
...༻⊚༺...
Zafran tidak menanggapi usulan Ramanda. Dia hanya terlihat memijit-mijit kepalanya sendiri.
"Zaf?" panggil Ramanda. Menanti jawaban dari Zafran. Ia segera duduk ke sebelah cowok itu.
"Lo bisa tinggalin gue sendiri nggak? Gue pengen istirahat," ujar Zafran.
"Ya udah. Kalau ada apa-apa lo bisa cerita sama gue," sahut Ramanda sembari memegang lembut pundak Zafran. Dia beranjak dari kamar.
Zafran mendengus kasar. Dia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Telentang dalam posisi dua tangan yang merentang.
Saran dari Ramanda tentang pindah sekolah memang tengah dipertimbangkan Zafran. Tetapi dia merasa SMA Ramanda masih berada cukup dekat dengan sekolahnya. Selain itu, banyak teman sekolah Ramanda yang sudah mengenal Zafran. Jadi otomatis banyak pula yang tahu berita miring mengenai dirinya.
Zafran berniat memberi kesempatan satu hari. Dia hendak melihat bagaimana respon sekolahnya. Meskipun begitu, Zafran tentu tidak bisa pergi ke sekolah. Ia akan menanyakan keadaan lewat ketiga teman baiknya saja.
Akibat pikiran yang lelah, Zafran akhirnya jatuh ke dalam lelap. Membiarkan malam berganti pagi. Jendela yang masih terbuka memancarkan cahaya mentari pagi.
Sinar matahari tidak mempan membangunkan Zafran. Dia malah menjadikan bantal sebagai pelindung mata.
Berbeda dengan Lika. Di rumahnya, gadis itu sudah ada di meja makan. Ia bangun sangat pagi karena ingin cepat-cepat bertemu Zafran di sekolah. Lika berniat memperbaiki keadaan.
Sebelum itu, Lika berencana untuk bicara dengan Selia dulu. Dia ingin memastikan sang tante tidak akan menghina Zafran seperti di super market.
"Tante kenapa kemarin sebut anak keluarga Laksana dengan sebutan anak haram?" celetuk Lika. Memecah kesunyian yang sempat terjadi.
"Lik..." panggil Tama lirih. Dia mencoba menghentikan topik pembicaraan yang ingin dikuak Lika.
"Astaga, Lika... kenapa kau harus tanya segala. Kamu nggak ngerti kalau si Zafran itu adalah hasil anak di luar nikah." Selia menanggapi dengan antusias. Dia bahkan tersenyum. Senang atas berita miring keluarga Laksana yang kembali memanas. "Anak keduanya bahkan juga anak haram. Ayah dan ibunya Zafran sepertinya sangat gemar membuat anak dalam hubungan terlarang. Menjijikan," sambungnya sambil menggedikkan bahu.
"Aku tahu, Tante. Tapi Tante nggak kasihan sama Zafran? Dia pasti malu banget," ungkap Lika.
"Kasihan?! Kasihan kau bilang?!" Selia tercengang mendengar ucapan Lika. Keponakannya itu lantas menundukkan kepala.
"Lika benar, sayang. Bagaimana kalau perkataan yang kau sebutkan itu membuatnya depresi? Aku yakin semua orang di sekolah pasti membicarakan berita tentang keluarganya. Dia masih remaja dan berada dalam tahap pertumbuhan. Masalah seperti ini pasti terasa berat untuk anak seumurannya atau pun Lika." Tama malah sependapat dengan Lika. Menurutnya sikap Selia kali ini terlampau berebihan.
"Kenapa kalian malah membela musuh?! Dengar! Gara-gara keluarga Laksana itu ayahku meninggal dunia!" Selia heran dengan sikap Lika dan Tama. Dia reflek berdiri. Menatap nanar dua orang yang duduk satu meja dengannya.
"Bukan begitu, sayang... hanya saja, Lika dan anak itu tidak pantas menjadi korban amarahmu dan keluarga Laksana. Mereka tidak tahu apa-apa. Kau tidak seharusnya mempengaruhi Lika untuk ikut-ikutan membenci keluarga Laksana," tukas Tama. Mencoba menenangkan Selia yang sudah bernafas ngos-ngosan karena marah.
__ADS_1
"Mas sayang sama aku nggak sih?! Kenapa terus membela mereka?!" sahut Selia. Mendadak memecahkan tangis. Membuat Lika sontak ikut berdiri.
"Aku nggak membela mereka. Aku cuman mencemaskan masa depan Lika. Aku takut apa yang terjadi sekarang juga berdampak buruk kepadanya." Tama segera membawa Selia masuk ke dalam pelukan.
"Maaf, Tante... aku nggak bermaksud bikin Tante nangis..." Lika membantu Tama menenangkan Selia.
"Nggak apa-apa, sayang..." Selia melepas pelukan Tama. Kemudian beralih memegangi pundak Lika. "Nggak ada yang terjadi sama kamu kan? Apa perkataan Mas Tama itu benar?" ujarnya cemas.
"Aku nggak tahu. Mungkin pas nanti di sekolah, baru aku bisa melihat dampaknya," jawab Lika seraya memegangi tali tas ransel.
"Sudahlah. Biar aku saja yang mengurus Tantemu. Kau bisa berangkat ke sekolah sekarang." Tama merangkul Selia. Mempersilahkan Lika agar bisa pergi ke sekolah.
Lika mengangguk pelan. Dia segera menghilang ditelan oleh jarak.
