
...༻⊚༺...
Zafran keluar dari rumah sakit. Dia juga bisa menjalankan kakinya dengan normal. Kini Zafran dan yang lain tengah berkumpul di depan bus. Kebetulan mereka harus menunggu Lika yang pergi entah kemana.
"Lika kemana sih? Teleponnya juga nggak aktif," keluh Pak Surya sembari terus mencoba menelepon Lika.
"Gimana kalau Lika di culik? Dia anak konglomerat super kaya kan?" imbuh Ayu yang berpikiran tidak-tidak. Ia bahkan sampai menangkup wajahnya sendiri.
Plak!
"Jangan macam-macam deh. Gue nggak mau kedatangan kita ke sini malah jadi petaka. Mikir yang baik-baik aja lah." Keyla memukul kuat lengan Ayu. Kesal dengan pikiran negatif cewek tersebut.
"Gimana nih, Pak? Apa kita cari aja ke sekitar sini?" usul Fatih yang tampak cemas. Hal serupa juga dirasakan Zafran. Namun dia mampu menyembunyikan kecemasannya dibalik ekspresi datar.
"Iya, kita lebih baik berpencar. Tapi jangan pergi sendiri-sendiri. Pokoknya langsung kasih kabar kalau sudah ketemu Lika," ujar Pak Surya mengarahkan. "Semuanya berpencar! Kecuali Zafran. Kamu tunggu di bus aja bareng sopir," titahnya yang sekarang bicara kepada Zafran. Pak Surya tidak mau muridnya itu sakit lagi.
"Baik, Pak." Zafran mengangguk setuju. Dia membiarkan semua orang pergi.
Zafran menghembuskan nafas berat. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar berulang kali. Berharap dirinya dapat menemukan Lika.
Perasaan khawatir mengkerubuti Zafran. Dia sebenarnya sangat ingin ikut mencari Lika.
Akhirnya terlintas dalam benak Zafran untuk menemukan Lika. Dia memeriksa tempat-tempat di sekitar rumah sakit melalui internet. Zafran mencari lokasi yang kemungkinan besar didatangi oleh Lika.
Dugaan terkuat Zafran tertuju pada toko buku besar yang berjarak tidak jauh. Dia lantas mencoba pergi ke sana.
Ketika kaki Zafran baru bergerak dua langkah, saat itulah Lika terlihat dari kejauhan. Gadis itu berlari dari arah toko buku yang hendak didatangi Zafran.
Akibat kemunculan Lika, Zafran urung pergi. Dia lekas-lekas mengambil ponsel.
"Gue nggak ketinggalan kan?!" ujar Lika, tatkala sudah ada di depan bus. Dia terdengar kesulitan mengontrol nafas. Gadis itu berhenti dalam keadaan memegangi lutut. Di tangannya terdapat dua buah buku baru. Dugaan Zafran tadi benar seratus persen.
__ADS_1
Zafran tak acuh. Dia justru meletakkan ponsel ke telinga.
"Pak, ini orang yang dicari-cari udah datang. Dia ternyata sejak tadi asyik shoping beli buku," adu Zafran. Selanjutnya, dia mengakhiri panggilan telepon.
Mata Lika menyalang lepas. Bagaimana dia bisa tahan untuk tidak marah, jika Zafran selalu bersikap menyebalkan.
"Lo itu ya!" Lika mengatup bibirnya dengan rapat. Tubuhnya gemetar karena berupaya keras menahan amarah.
"Lah... kenapa marah? Lo beneran habis beli buku kan? Apa yang gue bilang itu fakta." Zafran mengulurkan dua tangannya ke depan.
Lika mendengus kasar. Dia lebih baik menjauh, dari pada harus terus menanggapi Zafran. Lika segera naik ke dalam bus lebih dulu.
Melihat diamnya Lika, Zafran tersenyum puas. Dia menyusul Lika masuk ke dalam bus.
Zafran duduk ke kursi yang helat satu baris di depan Lika. Entah kenapa keinginan untuk berinteraksi dengan gadis itu sangatlah kuat. Apalagi ketika saat di rumah sakit Lika sama sekali tidak muncul. Sepertinya Zafran tidak sadar kalau yang dirasakannya adalah rindu.
"Tumben mulut pantat ayam nggak pedes. Lagi puasa?" cetus Zafran sembari menarik sudut bibirnya ke atas. Berharap Lika segera merespon. Akan tetapi cewek itu tidak menjawab sama sekali.
