Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 44 - Bertemu Di Taman Bermain


__ADS_3

...༻⊚༺...


Faisal merupakan lelaki berkacamata yang selalu berpakaian rapi. Walau berkacamata, tetapi penampilannya tidak culun. Dia justru terlihat lebih tampan dengan kacamatanya tersebut. Setiap anggota keluarga Baskara memang dikenal berwajah rupawan.


Lika melangkah berdampingan bersama Faisal. Ditangan mereka masing-masing terdapat segelas minuman segar. Keduanya melangkah sambil melihat-lihat sekeliling.


"Kita naik roller coaster yang gede itu yuk!" ajak Lika seraya menunjuk wahana permainan yang di inginkannya.


"Tapi..." Faisal tidak tahu harus menjawab apa. Sebab roller coaster merupakan wahana yang paling ditakutinya. Namun dia tidak mau dianggap penakut oleh Lika. Alhasil cowok itu mengiyakan saja.


Tanpa basa-basi, Lika langsung menarik tangan Faisal. Keduanya bergabung dalam antrian.


Kala sudah masuk ke antrian, atensi Lika tertuju ke arah dua pasangan berseragam sekolah di hadapannya. Dua orang itu jelas merupakan orang yang Lika kenal. Mereka ternyata adalah Zafran dan Ramanda.


Raut wajah Lika seketika merengut. Wajahnya mulai memerah padam karena merasa kesal.


'Oh, jadi karena ini dia belum juga menghubungi gue,' batin Lika menduga.


Kebetulan Zafran dan Ramanda dalam posisi membelakangi Lika. Jadi keduanya masih belum tahu.


"Ekhem!" Lika sengaja berdehem. Dia menoleh ke arah Faisal dan berucap, "Sal, habis ini kita naik wahana bermain lagi ya."


Deg!


Jantung Zafran berdegub kencang. Dia tentu sangat mengenal suara Lika. Zafran langsung menengok ke belakang.


Benar saja, Lika ada tepat di belakang. Parahnya cewek itu sedang bersama seorang lelaki. Mata Zafran langsung melotot ke arah Faisal. Menunjukkan rasa tidak sukanya.


"Lo kenapa, Zaf?" Ramanda heran melihat ekspresi yang ditunjukkan Zafran. Dia otomatis ikut menoleh ke belakang.


Dua alis Ramanda terangkat bersamaan. Terutama saat menyaksikan Lika. Dia tidak tahu harus bagaimana. Semenjak kejadian pulang sekolah tadi, Ramanda merasa enggan menyapa Lika.


"Udah, Zaf. Bentar lagi kita naik." Ramanda menggandeng lengan Zafran. Sengaja mengalihkan perhatian cowok itu dari Lika.


Perlahan Ramanda berbisik, "Gue tahu lo nggak suka sama Lika. Mending nggak usah diladenin. Gue udah kapok sama kejadian tadi siang."


"Lo benar." Zafran terpaksa mengangguk. Dia berhenti menengok ke belakang.

__ADS_1


Mata Lika memicing sambil menatap punggung Zafran. Dia akhirnya terpikir untuk memanas-manasi cowok tersebut. Lagi pula Lika yakin, Zafran tidak akan tahu kalau Faisal adalah sepupunya.


Faisal kaget, tatkala Lika tiba-tiba menggandeng tangannya. Dia bahkan meletakkan kepala ke pondak cowok berkacamata itu.


"Gue capek. Nggak apa-apa kan sandaran bentar?" ujar Lika. Sengaja berbicara dengan nada keras.


Zafran mendengus kasar. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat ke belakang.


Tangan Zafran dengan cepat mendorong Faisal. Dia melakukannya tanpa berpikir lebih dahulu. Gandengan Lika sontak terlepas.


"Apa-apaan lo?!" timpal Faisal.


"Maaf, gue salah orang." Zafran menyahut dengan santainya.


"Udah, Sal. Dia emang gitu. Agak nggak waras," ucap Lika seraya memastikan keadaan Faisal.


"Likaaa!!" pekik Zafran dengan semerawut wajah kesal.


Lika gelengh-geleng kepala. Berlagak tidak mengerti dengan perilaku Zafran. Dahinya bahkan mengerut heran.


"Zaf, lo kenapa?" jujur saja, Ramanda-lah orang yang paling bingung. Ia merasa sikap Zafran agak aneh.


Kebetulan penjaga roller coaster baru saja mempersilahkan Zafran dan Ramanda untuk naik. Begitu pun Lika dan Faisal.


Kursi di roller coaster ada jejer tiga. Zafran menyuruh Ramanda lebih dulu duduk. Lalu barulah dia setelahnya.


