Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 26 - Semakin Mengagumi


__ADS_3

...༻⊚༺...


Lika mendorong mobil Zafran sekuat tenaga. Namun mobil tidak sedikit pun mengalami pergerakan. Tenaganya seakan tidak memberikan dampak apapun.


"Ummgghhh..." geram Lika. Berusaha sekali lagi mendorong mobil Zafran. Sayangnya mobil tetap tak bergeming.


Zafran yang ada di mobil, mendengus kasar. Ia membuka kaca jendela dan menengok ke belakang.


"Lo itu dorong mobil atau lagi rebahan sih?" sindir Zafran.


"Lo pikir dorong mobil seberat ini mudah, hah?!" balas Lika. Seruan Zafran membuat suasana hatinya kian memburuk.


"Mudahlah!" Zafran bergegas keluar dari mobil. Dia melangkah cepat menghampiri Lika. Gadis itu terlihat sudah kelelahan dan menyandar ke mobil.


"Lo bisa nyetir nggak?" tanya Zafran yang langsung dijawab Lika dengan gelengan kepala.


Zafran memutar bola mata malas. Ia lantas tidak bisa mengambil alih posisi Lika. Zafran hendak kembali masuk ke mobil. Namun Lika dengan cepat menghentikan.


"Tapi gue bisa coba ngendaliin mobil kok!" ujar Lika.


Zafran memicingkan mata. Menyelidiki keseriusan Lika terhadap ucapannya sendiri.


Byur!


Belum sempat berucap, hujan mendadak turun dengan deras. Zafran dan Lika buru-buru masuk ke mobil. Seragam Lika yang sejak tadi terkena gerimis, jadi tambah basah karena hujan.


Zafran mengambil handuk kecil yang ada di laci dashboard. Lalu menoleh ke arah Lika.


Pupil mata Zafran membesar, tatkala menyaksikan seragam Lika jadi tembus pandang. Menampilkan tank top merah muda yang dikenakan gadis itu.


"Apa lo?! Dasar mesum!" Lika reflek menutupi dadanya dengan dua tangan. Dia menundukkan kepala karena merasa malu. Wajahnya bahkan memerah bak tomat matang.


"Nih! Pakai handuk gue" Zafran lekas membuang muka. Sama seperti Lika, wajahnya juga memerah. Dia bergegas melempar handuk kepada Lika.


Tanpa pikir panjang, Lika buru-buru menggunakan handuk Zafran. Dia berusaha keras mengeringkan pakaiannya. Namun pakaian Lika tentu tidak akan kering secepat itu.


"E-elo punya baju cadangan nggak?" tanya Lika dengan lagak kikuk.

__ADS_1


"Nggak." Zafran menjawab singkat. Meskipun begitu, dia melepas seragam putih yang dikenakannya. Kemudian memberikannya kepada Lika. "Nih! Coba lapisin sama seragam gue. Itu pun kalau lo sudi," tambahnya. Tanpa menatap ke arah Lika.


Seragam Zafran memang lebih kering dibanding Lika. Sebab dia keluar belakangan dari mobil.


Lika diam saja. Dia meraih seragam Zafran. Lalu segera mengenakannya. Gadis itu terpaksa melakukannya karena tidak mau tank top-nya terus terlihat.


Kebetulan Zafran selalu menggunakan kaos oblong di dalam seragam, jadi dia tidak segan memberikannya untuk Lika.


Hujan semakin deras. Zafran dan Lika saling terdiam sejenak. Keduanya enggan untuk memandang satu sama lain.


"Gue akan coba telepon tukang bengkel langganan. Mungkin dia bisa derek mobil gue dari sini," imbuh Zafran seraya memeriksa ponsel. Dia menghubungi tukang bengkel kenalannya. Zafran tidak lupa memberitahu dimana lokasi dirinya berada.


"Gue akan telepon jemputan aja! Males gue lama-lama bareng sama lo!" ucap Lika. Dia langsung menghubungi sopirnya untuk datang.


Zafran dan Lika sama-sama menelepon bantuan. Mereka hanya perlu menunggu. Namun keduanya juga tidak tahu harus sampai kapan menanti.


Hanya ada suara rintik hujan yang menghantam mobil. Zafran dan Lika saling tidak mau bicara.


Zafran mendongakkan kepala. Dia menyandar sambil memejamkan mata.


Sedangkan Lika, dia sedari tadi menatap keluar jendela. Jujur saja, jantungnya terus tidak tenang saat berada di samping Zafran. Segala amarahnya hanyalah kepura-puraan yang berusaha keras ditutupi.


