Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 24 - Tatapan Elang Zafran


__ADS_3

...༻⊚༺...


Acara untuk merayakan kesuksesan bisnis keluarga Laksana diselenggarakan. Satu per satu tamu berdatangan. Termasuk tamu penting seperti Afrijal dan Tania. Keduanya tidak lain adalah kakek dan neneknya Zafran.


"Papah sangat bangga sama kamu, Mal. Bisnis kita perlahan bisa merambah ke luar negeri. Itu pencapaian terbaik keluarga Laksana dalam beberapa tahun terakhir." Afrijal melontarkan pujian sambil memeluk Gamal. "Dan yang paling membuatku bangga, kau bisa mendidik Zafran dan Revita dengan baik," tambahnya yang kali ini menepuk pelan pundak sang putra.


"Semuanya tidak akan terjadi tanpa adanya dukungan Papah dan Mamah," tanggap Gamal sembari mengembangkan senyuman. Dia segera menoleh ke arah Zafran. Putra sulungnya itu terlihat masih mengobrol dengan beberapa teman seumurannya.


"Zafran!" panggil Gamal.


Zafran bergegas menghampiri. Dia tersenyum simpul dan langsung memeluk erat Afrijal.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Afrijal. Dia dan Zafran saling melepas pelukan.


"Begitulah, Kek. Ada yang menyenangkan dan ada yang tidak," jawab Zafran.


"Ingat! Jangan--"


"Seperti ayahku! Aku udah bisa tebak omongan Kakek. Kalau ketemu, pasti mengingatkan itu terus," potong Zafran yang dapat menduga kalimat kelanjutan dari sang kakek.


Afrijal tertawa lepas. Dia membawa Zafran masuk ke dalam rangkulan. Afrijal sangat bangga dengan cucunya tersebut. Mengingat Zafran berperilaku lebih baik dibanding Gamal saat di sekolah. Apalagi dengan menggunungnya prestasi yang dimiliki Zafran.


"Kakimu sudah sepenuhnya pulihkan? Apa benar kau jatuh sendiri? Bukan anak dari keluarga Baskara itu kan yang mencelakaimu?" Afrijal mengamati keadaan kaki Zafran. Ia ingat kalau sang cucu mengalami kecelakaan dan tidak bisa mengikuti pertandingan karate. Hingga sekarang, Afrijal selalu waspada dengan keluarga Baskara. Bahkan kepada anak remaja seperti Lika sekali pun. Mungkin sebenci itulah keluarga Laksana terhadap keluarga Baskara.


"Ini emang jatuh sendiri, Kek!" sahut Zafran. Afrijal lantas mengangguk mengerti.


Puas saling bicara, Zafran kembali bergabung bersama teman-temannya. Ada Tomy-anaknya Tirta. Alan-anaknya Danu, serta dua orang lain yang merupakan putra dari teman-teman bisnis Gamal.


"Gue lihat lo tanding basket minggu lalu. Teknik lo emang keren banget, Zaf!" puji Tomy.


"Makasih... gue emang gitu." Zafran melambaikan tangan ke depan wajah. Seakan bangga dengan bakat yang dimilikinya.


"Elah... malah ngelunjak lo ya." Tomy menggeplak bagian belakang kepala Zafran. Keduanya dan yang lain tergelak kecil sejenak.


"Eh, ngomong-ngomong Ramanda kenapa dari tadi duduk menyendiri terus? Kan biasanya dia yang paling semangat dibanding kita," cetus Alan yang baru saja menengok ke arah Ramanda.


"Kalian tunggu di sini. Gue akan ngajak dia gabung." Zafran berucap setelah meneguk segelas mocktail. Lalu berderap mendekati Ramanda.

__ADS_1


Zafran menarik sebuah kursi. Dia duduk tepat di hadapan Ramanda. Membuat gadis itu sontak mengerutkan dahi.


"Lo kenapa?" tukas Ramanda.


"Lo masih mikirin Rian?" Zafran justru berbalik tanya.


"Sedikit. Gue nggak menyangka dia bisa gitu. Semua cowok sama aja," ucap Ramanda dengan wajah yang tertunduk lesu.


"Tapi gue enggak." Zafran memegangi dagu Ramanda. Memaksa gadis itu agar bisa menatap lurus ke arahnya.


Lidah Ramanda berdecak. Dia tentu menganggap Zafran hanya bercanda. "Jangan banyak bacot. Pacaran aja nggak pernah!" sinisnya yang kini terkekeh.


"Gue serius, Ra." Zafran memasang ekspresi meyakinkan. Tatapan tajam terpancar melalui mata elangnya.


Ramanda terkesiap. Tatapan Zafran membuatnya tidak bisa berkata-kata. Secara alami, jantung Ramanda berdetak kencang. Dia tidak pernah melihat Zafran seserius itu.


"E-elo mau ngomong apa coba?" Ramanda agak terbata-bata.


"Gimana tanggapan lo, kalau gue suka sama lo..." ungkap Zafran pelan.


