
...༻⊚༺...
Lika mengalihkan perhatiannya dari Zafran. Kemudian berjalan menghampiri Keyla. Mereka menyempatkan diri untuk bermain air.
Selang sekian menit, Ayu ikut bergabung. Membuat raut wajah Lika seketika cemberut. Dia tidak begitu menyukai Ayu. Terutama semenjak gadis itu terus bersikap sinis. Terlebih Ayu tidak berhenti mengajak Keyla membicarakan tentang Zafran.
"Guys, habis ini katanya kita akan ke Ubud!" seru Ayu sembari menggulung ujung celana jeans. Lalu melangkahkan kaki masuk ke air yang berombak.
"Bagus dong. Keadaan di sana lebih dingin. Pas banget buat makan siang," respon Keyla.
"Eh, kita suruh Zafran ke sini yuk. Dia bawa kamera tuh! Kapan lagi kita bisa difotoin sama dia," ajak Ayu yang terlihat curi-curi pandang kepada Zafran.
"Ngapain, Yu. Lo tahu kan Zafran gimana. Dia nggak bakalan mau--"
"Zafran!" pekik Ayu. Tidak membiarkan Keyla menyelesaikan kalimatnya. Ayu memanggil Zafran sambil menangkup mulut dengan dua tangan.
"Gila nih anak," komentar Keyla seraya menggeleng tak percaya.
Lika yang mendengar memasang ekspresi cemberut. Meskipun begitu, dia tetap diam di tempat. Nampaknya Lika juga penasaran dengan tanggapan Zafran terhadap panggilan Ayu.
Zafran langsung menoleh saat Ayu meneriakkan namanya. Saat itulah Ayu berucap, "Bisa fotokan kami nggak?"
Tanpa mengatakan apapun, Zafran beranjak menghampiri. Membuat Ayu dan Keyla kesenangan. Dua cewek itu melompat dan saling tersenyum. Mereka seperti fans berat yang baru saja bertemu idolanya.
Sementara Lika, dia lebih memilih menjauh. Gadis itu bergabung bersama para guru dan ke-empat temannya yang lain.
Lika duduk menghempas ke pasir. Tepat di bawah payung pantai yang melindunginya dari sinar matahari.
"Lik, nih buat kamu." Fatih datang sambil menyodorkan es kelapa muda untuk Lika.
"Wah... makasih ya. Tahu banget gue lagi haus," tanggap Lika antusias. Dia langsung meminum es kelapa muda bawaan Fatih.
Lika terlihat sangat menikmati es kelapa muda. Membuat Fatih mengukir senyuman simpul. Fatih memang seperti para cowok lainnya di sekolah. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyukai gadis mempesona seperti Lika.
Fatih sendiri hanyalah cowok sederhana. Tinggi semampai dan berlesung pipit. Fatih kebetulan mewakili sekolah di kejuaraan Biologi.
"Sehaus itu ya?" tegur Fatih yang tidak bisa mengalihkan atensinya dari Lika.
__ADS_1
"Banget. Gue juga agak lapar sih. Tadi pagi cuman makan roti," sahut Lika seraya menatap Fatih. Dia baru tersadar, kalau cowok itu tidak meminum minuman yang sama sepertinya.
"Loh, lo nggak kebagian es kelapa muda?" Lika mengira es kelapa muda yang diberikan Fatih adalah pembagian dari Pak Surya.
"Gue khusus beliin buat lo. Gue udah minum kok. Lo tenang aja," ujar Fatih tenang.
"Jangan gitu dong. Tunggu bentar ya." Lika segera berdiri. Dia ingin membalas kebaikan Fatih dengan cara membelikan minuman yang sama. Sebab Lika cukup mengenal Fatih. Cowok itu dikenal berasal dari keluarga kurang berada.
"Eh, Lik! Nggak usah!" Fatih berusaha menghentikan Lika. Namun gadis itu tetap beranjak mendatangi sebuah kedai minuman.
"Nggak usah repot-repot, Lik." Fatih menyusul Lika. Dia terus mencoba merubah keputusan gadis tersebut.
"Udah deh, Tih. Lagian gue nggak cuman beliin lo kok. Lo mending panggil semua orang buat kumpul," ujar Lika. Dia berniat membelikan semua orang es kelapa muda.
"Oke deh kalau gitu." Fatih menurut saja. Dia segera mengajak para guru dan teman-temannya berkumpul.
Sambil menunggu minuman siap, Lika duduk sebentar menghadap pantai. Perhatiannya sekali lagi terfokus ke arah Zafran. Cowok itu tampak sibuk mengambil foto Ayu dan Keyla.
