
...༻⊚༺...
Ketika Ari sibuk meniup mata Lika yang kelilipan, saat itulah Zafran melihat. Cowok itu langsung melayangkan bogem ke wajah Ari.
Lika dibuat sangat kaget dengan keributan yang terjadi. Insiden tersebut langsung menarik banyak pasang mata.
"Lo gila ya?!" timpal Ari sembari memegangi wajah yang kena pukul. Matanya menyalang hebat. Dia mengepalkan tinju di salah satu tangan. Berniat membalas perbuatan Zafran.
Buk!
Sebuah serangan balasan benar-benar dilakukan oleh Ari. Semua itu membuat Lika kebingungan. Terlebih Zafran marah di depan umum. Semua orang pasti penasaran dengan alasan Zafran bertindak begitu.
"Lo tuh yang gila! ****** lo!!" balas Zafran seraya mencengkeram kerah baju Ari. Dia tadi mengira Ari memaksa Lika berciuman lagi. Padahal kenyataannya tidak.
"Lo kenapa?! Apa peduli lo, hah?! Temannya Lika aja bukan!" geram Ari. Membulatkan mata seakan tidak takut dengan amarah Zafran.
"Sudah cukup! Zafran!" Lika mencoba menghentikan. Namun baik Zafran atau pun Ari, keduanya sama-sama mengabaikan.
"Lo mau tahu kenapa?!" ujar Zafran. Dia mendorong kasar sekaligus melepas cengkeraman dari kerah baju Ari. Kemudian menggenggem pergelangan tangan Lika.
"Itu karena Lika pacar gue!" ungkap Zafran.
Deg!
Jantung Lika berdegub kaget. Seperti letupan yang berhasil menyisir darah disekujur tubuhnya. Mata Lika membola. Menatap tak percaya pada cowok berambut cepak yang sekarang memegang lengannya.
Sungguh, pengakuan Zafran membuat Lika diserang panik luar biasa. Bagaimana tidak? Separuh orang di sekolah mendengar semua pernyataan Zafran. Mereka sama terkejutnya seperti Lika.
'Apa yang harus gue lakukan? Apa?... kenapa Zafran jadi begini?' batin Lika yang resah.
Sementara Zafran, hanya terfokus meyakinkan Ari. Tanpa memperdulikan perasaan Lika serta pandangan orang lain terhadapnya.
Mendengar pernyataan Zafran, Ari tergelak sejenak. Dia tentu tidak percaya.
"Lo kalau bilang gitu buat ngerjain Lika, mending hadapin gue dulu!" tantang Ari. Menepuk dada bidangnya dua kali. Ia melangkah lebih dekat ke hadapan Zafran.
"Lo nggak percaya? Coba tanya--"
__ADS_1
Plak!
Perkataan Zafran terpotong karena Lika tiba-tiba menampar wajahnya. Mulut Zafran menganga lebar sambil perlahan mendelik ke arah Lika.
"Sekali lagi lo ngomong begitu, jangan harap gue akan biarin hidup lo tenang! Dengar lo?!" pungkas Lika. Dia segera pergi dengan langkah kaki cepat.
Zafran menatap nanar punggung Lika yang sudah menjauh. Dia tidak menyangka gadis itu tega menamparnya di depan banyak orang. Kekesalan Zafran akhirnya memuncak. Ia bergegas mengejar Lika. Akan tetapi Ari sigap menghalangi jalan Zafran.
"Sudah gue bilang, hadapi gue dulu kalau lo mau macam-macam sama Lika!" tegas Ari. Seluruh badannya bergetar dengan wajah yang memerah padam. Tantangannya sudah menggebu sedari tadi.
"Bacot lo!!!" Zafran yang tersungut, akhirnya mengeluarkan jurus karatenya. Dia mulai memukuli Ari.
Perkelahian terjadi dalam sekejap. Beberapa murid yang berusaha melerai, malah menjadi bahan amukan Zafran.
Lika yang tadinya pergi, terpaksa kembali lagi. Namun kali ini dia datang bersama Pak Surya.
Karena kemunculan Pak Surya, perkelahian dapat dihentikan. Zafran dan Ari segera dibawa ke ruang BK. Lika yang disebut juga terlibat, harus bersedia ikut untuk memberikan keterangan.
"Kali ini apa lagi?" tanya Bu Rita selaku guru BK. Di sampingnya ada Pak Surya yang melipat tangan di dada. Atensi lelaki paruh baya itu tertuju pada Zafran dan Lika. Sebab dia tahu hubungan spesial yang terjadi di antara dua anak didiknya tersebut. Apalagi Zafran terlihat terus menatap ke arah Lika.
