Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 38 - Rencana Lika


__ADS_3

...༻⊚༺...


Zafran terpaksa menanggapi Jia. Dia tidak punya pilihan karena Jia memaksanya untuk bicara.


"Lo nggak sibuk kan? Ada yang mau gue omongin," ujar Jia serius. Dia menyuruh kedua temannya duduk lebih dulu.


"Maaf sebelumnya. Gue pulang nggak bilang-bilang pas di acara ulang tahun lo. Lagian--" perkataan Zafran terhenti, saat Jia mengacungkan jari telunjuk ke depan bibir Zafran. Cewek itu memaksa Zafran berhenti bicara.


"Jangan dibahas. Gue di sini cuman mau lurusin pernyataan di video itu. Jangan dibawa ke hati ya. Gue nggak mau pertemanan kita jadi renggang karena itu," tutur Jia sambil tersenyum tipis.


"Santai aja kali." Zafran berusaha memahami. Dia celingak-celingukan untuk mencari Lika. Zafran harus pergi lebih dulu sebelum Lika muncul.


"Gue pulang duluan ya!" ucap Zafran. Tetapi Jia sigap menangkap pergelangan tangannya.


"Lo sendirian aja? Lo kayak cari-cari seseorang gitu," tebak Jia. Dia jadi ikut-ikutan memindai sekeliling restoran.


"Tadi gue pergi bareng Galih. Tapi kayaknya dia udah pulang duluan. Gue--" perkataan Zafran lagi-lagi terjeda. Sebab Jia terlihat membulatkan mata. Gadis itu berhasil menyaksikan kemunculan Lika.


"Wah, kebetulan banget ada dia, Zaf. Katanya hari ini sekolah heboh karena dia kan? Kenapa Lika tiba-tiba sekolah lagi sih." Jia mengeluh secara gamblang.


"Gue nggak peduli! Gue pulang duluan aja." Zafran lekas-lekas beranjak. Membuat Jia beranggapan kalau dia tidak senang dengan kehadiran Lika.


"Oke, sampai jumpa besok, Zaf." Jia melambaikan tangan ke arah Zafran. Apa yang dilakukannya sukses dilihat oleh Lika.


Nafas dihela cukup panjang oleh Lika. Dia melenggang masuk ke mobil Zafran.


Kini Zafran dan Lika sama-sama terdiam. Padahal mereka baru satu hari berpacaran, tetapi kesulitannya sudah terasa sekali.


"Capek ya sembunyi-sembunyi terus," celetuk Lika.


"Gimana kalau kita modal nekat aja. Kita kasih tahu hubungan kita sama semua orang," sahut Zafran yang asal bicara. Lika sontak menepuk sebal pundak cowok itu.


"Jangan gila! Itu namanya malah bikin masalah!"


"Serius amat. Aku cuman bercanda kali. Kita kan baru pacaran, sok-sokan mau go publik. Kayak mau kawin aja." Dahi Zafran berkerut. Dia mengelus pelan pundak bekas pukulan Lika.


"Ya udah, kita pulang aja deh!" Lika menyerah. Ia menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Ucapan Zafran barusan agak mengganggunya. Entah kenapa dia merasa kesal.


Zafran mendengus kasar. Dia menjalankan mobil dengan pelan. Zafran dan Lika benar-benar memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


Setibanya di rumah, Zafran langsung kena omelan Gamal dan Zara. Bagaimana tidak? Dia melewatkan jadwal lesnya lagi. Alhasil Gamal memberikan hukuman tegas. Yaitu menyita mobil Zafran selama satu minggu.


"Aku tadi latihan basket, Pah. Aku sebenarnya capek banget," kilah Zafran. Ia sengaja menunjukkan raut wajah lesu. Dua tangannya bergantian memijat-mijat punggung sendiri.


"Apapun alasannya, keputusanku sudah bulat! Nggak usah kebanyakan bacot kamu!" tegas Gamal.


"Zaf, kali ini kamu keterlaluan banget. Mulai besok, kamu ke sekolah di antar sama Pak Fendi." Zara sekongkol dengan Gamal. Mereka sudah tidak tahan atas kelakuan Zafran.


"Iya, Bunda..." Zafran tidak bisa mengelak lagi. Dia melangkah dengan malas menaiki tangga. Lalu merebahkan diri ke atas ranjang.


Di sisi lain, Lika menghembuskan nafas berat dari mulut. Ia merasa hubungannya dengan Zafran terlalu rumit.


Otak Lika mencoba berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Dia memikirkan cara bagaimana kencannya dengan Zafran dapat berjalan lancar.


Setelah berpikir cukup lama, terlintas ide cemerlang di benaknya. Tanpa berpikir lama, Lika langsung mempersiapkan rencananya.