Perlahan Lika melirik ke arah Zafran. Ia sempat terpaku kepada cowok itu.


Sadar terhipnotis akan pesona Zafran, Lika cepat-cepat menyadarkan diri. Dia menggeleng kuat dan buru-buru mengalihkan pandangan.


Dari kejauhan, Lika dapat menyaksikan dua pengendara motor mencurigakan. Mereka terlihat berpakaian serba hitam dan melaju ke arah dimana Lika dan Zafran berada.


"Zaf!" Lika mengguncang tubuh Zafran. Tatapannya terus tertuju ke arah para pengendara motor yang kian mendekat.


"Kenapa?" tanya Zafran malas.


"Lihat! Kayaknya mereka mau nyamperin kita deh," ujar Lika gelagapan.


Zafran memicingkan mata. Dia terdiam, sampai para pengendara motor itu berhenti di depan mobilnya. Salah satu di antara mereka mengeluarkan pisau sabit.


"Cepat keluar!" titah salah satu pengendara motor.

__ADS_1


Lika tambah cemas. Dia menggenggam begitu erat lengan Zafran.


"Lo tunggu di sini!" perintah Zafran sembari membuka pintu mobil. Dia berjalan keluar dengan langkah berani.


"Zafran, jangan!" pekik Lika. Tubuhnya gemetar ketakutan. Dia langsung menghubungi polisi. Takut kalau-kalau sesuatu hal buruk terjadi.


Mulut Lika menganga, kala melihat Zafran bertarung melawan para pengendara motor. Kebetulan ada empat lelaki yang dilawan Zafran. Salah satunya adalah lelaki yang memegang pisau sabit.


Akibat mengusai bela diri karate, Zafran dapat dengan mudah mengatasi lawannya. Bahkan saat dia tengah sendirian sekali pun.


Zafran menangkis dan menghindari serangan pisau sabit yang di arahkan terhadapnya. Ia membalas dengan memukul ke titik tubuh yang mudah tumbang. Yaitu area betis dan rahang.


Sret!


Tanpa diduga, salah satu pengendara motor yang lain menggoreskan pisau ke bahu Zafran. Dia tidak pernah menyangka akan hal itu. Jadi Zafran tidak sempat melakukan tangkisan.


"Aaaakhh!!!" Lika reflek berteriak. Dia menangkup mulutnya karena ketakutan. Lika juga bergegas keluar dari mobil. Dengan niat untuk membantu Zafran.


Serangan yang diberikan lawan, membuat Zafran geram. Dia menggila dan menyerang lawannya secara bergantian.


Tiga lelaki sukses dijatuhkan Zafran. Tetapi satu lelaki yang tersisa bisa bertahan dengan baik. Dia merupakan lelaki yang sejak tadi memegang pisau sabit ditangannya.


Lika yang hendak membantu Zafran, mengambil sebuah batu besar dan memukulkannya ke kepala lelaki pemegang pisau sabit. Usahanya berhasil membuat lelaki itu tidak sadakan diri.


Usai memberikan serangan, Lika buru-buru membantu Zafran. Dia ingin membenahi luka yang ada di bahu cowok itu.


Kekhawatiran Lika sangat jelas. Dia lagi-lagi menangis sembari memeriksa luka Zafran. Lika tidak tahu harus berbuat apa.


"Astaga... gimana ini..." rengek Lika dalam keadaan air mata yang berderai di pipi.


Zafran yang melihat, justru tersenyum. Dia sebenarnya tidak terlalu merasakan sakit. Sebab luka yang diterimanya hanya berupa goresan kecil. Meskipun begitu, luka tersebut mengeluarkan darah yang cukup banyak.


"Udah... gue nggak apa-apa." Zafran tampak tenang. Menyebabkan tangisan Lika perlahan berhenti.


Zafran beranjak ke mobil. Lalu mengambil sebuah gunting dari laci dashboard. Selanjutnya, dia segera menghampiri Lika. Menggunting ujung seragam yang sedang dipakai oleh gadis itu.


Deg!

__ADS_1


Lika dibuat kaget. Matanya terbelalak tak percaya. Dia tentu bingung dengan apa yang dilakukan Zafran.


Belum sempat Lika menegur, Zafran sudah terlihat membalut luka dengan kain hasil dari guntingannya tadi. Untuk yang kesekian kalinya, Lika terpana menatap cowok tersebut.


__ADS_2