Cinta Di Tengah Permusuhan

Cinta Di Tengah Permusuhan
Bab 20 - Pacar Pertama


__ADS_3

...༻⊚༺...


Pagi yang cerah menyambut. Hari senin pertama setelah liburan akhirnya tiba. Seorang cowok dengan senyuman gemilang berdiri tegak. Dia menanti gadis pujaan yang sekarang sudah bersedia menjadi kekasihnya.


Cowok itu tidak lain adalah Ari. Memiliki badan tinggi semampai, berkulit putih bersih, dan bergaya rambut bak aktor Jefri Nichol. Ia termasuk cowok populer di sekolah. Meskipun begitu, keberadaannya tetap tidak bisa mengalahkan pesona Zafran.


Sebuah mobil yang ditunggu-tunggu sudah datang. Mobil putih tersebut berhenti dengan pelan. Sosok Lika segera keluar. Gadis itu melemparkan senyum kepada Ari.


"Kamu udah sarapan?" tanya Ari. Menyambut kedatangan Lika.


"Udah," jawab Lika singkat. Jujur saja, dia tidak tahu harus bagaimana. Mengingat dirinya belum pernah berpacaran.


"Syukur deh." Ari tersenyum dan meneruskan, "kamu tahu nggak? Tadi malam aku nggak bisa tidur gara-gara kepikiran kamu terus." Perlahan dia menautkan tangan ke jari-jemari Lika.


Kedekatan Lika dan Ari tentu menarik perhatian semua orang. Mata mereka tertuju ke arah tangan Lika yang tampak pasrah dipegang oleh Ari. Hal tersebut membuat kebanyakan orang berspekulasi, bahwa Lika dan Ari sudah berpacaran.


"Sampai segitunya, Kak?" Lika mengangkat dua alisnya bersamaan.


"Kak? Ya ampun, Lik. Kan aku udah bilang, mulai sekarang kau bisa panggil aku dengan sebutan sayang," ucap Ari yang mendadak menghentikan langkahnya.


"Maaf sebelumnya, Kak. Aku masih belum terbiasa sama hal ini. Aku nggak pernah pacaran sebelumnya..." ucap Lika sembari membuang nafas berat. Dia dan Ari kembali berjalan bersama.


"Nggak salah? Cewek secantik kamu nggak pernah pacaran? Jadi secara otomatis, aku cowok yang paling beruntung di dunia dong?" balas Ari antusias.


"Beruntung?" kening Lika mengernyit.


"Iya! Aku jadi pacar pertamamu kan?" ujar Ari.


Lika terkekeh mendengar pernyataan Ari. Dia berhenti saat sudah sampai di depan kelas. Lalu melepas pegangan tangannya dari Ari.


"Iya, Kak Ari memang pacar pertamaku. Kita ketemu di kantin pas istirahat nanti ya," kata Lika. Ia segera masuk ke dalam kelas.


Ari tetap diam di tempat. Dia merasa senang bukan kepalang. Hal itu terlihat dari senyumannya yang tidak kunjung memudar. Ari memegangi dadanya. Ia membaui telapak tangan yang sempat kena sentuhan Lika.

__ADS_1


"Gue nggak akan cuci tangan dulu," gumam Ari. Dia segera beranjak pergi ke kelas.


Di waktu yang sama, Zafran baru saja masuk ke kelas. Atensinya langsung tertuju ke arah Galih dan kawan-kawan. Ketiga temannya tersebut tampak berdiskusi dengan serius.


"Zaf, sini! Baru datang aja lo," seru Ervan. Dia menjadi orang yang pertama menyadari kehadiran Zafran.


"Eh, ada gosip bikin pangling hari ini!" Galih menghampiri Zafran. Mengajak cowok itu bergabung untuk mengobrol.


"Apaan deh?" tanya Zafran.


"Tadi pagi Lika sama Ari pegangan tangan di depan umum. Kayaknya mereka udah pacaran," ucap Hendra memberitahu.


Mendengar hal itu, pupil mata Zafran membesar. Dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati. Sesuatu yang pastinya membuat dirinya kalut. Walaupun begitu, Zafran berupaya keras menutupi apa yang dirasakannya sekarang.


"Gue nggak peduli," tanggap Zafran ketus. Ia segera duduk ke kursinya.


"Tapi itu keajaiban tahu nggak? Kita semua kan tahu betapa seriusnya Lika sama pendidikan? Selama ini banyak sekali cowok yang ditolak sama dia." Galih nampaknya masih tertarik membicarakan perihal Lika.


