
...༻⊚༺...
"Gue nggak bisa lewat! Kalau nggak mau duduk di sini, mending lo yang pindah!" Lika membalas keluhan Zafran. Dia terpaksa duduk di samping cowok itu.
"Oke!" Zafran berdiri dengan ekspresi merengut. Namun atensinya langsung tertuju ke arah lelaki gemuk yang menghalangi jalan.
"Ayo cepetan pindah sana!" desak Lika seraya menarik sudut bibirnya ke atas. Ia puas melihat kegelisahan di wajah Zafran.
"Kok bengong aja?" ucap Lika lagi. Kali ini dia terkekeh.
Zafran berdecak kesal. Dia melirik tajam Lika.
"Zafran!" panggilan seorang gadis berhasil meredam kekesalan Zafran. Dia tidak lain adalah Ramanda. Gadis itu baru menemukan kursinya. Berada tepat di seberang lelaki berbadan gemuk tadi.
"Ramanda?" Zafran melebarkan kelopak matanya. "Lo ikut juga?" tanya-nya antusias. Suasana hatinya berubah seketika. Ramanda memang satu-satunya gadis yang bisa memberi senyuman cerah di wajah Zafran.
"Iya, gue wakilin sekolah gue buat olimpiade Matematika," jawab Ramanda.
Muncul ide bagus di benak Zafran. Dia ingin menyuruh Lika bertukar tempat duduk dengan Ramanda.
"Ra! Lo duduk dekat gue aja ya. Ini Lika tadi mau pindah," seru Zafran. Dia segera menoleh ke arah Lika.
"Emang Lika beneran mau pindah?" Ramanda memastikan. Sebab Lika masih duduk di kursinya.
Zafran menatap Lika. Seakan mendesak cewek itu untuk segera bergerak.
"Gue nggak bisa lewat. Lo tahu sendiri kan?" ujar Lika sambil perlahan menengok ke arah pria gemuk di sampingnya.
"Ah, benar juga." Zafran menghela nafas, lalu memberanikan diri untuk membangunkan pria gemuk di sebelah Lika.
"Maaf, Mas. Boleh permisi dulu nggak? Teman saya mau lewat," tutur Zafran lembut.
"Oh iya, iya. Saya kecapekan, makanya langsung ketiduran." Pria gemuk itu ternyata sangat ramah. Dia langsung bersedia memberikan Lika jalan untuk lewat. Alhasil kini Ramanda bisa duduk di sebelah Zafran.
Sedangkan Lika ada di kursi yang seharusnya ditempati Ramanda. Dari sana dia bisa menyaksikan keakraban Zafran dan Ramanda.
__ADS_1
Pesawat melakukan lepas landas. Lika mendengus lega. Dia segera membaca buku saat pesawat terbang dalam kondisi stabil. Namun atensi Lika perlahan tertarik dengan sesuatu hal. Yaitu kepada sosok yang selalu menebar kebencian kepadanya.
Zafran sedari tadi tersenyum lebar. Dia asyik mengobrol bersama Ramanda.
"Rian nggak ikut?" tanya Zafran.
"Kalau dia ikut, nggak mungkin gue duduk di sebelah lo kali," sahut Ramanda.
"Bagus deh. Jujur ya, gue nggak suka sama dia." Zafran memberitahu secara gamblang. Ia selalu benci dengan semua cowok yang mendekati Ramanda.
"Lo mana pernah suka sama cowok-cowok yang pacarin gue!" timpal Ramanda. Dia iseng memencet hidung mancung Zafran.
"Emang! Gue normal kali. Ngapain gue suka sama cowok," balas Zafran.
Ramanda yang mendengar, langsung menggeplak jidat cowok itu. "Tuh kan! Lo mana pernah serius," cetusnya.
Zafran terkekeh geli. Dia sigap memegang tangan Ramanda. Memancarkan tatapan dalam yang menuju manik hitam sang gadis pujaan.
Dari samping, Lika bisa melihat semuanya. Entah kenapa perhatiannya terus tertuju ke arah Zafran. Dia merasa cowok itu sangat berbeda. Lika tidak pernah melihat sisi Zafran yang begitu sumringah.
Keterpakuan Lika pudar, ketika Zafran memergoki. Dia langsung membuang muka. Sungguh! Jantung Lika berdegub kencang. Rasa gugup yang akhir-akhir ini dirasakannya, kembali lagi. Bahkan lebih parah dari sebelumnya.
