan ekspresi cemberut.
Zafran berhenti melangkah. Kemudian memutar tubuhnya ke belakang. Dia dan Lika otomatis berdiri saling berhadapan.
"Kita udah sampai. Lo duluan yang manjat!" perintah Zafran.
"Hah? Manjat?" Lika tercengang. Dia memperhatikan jalan masuk yang dimaksud Zafran. Jalan itu ternyata hanyalah pijakan berupa potongan batang kayu. Akan tetapi tidak cukup membantu untuk menggapai pagar sekolah. Terutama bagi seorang perempuan seperti Lika.
"Cemen banget sih lo. Manjat beginian aja nggak bisa!" remeh Zafran. Dari eskpresi yang diperlihatkan Lika, dia yakin gadis itu tidak bisa memanjat pagar.
Lika menggertakkan gigi. Dia hanya bisa menyilangkan tangan di dada sambil memasang mimik wajah cemberut.
Sementara itu, Zafran sudah bergerak untuk memanjat pagar. Dia mampu mengangkat tubuhnya.
Tidak perlu menunggu lama, Zafran sudah berada di atas pagar. Hanya tinggal satu kali lompatan agar bisa masuk ke area sekolah.
"Hei! Kamu bolos ya!"
__ADS_1
Belum sempat Zafran melompat, seorang guru terdengar berseru. Dia tidak lain adalah Pak Riky. Guru yang gemar memberi hukuman kepada anak didik pelanggar peraturan. Dia tidak pandang bulu dan menghukum siapapun yang melanggar aturan sekolah.
"Eh, enggak! Aku nggak bolos, Pak!" bantah Zafran menggeleng. Tetapi Pak Riky justru terus menimpali kalau dirinya bersalah. Pria paruh baya itu bahkan melempari Zafran dengan barang kotor dari bak sampah.
Zafran menghindari timpukan Pak Riky sebisa mungkin. Dia yang merasa kewalahan, akhirnya urung pergi ke lingkungan sekolah.
"Kenapa, Zaf?!" tanya Lika yang merasa ikut panik.
"Pak Riky!" seru Zafran seraya melompat turun ke hadapan Lika. Dia segera membawa gadis itu berlari. Tepat sebelum Pak Riky memergoki.
Lika ikut saja. Dia tentu tahu bagaimana kecerewetan Pak Riky. Alhasil mereka melakukan pelarian bersama.
Zafran membiarkan Lika masuk ke mobilnya. Lalu menjalankan mobil sejauh mungkin dari sekolah.
Baik Lika dan Zafran, mereka sama-sama mengatur nafas. Menyandar ke sandaran kursi sambil mencoba menenangkan diri. Saat itulah Zafran sadar bahwa dirinya sedang bersama Lika.
Sama seperti Zafran, Lika juga kaget ketika mobil sudah terlanjur berjalan. Akibat merasa terdesak, dia tidak sadar kalau dirinya melakukan pelarian dengan musuh bebuyutan. Suasana langsung berubah jadi canggung.
"Gue..." Zafran dan Lika tidak sengaja berucap di waktu yang sama. Hal tersebut membuat keduanya enggan menlanjutkan perkataan masing-masing. Kecanggungan jadi bertambah.
Hening menyelimuti dalam sesaat. Zafran yang melamun, akhirnya tidak sadar melewati lampu merah.
"Zafran!" pekik Lika mengingatkan. Namun tidak bisa, karena mobil Zafran terlanjur melaju.
"Lo yang gila kali!" balas Lika. Perdebatan di antaranya dan Zafran terjadi lagi. Terutama saat ada polisi yang tiba-tiba mengejar dari belakang.
"Astaga! ada polisi!" Lika diserang rasa panik bukan kepalang.
Zafran semakin melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Berharap polisi tidak akan bisa mengejar.
"Cepetan!" Lika mendukung Zafran. Dia melakukannya karena memikirkan reputasi.
Cara mengemudi Zafran berakhir ugal-ugalan. Dia melajukan mobil bak seorang pembalap.
Di sebelah Zafran, Lika berpegangan dengan erat. Dia tentu cemas kalau dirinya dan Zafran akan berakhir kecelakaan.
Zafran mengarahkan mobil masuk ke persimpangan. Yaitu jalanan yang belum pernah sekali pun dilewatinya.
Karena dapat melajukan mobil dengan baik, Zafran dan Lika lolos jadi kejaran polisi.
__ADS_1
"Polisinya udah nggak ada. Kita berhasil!" ucap Lika yang tak bisa membendung senyuman senang diwajahnya.
Zafran tertawa girang. Ia memukulkan tangan ke setir karena merasa sangat puas. Tanpa sadar, Lika juga tergelak untuk ikut merayakan.
"Gila sih! Gue nggak pernah merasa begini," ungkap Lika spontan.
"Ya iyalah, hidup lo kan penuh aturan dan drama!" sahut Zafran.
"Hah? Drama? Itu lo kali!" Lika tak terima. Meskipun begitu, senyuman belum memudar diwajahnya.
"Gue cowok! Mana ada hidupnya penuh drama!" balas Zafran. Dia dan Lika perlahan bicara tanpa adanya emosi dan kebencian. Semuanya terjadi begitu saja.
Hari tampak mendung. Akibat merasa asing dengan jalanan yang dilewati, Zafran memutuskan untuk putar balik.
"Kira-kira lo tahu kita ada dimana?" tanya Lika.
"Enggak. Makanya gue putar balik," jawab Zafran.
"Apa?! Lo nggak tahu?!" Lika terperangah.
"Lo bisa tenang nggak? Kalau gue mau, gue udah suruh lo turun dari mobil!" geram Zafran. Dia sukses membungkam mulut Lika. Gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi.
Gerimis memenuhi relung cuaca. Namun Zafran dan Lika tidak kunjung menemukan jalan utama.
Tanpa diduga, mobil mendadak berhenti. Zafran dan Lika sontak didera perasaan khawatir.
"Kenapa? Mobil lo kenapa? Ini nggak lucu tahu nggak!" Lika mendelik ke arah Zafran. Untuk yang kesekian kalinya, dia tidak mau langsung percaya.
"Lo bisa diam nggak?! Menurut lo, gue bisa bercanda saat keadaan begini?!" sahut Zafran sembari berulang kali menyalakan mobil. Namun mobilnya masih tidak bisa menyala.
"Jangan sekarang, plis..." harap Zafran. Dia masih belum menyerah memutar kunci mobil.
Setelah puluhan kali mencoba, Zafran terpikir ide cemerlang untuk membuat mobilnya menyala. Matanya perlahan melirik Lika.
"Lo mau mobil ini jalan kan?" ujar Zafran.
"Ya iyalah!" tanggap Lika ketus.
"Kalau gitu, lo keluar dan dorong mobil ini." Zafran memerintah sambil mengukir senyuman licik.
__ADS_1
"Dorong mobil? Lo nyuruh gue?" Lika memastikan. Matanya terbelalak tak percaya.
"Iya, terus siapa lagi dong. Lagian di sekitar kita cuman ada hutanan. Masa nyuruh monyet yang dorong mobil?" Zafran berucap dengan lembut. Tetapi terdengar begitu menyebalkan bagi Lika. Gadis itu terpaksa menurut.