"Udah?" tanya Ayu yang merasa sudah selesai berpose cantik.
"Iya, nih lihat." Zafran memperlihatkan hasil potretannya kepada Ayu. Gadis itu dan Keyla dengan senang hati mendekati.
"Iya, elo bagus, Key. Tapi gue kelihatan jelek. Sekali lagi boleh nggak, Zaf?" pinta Ayu genit.
"Dih! Ngerepotin banget lo," sinis Keyla.
"Lo bisa kasih pendapat nggak, Zaf. Menurut lo, pose yang cocok buat gue itu gimana?" tanya Ayu. Mengabaikan sindiran Keyla. Ayu bahkan dengan beraninya menggandeng lengan Zafran.
"Terserah lo. Tapi bisa nggak lo jaga jarak?" ucap Zafran blak-blakan. Matanya mendelik menatap tangan Ayu yang masih bertengger di lengannya. Dia juga tidak lupa mengembangkan senyuman lebar yang terkesan seperti sindirian kuat.
"Maaf!" Ayu lekas-lekas menarik tangannya. Wajahnya memerah malu. Sedangkan Keyla, terlihat berusaha keras menahan tawa.
Dari kejauhan, Lika dapat melihat segalanya. Dia menganggap Zafran menikmati kesempatan dalam kesempitan.
"Playboy juga ternyata," gumam Lika sinis.
"Siapa yang playboy?" tanya Fatih yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa. Cuman orang yang nggak penting dalam hidup gue," jawab Lika.
Tak lama kemudian, semua pesanan Lika sudah jadi. Seluruh orang disuruh berkumpul. Termasuk Zafran sendiri. Cowok itu juga menerima es kelapa muda yang dibelikan Lika.
Zafran tidak tahu kalau es kelapa yang diminumnya adalah pembelian dari Lika. Ia meminum minuman itu dengan nikmatnya.
"Btw, guys. Semua es kelapa muda ini Lika yang traktir. Dia juga belikan kita beberapa kudapan khas sini," cetus Fatih sembari melirik ke arah Lika. Gadis itu terlihat sedang melakukan pembayaran kepada pemilik kedai.
"Nggak cuman pintar Matematika ternyata. Tapi juga pintar nyenengin guru," komentar Pak Surya.
"Anak orang kaya emang beda, Pak." Ayu menyahut lantang.
"Uhuk! Uhuk!" Zafran tersedak, tatkala mengetahui kalau es kelapa yang diminumnya adalah pembelian Lika. Dia langsung meletakkan minuman itu.
"Lo kenapa, Zaf?" tanya Fatih terheran.
"Gue mau ke toilet!" Zafran segera beranjak pergi.
Ketika berada di toilet, Zafran berdecak kesal. Dia menganggap apa yang dilakukan Lika tadi sebagai tanda perang.
"Oh, gini cara main dia sekarang. Oke!" Zafran mengambil dompet dan memeriksa jumlah uangnya. Dia berniat akan melakukan pembalasan.
...***...
Setelah puas menghabiskan waktu di pantai, Zafran dan yang lain pergi ke wisata air terjun di kota Ubud. Mereka ingin sekaligus menikmati makan siang di sana.
Setibanya di lokasi tujuan, Pak Surya menyarankan untuk makan siang terlebih dahulu. Saat itulah Zafran menghampiri Pak Surya. Dia mengajukan diri untuk mentraktir semua biaya makan siang.
"Nggak salah kamu, Zaf? Ini kita semua pakai uang yang dikasih pihak sekolah loh," ujar Pak Surya.
"Simpan aja, Pak. Atau bagi saja uangnya sama semua rombongan kita. Biar aku yang bayar biaya makan siang hari ini. Tapi kita makan di restoran aja, biar aku bisa bayar pakai kartu," tanggap Zafran bersungguh-sungguh.
"Yakin kamu?" Pak Surya memastikan. "Eh, tunggu dulu. Kamu begini bukan karena mau menyaingi traktiran Lika tadi kan?" tanya-nya penuh curiga.
"Ya ampun, enggaklah! Aku udah berencana sejak kita pergi kemarin kok. Apalagi kalau aku menang bertanding."
"Tapi kan kamu nggak tanding gara-gara kecelakaan kemarin."
__ADS_1
"Justru karena itu, Pak. Anggap aja ini sebagai terima kasihku sama Bapak dan teman-teman. Kalian udah jagain aku dengan baik pas di rumah sakit," tutur Zafran. Membuat Pak Surya tidak bisa lagi menolak. Gurunya itu malah merasa sangat senang. Mengingat tadinya dia hendak makan di tempat biasa.