"Hah?" Ramanda tercengang. Ia tidak pernah menyangka Zafran akan berucap begitu. Ramanda kembali bingung harus mengatakan apa. Terlebih Zafran tidak kunjung memutuskan pandangan darinya.


Berbeda dengan Ramanda, Zafran sama sekali tidak merasakan getaran apapun dihatinya. Dia merasa sangat berbeda dibanding biasanya. Dari sana Zafran dapat menyimpulkan, kalau perasaannya terhadap Ramanda biasa saja. Akibat hal itu, dia tidak punya pilihan lain selain menarik ucapannya tadi.


Perlahan Zafran tergelak. Lama-kelamaan tawanya sampai terpingkal-pingkal.


"Hahaha... sorry, Ra. Bercanda..." ucap Zafran disela-sela tawanya.


Ramanda seketika cemberut. Dia memberikan Zafran pukulan bertubi-tubi.


"Nggak lucu tahu! Sumpah! Lo nyebelin banget!" geram Ramanda. Dia terus memukuli badan Zafran. Cowok itu hanya bisa tertawa sambil menahan rasa sakit.


"Zafran! Ramanda! Ayo makan!" pekik Zara dari kejauhan. Menyebabkan Zafran dan Ramanda buru-buru beranjak. Mereka melanjutkan aktifitas dengan makan bersama.


Setelah acara selesai, Zafran kembali ke kamar. Dia rebahan ke kasur. Berpikir keras tentang perasaannya kepada Lika.


Mimpi yang sempat di alami Zafran tadi sore, jadi terbayang lagi. Meski hanya mengingat, jantung Zafran berpacu lebih cepat. Mengharuskan satu tangannya memegangi letak jantung berada. Yaitu tepat di bagian dada kiri.

__ADS_1


...***...


Lika sedang berada di bioskop bersama Ari. Jujur saja, dia berupaya keras agar bisa benar-benar menyukai cowok tersebut. Lika bahkan membiarkan Ari mencium pipinya.


Walau Ari memberi sentuhan seintim itu, jantung Lika cenderung normal saja. Hubungannya dengan Ari terasa seperti teman.


Lika hanya bisa mengukir senyuman kecut. Dia tidak dapat membantah, kalau debaran cepat jantungnya hanya terjadi ketika dirinya berdekatan dengan Zafran.


Pulang dari kegiatan kencan yang membosankan, Lika menghempaskan diri ke kasur. Perasaan khususnya terhadap Zafran terpikir kembali. Lika tiba-tiba penasaran dengan kegiatan cowok itu. Sehingga dia akhirnya nekat memeriksa akun media sosial Zafran.


Lika menemukan unggahan foto terbaru Zafran. Cowok itu terlihat berpakaian rapi bersama teman-temannya. Zafran membagi sekitar tiga foto.


Dua foto pertama, Zafran memperlihatkan kedekatannya bersama para teman lelaki. Foto terakhirlah yang langsung membuat Lika merasa kalut. Sebab Zafran tampak merangkul mesra Ramanda. Keduanya terlihat bahagia dengan senyuman lepas yang menampakkan gigi.


"Selalu aja cewek itu. Jelas banget kalau Zafran suka sama dia," komentar Lika. Dia membanting ponsel ke atas ranjang. Kemudian menutup wajah dengan kedua tangannya.


Lika memecahkan tangis. Dia tidak tahu kenapa hatinya terasa sangat sesak. Segala yang dirinya lakukan dengan Ari terasa sia-sia. Hati kecilnya hanya menginginkan Zafran. Lika memang tidak bisa membohongi dirinya sendiri.


"Gue emang gila..." lirih Lika. "Kenapa harus dia..." sambungnya lagi.


Malam itu Lika nyaris tidak bisa tidur. Dia terlelap saat larut malam. Untuk yang pertama kalinya, Lika mengabaikan bunyi alarm di pagi hari.


"Lika! Kamu belum bangun? Ini udah siang banget. Tumben kamu tidur kesiangan?" Selia memanggil dari luar kamar.


Lika yang mendengar, perlahan tersadar. Dia mengerjapkan mata dan langsung memeriksa jarum jam.


"Astaga!" Lika kaget saat melihat waktu sudah menunjukkan jam 07.20. Pertanda kalau sepuluh menit lagi bel pertanda masuk berbunyi.


Lika berangkat dengan tergesak-gesak. Dia bahkan menyuruh sopirnya untuk melakukan aksi kebut-kebutan.


Sesampainya di sekolah, gerbang sudah ditutup. Lika tidak mendapat kesempatan untuk masuk.


"Pak Rudi, aku mohon! Biarin aku masuk!" mohon Lika kepada satpam yang berjaga.


"Nggak bisa! Kan kamu tahu sendiri kalau siapapun yang terlambat, tidak diperbolehkan masuk!" tegas Pak Rudi.


"Ada yang telat juga ternyata," celetuk suara cowok yang mendadak muncul dari belakang.

__ADS_1


Lika sontak menoleh. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan siapa cowok tersebut.


__ADS_2