Lika juga ingin cepat-cepat duduk ke kursi yang tersedia. Akan tetapi tidak untuk Faisal.


"Maaf, Lik. Gue tiba-tiba mau ke toilet. Kita mending nggak usah naik wahana ini." Faisal pergi begitu saja. Ternyata sejak tadi dia mencoba menyembunyikan rasa takut. Mungkin itulah alasan Faisal tidak bisa terlalu marah terhadap dorongan Zafran. Cowok itu berlari kocar-kacir menjauhi wahana roller coaster. Faisal bahkan tidak peduli ketika Lika memanggil namanya dengan lantang.


"Ya ampun, cowoknya cemen banget." Zafran berkomentar. Dia tergelak puas menyaksikan apa yang terjadi kepada Lika.


"Diam lo!" Lika menyalangkan mata. Dia melihat seluruh kursi sudah penuh. Hanya kursi di samping Zafran yang kosong. Namun Lika sedang tidak berminat dekat-dekat dengan cowok tersebut. Alhasil Lika lebih memilih menyusul Faisal.


Kini Zafran yang dibuat gelisah. Dia tentu tidak rela melihat Lika yang lebih memilih mencari Faisal. Tanpa sadar, Zafran sudah bergerak untuk membuka sabuk pengaman.


"Lo mau kemana?" Ramanda tentu menghentikan. Membuat Zafran urung pergi. Dia dan Ramanda menaiki roller coaster dalam beberapa putaran.

__ADS_1


Hanya Ramanda yang menikmati wahana. Gadis itu berteriak dan sesekali tertawa.


Berbeda dengan Zafran, dia hanya menampakkan raut wajah datar. Naik roller coaster tentu bukanlah kelemahannya.


Kala roller coaster sudah berhenti, Zafran langsung mengajak Ramanda pergi. Padahal kenyataannya, dia hanya ingin lekas-lekas mencari Lika.


Ramanda yang tidak tahu, hanya tersenyum sambil mengedarkan pandangan. Mencoba memilih wahana selanjutnya untuk dinaiki.


"Zaf, naik bianglala yuk!" seru Ramanda seraya menatap Zafran. Namun cowok itu tidak merespon sama sekali. Zafran tampak sibuk mencari-cari seseorang.


"Lo cari siapa sih?" tanya Ramanda. Dia memaksa Zafran berhenti sejenak.


"Gu-gue cari wahana yang seru." Zafran menjawab dengan tergagap. Sebab dia sedang berkilah. "Ayo!" ujarnya sembari kembali melangkah.


"Wahana apaan coba?" Ramanda ikut saja. Dia kesulitan menyamakan langkahnya dengan Zafran.


Setelah lama menelusur, Zafran akhirnya menemukan Lika dan Faisal. Dua orang itu terlihat mengantri di depan wahan escape room. Yaitu sebuah wahana yang mengusung tema teka-teki dan kecerdasan.


"Nah itu wahananya!" Zafran bergegas masuk ke antrian. Untungnya dia berhasil mengambil posisi di belakang Faisal dan Lika.


Ramanda mengerutkan dahi. Matanya melirik tajam ke arah Zafran. Dia merasa sikap sahabatnya itu terlampau aneh.


"Kita pilih yang horor aja ya. Pasti tegang dan seru." Dari belakang omongan Lika dapat terdengar. Dia tampak antusias. Namun tidak bagi Faisal. Cowok itu sepertinya ketakutan lagi.


"Zaf, gue nggak ikut kalau lo pilih escape room yang horor. Gue takut!" mohon Ramanda.


"Pfffft... lo bisa takut ya?" Zafran justru mentertawakan. Membuat Ramanda langsung melayangkan pukulan pelan.


"Udah... ada gue kok. Lagian hantu yang ada di dalam cuman bohongan. Nggak usah takut," ujar Zafran seraya menepuk puncak kepala Ramanda dua kali.


Lika baru menyadari kehadiran Zafran. Ia juga sukses melihat yang dilakukan Zafran. Dia hanya bisa terperangah dan bergegas menjauh. Lika memaksa Faisal ikut bersamanya.


Saat tiba di pintu masuk, ternyata pemain yang boleh masuk minimal berjumlah empat orang.


Lika, Zafran, Ramanda, dan Faisal harus masuk bersama. Kebetulan antrian mereka berurutan. Jadi tidak heran penjaga merekomendasikan mereka untuk masuk bersama.


"Syukurlah. Kalau berduaan pasti ngeri banget." Bukannya terganggu, Faisal malah senang bisa masuk wahana bersama banyak orang.

__ADS_1


Lika memutar bola mata jengah. Dia dan yang lain dipersilahkan masuk ke dalam permainan escape room. Suasana gelap serta mengerikan langsung menyambut.


__ADS_2