Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 52 - Muncul Di Jendela


__ADS_3

...༻⊚༺...


Lika langsung menelepon Zafran. Ia tentu memastikan pembelian apartemen yang dilakukan cowok tersebut.


"Beneran udah beli apartemen?!" tanya Lika.


"Kan buktinya udah lihat sendiri. Ngapain tanya lagi?" balas Zafran dari seberang telepon.


"Mending dijual aja. Aku nggak mau--"


"Kalau nggak mau, biar itu jadi tempat main aku sama Ramanda aja deh. Sekalian juga Galih dan yang lain." Zafran memotong ucapan Lika. Dia sengaja memanas-manasi.


Lika sontak gelagapan. Dia segera berucap, "Eh jangan! Biarin aku mikir dulu deh."


"Ya udah... emang kau itu khawatirin apa sih? Coba kasih tahu aku." Zafran menyahut sambil sedikit tergelak kecil.


Lika memutar bola mata malas. "Jangan berlagak nggak tahu deh. Pikir aja sendiri," balasnya. Dia mengakhiri panggilan telepon lebih dulu.


Lika menghela nafas panjang. Dia merebahkan diri ke ranjang. Memikirkan betapa rumit hubungannya dan Zafran.


"Gue sama Zafran bisa berjodoh nggak ya? Awal-awalnya aja udah begini..." gumam Lika seraya menekan jidatnya sendiri. Sungguh, hubungan sembunyi-sembunyi yang dilakukannya sangat menyiksa. Dia dan Zafran tidak bisa leluasa untuk bertemu. Terlebih sekarang Pak Surya melarang mereka berduaan di sekolah.


"Nggak bisa bayangin hubungan gue selanjutnya sama Zafran. Benar-benar nggak bisa ditebak." Sekali lagi Lika mendengus kasar. Mengatup bibirnya rapat. Lalu melirik ke jam dinding. Hari sudah larut malam. Ia segera jatuh ke dalam lelap.


Matahari bersinar cerah. Lika bangun pagi seperti biasa. Hal pertama yang dia lakukan adalah membalas pesan dari Zafran. Itu merupakan kegiatan rutinnya setiap hari.


Ketika tiba di sekolah, Lika langsung berlari menuju lapangan. Dia tahu kalau kegiatan pacarnya setiap pagi adalah bermain basket.


Dengan wajah berseri, Lika menonton Zafran di pinggir lapangan. Ia sedikit tersenyum sembari memegangi tali tas ransel.


Beberapa murid perempuan berhasil memergoki tindakan Lika. Mereka menatap curiga. Keyla yang selalu berada dipihak Zafran perlahan mendekat.


"Senyuman apa tuh?" Keyla melirik tajam.


"A-apa?" pupil mata Lika membesar. Sebab tidak hanya Keyla saja yang menatap ke arahnya. Tetapi puluhan siswi di sekitar.

__ADS_1


"Karena Zafran jadi salah satu kandidat ketua osis, kami nggak akan diam seperti sebelum-sebelumnya. Pokoknya jika ada sesuatu yang terjadi sama Zafran, kami nggak akan biarin!" ujar Rina. Dia merupakan siswi berperawakan tinggi dan semok.


"Apaan sih. Kalian lebay banget." Lika tidak tahu harus berkata apa. Dia bergegas pergi meninggalkan lapangan. Untung saja, para siswi tadi tidak mencurigai hubungan istimewanya dengan Zafran. Semua orang masih percaya kalau Lika dan Zafran adalah musuh abadi.


Zafran kebetulan melihat kepergian Lika. Ia langsung berhenti bermain basket. Membanting bola tepat ke lantai lapangan. Zafran hanya mampu memandangi punggung Lika yang kian menjauh.


Bel pertanda masuk berbunyi. Semua murid saling berdahuluan masuk ke kelas. Termasuk Zafran.


Saat pelajaran di mulai, Zafran hanya sibuk menatap jendela. Memikirkan hal lain yang tentu bukanlah pelajaran. Apalagi kalau bukan memikirkan Lika.


"Zafran!" Guru yang mengajar memanggil Zafran. Ia menatap serius pada anak didiknya tersebut. Memasang gaya berkacak pinggang sambil berjalan mendekat.


Galih, Ervan, dan Hendra, saling berdahuluan menyadarkan Zafran yang keasyikan melamun. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil. Meskipun begitu, ketiganya belum menyerah.


Hendra yang paling pintar di antara ketiga temannya, sengaja menyebutkan nama Ramanda. "Zaf! Ramanda datang..." cicitnya. Akan tetapi masih tidak mempan.


Galih berseringai. Sebagai satu-satunya orang yang tahu hubungan rahasia Zafran dan Lika, dia tentu tahu bagaimana cara menyadarkan lamunan Zafran.


"Lika!" Galih meneriakkan Lika dengan nyaring.


