
...༻⊚༺...
Suasana di dalam ruangan escape room tahap pertama hanya diterangi cahaya merah. Suara-suara mengerikan bahkan mulai menggema.
"Nggak ada pintu di sini. Kita harus cari jalan keluar tersembunyi," cetus Lika. Kepintarannya mulai aktif.
"Kita harus cepat-cepat keluar dari sini!" Ramanda sebenarnya juga tidak kalah pintar dari Lika. Namun karena gadis itu terlalu takut, dia sejak tadi hanya terus berusaha mencari jalan keluar.
Hal yang sama juga dirasakan Faisal. Dia bahkan hanya diam disudut dalam beberapa saat. Bersiap-siap kalau ada sosok mengerikan yang muncul.
Zafran dan Lika menjadi orang yang paling aktif mencari petunjuk. Hingga akhirnya mereka mampu menemukan jalan keluar.
Kedekatan Zafran dan Lika mulai dirasakan oleh Ramanda. Dia merasa kalau ada sesuatu yang berbeda. Mengingat sejak turun dari roller coaster tadi Zafran bergegas mencari-cari sesuatu.
Saat ada di ruang terakhir escape room, Lika dan yang lain dikejutkan dengan kemunculan hantu. Sosok mengerikan itu tentu hanyalah manusia yang menyamar.
"Aaaaarkkhhh!!!" semua orang berteriak bersamaan. Hanya Zafran yang kagetnya tidak sampai bersuara.
Sebagai perempuan, Lika tentu juga ketakutan. Apalagi hantu yang muncul tidak memberikan tanda sama sekali.
Secara bersamaan, Ramanda dan Lika menjadikan Zafran sebagai bahan pelukan. Cowok itu dipeluk oleh dua gadis cantik sekaligus.
Sementara Faisal. Dia satu-satunya orang yang berlari ke belakang. Bersembunyi sendirian di balik tirai.
Karena pelukan Lika dan Ramanda, Zafran jadi tidak bisa bergerak. Tatapannya tertuju ke arah hantu yang berdiri tegak di depan pintu keluar.
"Udah... hantunya pasti nggak akan berani nyentuh kita," celetuk Zafran sembari melepas pelukan Ramanda. Namun tidak untuk Lika.
Ramanda yang ketakutan, segera menutup wajah dengan dua tangan. Dia tidak berani melihat kemana-mana. Bahkan mengintip sekali pun. Jadi dirinya tidak melihat apa yang dilakukan Zafran.
__ADS_1
"Buka matamu. Aku yakin kau tadi cuman kaget," cicit Zafran. Membuat Lika langsung melepas pelukan. Wajahnya memerah malu bak buah cherry.
Lika bernafas kasar. Dia enggan menatap Zafran. Namun cowok itu justru menggenggam tangannya. Lalu menuntun ke arah jalan keluar. Keduanya berhasil lolos melewati escape room.
Kini Zafran dan Lika hanya berduaan. Zafran memanfaatkan peluang itu untuk bicara.
"Hari ini aku yakin, kita saling membuat kesal satu sama lain. Tapi sekesal apapun aku sama kamu, aku nggak sudi lihat kau dekat sama cowok cupu itu!" tukas Zafran.
"Kau pikir aku suka lihat kamu dekat-dekat sama cewek itu?! Ya enggaklah! Hubungan kalian bahkan terlihat kayak pacaran!" balas Lika. Mendongak sambil menatap tajam cowok di hadapannya.
"Ramanda itu sahabatku sejak kecil, Lik. Dia udah kayak saudara kandung buatku!"
"Tapi harus jaga batas juga dong! Kalau emang kita pacaran, harusnya cuman aku yang bisa menyentuh kamu!"
"Tadi kamu juga gandeng cowok berkacamata itu kok! Kenapa di sini seolah aku doang yang salah!"
"Faisal itu sepupuku. Mana mungkin aku pacaran sama dia! Kau itu sebenarnya beneran suka nggak sih sama aku?!" dahi Lika mengerut dalam.
Lika menatap kesal Zafran yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Dia lantas memutuskan beranjak saja. Tepatnya ke lorong menuju toilet.
Zafran tersadar, saat Lika mendadak pergi. Dia otomatis mengejar. Memegang kuat dan menarik tangan Lika. Gadis itu berbalik badan menghadapnya.
Kini wajah Zafran dan Lika sangat dekat. Lika benar-benar dibuat kaget akan hal tersebut.
"Maaf kalau aku udah keterlaluan. Mulai sekarang, aku akan jaga jarak dari Ramanda." Zafran bertutur kata pelan. Dia segera menyatukan bibirnya dengan mulut Lika.
Dua tangan Lika perlahan dikalungkan ke leher Zafran. Sedangkan tangan Zafran bertengger di pinggang Lika. Menekan pinggul gadis itu agar bisa lebih dekat.
Di sisi lain, Ramanda masih berada di ruang terakhir escape room. Ia sebenarnya sempat melihat kepergian Zafran dan Lika.
__ADS_1
Sakit hati Ramanda mengalahkan ketakutan. Dia memaksakan diri untuk berjalan ke pintu keluar. Namun langkah Ramanda terhenti ketika mendengar perdebatan di antara Zafran dan Lika.
Setelah perdebatan tak terdengar lagi, barulah Ramanda melenggang keluar. Akan tetapi suara seruan lelaki harus membuat langkah kakinya lagi-lagi terhenti.
"Jangan tinggalin gue!" pekik Faisal. Dia keluar dari tempat persembunyian. Namun masih enggan melangkah maju.
Ramanda mendengus kasar. Dia segera turun tangan menuntun Faisal. Bahkan saat melewati hantu yang sejak tadi hanya berdiri saja.
Usai keluar dari escape room, Ramanda menyuruh Faisal menenangkan diri. Sedangkan dia sibuk memindai penglihatan ke sekitar. Mencoba menemukan keberadaan Zafran dan Lika.
Ramanda akhirnya menyisir tempat terdekat. Termasuk ke lorong menuju toilet.
Deg!
Jantung Ramanda berdebam kuat. Wajahnya langsung pucat ketika menyaksikan apa yang dilakukan Zafran dan Lika. Mereka masih asyik berciuman.
Ramanda dapat melihat segalanya. Dia sontak membuang muka. Merengekkan wajah dan menggigit bibir bawahnya. Ramanda bergegas pergi sejauh mungkin. Yang jelas ke tempat dirinya bisa meratapi kesedihan.
Zafran yang tidak tahu menahu, sangat terbuai dengan Lika. Baginya setiap jengkal kulit yang disentuhkan pada gadis itu membuat candu. Bahkan sekarang Zafran merasa enggan melepas ciumannya terlalu cepat.
Lika perlahan mendorong dada Zafran. Lalu melepas tautan bibirnya dari mulut cowok tersebut. Nafas mereka sedang sama-sama sulit dikontrol.
"Udah cukup... aku takut kita semakin berlebihan," ucap Lika.
Zafran menggeleng. "Kamu tenang aja. Itu nggak akan terjadi sebelum kita nikah," jawabnya sembari membelai rambut panjang Lika. Saat itulah Zafran menemukan sesuatu yang ganjil di rambut sang kekasih.
"Apaan nih?" kening Zafran mengernyit.
"Kenapa?" Lika penasaran.
__ADS_1
Zafran menemukan ada permen karet yang menempel di rambut Lika. Semua itu terjadi karena Lika menyandar kuat ke tembok. Dia yang tadi terlalu asyik berciuman, tentu tidak memperhatikan sekitar.
"Gimana dong..." keluh Lika.