Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 31 - Terpaksa Mengakui


__ADS_3

...༻⊚༺...


Sambil melangkah mundur, Lika perlahan membuka mata. Dia melihat raut wajah Zafran terlihat sangat kaget. Cowok itu bahkan tidak mengatakan apapun. Zafran hanya sibuk termangu dalam keadaan berdiri tegak.


Lika reflek menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia memasamkan wajah, lalu kembali ke dalam toilet. Lika merasa malu setengah mati. Semuanya terjadi begitu saja.


Bruk!


Lika masuk ke toilet dengan cara membanting pintu. Merasa syok atas pernyataan yang baru di ucapkannya tadi.


"Gila! Gila! Gila... hiks..." Lika menutup wajah dengan dua tangan. Dia meluruhkan tangis akibat merasa saking malunya.


Lika menyesali apa yang sudah dikatakannya. Tetapi mau bagaimana lagi? Dia sudah mengungkapkan perasaannya kepada Zafran.


Sementara itu, Zafran masih belum bisa mencerna pernyataan Lika. Belum lagi ciuman yang terasa intim di bibirnya. Dia tidak menyangka Lika akan berbuat begitu.


"Di-dia bilang apa? Jatuh cinta?" Zafran meragu. Dia tentu tidak dapat mempercayai Lika sepenuhnya.


"Dia udah gila kalau berniat mau main-main dengan cara begitu!" gumam Zafran tak percaya. Seperti biasa, dia selalu menggunakan logika dalam bertindak.


Kini Zafran berdiri di samping pintu toilet perempuan. Menanti Lika keluar dari sana.


Sekian menit berlalu, gadis yang ditunggu akhirnya muncul. Menyaksikan kehadiran Zafran, Lika langsung tersentak.


Lika tidak bisa berkata-kata dan hendak kembali masuk ke toilet. Namun Zafran lekas mencekal tangannya.


"Lo mau ngerjain gue kan? Tapi nggak perlu sampai cium bibir segala kali! Lo pikir gue nggak jijik?! Najis tahu nggak!" tukas Zafran. Menarik Lika lebih dekat ke hadapan. Cewek itu menunduk dalam keadaan mata yang berkaca-kaca.


"Kali ini gue serius, Zaf... Gue nggak bermaksud ngerjain lo sama sekali..." jelas Lika lirih. Menyebabkan pegangan tangan Zafran perlahan melonggar. Cowok itu tidak tahu harus berkata apa. Ekspresinya menjadi datar seketika.


Air mata Lika akhirnya berjatuhan. Dia mengumpulkan keberanian, kemudian mendongak untuk menatap Zafran.


"Lo mungkin berpikir gue gila. Tapi apa yang gue rasakan terjadi gitu aja. Gue sebenarnya sangat menentang perasaan gue ini..." ungkap Lika di sela-sela tangisannya.


"Lo bercanda kan?" Zafran masih tidak percaya. Walaupun begitu, dia terlihat menanggapi dengan serius.


"Kalau gue ngerjain lo, gue nggak bakalan sudi menyentuh tangan lo. Tapi tenang aja, gue nggak berharap sama tanggapan lo kok. Gue tahu gimana bencinya lo ke gue. Maaf atas ciuman tadi." Lika menghapus air mata di wajahnya. Kebetulan Zafran telah melepas pegangannya. Jadi gadis itu langsung beranjak ketika sudah mengatakan apa yang seharusnya dikatakan.

__ADS_1


Jujur saja, Lika berupaya keras menutupi rasa malunya. Dia hanya memaksakan diri menghadapi Zafran.


Lika masuk ke kelas sambil memegangi perut. Chika dan Nadia yang melihat, bergegas bangkit dari tempat duduk. Wajah Lika masih tampak sembab.


"Lo kenapa, Lik? Lo nangis?" tanya Chika dengan perasaan cemas.


"Iya, perut gue sakit banget. Kalian bisa bantuin gue izin sama guru nggak? Gue mau minta pulang cepat aja. Gue udah nggak kuat..." ujar Lika berkilah. Ia berpura-pura menahan rasa sakit di perut.


"Oke, Lik! Gue izinin sama Bu Rita ya. Chik, lo bantuin Lika siap-siap buat pulang ya!" Nadia segera menemui salah satu guru di sekolah.


Tidak perlu menunggu lama, Lika dibiarkan pulang lebih dulu. Itu adalah pertama kalinya dia ingin cepat-cepat pergi dari sekolah.


...***...


Sepulang dari sekolah, Lika langsung mengurung diri di kamar. Merebahkan tubuhnya ke kasur. Lalu menangis tanpa suara.


'Kok gue merasa sakit hati ya. Melihat respon Zafran begitu... dia pasti nggak punya perasaan apa-apa ke gue,' batin Lika. Dia merasa tidak sanggup lagi menemui Zafran. Mungkin itulah alasan terbesarnya berpura-pura sakit dan pulang lebih dulu dari sekolah.


