Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 37 - Susahnya Backstreet


__ADS_3

...༻⊚༺...


Lika mengembangkan senyuman. Dia memegang lembut tangan Zafran yang melingkar di pinggang. Wajahnya merah merona.


Perlahan Lika menggerakkan bola mata ke arah pintu. Dia menyadari pintu sedikit bergerak. Sepertinya ada seseorang yang hendak masuk.


Benar saja, sosok Galih tampak muncul dari balik pintu. Membuat Lika langsung melepas paksa pelukan Zafran. Lalu mendorong cowok itu sampai terjatuh.


Buk!


Zafran jatuh dalam keadaan terduduk. Dia terperangah sekaligus bingung akan sikap Lika.


"Lo itu nggak pernah kapok gangguin gue ya!" timpal Lika. Berlagak sedang bertengkar dengan Zafran. Dia segera memberitahu Zafran melalui gerakan bola mata.


Setelah menyaksikan kehadiran Galih, barulah Zafran mengerti terhadap sikap aneh yang dilakukan Lika. Ia lantas berdiri ke hadapan gadis tersebut. Bersiap untuk ikut melakukan sandiwara.


"Lo tuh! Yang selalu ngajak berantem duluan!" balas Zafran. Berupaya keras menunjukkan raut wajah marah.


Galih hanya geleng-geleng kepala. Untung saja dia tidak sempat memergoki kemesraan Zafran dan Lika tadi. Galih memilih berdiri di pinggir lapangan. Sebab dirinya merasa tidak akan bisa melerai pertengkaran yang terjadi di antara Zafran dan Lika.


"Muak gue sama lo tahu nggak!" Lika berbalik pergi. Dia sebenarnya bingung harus membahas topik apa untuk dipertengkarkan. Lika bergegas mengambil tas dan beranjak.


"Hai, Lik..." Galih menyempatkan diri untuk menyapa Lika. Namun gadis itu tidak hirau. Ia berjalan laju dengan langkah kaki menghentak.


Mata Galih mendelik ke arah Zafran. Dia menghampiri temannya tersebut dengan tepukan kuat ke pundak.


"Aduh! Kenapa gue dipukul coba?" protes Zafran tidak terima.


"Lo tuh satu-satunya orang yang bikin wajah cantik Lika jadi cemberut tahu nggak!" tukas Galih.


Zafran mendengus kasar. Dia ingin buru-buru menyusul Lika. Cowok itu mengambil ransel dan melangkah menuju pintu.


"Lah, gue ditinggalin dong." Galih yang merasa ditinggal, otomatis mengikuti. Alasan dia kembali karena ingin menumpang di mobil Zafran.


"Zaf, habis ini lo pergi nge-gym kan? Sekalian antar gue pulang ya!" ucap Galih seraya merangkul pundak Zafran. Dia bersikap baik saat menginginkan sesuatu.


"Enggak! Gue hari ini harus..." perkataan Zafran terjeda, ketika dia baru mengingat ucapan Gamal pagi tadi. Ayahnya itu menyuruhnya langsung pulang. Tetapi sayang, Zafran sudah terlanjur berjanji akan pergi bersama Lika. Ia tidak mau kencannya ditunda lagi.


"Lo mau ngapain?" pertanyaan Galih sukses menyadarkan Zafran.

__ADS_1


"Gue disuruh langsung pulang buat les. Kebetulan kedok bolos gue udah ketahuan bokap," terang Zafran.


"Tapi nggak apa-apa kan kalau gue ikut nebeng mobil lo?" Galih belum menyerah. Dia tersenyum hingga menampakkan deretan giginya yang putih.


"Kagak! Naik angkot aja gih!" tolak Zafran. Dia melepas rangkulan Galih, lalu berlari masuk ke dalam mobil.


Mulut Galih menganga lebar. Dia kehabisan kata-kata saat Zafran tega meninggalkannya sendirian.


...***...


Zafran menghentikan mobil tidak jauh dari sekolah. Dia segera menghubungi Lika melalui via telepon.


Belum sempat telepon terhubung, Lika sudah masuk ke mobil. Dia duduk tepat di samping Zafran.


"Maaf doronganku yang tadi ya? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Lika cemas. Dia merasa bersalah sudah mendorong Zafran sampai terjatuh.


Zafran menarik sudut bibirnya ke atas. Terlintas sesuatu hal dalam benaknya. Dia perlahan memegangi salah satu pipi dan berkata, "Pipiku sakit banget nih..."


Raut wajah Lika langsung berubah jadi datar. Dia tersenyum lebar dan malah memukul pelan pipi Zafran.