"Mungkin Lika kasihan sama Kak Ari. Aku yakin gitu sih." Ervan menanggapi.


Brak!


Zafran memukul meja dengan dua tangan. Dia langsung berdiri. "Kalian bisa berhenti nggak ngomongin tentang cewek itu?!" pekiknya.


"Selow dong, Zaf. Lo terkesan kayak cemburu tahu nggak?" cetus Galih blak-blakan. Menyebabkan mata Zafran langsung melotot.


"Terserah kalian deh. Gue mending pergi, dari pada harus dengar kalian bicarain cewek itu terus." Zafran beranjak keluar kelas. Ia memutuskan bergabung dengan murid kelas lain ke lapangan. Di sana Zafran ikut andil bermain basket di pagi hari. Tepat sebelum bel masuk kelas berbunyi.


Sementara itu, Lika tengah sibuk mengobrol dengan Chika dan Nadia. Membicarakan banyak hal tentang cinta dan pacaran.


"Akhirnya, hati lo terbuka juga buat terima cinta Kak Ari. Gue senang dengarnya tahu." Chika merespon positif keputusan Lika.


"Tapi kenapa tiba-tiba? Apa benar lo juga suka sama Kak Ari?" berbeda dengan Chika, Nadia justru meragukan tindakan Lika.

__ADS_1


"Te-tentu saja. Mana mungkin gue terima dia kalau nggak suka," bantah Lika tergagap. Dia tentu berbohong. Mengingat penerimaan yang diberikannya kepada Ari hanya sebagai pelarian.


"Terus? Alasannya apa?" Nadia menuntut jawaban.


"Gue nggak tahu kenapa, jantung gue selalu berdegub kencang saat cowok itu ada. Apalagi pas wajahnya mendekat dengan tatapan yang mematikan." Tanpa sadar Lika membayangkan Zafran. Mengingat beberapa momen yang berhasil membuatnya terbawa perasaan. Namun itu tidak berlangsung lama, ketika Chika mendadak menggeplak meja dengan satu tangan.


"Udah dipastikan! Lo jatuh cinta sama Kak Ari!" cetus Chika.


"Iya, perjuangan Kak Ari nggak sia-sia," komentar Nadia. Dia ikut senang mendengar ungkapan Lika.


"Tapi masalahnya, gue nggak tahu harus gimana? Gue kan nggak pernah pacaran," ujar Lika sembari mendengus kasar.


"Dih! Lo nggak usah khawatirkan hal itu. Gue sama Nadia pasti akan bantu." Chika tampak antusias. Ia dan Nadia segera memberitahukan kiat-kiat yang harus Lika ketahui.


Setelah tiga jam pelajaran, bel pertanda istirahat berbunyi. Semua murid langsung menghambur keluar kelas. Sebagian besar dari mereka pergi mendatangi kantin. Termasuk Lika dan dua temannya.


Lika dan kawan-kawan menempati salah satu meja makan yang kosong. Mereka sama-sama mengedarkan pandangan hanya untuk menemukan sosok Ari. Nihil, keberadaan cowok tersebut tidak terlihat dimana-mana.


"Cowok lo kok nggak ada, Lik?" tanya Nadia yang masih celingak-celingukan.


"Mungkin dia masih di kelas kali," sahut Lika. Dia sebenarnya tidak peduli Ari mau datang atau tidak.


Tanpa disangka, sebuah tangan muncul sambil memegang buku. Mata Lika langsung membulat, saat mengetahui pemilik tangan itu adalah Ari.


"Ini buatmu. Aku tahu kamu suka baca novel karya John Green," ujar Ari seraya menyodorkan buku kepada Lika.


"Iya aku suka banget! Ini karya terbaru dia." Lika merasa senang. Dia menerima buka pemberian Ari.


"Makasih ya!" ungkap Lika.


"Dibalas pakai makasih doang?" tanggap Ari. Dia tidak berhenti menatap lekat Lika.


"Terus maunya apa?"

__ADS_1


"Kamu harus temanin aku nonton malam ini," ucap Ari yang langsung disetujui oleh Lika. Sekali lagi, kedekatan mereka menarik perhatian banyak pasang mata.


Di antara banyaknya lelaki yang patah hati, ada satu yang paling menampakkan mimik wajah tidak suka. Yaitu Zafran. Perasaannya semakin gelisah ketika melihat keakraban Lika dan Ari.


__ADS_2