Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 33 - Sumpah! Gue Juga Jatuh Cinta Lo!


__ADS_3

...༻⊚༺...


Lika sedang ada di mini market dekat rumahnya. Dia memang sering jalan kaki sendiri jika merasa bosan.


Ketika sibuk memilih makanan cemilan, Lika tiba-tiba mendapat pesan dari seseorang. Kali ini pesan tersebut diterimanya lewat media sosial.


Deg!


Jantung Lika berdegub kencang, tatkala menerima pesan pribadi dari Zafran. Akun yang selama ini hanya di amatinya diam-diam, sekarang malah mengirimkan pesan.


...'Lik, gue ada di depan rumah lo. Bisa ketemu nggak? Ada yang ingin gue bicarakan.'...


Begitulah bunyi pesan yang ditulis Zafran. Lika reflek membekap mulutnya. Dia menepuk pipinya berulang kali. Memastikan apa yang diterimanya bukanlah halu atau mimpi.


Pesan Zafran tidak sampai di sana. Masih ada kalimat lain yang mengikuti di bawahnya.


...'Ini tentang perasaan gue yang sebenarnya ke lo. Gue minta maaf sama apa yang gue katakan kemarin. Setelah lo pergi, semuanya terasa banget. Plis, jangan bikin gue ngomong semuanya lewat pesan..."...


Tanpa pikir panjang, Lika melempar keranjang belanjaan. Dia memilih tidak jadi belanja dan bergegas menemui Zafran.


Lika berlari sekuat tenaga untuk kembali ke rumah. Dia percaya, karena Zafran tidak pernah begitu sebelumnya. Cowok itu terkesan seperti bersungguh-sungguh. Mengingat dia juga rela mendatangi Lika ke rumah.


Rambut Lika beterbangan mengiringi pergerakan laju kakinya. Dia seakan tidak sabar untuk mendengar apa yang ingin dibicarakan Zafran.


Di sisi lain, Zafran sedang gelisah. Sebab Lika tidak kunjung membalas pesannya. Gadis itu hanya sekedar membaca pesan.


'Apa mungkin dia cuman main-main?' keraguan kembali menghantui Zafran. Dia memasang tatapan kosong ke depan. Dua tangannya berpegang pada alat setir mobil. Saat itulah Lika muncul dari kejauhan.


Pupil mata Zafran membesar. Dia langsung keluar dari mobil. Getaran jantung yang menggebu kembali dirinya rasakan.


Zafran dan Lika sama-sama berusaha menghampiri. Keduanya bertemu dalam keadaan saling berhadapan.


Ketika hanya berada di jarak satu jengkal kaki, Zafran dan Lika terdiam. Mereka bicara melalui mata. Memancarkan tatapan lekat.


"Gu-gue udah baca pesan lo." Lika menjadi orang pertama yang angkat suara. Dia tergagap dengan rona merah di kedua pipinya.

__ADS_1


"Ah benar. Gue minta maaf sama omongan kasar gue tempo hari," ungkap Zafran sembari mengusap tengkuk tanpa alasan. Sama seperti Lika, dia juga tersipu malu.


"Itu kasar banget tahu nggak. Tapi gue emang salah kok," tanggap Lika.


"Enggak. Lo nggak salah. Gue aja yang pengecut." Zafran bergerak satu langkah lebih dekat ke hadapan Lika. Dia mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.


Lika terkesiap. Terhipnotis kepada sosok lelaki rupawan di hadapannya sekarang.


"Sumpah! Gue juga jatuh cinta sama lo," ungkap Zafran. Membuat detak jantung Lika semakin sulit di kontrol.


"Te-terus? Lo mau--" belum sempat Lika bicara, Zafran meletakkan jari telunjuk ke depan bibirnya.


"Gue akan tunjukin cara ciuman yang benar," ujar Zafran. Tangannya memegang tengkuk Lika. Lalu memagut bibir gadis itu dengan lembut.


Secara alami, Lika membalas ciuman Zafran. Dua tangannya melingkar ke pinggul cowok itu.


Darah di sekujur badan Lika berdesir hebat. Sentuhan Zafran seakan membuat badannya di aliri listrik ribuan volt. Belum lagi rasa candu kupu-kupu beterbangan di perut.


Hal serupa tentu dirasakan Zafran. Jantungnya berdetak penuh semangat. Ia dan Lika saling memejamkan mata. Dalam keadaan bibir yang berpadu lembut dan tulus.


