Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 42 - Ketahuan


__ADS_3

...༻⊚༺...


Bel terdengar berbunyi. Seluruh murid disuruh berkumpul ke lapangan indoor.


Perlu waktu sepuluh menit lebih untuk menunggu semua siswa berkumpul. Selanjutnya, barulah para guru bersangkutan berdiri di tengah lapangan. Mereka hendak mengumumkan sesuatu hal terkait pemilihan ketua osis baru.


Bu Rita menjadi orang yang bicara melalui alat pengeras suara. Dia menyuruh semua murid untuk mengusulkan kandidat ketua osis.


Belum sempat bertanya, nama Zafran dan Lika langsung dielu-elukan oleh banyak orang. Bahkan saat Bu Rita bertanya sekali pun, nama Zafran dan Lika terus tumpang tindih. Tidak ada nama lain yang disebut selain mereka berdua.


"Oke, oke. Ibu akan masukin Zafran dan Lika jadi kandidat ketua osis. Tapi sebelum itu, kita tanya dulu ke orangnya." Bu Rita memindai wajah-wajah anak didiknya. Sampai akhirnya dia menemukan Zafran lebih dulu. Dia segera menanyakan kesediaan Zafran untuk menjadi kandidat ketua osis.


Zafran terdiam sejenak. Diam-diam dia melirik ke arah Lika. Namun gadis itu tampak tidak memberikan kode apapun.


Lika justru terus menghindari tatapan Zafran. Ia terlalu takut hubungannya akan ketahuan oleh Chika dan Nadia. Kebetulan dua temannya itu jeli pada setiap tindakan Lika.


"Zafran? Kamu kalau nggak mau, tidak usah dipaksakan. Tapi Ibu mau kasih tahu kamu, bahwa dengan ikut menjadi bagian osis, akan menguntungkan riwayat pendidikanmu selanjutnya." Bu Rita menuturkan dengan pelan.


Zafran yang tergiur akan perkataan Bu Rita, akhirnya memutuskan bersedia. Hal itu sontak membuat Lika kaget.


Sebenarnya sejak tadi Lika mencoba mengirim pesan kepada Zafran. Namun tidak bisa, karena Chika dan Nadia terus ada di sisinya.


Kini Lika hanya bisa menghela nafas berat. Dia bersiap menjawab pertanyaan dari Bu Rita.


"Lik, gue sama Chika dukung lo jadi ketua osis. Lo pokoknya harus terima!" seru Nadia antusias.


Lika bingung harus bagaimana. Dia tidak mau bersaing dengan kekasihnya sendiri, sementara di sisi lain, dirinya merasa pengalaman menjadi ketua osis sangatlah menguntungkan.


Puas berpikir keras. Lika akhirnya membuat keputusan.


"Aku nggak bisa, Bu. Mau fokus belajar aja," imbuh Lika sembari tersenyum kecut. Dia memilih mengalah.


"Lik! Lo kenapa sih?!" Chika terkejut mendengar penolakan Lika. Padahal tadi pagi temannya itu bertekad ingin melawan Zafran di pemilihan ketua osis.


"Gue tiba-tiba merasa capek." Lika menjawab seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.

__ADS_1


Zafran jadi tidak enak. Dia yakin, setelah mendengar keuntungan menjadi ketua osis, Lika pasti berminat untuk ikut. Sejujurnya Zafran tidak memikirkan menang atau kalah. Dia hanya berniat mencoba. Tetapi Zafran juga tidak akan membiarkan Lika mengalah. Alhasil cowok itu langsung angkat suara.


"Dih! Kenapa nolak? Takut kalah ya?!" ujar Zafran dengan suara lantang. Dia tentu hanya berpura-pura.


Lika terkesiap. Matanya memicing menatap Zafran. Dia heran kenapa cowok tersebut tiba-tiba memanas-manasi.


Usai penukasan Zafran, seluruh murid langsung berseru seolah menyudutkan Lika. Bahkan ada yang tertawa secara blak-blakan.


Lika mendelik ke arah Zafran. Dia akhirnya berubah pikiran dan bersedia untuk menjadi kandidat ketua osis.


"Oke, apa ada lagi kandidat selain Lika dan Zafran?" tanya Bu Rita. Dia masih membuka lowongan untuk kandidat ketua osis ketiga. Akan tetapi, hanya hening yang dirinya terima.


