Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 51 - Gangguan Lagi


__ADS_3

...༻⊚༺...


"Apartemen?" Lika mengerutkan dahi. Dia tentu memikirkan bagaimana kencannya nanti jika dilakukan di sebuah apartemen.


"Nggak setuju! Nanti kejadian yang tidak-tidak." Lika menolak tegas.


"Kejadian yang tidak-tidak itu emang gimana?" Zafran berlagak tidak mengerti.


"Idih! Pakai tanya segala lagi." Lika mencubit perut Zafran. Kali ini cowok tersebut mengaduh kesakitan. Nampaknya bagian perut merupakan titik lemah Zafran.


Usai mencubit Zafran, Lika tergelak puas. Dia memaksa cowok itu duduk dan menyodorkan berondong jagung.


"Kita pasti bisa ketemu kok. Nggak perlu sampai beli apartemen segala," imbuh Lika.


"Iya! Tapi nggak perlu siksa pakai cubitan juga kali," keluh Zafran yang masih merasakan sakit di perutnya.


"Sorry... lagian kamu bikin ide mengada-ngada banget."


"Awas kalau berubah pikiran." Zafran mengarahkan jari telunjuk ke wajah Lika. Gadis tersebut lagi-lagi terkekeh.


Puas berdebat, Zafran dan Lika akhirnya fokus menonton. Namun itu tidak berlangsung lama. Sebab film yang diputar telah berakhir.


"Tuh kan, habis filmnya... gara-gara di ajak ngobrol terus sih," gerutu Lika sembari menghela nafas.


Zafran justru berdiri. Lalu merangkul Lika. Dia membawa gadis itu keluar dari bioskop. Kini keduanya melangkah senada menyusuri mall.


Dari kejauhan, Zafran dan Lika melihat ada sebuah toko yang dikerumuni banyak orang. Mereka sontak penasaran dan memutuskan memeriksa apa yang terjadi.


"Kenapa, Mbak?" tanya Zafran kepada salah satu wanita yang berkumpul di toko.


"Ada yang berantem, Dek!" sahut wanita itu.


Zafran dan Lika reflek bertukar pandang. Keduanya menggedikkan bahu tak acuh. Kemudian berniat menjauh dari kerumunan.


"Ini milikku! Aku yang lebih dulu melihatnya?! Apa kau memang selalu suka merebut segala hal milik orang lain?!" suara wanita yang familiar terdengar. Lika yang sangat mengenal suara itu, otomatis berhenti melangkah. Dia yakin pemilik suara tersebut adalah Selia.


"Itu suara Tanteku!" seru Lika.


"Kalau gitu, ayo kita pergi. Kenapa malah mau ngelihatin?" tanggap Zafran. Bersamaan dengan itu, dirinya juga dapat mendengar suara wanita yang menyahut ucapan Selia.


"Berhentilah menggangguku! Aku tahu kau selalu ingin mengusik hidupku. Kau sengaja kan melakukan ini?!" cetus seorang wanita satunya yang tidak lain adalah Zara.


Sekarang Zafran sependapat dengan Lika. Keduanya memilih untuk menyaksikan apa yang terjadi. Ternyata Selia dan Zara tengah memperebutkan tas designer limited edition. Jujur saja, itu sebenarnya bukan pertama kalinya mereka memperebutkan barang mahal.

__ADS_1


Zara dan Selia terlihat saling berdebat. Mereka ditemani oleh asistennya masing-masing. Namun asisten yang menemani keduanya sama-sama tidak bisa berkutik. Perdebatan Selia dan Zara tidak terhentikan.


"Gimana nih, Zaf?" tanya Lika yang merasa cemas.


"Kita harus hentikan mereka. Ini bikin malu tahu nggak," jawab Zafran sembari berjalan menghampiri Zara. Kedatangannya langsung menarik perhatian sang ibu.


"Zafran! Kamu kenapa di sini?" tanya Zara. Karena atensinya teralih pada Zafran, Selia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengambil tas yang sejak tadi diperebutkan. Tetapi harus urung dilakukan, sebab Lika tiba-tiba datang.


"Lika! Kau kenapa ada di sini? Kamu..." Selia menatap curiga. Dia melirik ke arah Zafran yang juga kebetulan ada.


"Aku mau beli keperluan sekolah, Tante." Lika memberikan alasan.


"Sendirian?" Selia memastikan.


"I-iya. Kebetulan Chika sama Nadia lagi pada sibuk," jawab Lika. "Lagian Tante ngapain berantem di depan umum? Bikin malu tahu nggak?!" timpalnya. Sengaja merubah topik pembicaraan.