Lika sengaja merahasiakan rencananya dari Zafran. Dia hanya memberitahukan cowok itu agar bisa menentukan waktu yang tepat.


"Maaf ya, sayang... aku kayaknya bakalan kesulitan jemput kamu. Mobilku disita sama bokap," kata Zafran dari seberang telepon.


Mata Lika terbelalak mendengar sebutan kata sayang dari Zafran. Dia meringiskan wajah.


"Ish! Sayang? Apa-apaan sih. Jangan lebay!" tanggap Lika sinis.


"Jangan pedulikan mobil. Nanti kita ketemu aja di alamat yang aku kirim."


"Mau ngapain sih? Jangan bikin aku kepo setengah mati, Lik."


"Udah, pokoknya siap-siap aja besok malam. Aku jamin, kali ini nggak bakalan ada yang bisa gangguin kita lagi." Lika sengaja mengakhiri panggilan lebih dulu.


...***...


Malam yang ditunggu telah tiba. Tetapi sayang, Zafran terjebak dengan guru tutornya yang bernama Jihan.


Sudah tiga jam lebih Jihan memberikan penjelasan tentang rumus Matematika. Parahnya tidak ada satu pun yang dimengerti Zafran. Penjelasan Jihan masuk telinga kanan dan langsung keluar telinga kiri.


Di posisi yang tidak jauh, ada Gamal yang memperhatikan Zafran. Lelaki tersebut sengaja menyisihkan waktunya demi sang putra.


Zafran menatap malas ke arah Gamal. Tepat saat ayahnya itu sedang sibuk bermain ponsel.

__ADS_1


Selain dipaksa les, ponsel Zafran juga disita. Jadi dia tidak bisa berkirim pesan dengan Lika.


"Pah, ini udah tiga jam lebih. Aku boleh istirahat kan?" cetus Zafran. Karena terlalu lama, dia akhirnya angkat suara.


"Tidak boleh. Kalau Bu Jihan belum selesai, kamu juga nggak bisa istirahat!" tukas Gamal.


"Sudah tiga jam?" Jihan kaget mendengar ucapan Zafran. Dia segera memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sepertinya dia mengajar tanpa sesekali melihat waktu.


"Zafran benar, Pak. Ini sudah terlalu lama. Kita lanjutkan pelajarannya besok saja." Jihan mengakhiri kegiatan les.


Zafran yang mendengar, langsung berlari menemui Zara. Dia hendak mengambil ponselnya yang sedang disita.


"Bunda! Ponselku mana?" tanya Zafran.


"Kamu sebaiknya tidur aja. Ini sudah jam sembilan malam. Membiasakan tidur cepat itu bagus kata ayahnya Ramanda." Zara nampaknya tidak bersedia menyerahkan ponsel Zafran.


"Tapi, Bunda. Ini--"


"Cukup! Cepat kembali ke kamar dan tidur! Makanya kalau nggak mau dibeginikan, jangan membolos terus," kata Zara. Sengaja memotong perkataan putranya.


Zafran memutar bola mata jengah. "Kayak Bunda nggak pernah bolos aja. Kelakuan Bunda sama Papah justru lebih parah dari aku," gumamnya pelan. Hanya terdengar samar di telinga Zara.


"Kau bilang apa?" timpal Zara. Dia merasa kalau Zafran sedang membicarakannya.


"Enggak! Bukan apa-apa kok," bantah Zafran seraya menggeleng. Kala itu atensinya tidak sengaja tertuju ke arah nakas dekat tempat tidur. Di sana ada ponselnya yang ditaruh bersebelahan dengan lampu tidur.


Zafran beranjak dari kamar ibunya. Dia diam-diam bersembunyi ke ruangan sebelah. Tak lama kemudian, Zafran kembali menemui Zara.


"Bunda! Papah nyariin tuh!" seru Zafran.


Zara terdiam sejenak. Meskipun begitu, dia pergi dari kamar tanpa mencurigai sang putra.


Kini Zafran bisa mengambil ponselnya. Setelah berhasil, dia buru-buru masuk ke dalam kamar pribadi.


Zafran menemukan banyak sekali pesan Lika. Dia meminta maaf dan memberitahu kalau dirinya tidak bisa pergi.


Bukannya membalas, Lika justru melakukan panggilan telepon. Zafran otomatis mengangkat panggilan tersebut.


"Aku udah terlanjur melakukan reservasi! Pokoknya kita harus pergi malam ini! Cepat kirim alamatmu. Aku akan jemput kamu ke rumah!" ujar Lika bertekad.

__ADS_1


Zafran tercengang. Sikap Lika yang keras kepala dan tegas memang tidak pernah hilang.


"Oke, aku akan kirim alamatnya!" Zafran dengan senang hati setuju.


__ADS_2