Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 40 - Kencan Pasangan Crazy Rich [2]


__ADS_3

...༻⊚༺...


"Selamat datang, Nona Anjani dan Tuan Budiman..." sambut manajer restoran. Dua nama yang disebutkannya, membuat Zafran tercengang.


"Bu-budiman?" Salah satu mata Zafran berkedut. Ia segera melirik ke arah Lika. "Apa-apaan, Lik? Kita nggak pakai nama asli?" timpalnya tak percaya.


Lika sedikit mendekat. Dia berbisik, "Restoran ini kebetulan tidak menerima reservasi dari tamu di bawah umur..."


"Tapi nggak perlu pakai nama Budiman kali! Nggak keren amat." Dahi Zafran berkerut dalam. Tetapi Lika malah mengikik geli.


"Ketawa lagi nih anak. Sengaja ya malu-maluin cowoknya." Zafran menyenggol Lika dengan siku.


"Siapa bilang nama Budiman nggak keren? Menurutku bagus kok," tanggap Lika.


"Itu menurutmu doang!" Zafran berusaha memaklumi ulah Lika. Ia segera merapikan jas dan kemeja. Berlagak seperti orang dewasa pada umumnya. Cowok itu bahkan sedikit membusungkan dada.


Manajer restoran menuntun Zafran dan Lika ke meja yang telah disiapkan. Tempatnya ada di balkon yang luas. Dihiasi dengan lilin serta lampu kerlap-kerlip bernuansa angkasa.


Kini Zafran dan Lika duduk saling berhadapan. Keduanya memesan makanan secara bergantian. Lika menjadi orang pertama yang melihat menu makanan terlebih dahulu.


Usai mencatat pesanan Lika, pelayan yang bertugas segera menatap Zafran. "Tuan Budiman mau pesan apa?" tanya-nya.


Mata Zafran seketika mendelik. Dia tentu tidak suka dengan nama samaran yang diberikan Lika. Walaupun begitu, Zafran berusaha sebisa mungkin agar terlihat santai.


Berbeda dengan Lika, dia justru berusaha keras menahan tawa. Gadis tersebut tampak sibuk menutupi mulutnya yang cekikikan.


Selepas mencatat semua pesanan, pelayan pun pergi. Zafran langsung menatap tajam Lika.


"Puas kamu? Mau ngajak musuhan lagi?" timpal Zafran.


"Ternyata kamu gitu kalau lagi ngambek. Jadi suka lihatnya. Tunggu kejahilanku yang lain ya..." Lika tersenyum lebar sembari memiringkan kepala.


"Awas aja. Aku nggak akan tinggal diam." Zafran mengarahkan jari telunjuk ke arah Lika. Gadis itu merespon dengan juluran lidah mengejek.


Zafran otomatis ikut terkekeh. Kemarahannya tentu hanyalah candaan belaka.


Pemusik mulai memainkan lagu untuk Zafran dan Lika. Hidangan juga sudah datang satu per satu.


"Ini kencan versi apa sih? Aku merasa masih nggak bisa leluasa," imbuh Zafran seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Semua pekerja restoran di isi oleh orang dewasa. Kemungkinan hanya Zafran dan Lika yang paling muda di sana.

__ADS_1


"Kenapa emangnya?" tanya Lika.


"Masa kamu nggak paham. Kan susah mau mesra-mesraan depan orang tua," jelas Zafran sambil mencondongkan kepala.


"Astaga... pikirannya mau mesra-mesraan terus." Lika menggeleng tak percaya. Dia segera menyuap sesendok makanan ke dalam mulut. Mencoba mengabaikan keluhan Zafran.


"Ini ada suguhan wine spesial dari restoran kami." Seorang pelayan tiba-tiba meletakkan sebotol wine dan dua gelas ke atas meja.


Zafran dan Lika sama-sama tercengang. Mengingat mereka belum cukup umur untuk mengkonsumsi minuman beralkohol. Tatapan keduanya tertuju ke arah wine yang sedang dituangkan ke dalam gelas.


"Maaf, Mas. Kami--"


"Wah... aku yakin itu adalah wine berkualitas," ucap Zafran. Sengaja memotong ucapan Lika yang hendak menolak suguhan wine tersebut.


"Tentu saja. Ini wine dengan fermentasi puluhan tahun. Langsung di impor dari salah satu kota di Perancis," terang si pelayan seraya mengukir senyuman.


"Ekhem!" Lika berdehem dengan niat menegur Zafran.


"Terima kasih..." bukannya mendengarkan, Zafran malah mengambilkan gelas berisi wine untuk Lika.


"Satu gelas saja," ujar Zafran sembari menyodorkan wine. Kebetulan pelayan tadi sudah pergi.


"Penyamaran kita sebagai Tuan Budiman dan Nona Anjani sudah cukup gila. Kita di sini jadi orang dewasa bukan? Jadi nggak apa-apa kalau minum beginian. Emang kamu nggak penasaran sama rasanya?" Zafran bersikeras.


