Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 27 - Pertemuan Keluarga


__ADS_3

...༻⊚༺...


Lika termangu sendiri. Detak jantungnya semakin menggebu. Tatapannya tidak teralihkan dari sosok Zafran.


Sadar gadis di hadapannya terus memandangi, Zafran balas menatap. Waktu seolah berhenti. Tepat saat Zafran dan Lika saling bertukar pandang. Ke-empat orang lelaki yang tergeletak di tanah seolah tidak berarti.


Sama seperti Lika, Zafran merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Entah kenapa dia sangat senang melihat Lika mengkhawatirkan dirinya.


Perlahan jari-jemari Zafran menyeka air mata diwajah Lika. Dia menatap dalam manik hitam gadis itu. Zafran tidak tahu apa yang merasuki dirinya. Tetapi keinginan untuk mencium bibir Lika begitu menuntut. Terlebih kemarin Zafran sempat bermimpi mendapatkan ciuman dari gadis tersebut.


Mata Lika hanya bisa satu hingga dua kali mengerjap. Dia sekarang merasa sangat gugup. Apalagi ketika telapak tangan Zafran terus bertengger di salah satu pipinya.


Kini Zafran memegang erat tengkuk Lika. Mendekatkan wajahnya ke arah cewek itu.


Seperti sebelumnya, Lika memejamkan mata. Dia memang tidak bisa membantah kalau dirinya telah lama menanti pendekatan Zafran.


Jarah wajah di antara Zafran dan Lika hanya helat beberapa inci. Bibir mereka sedikit lagi menyatu.


Zafran ikut menutup mata. Namun itu tidak berlangsung lama, karena suara mobil yang mendekat terdengar dari belakang. Dia otomatis membuka mata. Saat itulah Zafran sukses memergoki Lika memejamkan mata.


Senyuman lebar mengembang di mulut Zafran. Dia gemas dengan ekspresi yang ditunjukkan Lika. Anehnya rasa benci tidak bersarang lagi untuk gadis itu.


"Lo mending urus ingus yang ada di hidung dulu," tegur Zafran. Membuat Lika sontak membuka lebar matanya. Padahal tidak ada sedikit pun ingus yang keluar dari hidung cewek itu.


Wajah Lika memerah padam. Dia langsung berbalik badan. Ingin lekas-lekas mengurus ingusnya.


"Bwahahaha... nggak ada kok." Zafran tergelak lepas.


Mendengar Zafran tertawa, mata Lika mendelik. Dia langsung melayangkan tendangan ke betis Zafran. Tetapi serangannya sama sekali tidak membuat cowok itu kesakitan.


"Lo itu manusia paling nyebelin tahu nggak!" geram Lika sambil mengepalkan tinju di kedua tangan.

__ADS_1


"Yang benar? Terus tadi kenapa kayak mau minta dicium?" balas Zafran.


"A-apa?! Ci-cium? Lo gila!" wajah Lika memerah malu. Perkataan Zafran berhasil menohoknya. Dia hanya berusaha keras menutupi sikap salah tingkahnya.


Sebuah mobil mendadak berhenti. Orang-orang yang datang ternyata adalah polisi. Berkat kedatangan mereka, rasa malu Lika bisa tertutupi dengan baik.


Zafran dan Lika diwajibkan ikut ke kantor polisi. Keduanya harus menyelesaikan urusan terkait perampokan yang nyaris terjadi.


Lagi-lagi Zafran dan Lika harus terlibat masalah berdua. Mereka mencoba memohon agar polisi tidak melaporkan semuanya kepada keluarga masing-masing. Akan tetapi sayang, memberitahukan kepada keluarga terkait merupakan kewajiban bagi polisi. Alhasil keluarga Lika dan Zafran diberitahukan atas masalah yang terjadi.


Selain harus mengurus perihal perampokan, Zafran dan Lika juga harus bertanggung jawab terhadap pelanggaran lalu lintas.


"Kalian berdua pacaran?" tanya polisi dengan nama Romi di pin nama yang tersemat di baju.


"Nggak!" Zafran dan Lika membantah bersamaan.


"Terus? Kenapa kalian cuma berduaan? Nggak mungkin bukan pacaran kan? Ini masih jam sekolah lagi. Kalian pasti membolos!" timpal Romi dengan kening yang mengerucut.


"Enggak, Pak! Kami tadi kebetulan telat masuk sekolah. Makanya kami nggak dibolehin masuk lewat gerbang. Kalau Bapak nggak percaya, tanya saja sama satpam sekolah!" jelas Lika panjang lebar.


