
Warning! Baca sampai akhir untuk melihat kejutan Author di bab terakhir ini!
...༻⊚༺...
Zafran dan Lika pergi ke sebuah cafe. Mereka sengaja memilih meja yang ada di balkon. Tempat sepi yang cocok untuk bicara dengan serius.
Lika terlihat baru selesai mengusap wajahnya. Dia berhenti menangis dan siap mengobrol dengan Zafran.
Zafran menatap lekat Lika. Dia tidak bisa membantah rasa rindu yang sedang dirasakan. Lika tetap cantik seperti biasa. Tetapi kekalutan di hati Zafran tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Kenapa kita harus bicara di sini?" tanya Lika. Mengawali pembicaraan.
"Nggak apa-apa. Nyaman aja kalau bicara di tempat terbuka, terus ada minuman dan makanannya juga." Zafran menjawab dengan datar.
Dahi Lika sontak berkerut. Penjelasan Zafran terasa aneh baginya. Meskipun begitu, Lika tetap merasa hatinya tidak tenang.
"Ya udah, jadi kamu mau ngomongin apa? Marahin aja aku sepuasnya, Zaf. Aku emang jahat banget," ujar Lika sembari menundukkan kepala.
Mendengar pernyataan Lika, kepala Zafran ikut menunduk. Ia menghembuskan nafas dari mulut, lalu mengangkat kepala kembali. Menatap lurus ke arah Lika.
"Demi kebaikan sekarang dan masa depan, aku merasa kalau kita sebaiknya tidak berhubungan lagi..." ungkap Zafran. Membuat mata Lika sontak membuncah hebat. Mata gadis itu kembali berembun.
"Masa depan kita masih panjang, Zaf. Aku yakin kita masih bisa jalanin semuanya dengan baik..." tanggap Lika. Menatap nanar Zafran.
"Justru karena masa depan itu kita harus putus. Kalau berpisah dari sekarang, kan move on-nya akan cepat juga." Zafran memaksakan dirinya tersenyum. Bersikap seolah baik-baik saja.
"Percuma putus kalau kita tetap sering bertemu..." lirih Lika. Satu tetes cairan bening sudah jatuh dari sudut matanya.
"Aku pastikan kita tidak akan bertemu lagi." Zafran berusaha keras menahan tangis. Dia hanya bisa membuang muka.
"Kamu belum bisa maafin aku?... Kalau ada sesuatu yang harus kulakukan, katakan saja sekarang," rengek Lika. Dia akhirnya kembali menangis. Memeluk tubuhnya sendiri dengan erat.
"Kalau pun aku katakan yang kumau, aku yakin kita berdua nggak akan sanggup menghadapinya. Terutama kamu. Kalau kita jodoh, kita pasti akan bertemu lagi..." ucap Zafran. Menyebabkan tangisan Lika kian menjadi-jadi. Untung saja keadaan cafe sangat sepi. Terutama di balkon. Zafran sepertinya sengaja membayar lebih karena sudah bisa menduga Lika akan menangis.
Lika tidak bisa berkata-kata. Hal serupa juga dilakukan Zafran. Suasana hanya diselimuti oleh suara hingar-bingar alat transportasi yang lalu lalang serta hembusan angin.
"Kita sebaiknya minum dulu sebelum..." ucapan Zafran terhenti, ketika menyaksikan Lika tiba-tiba berdiri.
"Aku pulang saja. Aku akan naik taksi." Lika berucap dengan bibir yang bergetar. Sebab tangisannya masih belum berhenti. Lika benar-benar beranjak meninggalkan Zafran. Tidak ada hal yang ingin dia lakukan selain pergi. Jadi Lika tidak berpikir panjang untuk memutuskan kepergiannya.
__ADS_1
Zafran tetap duduk di tempat. Menatap kosong ke arah hamparan langit. Dadanya terasa sangat sesak. Seakan ada sebuah batu besar yang mengganjal di sana. Di akhir, ia menangis dalam diam. Setelah itu, Zafran langsung pulang.
...***...
Dua hari berlalu. Selama itu juga Lika tidak pergi ke sekolah. Dia berpura-pura sakit dan mengurung diri di kamar.
Hal yang sama juga dilakukan Zafran. Dia sudah resmi berhenti sekolah di SMA Permata Elit. Kabar tersebut baru beredar di sekolah. Banyak yang sedih dengan keputusan Zafran. Apalagi saat mengetahui kabar kalau Zafran akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Hanya Lika satu-satunya orang yang belum tahu. Dia tidak tahu karena sengaja mematikan ponsel.