"Cari apa kamu, hah?!" timpal Bu Erna.


Zafran jadi malu sendiri. Dia segera mendelik ke arah Galih yang sudah mengerjainya. Zafran lantas memukul kepala Galih dengan sebuah buku tulis.


"Lo ya, Lih! Awas aja!" geram Zafran. Tetapi Galih justru tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Ervan dan Hendra, keduanya saling bertukar tatapan heran. Mereka merasa aneh melihat Zafran jadi cepat tanggap saat mendengar nama Lika.


"Ternyata nama musuh lebih mempan dari gebetan," komentar Hendra. Walaupun melihat keanehan, dia sama sekali tidak menaruh curiga.


"Zafran..." tegur Bu Erna, saat melihat Zafran memukul Galih. "Kamu dari tadi perhatikan penjelasan Ibu di depan nggak?" tanya-nya.


"Iya dong, Bu." Zafran mengangguk yakin. Padahal sudah jelas tadi dia sibuk melamun.


"Kalau begitu, tolong jawab soal yang ada di papan tulis ya..." Bu Erna menyodorkan spidol kepada Zafran. Tersenyum licik karena mengetahui kebohongan anak didiknya.


Zafran mengusap tengkuknya tanpa alasan. Dia melakukan itu berulang kali. Zafran perlahan melirik ke arah Hendra. Berharap temannya tersebut memberi bantuan.

__ADS_1


"Jawabannya kayak contoh di halaman 128!" seru Hendra dengan suara seperti berbisik. Namun Bu Erna dapat mendengarnya dengan jelas.


"Hendra! Jangan ganggu Zafran! Biarkan dia berpikir sendiri. Dia bilang tadi memperhatikan semua penjelasan Ibu," ujar Bu Erna. Dia mempersilahkan Zafran maju ke depan. Cowok itu langsung menjadi pusat perhatian semua murid di kelas.


Kini Zafran berdiri di depan papan tulis. Soal yang berkaitan dengan rumus Fisika seketika membuat kepalanya pusing. Tidak ada satu pun yang dimengerti oleh Zafran. Ia hanya memandangi papan tulis sembari memainkan spidolnya.


"Ayo jawab, Zafran... tadi katanya memperhatikan?" ucap Bu Erna. Dia memang dikenal tegas dan sangat disiplin.


Zafran menghembuskan nafas dari mulut. Dia memutar tubuhnya menghadap Bu Erna. Mengakui bahwa dirinya tidak memperhatikan pelajaran sejak awal.


"Nah gitu dong. Harusnya ngaku aja sejak tadi! Karena kau tidak memperhatikan dan berbohong, sebaiknya keluar dari kelas sekarang!" titah Bu Erna.


"Maaf ya, Bu. Tapi aku nggak akan dapat poin minus karena ini kan?" Zafran memastikan.


"Tentu saja! Ini jelas melanggar aturan pembelajaran!"


"Kasih aku kesempatan kali ini deh, Bu. Nanti aku belikan es krim." Zafran merekahkan senyuman manis. Akan tetapi malah dibalas dengan pelototan oleh Bu Erna.


"Geprek aja kepalanya, Bu!" cetus Ervan. Sengaja menggoda Zafran.


"Dasar murid kurang ajar lo, Zaf. Masa guru disogok sama es krim. Bwahaha..." Galih ikut berseru.


Zafran menciut ketika melihat pelototan Bu Erna. Dia meminta maaf dan segera beranjak keluar kelas. Sebelum itu, Zafran menyempatkan diri mengarahkan kepalan tinju khusus untuk ketiga temannya.


Murid yang ada di kelas tertawa melihat sikap Zafran. Terutama para siswi penggemar cowok itu. Mereka justru tambah mengagumi Zafran yang terkesan badboy.


Di luar Zafran menyandar ke dinding kelas. Suasana sekolah begitu sepi saat jam pelajaran berlangsung. Dia meraba-raba kantong pakaian. Mencoba mencari rokok untuk menemani kesepiannya. Namun sayang, benda berbahan tembakau tersebut kebetulan ada di dalam tas.


Zafran semakin bosan. Hingga terlintas dalam benaknya tentang sesuatu.


'Ah benar. Sejak tadi gue mikirin Lika. Kenapa nggak cari langsung aja orangnya,' batin Zafran. Ia bergegas pergi menuju kelas Lika.


Zafran sengaja melihat lewat belakang kelas. Ia mencari jendela yang dekat dengan tempat duduk Lika. Untungnya gadis itu duduk paling ujung dan berada persis di samping jendela.


Perlahan kepala Zafran dengan rambut cepak itu muncul ke permukaan jendela. Lika yang sejak tadi fokus menulis, tentu dibuat terkejut akan hal tersebut.

__ADS_1


"Zafran?"


__ADS_2