
...༻⊚༺...
Zafran kembali ke kelas dengan mimik wajah cemberut. Dia masih kesal terhadap apa yang dilakukan Lika.
Kini Zafran sudah berkumpul bersama teman-temannya. Dia menceritakan kekesalannya kepada Galih dan kawan-kawan.
"Lo sama Lika kenapa nggak pernah bisa akur sih?" cetus Galih. Sama seperti orang banyak, dia heran dengan hubungan sengit yang terjadi di antara Zafran dan Lika.
"Kan gue udah berapa kali bilang, kalau dia yang mulai duluan. Gue sebagai cowok ya nggak mau ngalah dong." Zafran melakukan pembelaan.
"Padahal Lika tuh cewek perfect banget. Lo nggak tertarik pacarin dia aja gitu?" tukas Ervan sambil bertukar tatapan pada Galih dan Hendra.
"Dengarnya aja gue udah jijik. Apalagi sampai ngebayangin." Zafran menampik mentah-mentah. Dia sampai-sampai mengedikkan bahu berkali-kali.
"Jangan lebay, Zaf. Nanti kemakan omongan sendiri." Galih menggeplak kepala Zafran.
"Eh tapi kalau salah satu dari kami yang pacarin Lika, nggak apa-apa kan?" ucap Hendra antusias.
"Kalau lo berani, lo bukan teman gue lagi!" balas Zafran seraya mengarahkan jari telunjuk ke wajah Hendra.
"Tega banget lo. Kalau dia cinta banget sama gue gimana?" Hendra tampak percaya diri.
"Kepedean banget lo! Lika aja belum tentu mau sama lo!" Galih menampar pelan pipi Hendra. Berharap temannya itu sadar diri. Mengingat Lika merupakan salah satu siswi pujaan dan high class di sekolah.
"Bwahaha... benar banget. Cowok keren kayak Kak Ari aja ditolak terus. Apalagi elo!" Ervan sependapat dengan Galih.
"Kalian bisa berhenti ngomongin cewek tengik itu nggak? Cepat cari topik lain!" Zafran menghentikan pembicaraan di antara ketiga temannya.
"Lo mending minum aqua dulu deh, Zaf. Emosian mulu..." Galih merangkul pundak Zafran. Dia berusaha membuat temannya tersebut tersenyum.
Tidak lama kemudian Pak Surya datang. Selain sebagai guru Matematika, dia juga bertugas menjadii pembina di ekstrakulikuler karate. Jadi Pak Surya cukup dekat dengan Zafran.
Kedatangan Pak Surya hanya memberitahukan, kalau setelah pulang nanti akan ada ujian terakhir untuk Zafran. Jadi Zafran diwajibkan untuk hadir saat sore nanti.
"Kayaknya bakalan ada pertandingan karate antar sekolah lagi nih. Pasti lo yang terpilih buat wakilin sekolah, Zaf. Gue yakin seratus persen," ujar Ervan.
"Ya pastilah." Sikap Zafran selalu tidak berubah. Dia begitu percaya diri dengan segala yang dimilikinya.
__ADS_1
"Tuh kan, gue bilang jangan terlalu sering puji Zafran. Dia gitu terus noh." Ucapan Galih berhasil membuat Zafran terkekeh.
...***...
Ketika semua orang pulang, Lika memilih untuk menemui Pak Surya. Kebetulan gurunya itu ingin mengajaknya bicara perihal olimpiade nasional yang akan diselenggarakan.
Lika berlari secepat mungkin. Dia sebenarnya lupa menemui Pak Surya karena terlalu asyik membaca buku di perpustakaan. Cewek itu baru teringat, saat Nadia mengingatkannya.
Lika terpaksa masuk ke lapangan olahraga indoor untuk menemui Pak Surya. Langkahnya terhenti, saat melihat banyak orang yang sibuk berlatih karate. Entah kenapa nama Zafran langsung terlintas dalam benak.
'Semoga si belagu itu nggak ada. Malas banget lihat mukanya,' harap Lika dalam hati.
Kedatangan Lika membuat para siswa sumringah. Bagaimana tidak? Anggota ekstrakulikuler karate memang didominasi oleh murid laki-laki.
Lika selalu berjalan dengan tenang seperti biasa. Dia berderap mendekati Pak Surya. Gurunya tersebut tengah sibuk mengatur para murid.
"Maaf baru bisa datangin Bapak. Aku tadi lupa, Pak," ucap Lika yang sudah berdiri di sebelah Pak Surya.
"Kamu telat! Tadi Bapak udah nungguin kamu tapi nggak datang-datang." Pak Surya merespon tanpa menoleh ke arah Lika.
