Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 36 - Diam-Diam Bertemu


__ADS_3

...༻⊚༺...


Kehadiran Lika di sekolah langsung mencuri perhatian. Posisinya sebagai cewek terpopuler di sekolah tidak tersisihkan.


Jia yang nyaris menggeser posisi Lika, tidak berarti apa-apa. Terutama ketika gadis itu sudah terlanjur menyebarluaskan nama lelaki yang disukainya.


Zafran sedari tadi memasang raut wajah cemberut. Dua tangannya terlipat di depan dada. Ia kesal mendengar pembicaraan teman sekelasnya yang terus membicarakan tentang Lika.


Jika para murid lelaki memuji habis-habisan, maka siswi-siswi melontarkan kata-kata sinis untuk Lika. Jujur saja, semua itu sangat mengganggu Zafran.


Bruk!


Zafran memukulkan dua tangannya ke meja. Hingga dia langsung menjadi pusat perhatian.


"Kalian bisa berhenti bicarain tentang Lika nggak?!" imbuh Zafran sembari menatap teman-teman sekelasnya.


Semua orang seketika terdiam. Mereka hanya saling bertukar pandang dan mencoba memahami Zafran.


"Lo nggak usah berlebihan, Zaf. Wajarlah Lika sekarang jadi sorotan. Orang dia baru muncul setelah libur beberapa hari," cetus Ervan yang sedari tadi duduk tidak jauh dari Zafran.


"Gue nggak tahan aja dengarnya!" ujar Zafran sambil duduk menghempas ke kursi. Ia tentu bukan kesal karena benci, melainkan karena rasa cemburu.


"Saking bencinya ya lo sama Lika. Lo itu aneh banget tahu nggak!" sahut Ervan.


Zafran akhirnya memutuskan keluar dari kelas. Saat itulah dia mendapat pesan dari Lika. Cewek tersebut mengajaknya untuk bertemu di belakang sekolah.


Pupil mata Zafran membesar. Dia bergegas menuju belakang sekolah. Sengaja datang lebih dulu dibanding Lika.


Zafran menunggu sambil menyandarkan punggung ke dinding. Ia sesekali menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan kemunculan gadis pujaannya.


Merasa terlalu lama menunggu, Zafran secara alami melakukan kebiasaannya. Yaitu merokok. Ia mengambil sebatang rokok yang selalu disembunyikan di antara susunan kursi tak terpakai.


Zafran meletakkan rokok ke mulut. Lalu mengambil alat pemantik yang juga disembunyikan bersama rokoknya.


Dari kejauhan, Lika berhasil memergoki tindakan Zafran. Dia menghela nafas berat, lalu berjalan mendekat.


"Masih aja ya... aku nggak mau bicara kalau kamu masih..." Lika tidak melanjutkan kalimatnya, ketika Zafran dengan cepat mematikan dan membuang rokok.


"Kebiasaan. Sorry..." ungkap Zafran. Tersenyum sambil mengangkat dua alisnya bersamaan.


Lika berusaha mengerti. Dia melangkah lebih dekat ke hadapan Zafran.

__ADS_1


"Kayaknya kita harus sembunyi-sembunyi terus kalau mau ketemu," imbuh Zafran.


"Benar banget. Karena kalau semua orang tahu, maka otomatis keluarga kita juga akan tahu."


"Kamu nggak masalah kan, jalanin hubungan begini?"


"Yang penting kita jalani aja dulu." Lika menautkan tangannya ke jari-jemari Zafran. Keduanya saling bertukar tatapan lekat.


"Habis pulang sekolah mau jalan bareng nggak?" ajak Zafran.


"Kemana?"


Zafran berpikir sebentar. Ia baru ingat kalau pulang sekolah nanti dirinya ada latihan basket. Cowok itu reflek menepuk jidatnya sendiri.


"Gue lupa! Habis pulang sekolah gue harus latihan basket," keluh Zafran yang merasa menyesal.


"Nggak apa-apa. Aku bisa nunggu kok!" Lika malah tampak antusias.


Kening Zafran mengernyit. "Yang benar? Terus kalau ada orang yang tanya gimana?" katanya yang merasa heran.


"Aku nggak akan tunggu di kursi penonton kali. Tenang aja," ujar Lika. Satu tangannya menepuk pelan dada Zafran.


Bel pertanda masuk kelas berbunyi. Hal itu menjadi tanda akhir pertemuan Zafran dan Lika.


Cup!


Tanpa diduga, Lika melayangkan sebuah ciuman singkat ke pipi. Setelah berbuat begitu, Lika cepat-cepat berlari meninggalkan Zafran.


Wajah Zafran memerah bak tomat matang. Dia memegangi pipi bekas tempelan bibir Lika. Kini cowok itu hanya menggeleng dan senyum-senyum sendiri.