Sekarang Lika baru saja selesai mandi. Waktu menunjukkan jam sepuluh pagi. Setelah hampir dua hari dimatikan, Lika akhirnya menyalakan ponselnya.
Sebuah panggilan dari Galih langsung masuk. Lika lantas mengangkat panggilan tersebut dengan malas.
"Zafran hari ini akan pergi!" ujar Galih dari seberang telepon.
"Maksudnya?" Lika tentu tidak langsung mengerti.
"Zafran hari ini akan berangkat ke luar negeri. Gue, Ervan, dan Hendra udah pada di bandara. Zafran udah--"
Lika dengan cepat mematikan telepon. Padahal Galih belum selesai bicara. Dia bergegas mengganti pakaian. Lika berniat menemui Zafran ke bandara.
Saat hampir sampai di bandara, Lika justru terjebak dengan kemacetan. Dia yang sudah tidak sabar, akhirnya memilih berlari saja. Tubuhnya yang kurus dan jarang berolahraga, tentu merasakan lelah sangat cepat. Lika terpaksa beristirahat sesekali.
"Kayak di film aja." Lika berkomentar sendiri. Kakinya kembali melangkah laju.
Lika mengumpulkan tekad. Dia berharap bisa bertemu Zafran. Andai bisa, dirinya ingin mencegah kepergian cowok tersebut.
Usai melalui perjalanan panjang, Lika akhirnya sampai di bandara. Dia segera mencari keberadaan Zafran.
Satu per satu semua orang diperhatikan Lika. Terutama para lelaki yang memiliki rambut cepak. Sayangnya Lika tidak berhasil menemukan Zafran.
Tanpa diduga, Lika justru bertemu Galih dan kawan-kawan. Akan tetapi tidak terlihat Zafran bersama mereka.
Galih, Ervan, dan Hendra reflek bertukar pandang. Raut wajah mereka tampak sendu.
"Zafran-nya mana?" tanya Lika. Saat tiba di hadapan Galih dan kawan-kawan.
"Dia udah pergi..." jawab Hendra lirih.
__ADS_1
"Kalian pasti bohong kan?" Lika menampik. Meskipun begitu, air mata sudah berlinang di wajahnya.
"Maaf, Lik... Zafran emang sudah pergi." Galih membenarkan jawaban Hendra.
Tangisan Lika otomatis pecah. Galih dan kawan-kawan segera membawanya duduk. Mereka berusaha menenangkan Lika sebisa mungkin.
Bersamaan dengan itu, sebuah pesawat baru saja lepas landas. Di dalamnya ada Zafran yang duduk sambil menatap ke luar jendela. Hatinya tentu masih merasa tidak rela. Tetapi dia harus pergi demi kebaikan dirinya dan juga Lika.
Sebenarnya tidak ada cinta yang terlarang...
Namun keadaanlah yang membuat cinta seolah salah...
Cinta di tengah permusuhan itu tidak salah.
Karena benci dan cinta beda tipis.
..._____...
Kita tiba di bab terakhir. Maaf kalau ending tidak memuaskan. Karena aku punya alasan membuat ending seperti ini.
Kenapa?
Inilah yang sejak kemarin yang aku bilang sebagai kejutan.
Aku mau bilang kalau cerita Zafran dan Lika belum berakhir sampai di sini. Kejutannya, aku sudah menyiapkan cerita mereka versi dewasa. Novelnya sengaja aku bikin baru karena genrenya lebih dewasa ya.
Sebenarnya aku nggak ada niat bikin novel versi teen ini. Justru novel versi dewasanya yang idenya ada lebih dulu. Pokoknya cerita versi dewasanya bakal lebih gokil dan menantang✌️😆
Aku juga udah bikin covernya, ini penampakannya 👇
Tanggal upnya aku nggak bisa pastiin. Tapi kayaknya bakal up setelah novel yang satunya tamat. Karena handle dua novel itu susah banget. Jadi yang tunggu banget kelanjutan cerita Zafran dan Lika jangan unfavorit dulu ya...
Pokoknya aku ucapkan terima kasih buat pembaca yang udah setia baca sampai akhir. Love youu...😘
Buat yang berkenan mampir ke novel aku yang satunya, dipersilahkan ya. Khususnya yang suka cerita berbau rumah tangga dan strong woman 🤗
__ADS_1