'Sumpah... gue kenapa?' Lika membatin sendiri. Dia memanfaatkan bukunya untuk menutupi wajah yang memerah malu.
Sementara Zafran hanya menatap selidik. Dia tak acuh. Lalu kembali memusatkan atensinya kepada Ramanda.
Tidak terasa, Zafran dan kawan-kawan tiba di Bali. Mereka langsung beristirahat di sebuah hotel. Zafran satu kamar dengan siswa yang bernama Cakra. Lelaki berkacamata yang sangat pendiam.
Ponsel Zafran berdering. Dia mendapat pesan dari Pak Surya. Gurunya itu menyuruh beristirahat dan melarang semua orang bepergian.
...***...
Matahari muncul dari ufuk timur. Zafran dan Cakra sudah bangun.
Zafran terlihat melakukan push up dengan hanya mengenakan celana pendek. Sedangkan Cakra sibuk membaca buku Kimia.
__ADS_1
Suara deru nafas Zafran terdengar. Lelaki seperti Cakra saja sampai telan ludah melihatnya. Dia tidak bisa menampik bahwa Zafran memang cowok paling keren di sekolah.
Usai berolahraga, Zafran istirahat sejenak. Dia sibuk berkirim pesan dengan Ramanda. Kebetulan gadis itu bermalam di hotel yang berbeda.
Suara ketukan terdengar dari pintu. Pak Rendi menyuruh Zafran dan Cakra untuk bersiap. Mereka akan berangkat ke tempat kejuaraan nasional dilaksanakan. Kebetulan Lika menjadi siswi yang harus bersaing di tahap pertama.
Kini Lika sedang mempersiapkan diri. Dia berdiskusi cukup lama dengan Pak Surya. Semua orang berkumpul untuk menyemangati Lika. Kecuali Zafran yang menghilang entah kemana.
"Semangat ya, Lik. Gue yakin lo pasti menang!" ucap Keyla sambil mengepalkan tangan sebagai tanda semangat.
"Makasih, Key. Gue gugup banget." Lika menghembuskan nafas melalui mulut.
"Ngomong-ngomong Zafran mana ya?" imbuh Ayu, siswi yang juga merupakan bagian tim SMA Elit Permata.
"Gue mana tahu, dan gue nggak mau tahu!" sahut Lika ketus.
"Kayaknya dia ketemu temannya itu deh." Keyla tidak menggubris komentar sins Lika. Dia menanggapi perkataan Ayu.
"Setahuku nama cewek itu Ramanda. Cantik banget ya. Pantesan Zafran mau dekat sama dia. Model kayak kita mah apa," kata Ayu. Dia dan Keyla saling merangkul dan tergelak.
Lika memutar bola mata malas. Kakinya menghentak kuat. Hingga menimbulkan suara yang menarik perhatian. Separuh pasang mata segera tertuju ke arahnya. Alhasil Lika hanya bisa tersenyum canggung sambil mengusap tengkuk akibat malu.
Setelah menunggu cukup lama, lomba akhirnya di mulai. Saat itulah Lika bisa menyaksikan kehadiran Zafran. Ternyata cowok itu bersama Ramanda sejak awal. Ia bahkan rela memisah dari rombongan demi gadis tersebut. Zafran terlihat tidak berhenti bercanda gurau dengan Ramanda.
'Ketawa aja lo sampai puas. Gue bakalan bikin teman lo itu nangis kejer!' batin Lika bertekad. Kebetulan dia memang bersaing dengan Ramanda.
Satu jam lebih lomba dilaksanakan. Hasil akhir menyebutkan kalau Ramanda adalah pemenangnya. Sementara Lika berada di posisi kedua.
"Enggak apa-apa, Lika. Kamu tetap hebat." Bu Ratih mencoba memberikan semangat kepada Lika.
Lika menundukkan kepala. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Entah kenapa pertandingan kali ini membuatnya tidak fokus. Terlebih Ramanda tidak pernah menjadi lawannya di lomba-lomba sebelumnya.
"Hoho... ada yang kalah," ejek Zafran sambil memposisikan dirinya ke hadapan Lika. Dia puas melihat kekalahan rivalnya tersebut.
Lika tidak mengatakan apa-apa. Ia melingus pergi begitu saja. Lika masuk ke toilet dan menangis tergugu di depan cermin.
__ADS_1