Sesampainya di sekolah, Lika menemukan berita tentang Zafran yang mengheboh. Sebagai salah satu orang yang ada dalam video, Lika tentu juga menjadi bahan omongan semua orang. Dia dan Selia disebut sebagai orang tidak tahu malu.
Ternyata semuanya tidak seperti dugaan Lika. Semua orang justru mengasihani Zafran.
"Eh tuh lihat ada Lika. Sekarang gue tahu mulut pedasnya berasal dari siapa."
"Pantesan Zafran ejek dia dengan sebutan mulut pantat ayam. Emang pantes sih."
"Ya iyalah. Gara-gara mulut pantat ayam itu kan. Di sini yang harusnya malu itu tuh dia, bukannya Zafran!"
"Zafran pasti tambah sedih kalau tahu namanya juga dihapus dari kandidat ketua osis."
Ketika Lika berjalan melewati koridor sekolah, dia dapat mendengar bisikan sinis dari semua orang. Lika hanya berjalan tenang dan menulikan telinga.
Lika bergegas pergi ke kelas Zafran. Seluruh pasang mata sontak tertuju kepadanya. Tetapi Lika tak peduli. Dia langsung menghampiri Galih yang kebetulan sudah datang.
"Lih, gue mau bicara!" ujar Lika.
Galih awalnya tertegun. Walaupun begitu, dia dapat menebak hal yang ingin ditanyakan Lika. Apalagi kalau bukan menanyakan kabar tentang Zafran.
"Zafran nggak akan masuk sekolah hari ini. Dia bilang mau lihat situasi dulu," kata Galih. Memperhatikan ekspresi wajah yang ditunjukkan Lika. Cewek itu terlihat sangat sendu. Kegelisahannya begitu jelas terbaca.
"Kenapa lo nggak mau ngaku kayak Zafran sih?" Galih menanyakan sesuatu yang selama ini membuatnya penasaran.
"Gue belum siap, Lih. Lagian gue sama Zafran masih sekolah. Menurut gue, kami itu masih nggak apa-apa jalanin hubungan backstreet. Tapi Zafran selalu melakukan hal yang di luar dugaan," terang Lika panjang lebar.
__ADS_1
"Lo mending diskusiin baik-baik sama Zafran," saran Galih.
"Itu yang mau gue lakukan. Tapi Zafran nggak pernah mau mengangkat telepon atau balas pesan gue!"
"Kalau gitu, mending lo coba datang ke rumahnya. Gimana? Gue akan bantu lo. Tapi gue nggak bisa melakukan itu sendiri."
Lika menghela nafas panjang. Dia berpikir terlebih dahulu sebelum membuat keputusan. Namun karena dirinya sangat ingin bicara dengan Zafran, Lika tidak punya pilihan lain.
"Oke! Tapi lo butuh bantuan siapa?" tanya Lika.
"Ervan dan Hendra!" jawab Galih sambil mengangkat dua alisnya bersamaan.
"Ya udah. Lo bisa kasih tahu mereka tentang hubungan gue sama Zafran. Tapi usahakan untuk tetap rahasiakan semuanya," tegas Lika yang langsung direspon Galih dengan anggukan kepala.
Di waktu yang sama, Zafran sudah bangun dari tidur. Dia mengambil ponsel dan melihat banyak pesan baru. Zafran sengaja mengabaikan panggilan dan pesan dari Lika. Ia fokus membaca pesan baru dari Hendra. Temannya tersebut memberitahu kalau Zafran sudah tidak lagi menjadi salah satu kandidat ketua osis.
Zafran tambah kalut. Dia membanting ponsel ke kasur. Lalu mengusap kasar wajahnya. Zafran yakin, semua yang terjadi akibat berita mengenai kedua orang tuanya.
Overthinking membuat rasa malu Zafran bertambah. Rasanya dia tidak bisa menghadapi semua orang.
Perkataan Ramanda tadi malam mendadak terlintas dalam pikiran Zafran. Satu-satunya yang dia miliki sekarang adalah keluarga. Dia jadi merasa bersalah karena sudah menyalahkan segalanya kepada Gamal dan Zara.
Zafran cukup lama merenung sambil duduk di tepi kasur. Selanjutnya, Zafran berlari keluar kamar. Saat itulah dia menemukan Zara duduk di kursi depan kamarnya. Ternyata ibunya tersebut telah lama menunggu.
"Bunda! maafin aku..." Zafran berlari ke pelukan Zara. Dia meminta maaf atas segala ucapannya kemarin.
"Nggak apa-apa. Bunda dan Papah memang salah kok..." Zara tersenyum dan mengusap pelan pundak Zafran.
"Nggak, Bunda nggak salah. Harusnya aku berterima kasih karena sudah dilahirkan," ungkap Zafran tulus. Dia dan Zara saling mendekap cukup lama.
"Ayo, kamu sebaiknya makan dulu. Dari kemarin nggak ada makan," ajak Zara seraya melepas pelukannya. Lalu menarik Zafran menuruni tangga. Mereka segera tiba di meja makan.
Zafran menatap lurus ke arah Zara. Sebab ada sesuatu yang ingin dibicarakannya.
"Kenapa? Ngomong aja sama Bunda. Jangan curhat sama Ramanda terus," ujar Zara.
Zafran tersenyum tipis. Dia segera berkata, "Aku mau pindah sekolah. Bolehkan?"
"Boleh dong. Pasti ke SMA-nya Ramanda," tebak Zara penuh keyakinan.
__ADS_1
Zafran menggeleng. "Bukan. Tapi ke luar negeri!"