Selama beberapa jam, Lika hanya sibuk meratap. Meringkuk di ranjang dalam keadaan mata yang sesekali mengedip. Dia sudah lelah menangis. Hanya hatinya yang terus merasakan kekalutan.


"Aku baik-baik aja, Tante. Tadi cuman sakit perut doang," terang Lika sembari merubah posisi menjadi duduk. Dia tidak lupa memegangi perutnya sendiri.


"Begini akibatnya kalau makan kamu nggak teratur. Sakit kan? Tadi nggak sekalian ke rumah sakit?" Selia memastikan.


"Sakitnya nggak separah itu kok. Nggak perlu sampai dibawa ke rumah sakit." Lika lekas menggeleng. Dia tentu tidak mau dirinya dibawa ke rumah sakit.


"Beneran?"


"Iya, Tante." Lika memaksakan diri tersenyum. Mencoba menegaskan kalau dia baik-baik saja.


"Terus kenapa kamu bisa sampai nangis? Kalau ada apa-apa, kamu harus cerita sama Tante. Cepat katakan apa yang kamu inginkan sekarang." Selia mengusap wajah Lika dengan lembut. Menampakkan kekhawatiran di semburat wajahnya.


Lika menggigit bibir bawahnya. Dia sebenarnya sangat ingin menceritakan segala kegundahan yang dirinya rasakan. Namun karena semuanya berkaitan dengan Zafran, Lika tentu tidak bisa bercerita.


Hening menyelimuti suasana. Lika akhirnya tertidur dalam belaian lembut Selia.


Di sisi lain, Zafran sedang berjongkok sendiri di belakang sekolah. Rokok tersemat di jari-jemarinya. Dia terus membayangkan pengakuan dan ciuman Lika beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Secara alami, jantung Zafran berdegub kencang. Dia segera memegangi dada kirinya. Merasakan ke antusiasannya ketika mengingat Lika.


'Kemarin gue udah pastiin perasaan gue ke Ramanda. Dan itu nggak berdampak apa-apa. Tapi saat gue ingat dan dekat sama Lika, kok beda banget ya? Apa gue juga punya perasaan sama dia?' benak Zafran bertanya-tanya. Meski sadar jantungnya hanya berdegub kencang karena Lika, dia selalu saja menepis kenyataan.


Zafran menggeleng kuat. Lalu mematikan rokok dan membuangnya jauh-jauh. Dia bergegas kembali ke kelas.


Satu hari terlewat. Seperti biasa, Zafran selalu duduk di kantin saat istirahat pertama. Namun kali ini ada yang berbeda. Zafran tidak melihat kehadiran Lika. Di kantin bahkan hanya tampak Chika dan Nadia yang makan bersama. Padahal biasanya Lika selalu ada dengan mereka.


Zafran diam-diam mengedarkan pandangan ke segala arah. Berharap bisa menemukan Lika. Tetapi sayang, batang hidung cewek itu tidak terlihat dimana-mana.


"Cari siapa, Zaf? Musuh kita itu ya?" tegur Jia yang dapat menyaksikan Zafran celingak-celingukan.


"Eng-enggak kok. Ngapain gue cari dia!" bantah Zafran. Matanya gelagapan tak tentu arah. Dia jelas berbohong.


"Katanya dia lagi sakit. Makanya nggak bisa sekolah. Kayaknya dia juga nggak bisa datang ke ulang tahun gue." Jia tersenyum tipis. Seolah bahagia di atas penderitaan Lika.


"Sakit?" Dua alis Zafran terangkat.


"Iya, Chika dan Nadia yang kasih tahu," tanggap Jia.


Ekspresi Zafran tampak gelisah. Dia tentu mengkhawatirkan Lika. Apalagi gadis itu langsung menghilang setelah menyatakan perasaan cinta kepadanya.


"Lih! Ikut gue!" Zafran berdiri dan menyeret Galih ikut bersamanya.


"Eh, eh, eh... gue belum selesai--" Galih yang tidak rela dibawa, hanya bisa pasrah. Zafran membawanya ke tempat yang jauh dari keramaian.


"Woy! Kalian mau kemana berduaan doang?!" timpal Ervan yang merasa ditinggalkan. Tetapi Zafran dan Galih sudah terlanjur pergi.


Sekarang Zafran dan Galih berdiri saling berhadapan. Zafran memamerkan mimik wajah serius, sedangkan Galih nampak kesal.


"Lo mau ngapain bawa gue ke sini?! Jangan aneh-aneh, Zaf. Lo nggak mungkin suka sama gue kan?" tebak Galih yang malah berpikiran aneh.


"Gila! Jangan kepedean lo! Gue cuman mau cerita tentang sesuatu!" tepis Zafran tegas.


"Apaan?" tanya Galih dengan dahi berkerut.


"Ini tentang Lika. Dia bilang suka ke gue," sahut Zafran. Menyebabkan Galih sontak terpelongo.

__ADS_1


__ADS_2