"Ketahuan banget bohongnya! Jelas-jelas pipimu tadi nggak ke lantai," ujar Lika yang mengakhiri kalimatnya dengan juluran lidah mengejek.


"Idih! cari perhatian banget." Tawa Lika belum pudar. Dia mengusap puncak kepala Zafran. Keduanya selalu tidak bisa melewatkan pertukaran tatapan lekat.


"Iya dong." Zafran bicara sambil mendekat ke arah Lika.


"Oke, sekarang kita kemana?" cetus Lika.


"Kita makan siang ke starbucks aja gimana?" Zafran melirik ke arah Lika selintas. Ia baru saja mengemudikan mobil ke jalan raya.


"Boleh." Lika lekas mengangguk. Dia dan Zafran segera pergi.


Setibanya di restoran. Zafran dan Lika memilih meja kosong. Keduanya duduk saling berhadapan. Hanya sibuk bertukar pandang dan tidak berhenti tersenyum.


Perlahan tangan Zafran bertaut ke jari-jemari Lika. Cowok itu mencondongkan wajah ke hadapan Lika.


"Hari ini kamu bikin banyak cowok heboh tahu nggak," tukas Zafran. Salah satu alisnya terangkat. Ia memancarkan tatapan elangnya lagi.


Lika tersenyum tipis. Dia ikut mendekatkan wajah ke hadapan Zafran. "Emang kenapa? Sendirinya tuh yang udah bikin heboh tadi malam. Udah lihat video Jia nggak?" tanya-nya.

__ADS_1


Zafran memutar bola mata jengah. "Udah... aku yakin video itu bakal dilupain orang secepat mungkin," tanggapnya.


"Yang benar? Jia bilang suka sama kamu loh."


"Biarin. Kan aku sukanya sama kamu!" Zafran semakin mengencangkan genggaman tangannya.


"Sok ganteng banget, sumpah!" Lika yang gemas mencubit pipi Zafran. Ulahnya sukses membuat Zafran terkekeh geli.


Tak lama kemudian pesanan datang. Seorang pelayan menyodorkan minuman serta makanan untuk Zafran dan Lika. Keduanya segera menikmati hidangan yang ada.


Di saat Lika sibuk menyuap makanan, Zafran justru sibuk memandangi. Dia terpaku sambil menopang kepala dengan satu tangan.


Awalnya Lika tidak sadar dengan perhatian Zafran. Sampai akhirnya cowok itu berdiri dan duduk ke kursi di sebelah Lika.


"Apaan sih," ucap Lika sembari memiringkan kepala.


"Emang cowoknya nggak boleh duduk dekat-dekat?" Zafran kembali menatap Lika. Dia tampak memakai pose yang sama seperti tadi.


Gara-gara terus mendapat tatapan, Lika akhirnya menoleh. Lalu menyumpal mulut Zafran dengan sepenggal roti. Cowok itu terkejut dan terpaksa mengunyah makanan pemberian Lika.


"Kamu bikin aku nggak fokus, Zaf..." keluh Lika. Dia mentertawakan Zafran yang terlihat kesulitan mengunyah roti.


Zafran menelan roti dengan pelan. Dari kejauhan dirinya bisa melihat ada Jia dan dua gadis lain. Mereka terlihat baru melangkah masuk melewati pintu.


"Sial!" umpat Zafran.


"Kenapa ngomong kasar sih?" Lika yang tidak tahu apa-apa, mengerutkan dahi.


"Kita harus pergi!" Zafran menarik tangan Lika. Ia hendak mengajak Lika cepat-cepat pergi dari restoran.


"Kenapa, Zaf? Kita aja belum selesai makan!" Lika masih belum mau beranjak dari kursi.


"Lihat belakangmu" titah Zafran. Membuat Lika otomatis menoleh. Matanya langsung membulat ketika menyaksikan kehadiran Jia. Untungnya cewek itu baru berjalan ke depan meja kasir.


"Kita harus pergi sekarang! Tapi untuk jaga-jaga, mending kita nggak usah keluar bareng. Kamu duluan deh, aku mau ke toilet bentar." Lika memberikan usul.


Zafran setuju saja. Dia menjadi orang yang beranjak lebih dulu dari restoran. Zafran berusaha keras menutupi wajahnya dari Jia.


"Zafran!" panggil Jia. Matanya tentu dapat mengenal dengan jelas sosok Zafran. Cowok itu dipanggil ketika nyaris berjalan melalui posisi Jia berada.

__ADS_1


"Eh, Jia. Lo ngapain di sini?" Zafran berlagak seolah baru melihat Jia.


__ADS_2