Walaupun begitu, Selia tetap menaruh curiga. Dia bertanya untuk kali kedua. "Tolong jangan bilang ini bukan kebetulan. Kenapa anak keluarga Laksana juga ada di sini? Dia datang tidak lama sebelum kamu!"


Zafran dapat mendengar perkataan Selia. Dia segera bicara agar dapat membantu Lika.


"Lo ngapain di sini juga?! Ngikutin gue? Mau cari tahu strategi gue terkait pemilihan ketua osis?" timpal Zafran tiba-tiba.


Lika terdiam sejenak. Namun tidak berlangsung lama. Dia segera menjawab, "Enak aja! Siapa yang ngikutin lo?! Ayo Tante, kita pergi." Lika membawa Selia beranjak dari toko.


Sedangkan Zafran dan Zara masih berdiri tempat. Zara menggunakan peluang itu untuk membeli tas yang tadi diperebutkannya dengan Selia. Dalam sekejap tas tersebut berpindah tangan menjadi milik Zara.


"Banget. Makasih ya, Zaf." Zara mencoba mengusap puncak kepala Zafran. Akan tetapi sang putra sigap menghindar.


"Bunda! Aku bukan anak kecil lagi!" protes Zafran dengan dahi berkerut.


"Dih! Mentang-mentang udah SMA. Padahal punya pacar aja enggak!" balas Zara.


"Aku punya pacar kok!"


"Mana? Coba kenalin sama Bunda dan Papah."


"Kalau itu sih nggak bisa."


"Elah... bilang aja pacar halu." Zara mencubit gemas hidung Zafran. Keduanya akhirnya beranjak pergi dari toko. Saat itulah Zara menyadari satu hal.


"Ah, cewek yang rambut pendek tadi itu anaknya Selia?" tanya Zara.


"Bukan, tapi keponakan." Zafran menjawab malas.

__ADS_1


"Hmmm... apa dia..." Zara menatap selidik. Menyebabkan jantung Zafran langsung berdebar cepat akibat rasa gugup.


"Dia bukan pacarku kok! Beneran, Bunda!" Zafran melakukan pembelaan lebih dulu. Padahal Zara belum selesai bicara.


"Siapa yang bilang dia pacarmu. Aku cuman mau tanya tentang pembahasan kalian tadi kok. Emang kamu sama dia bersaing buat jadi ketua osis?" ujar Zara.


Mendengar hal itu, Zafran jadi malu sendiri. Dia perlahan menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Kepalanya mengangguk untuk mengiyakan.


Plak!


Zafran mendapat pukulan di pundak dari Zara. Ibunya itu kesal karena Zafran tidak memberitahu dari awal.


"Kenapa baru kasih tahu sekarang!" geram Zara seraya mengambil ponsel dari dalam tas. "Papahmu harus tahu soal ini. Dia pasti senang banget. Bunda sama Papah akan bantu kamu biar bisa terpilih jadi ketos. Jangan kalah sama anak keluarga Baskara itu..." sambungnya. Tidak berhenti mengoceh.


Di sisi lain, Lika juga sedang membicarakan topik yang sama. Selia sangat antusias mendengar Lika terpilih menjadi kandidat ketua osis. Dia bahkan menyebutkan beragam rencana bagus agar Lika bisa berhasil.


"Pokoknya masalah kebersihan harus kamu masukin ke visi misi. Dan pastinya kau harus bisa ngalahin anak keluarga Laksana itu. Anak berandal kayak dia nggak pantes buat jadi ketua osis!" ucap Selia.


Lika memutar bola mata jengah. Dia sesekali menengok ke belakang. Berharap bisa melihat wajah Zafran. Diam-diam Lika mengecek layar ponsel. Benar saja, ada pesan yang dia terima dari Zafran.


Ilustrasi chat Zafran dan Lika :


Zafran :


Kita nggak bisa pulang bareng kali ini. Sorry...


^^^Lika :^^^


^^^Kesimpulannya, rencana kencanmu lebih buruk dari punyaku.^^^


Zafran :


Makanya aku berniat beli apartemen.


^^^Lika :^^^


^^^Jangan gila deh!^^^


Zafran tidak kunjung membalas. Lika mendengus kasar. Dia dan Selia sudah ada di mobil.


Ketika baru sampai ke rumah, barulah Lika mendapat pesan balasan dari Zafran. Matanya langsung terbelalak tak percaya. Bagaimana tidak? Zafran mengirimkan riwayat transaksi pembelian unit apartemen.


"Gila!" Lika memaki dengan spontan. Membuat mata Selia langsung mendelik.

__ADS_1


"Lika!" tegur Selia.


"Maaf, Tante." Lika tersenyum kecut. Lalu bergegas masuk ke kamar.


__ADS_2