...***...


Latihan basket telah tiba. Zafran berlatih seperti biasanya. Kali ini semangatnya sangat menggebu. Dia bahkan menjadi orang yang memasukkan bola ke ring paling banyak. Pak Genta yang melatih, bahkan terkagum akan semangat Zafran sekarang.


"Zafran! Pertahankan semangat kamu sampai pertandingan nanti. Ini luar biasa bagus!" puji Pak Genta sambil bertepuk tangan.


"Siap, Pak!" balas Zafran dengan rasa antusiasnya. Ia sedari tadi mencoba mencari Lika. Namun keberadaan gadis itu belum juga didapatkan.


Ketika sedang istirahat, Zafran menyempatkan waktu untuk mengirim pesan untuk Lika. Menanyakan keberadaan cewek tersebut.


'Tunggu aja, nanti aku ke sana.' Begitulah bunyi pesan balasan Lika.

__ADS_1


Zafran berusaha menahan senyuman. Kemudian lanjut berlatih basket.


Satu jam terlewat. Latihan basket sudah selesai. Satu per satu semua orang meninggalkan lapangan indoor. Kecuali Zafran yang justru duduk di salah satu kursi penonton. Ia meletakkan tas ransel ke kursi sebelah.


Zafran berupaya terus menghubungi Lika. Tetapi cewek itu tidak kunjung merespon. Apa yang dilakukan Lika, menyebabkan Zafran jadi gelisah.


Sekarang Zafran benar-benar sendirian. Akibat terlalu lama menunggu, dia akhirnya memutuskan pulang saja.


Belum sempat melangkah jauh, tiba-tiba terdengar derap langkah dari depan. Ia tidak lain adalah Lika.


"Maaf telat. Aku tadi minum bentar bareng Chika dan Nadia." Lika memberi penjelasan tanpa ditanya.


Zafran tidak mengatakan apa-apa. Dia menghempaskan tas ransel ke lantai, lalu mengambil sebuah bola basket.


"Aku akan maafin kalau kamu bersedia main basket." Zafran tampak sudah siap bermain. Kebetulan dia masih mengenakan setelan olahraga basket.


"Kamu nggak capek? Bukannya habis selesai latihan?" balas Lika. Dia tentu malas untuk bermain basket. Mengingat olahraga adalah sesuatu yang tidak disukainya. Tetapi mau bagaimana lagi, Lika tentu tidak bisa menolak ajakan cowok yang dia sukai.


"Kamu nggak akan ngerjain aku kayak dulu lagi kan?" Lika memastikan.


"Ya enggaklah! Hubungan kita sekarang kan udah beda," jawab Zafran.


Lika akhirnya setuju. Ia dan Zafran mulai bermain basket.


Di lapangan indoor yang luas tersebut, hanya ada mereka berdua. Keahlian Zafran bermain basket tidak bisa tertandingi. Terutama untuk orang yang tidak bisa apa-apa seperti Lika. Cewek itu bahkan belum bisa menyentuh bola.


"Nggak seru! Ini sih cuman kamu yang main sendiri!" Lika merajuk. Dia terlihat sudah mengambil tas dan berniat pergi.


"Cie... ngambek. Makanya kalau nggak bisa itu bilang dong." Zafran mencegah kepergian Lika. Dia memaksa Lika melepas tas dan menyeret gadis itu masuk kembali ke lapangan.


"Biar aku ajarin ya..." tutur Zafran. Dia berada tepat di belakang Lika. Menyusupkan kepala di atas pundak sang pacar.


Dua tangan Zafran mengurung pinggang ramping Lika. Dia dalam posisi memegangi bola basket.


Zafran sengaja menunjukkan cara men-drible bola. Dia melakukannya dalam posisi seakan memeluk Lika dari belakang.


"Mudah kan? Sekarang kau bisa coba sendiri." Zafran menyerahkan bola ke tangan Lika. Cewek itu menurut saja. Dia memainkan bola sesuai bimbingan Zafran.


Sebenarnya perasaan Lika sedang tidak karuan. Jantungnya terus bergemuruh kala Zafran berada sangat dekat.


Saat sibuk men-drible, Lika tidak sengaja mejatuhkan bola. Ia otomatis ingin mengambil bola. Akan tetapi tidak bisa, sebab tangan Zafran melingkar erat di perutnya. Cowok itu jelas mendekap Lika dari belakang. Lika dapat merasakan pelukan hangat Zafran di punggungnya.

__ADS_1


"Aku suka banget perasaan saat berdekatan sama kamu..." ungkap Zafran seraya memejamkan mata. Kini dia meletakkan dagu ke pundak Lika.


__ADS_2