Di waktu yang dirasa tepat, Zafran dan Lika melepaskan tautan bibir masing-masing. Keduanya langsung bertukar pandang satu sama lain.


"Kenapa harus lo yang bikin gue jatuh cinta coba?" komentar Zafran seraya tersenyum tipis.


"Lo pikir gue nggak stress?" balas Lika. Menyebabkan Zafran memutar bola mata sejenak. Keduanya terkekeh geli. Mentertawakan hubungan aneh yang mereka jalani.


"Ikut gue!" Zafran menarik pergelangan tangan Lika. Berniat mengajak cewek itu masuk ke mobil.


Baru bergerak tiga langkah, Lika tiba-tiba memaksa Zafran mundur. Gadis tersebut mengajak bersembunyi ke balik dinding sebuah rumah.


"Kenapa?" tanya Zafran dalam keadaan mata yang membola.


"Tante gue!" jawab Lika pelan, tetapi penuh dengan penekanan. Dia tampak mengintip ke arah mobil Selia yang telah mendekat.


Setelah mobil Selia sangat dekat, barulah Lika bersembunyi dengan Zafran sepenuhnya. Mereka menyandar ke dinding dalam keadaan berpegangan tangan.

__ADS_1


"Hubungan ini akan penuh rintangan..." keluh Zafran.


Lika perlahan melirik. Dia menguatkan genggaman tangannya. "Kita jalani aja dulu," tuturnya sembari tersenyum tipis.


Zafran menoleh. Lalu membalas senyuman Lika. Keduanya lagi-lagi terpaku untuk bertukar tatapan. Menatap orang yang dicintai memang terasa sangat candu.


Tidak lama kemudian, ponsel Lika tiba-tiba berdering. Dia mendapat telepon dari Selia. Tantenya itu menanyakan keberadaan Lika.


"Aku lagi pergi bareng teman, Tante. Bentar lagi pulang." Lika memberikan alasan. Pembicaraannya berakhir disitu. Sebab Selia mempercayai Lika begitu saja.


Lika terdiam sejenak. Dia baru sadar kalau penampilannya agak acak-acakan. Kebetulan Lika hanya mengenakan kaos oblong serta celana jeans selutut. Rambutnya bahkan di ikat dengan asal-asalan.


"Zaf! Kita perginya besok aja ya," pinta Lika. Dia tidak mau pergi bersama Zafran dengan penampilan asal.


"Ya udah kalau gitu." Zafran setuju saja. Yang terpenting dia sudah mengatakan semuanya kepada Lika.


Ketika hendak memasuki mobil, Zafran kembali menatap Lika. Dia baru teringat kalau gadis itu berniat pindah sekolah.


"Lo nggak akan pindah sekolah kan? Terutama setelah kita..." Zafran enggan meneruskan kalimatnya. Dia yakin Lika mengerti.


Lika langsung menggelengkan kepala. "Enggak jadi. Gue akan tetap jadi siswi SMA Elit Permata kok," katanya.


Zafran tersenyum lebar dan mengangguk. Dia segera pergi dengan menggunakan mobil.


Selepas Zafran pergi, Lika tersenyum lebar sambil menangkup wajahnya. Dia memutar tubuhnya dan merasa senang bukan kepalang. Kebahagiaan di hatinya tengah melambung tinggi.


Lika buru-buru masuk ke rumah. Dia mendatangi Selia dan mengatakan kalau dirinya tidak jadi pindah sekolah.


"Apa?! Lika! Tante sudah telepon kepala sekolahnya loh!" keluh Selia tak percaya. Dahinya berkerut dalam.


"Pokoknya aku nggak akan sekolah kalau bukan di SMA Elit Permata. Bilang aja nggak jadi sama kepala sekolahnya, Tante!" ujar Lika sambil beranjak pergi. Bersikap seakan tidak bersalah.


Selia yang menyaksikan, geleng-geleng kepala. "Ini yang terakhir ya, Lik! Kalau kamu minta pindah lagi, Tante nggak akan mau ngurus!" geramnya. Merasa dipermainkan.


"Tenang aja, Tante. Kali ini benar-benar yakin seratus persen. Aku pokoknya nggak jadi pindah sekolah!" Lika menyahut sembari melangkah maju.

__ADS_1


Saat tiba di kamar. Lika langsung melompat ke atas ranjang. Dia terus membayangkan momen kebersamaannya dengan Zafran tadi. Cewek itu senyum-senyum tidak karuan. Wajahnya bahkan memerah bak kepiting rebus.


__ADS_2