"Ada kok orang dewasa yang nggak minum..." perkataan Lika terhenti, saat Zafran terlanjur menenggak wine dari dalam gelas. Kini cewek itu hanya bisa meringiskan wajah.


"Eummm... enak banget, Lik!" pupil mata Zafran membesar. Dia kembali meminum wine.


Wajah Lika yang tadinya merasa jijik, perlahan berubah menjadi datar. Rasa penasaran akhirnya muncul. Dia menatap gelas berisi wine, lalu menelannya satu kali.


Setelah merasakan wine di lidah, mata Lika langsung membulat sempurna. Dia sependapat dengan Zafran, kalau wine yang diminumnya sangat enak.


Tanpa pikir panjang, Lika meneguk kembali wine yang ada dalam gelas. Dia dan Zafran menghabiskan minuman tersebut dari dalam gelas.


Zafran tersenyum kepada Lika. Cewek itu berdiri dan menghampiri posisi Zafran.


"Kita dansa yuk!" ajak Lika. Matanya mulai terlihat sayu karena merasa sedikit mabuk.


"Hah?! Dansa?! Kagak! Kamu aja sendiri." Zafran menggeleng tegas. Dia paling benci memperlihatkan dirinya bergerak lembut seperti melakukan tarian.

__ADS_1


"Kok gitu sih... aku udah siapin ini semua buat kita loh! Itu tukang musiknya udah pada mainin lagu romantis buat kita." Akibat mabuk, Lika duduk ke atas pangkuan Zafran. Lalu menarik-narik kerah baju cowok tersebut dengan kuat.


"Aku nggak mau!" Zafran menggeleng tegas. Tubuhnya awut-awutan karena perbuatan Lika. Dia juga merasa sedikit mabuk. Namun tidak separah Lika. Nampaknya kandungan alkohol di dalam wine cukup tinggi.


"Mau dong..." mohon Lika sambil mengerjapkan mata yang tampak seperti mengantuk.


"Enggak..." Zafran tetap pada pendiriannya.


"Kalau di cium dulu, mau nggak?" tawar Lika. Kini dia berhenti mengguncang tubuh Zafran. Perkataannya membuat mata sang kekasih terbuka lebar.


"Ciumannya aja. Tapi aku tetap nggak mau dansa. Kamu mending ajak--" ucapan Zafran terjeda, ketika Lika tiba-tiba mencium salah satu pipinya.


"Gimana? Udah mau?" tanya Lika.


Zafran terkesiap sejenak. "Tetap nggak mau," jawabnya bersikeras.


Lika lantas mencium kedua pipi Zafran secara bergantian. Jujur saja karena sentuhan itu, Zafran sudah dua kali menelan salivanya sendiri.


"Gimana?" Lika kembali bertanya.


Karena sudah memahami bagaimana rencana Lika, Zafran tetap menolak. Dia akhirnya kembali mendapatkan ciuman. Lika mengecup singkat bibirnya berulang kali.


Wajah Zafran langsung memerah malu. Dia yang tidak semabuk Lika, menatap lamat-lamat gadis di hadapannya.


"Sekarang udah mau?..." tanya Lika. Dia berusaha keras membuka mata. Sebab rasa mabuk membuat matanya berat.


"Oke deh..." Zafran terpaksa setuju. Ia bisa menggila, jika Lika terus menyerang dengan sejuta ciuman. Toh Zafran yakin, kesadaran Lika sekarang pasti sedang tidak terkendali.


"Yeaaaayy!" Lika kegirangan sambil bertepuk tangan. Tetapi ketika mencoba berdiri, dia tidak bisa menopang badan. Gadis itu langsung terhuyung.


"Lika!" Zafran yang cemas, sigap menangkap badan Lika. Upayanya sukses menyelamatkan Lika dari ubin yang keras dan dingin.


Para pekerja restoran segera berdatangan untuk membantu. Mereka menyarankan Zafran agar membawa Lika ke kamar yang ada di hotel.


Zafran menurut saja. Lagi pula dia tidak mungkin mengantar Lika pulang dalam keadaan mabuk. Alhasil sekarang Zafran membawa Lika ke salah satu kamar hotel. Ia merebahkan cewek itu ke ranjang dengan hati-hati.


"Mampus kita kalau ketahuan berduaan di tempat begini," gumam Zafran. Dia duduk di ujung kasur sambil membelai rambut Lika.


Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Zafran tentu tidak bisa meninggalkan Lika sendirian. Terlebih dia juga merasa agak mabuk.

__ADS_1


Zafran akhirnya memilih tidur di sofa. Sebelum tidur, dia tidak lupa mematikan ponselnya dan Lika. Zafran terpaksa melakukan itu untuk berjaga-jaga. Terutama dari pengejaran kedua orang tuanya dan keluarga Baskara.


__ADS_2