"Ayo... setidaknya satu orang saja. Kita nggak bisa biarin Zafran dan Lika bersaing berduaan." Bu Rita merasa cemas. Dia takut perselisihan Zafran dan Lika akan tambah parah dengan kompetisi yang diadakan.


"Dua aja sudah cukup, Bu!" salah satu siswi berteriak nyaring. Ucapannya langsung disetujui oleh murid-murid lain.


"Baiklah kalau begitu." Bu Rita terpaksa setuju. Dia dan para guru harus berdiskusi terkait peraturan pemilihan ketua osis nanti.


Setelah pengumuman berakhir, Lika langsung mengirim pesan kepada Zafran. Dia harus menghindari Chika dan Nadia terlebih dahulu.


...'Kita perlu bicara!!! Kita bertemu di belakang sekolah!'...


...***...


Zafran berjalan memisah dari ketiga temannya. Ia diam-diam pergi ke belakang sekolah. Menunggu Lika sambil menjongkokkan badan.


Dari samping kanan, Lika akhirnya muncul. Zafran langsung berdiri di tempat.


"Tadi itu maksudnya apa sih?!" timpal Lika. Dia tampak mengatur nafas. Dirinya tengah menahan rasa kesal yang membara.


"Maaf ya... tapi aku tahu kalau kau sengaja mengalah. Jadi aku terpaksa berbuat begitu." Zafran menanggapi dengan tenang. Tetapi tidak untuk Lika.


"Tadi aku malu banget tahu nggak?! Tega ya malu-maluin aku depan orang banyak! Kau masih anggap aku musuh ya?! Apa ini salah satu permainanmu yang lain?!" Lika jadi beranggapan yang tidak-tidak.


"Aku sama sekali nggak bermaksud begitu. Biar aku tanya. Kau sebenarnya tertarik ikut jadi kandidat ketua osis kan?" Zafran memastikan.

__ADS_1


Lika membisu sesaat. Hingga kepalanya mengangguk satu kali.


"Tapi aku nggak mau bersaing sama pacar sendiri..." ungkap Lika lirih.


Zafran tersenyum tipis. Dia memegangi pundak Lika. "Kita bisa bersaing dengan sehat. Menang atau kalah, kita tetap harus mendukung satu sama lain," tuturnya.


Lika perlahan menatap dalam manik hitam Zafran. Ia yang tadinya marah, tiba-tiba merasa terenyuh. Alhasil sebuah pelukan diberikan Lika untuk Zafran.


"Ah benar, malam minggu nanti, aku punya rencana pembalasan." Zafran berceletuk. Dia membalas dekapan Lika.


"Pembalasan?" kening Lika mengernyit. Secara alami, pelukannya terlepas dari Zafran.


"Iya, pembalasan rencana kencan versiku." Zafran mengangkat dua alisnya bersamaan.


Lika memutar bola mata sembari tersenyum. Dia tentu senang mendengar rencana Zafran.


"Rencana apa? Bisa kasih tahu nggak?" Lika bertanya seraya mendongakkan kepala.


"Kagak! Yang jelas nggak akan ada acara dansa segala." Zafran bermaksud menyindir rencana kencan Lika yang payah.


"Apaan sih! Berdansa itu seru loh. Kau aja yang sok-sokan nggak mau. Cowok banyak kok yang mau dansa bareng pasangannya," balas Lika.


"Itu cowok lain. Tapi aku enggak!" tegas Zafran.


Lika seketika cemberut. Dia menghela nafas panjang dan memutuskan beranjak saja.


Belum sempat pergi, tangan Zafran dengan cepat menarik lengan Lika. Mengajak gadis itu untuk kembali berpelukan.


"Jangan pergi dulu. Aku masih belum puas," ungkap Zafran. Dia mendekap erat Lika sambil menutup rapat matanya.


Hal yang sama juga dilakukan Lika. Dia membalas pelukan Zafran dan mengembangkan senyuman simpul. Kekesalannya tadi langsung sirna.


Zafran dan Lika hanyut dalam kebersamaan. Keduanya sudah berpelukan selama dua menit lebih.


"Zafran!" Galih mendadak muncul. Dia berhasil memergoki Zafran dan Lika berpelukan. Perkataannya sontak terhenti.

__ADS_1


Sementara itu, Zafran dan Lika reflek saling menjauh. Keduanya juga kaget atas kedatangan Galih. Mata mereka membulat bersamaan.


"Ka-kalian ngapain? Ke-kenapa kalian pelukan sambil senyum-senyum begitu?" tanya Galih. Dia bingung bukan kepalang.


__ADS_2