Romi melakukan tatapan selidik. Dia hampir tidak mau percaya pada dua anak SMA yang duduk di hadapannya. Namun karena keterangan Zafran dan Lika terkesan tidak berbelit-belit, dia akhirnya percaya. Lalu menyuruh Lika dan Zafran menunggu di luar ruangan.


...***...


Sekarang Zafran dan Lika sedang duduk bersebelahan. Meskipun begitu, keduanya sengaja duduk di jarak yang jauh. Posisi mereka bagaikan selatan dan utara.


"Gimana nih... kalau tante gue tahu kalau gue pergi bareng lo, bisa gawat tahu nggak." Lika menghela nafas panjang. Dia menundukkan kepala. Sampai rambut panjangnya berguguran untuk menutupi wajah.


"Lo nggak tahu betapa bencinya bokap dan kakek gue sama keluarga lo," sahut Zafran.


"Kalau gitu, kita mending siapin mental baik-baik." Lika mengusulkan. Ia kembali menyepi bersama Zafran.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Selia datang bersama dengan suaminya. Dia langsung membawa Lika masuk ke dalam pelukan. Saat itulah dia dapat menyaksikan kehadiran Zafran.


Perlahan Selia melepas dekapannya dari Lika. Dia berkata, "Kamu anak dari keluarga Laksana bukan?"


Selia bisa tahu karena Zafran sangat mirip dengan Gamal. Matanya memperhatikan baik-baik sosok Zafran.


"Iya." Zafran menjawab sambil berdiri. Membiarkan Selia berjalan tepat ke hadapannya.


"Kamu apakan Lika, hah?! Pasti kamu kan yang bikin Lika terlibat masalah ke sini?!" timpal Selia. Menyalahkan semuanya kepada Zafran.


"Udah, Tante. Semuanya akan di urus sama polisi kok." Lika berusaha menghentikan amarah Selia yang membludak.


"Kamu kenapa begitu, Lik?! Bilang sama Tante! Dia yang ngajak kamu bolos sekolah kan?! Kamu nggak pacaran sama anak bidal ini kan?!" tukas Selia dalam keadaan mata menyalang hebat.


"Nggak, Tante! Semuanya terjadi tanpa sengaja. Aku sama Zafran bahkan bukan teman! Tante tahu sendiri kalau aku juga benci sama dia." Lika memberikan alasan sekenanya. Terpikir dalam benaknya untuk menyalahkan Zafran. Lika yakin, Zafran akan melakulan hal serupa jika berada diposisinya.


"Dia paksa aku masuk ke mobilnya. Terus kebut-kebutan di jalan. Sampai-sampai dia ngelewatin lampu merah. Untung aku masih baik-baik aja, Tante..." Lika mengikuti kata hatinya. Dia tidak punya pilihan karena tidak mau Selia salah paham akan hubungannya dengan Zafran.


Mendengar pernyataan Lika, Zafran langsung melirik tajam. Dia berpikir gadis itu tidak pernah berubah. Masih saja menjadi pengadu yang menyebalkan. Tetapi entah kenapa sekarang Zafran berniat mengalah saja. Dia ingin Lika puas terhadap ucapan sendiri.


"Iya, aku memang mau ngerjain Lika." Zafran mengakui begitu saja. Padahal pengakuannya hanyalah kebohongan belaka.


"Zafran..." Lika dibuat kaget dengan pengakuan Zafran. Kini dia tak tahu harus bagaimana.


Emosi Selia sudah tidak terbantahkan. "Sudah kuduga! Kamu memang tidak ada bedanya dengan ayah dan ibumu! Sama-sama busuk tahu nggak!" tukasnya.


"Dengar ya. Jika kamu berani lagi mengganggu Lika, maka jangan harap aku akan tinggal diam!" ancam Selian. Jari telunjuknya mengarah ke wajah Zafran.


"Kayaknya mulut Tante deh yang busuk," balas Zafran. Dia sama sekali tidak takut dengan kemarahan Selia.


Tangan Selia sudah terangkat ke udara. Berniat melayangkan tamparan ke pipi Zafran. Bertepatan dengan itu, Gamal datang.

__ADS_1


"Zafran!" panggil Gamal sembari bergegas menghampiri. Dia menarik Zafran ke balik badannya. Lalu berdiri ke hadapan Selia.


"Kau tidak pernah berubah! Kalau kau tadi sempat menampar putraku, maka aku akan langsung melaporkanmu ke polisi!" Gamal menatap tajam Selia.


__ADS_2