"Aku lupa, Pak..." sesal Lika sembari mengusap tengkuk tanpa alasan.
Lika akhirnya memutuskan menunggu. Ia duduk di salah satu kursi penonton. Sesekali dirinya akan tersenyum kala ada murid perempuan yang menyapa.
"Zafran mana? Kenapa ganti baju lama sekali!" kata Pak Surya seraya melirik ke arloji yang melingkar di pergelangan tangan.
Mendengar hal itu, Lika tersenyum remeh. Dia geleng-geleng kepala karena merasa dirinya lebih baik.
Satu menit berlalu. Barulah Zafran muncul. Dia terlihat sudah mengenakan setelan karate dengan sabuk berwarna cokelat. Zafran satu-satunya murid yang berhasil meraih sabuk cokelat. Satu tingkat lagi, maka level-nya akan setara dengan Pak Surya. Yaitu sabuk hitam.
"Cepat! Bapak sudah siap sejak tadi!" desak Pak Surya sambil berkacak pinggang.
Zafran segera menginjakkan kaki ke matras. Dia akan bertarung dengan Pak Surya. Hari itu adalah penentuan untuk Zafran. Dia akan melewati ujian terakhir agar bisa naik tingkat ke sabuk hitam.
"Ini bakalan seru, Lik!" seorang siswi bernama Keyla duduk ke sebelah Lika. Kebetulan dia gadis tomboy yang satu kelas dengan Lika. Keyla juga merupakan anggota ekstrakulikuler karate.
"Emang mereka mau ngapaian?" tanya Lika yang sejak tadi tidak mengerti.
__ADS_1
"Kalau Zafran bisa ngalahin Pak Surya, maka dia akan naik tingkat. Zafran kemungkinan bisa dapat sabuk hitam dalam waktu dekat," jelas Keyla. Dia segera memandangi Lika dan melanjutkan, "ngomong-ngomong, lo ngapain ke sini?"
"Gue mau bahas tentang olimpiade Matematika sama Pak Surya," jawab Lika seraya tersenyum canggung.
Keyla lantas hanya ber-oh panjang. Dia balas tersenyum.
Lika mendengus kasar. Dia bermain ponsel karena tidak mau peduli dengan segala hal tentang Zafran. Terutama sesuatu yang berkaitan dengan prestasi cowok itu.
Pertarungan serius di antara Zafran dan Pak Surya dimulai. Atensi semua orang tertuju pada mereka. Kecuali Lika, yang sedari tadi sibuk menjelajah internet.
Sementara itu, Zafran sedang tenggelam dalam keseriusan. Dia selalu bertekad saat berada di pertandingan. Siapapun lawannya, Zafran selalu ingin menjadi pemenang. Terlebih ada imbalan yang akan di dapatkannya saat menang.
Zafran mengeluarkan jurus yang diketahuinya. Ia mampu menangkis segala serangan dari Pak Surya. Suasana semakin heboh, ketika Pak Surya kena tendangan dari Zafran.
Seruan yang begitu riuh, membuat Lika reflek menoleh ke arah dua orang yang bertarung di matras. Tanpa sadar dia terpaku menyaksikan kelihaian Zafran dengan gerakan karatenya. Cowok itu tangkas dan gesit.
Lika lekas menggeleng untuk menyadarkan diri. Ia bangkit dari tempat duduk. Atensi Lika berubah haluan ke Pak Surya.
"Ayo Pak Surya! Semangat!" pekik Lika sembari bertepuk tangan. Seruannya membuat semua orang menoleh.
Di antara semua orang itu, ada Zafran yang juga ikut menoleh. Tatapan penuh kebencian langsung terpancar ketika dirinya melihat kehadiran Lika.
Bukannya ciut, tekad Zafran kian menjadi-jadi. Serangan yang diberikannya kepada Pak Surya menggila. Hingga menyebabkan lelaki paruh baya itu kesulitan mengimbangi.
Lika terdiam seribu bahasa. Tatkala menyaksikan Zafran bertanding sangat hebat. Cowok berparas rupawan itu bahkan membuat gurunya beberapa kali terhuyung.
Bruk!
Di akhir, Zafran benar-benar membuat Pak Surya tumbang. Semua orang lantas bertepuk tangan.
Hanya Lika yang termangu. Matanya membulat ketika Zafran menatap ke arahnya. Tatapan elang dengan wajah serius itu, menyebabkan Lika reflek membuang muka. Perasaan kalah dirasakannya. Entah kenapa rasa gugup yang janggal kembali menyelimuti Lika.
..._____...
...Bonus Visual...
__ADS_1
..._____...