"Aku yakin cuman masalah asmara," celetuk Pak Surya. Membuat Lika langsung dirundung perasaan cemas. Takut Pak Surya akan membeberkan hubungannya.
Berbeda dengan Zafran. Dia sedari tadi memandangi Lika. Seolah ada sesuatu yang ingin dirinya katakan.
"Zafran! Apa itu benar?" tanya Pak Surya memastikan.
Zafran berhenti menatap Lika. Dia sudah mengangakan mulut karena hendak menjawab. Namun Lika justru lebih dulu angkat bicara.
"Ari benar! Zafran terus gangguin aku, Bu. Ari cuman mau tolongin aku. Tapi Zafran malah ngamuk nggak jelas," kata Lika.
Zafran semakin terperangah. Dia memutar bola mata sebal. Dirinya tidak menyangka, pertahanan Lika dalam menutupi hubungan bisa sampai separah itu.
Bruk!
Zafran berdiri sambil memukul meja dengan keras. Menatap Pak Surya dan Bu Rita sekaligus. Karena kebetulan dua gurunya itu berdiri bersebelahan.
"Hukum aja aku, Pak, Bu! Di sini memang aku yang salah!" ujar Zafran dengan nafas yang tersengal-sengal. Pertanda amarahnya belumlah pudar.
__ADS_1
Mendengar ucapan Zafran, kepala Lika perlahan tertunduk. Rasa bersalah tentu menyelimuti. Ada sesal yang dirasakannya. Tetapi Lika juga tidak mau hubungannya dan Zafran terbongkar.
"Zafran... kamu sebaiknya tenang. Dan bicaralah saat pikiranmu sudah jernih. Pantaskah kamu bicara begitu pada guru?" timpal Bu Rita. Menyindir ketidaksopanan Zafran.
"Aku emang sengaja, Bu. Hukum aja aku!" sahut Zafran. Ia menatap Lika dan Ari secara bergantian. Kemudian melanjutkan, "kalian berdua mending pergi aja. Gue akan tanggung jawab sama kesalahan gue."
Bu Rita geleng-geleng kepala. Dia segera berucap, "Lika boleh kembali ke kelas. Tapi Ari tetap tinggal di sini sama Zafran. Kalian berdua sama-sama salah karena sudah berkelahi di lingkungan sekolah."
Lika enggan beranjak. Dia yang merasa bersalah, masih ingin menemani Zafran. Setidaknya hanya berdiri dan diam saja.
"Lika? Kenapa masih bengong? Kamu juga mau dihukum?" tegur Pak Surya. Seakan mendesak Lika agar segera pergi.
Lika tersenyum tipis dan mengangguk. Dia perlahan menggerakkan kaki. Bersamaan dengan itu, tangannya diam-diam menyentuh lembut jari-jemari Zafran.
Zafran sigap menghindari sentuhan tersembunyi Lika. Dia menunjukkan mimik wajah cemberut yang jelas. Lika lantas hanya bisa menghela nafas.
Hari itu Zafran dan Ari mendapat hukuman di skors selama satu minggu.
Usai perkelahian terjadi, seluruh murid dipulangkan. Sebab para guru harus melakukan rapat bulanan serta mempertimbangkan posisi Zafran sebagai kandidat ketua osis. Mereka harus berpikir dua kali sebelum membuat Zafran menjadi ketua osis.
Demi ingin cepat-cepat bertemu Zafran, Lika langsung berlari ke parkiran. Dia bahkan meninggalkan dua temannya. Tetapi saat tiba di parkiran, Lika tidak menemukan Zafran. Ia juga tidak melihat keberadaan mobil kekasihnya tersebut.
Lika mencoba menghubungi lewat telepon dan pesan. Namun dia sama sekali tidak mendapat respon dari Zafan.
Gelisah setengah mati, itulah yang dirasakan Lika. Wajahnya masam tak tertolong.
"Maafin aku, Zaf..." lirih Lika. Ia kebetulan sudah ada di mobil. Duduk di kursi belakang dan membiarkan Pak Arman memegang kendali mobil.
Karena tidak kunjung menerima tanggapan, Lika akhirnya menangis. Dia yakin Zafran pasti marah besar kepadanya.
Saat hampir sampai di rumah, Lika mendadak terpikirkan suatu hal. Dia menyuruh sopirnya menghentikan mobil ke pinggir jalan.
"Kenapa, Non?" tanya Pak Arman heran.
"Aku nggak mau pulang dulu. Antarkan aku ke sebuah alamat." Lika menuliskan alamat untuk Pak Arman. Alamat yang tidak lain adalah apartemen pembelian Zafran. Cowok itu memang sudah memberitahu alamatnya ketika mengirimkan bukti pembelian.
...______...
__ADS_1
Catatan Author :
Ada yang mau double up?