Lika justru sibuk membaca buku yang baru dibelinya. Dia terlihat sudah mengenakan kacamata baca.
"Telinga lo nggak berfungsi lagi ya?" Zafran sekali lagi memancing amarah Lika. Tetapi gadis itu masih saja tidak menggubris.
Tidak lama kemudian, Pak Surya dan yang lain datang. Zafran lantas terdiam. Dia mencoba memaklumi pengabaian Lika.
...***...
Kejuaraan nasional telah berakhir. Waktu bersenang-senang sudah tiba. Semua orang siap untuk berangkat keliling Bali.
Zafran mengenakan kaos putih yang dibalut kemeja dalam keadaan kancing terbuka. Bercelana jeans dan menggunakan topi. Dia juga memakai arloji hadiah dari sang ayah. Semua yang dikenakan Zafran dari ujung kaki hingga kepala, berharga ratusan juta rupiah.
Di akhir, Zafran tidak lupa membawa kamera. Selain berolahraga, dia juga suka mengabadikan momen dengan kamera. Hobi tersebut memang jarang dilakukannya.
__ADS_1
Zafran hanya akan menggunakan kameranya saat ada acara penting dan istimewa. Walau jarang dipakai, dia punya banyak koleksi kamera di lemari khusus yang ada di rumah. Sekarang saja Zafran membawa dua kamera sekaligus. Tetapi dia hanya memilih satu saja untuk dibawa berkeliling Bali.
Cakra yang menyaksikan, lagi-lagi telan ludah. Sebab dia tahu, merek barang-barang yang dipakai Zafran merupakan produk designer terkenal.
Di sisi lain, Lika juga sedang membenah penampilannya. Tidak kalah dari Zafran, seluruh barang miliknya adalah merek designer ternama.
Lika memakai kaos yang dibalut jaket dan celana berbahan jeans. Sepatu kets putihnya merupakan keluaran terbaru dan barang limited edition.
Lika membiarkan rambut panjangnya tergerai indah. Dia juga memakai tas kecil seharga ratusan juta rupiah.
"Ya ampun, Lik. Bisa kasih tahu gue nggak sih, berapa jumlah harga barang yang lo pakai? Jujur ya, gue juga penasaran sama uang jajan lo sama Zafran." Tidak seperti Cakra yang pendiam, Keyla langsung bertanya.
"Mau tahu aja lo." Lika terkekeh. Dia enggan membocorkan uang jajan yang diberikan Selia. Karena terlalu banyak, Lika biasanya selalu menyisihkan uang untuk ditabung. Tabungannya sekarang hampir mencapai satu milyar rupiah. Dan itu akan bertambah, seiring rutinnya uang jajan yang diterima Lika.
Semua orang sudah siap. Bus akhirnya berangkat untuk membawa rombongan berkeliling Bali. Tujuan pertama mereka adalah pantai Kuta. Tempat yang tidak begitu jauh dari lokasi hotel.
Setibanya di tempat tujuan, Lika dan kawan-kawan mengambil foto sebanyak mungkin.
"Key, fotoin gue sendiri ya," pinta Lika seraya memberikan ponselnya kepada Keyla. Dia segera mengambil posisi dan berpose cantik semaksimal mungkin.
Zafran yang sejak tadi sibuk mengambil foto kegiatan guru-gurunya, kini berpindah haluan ke arah Lika. Dia akhirnya iseng memotret Lika yang sibuk berpose. Perlahan senyuman merekah diwajahnya.
"Ekhem! Bapak kira kamu musuhan sama Lika." Teguran Pak Surya sukses membuat jantung Zafran hampir copot. Dia tentu merasa tertangkap basah.
"A-aku nggak foto Lika kok," bantah Zafran terbata-bata. Dia langsung berhenti mengarahkan kamera ke arah Lika.
Pak Surya terkekeh. Dia menggeleng maklum dan menepuk pundak Zafran dua kali. Lalu beranjak pergi.
Sementara itu, Lika baru saja selesai memeriksa hasil fotonya. Dia tersenyum dan tanpa sadar menoleh ke arah Zafran. Untuk yang kesekian kalinya, cowok itu berhasil membuat debaran cepat jantung Lika aktif kembali.
Lika terpaku memandangi Zafran dari kejauhan. Cowok itu tambah keren dalam keadaan memegang kamera. Angin yang berhembus serta cerahnya matahari, membuat Zafran semakin mempesona.
__ADS_1
Tangan Lika reflek memegangi dadanya sendiri. Dia lekas menggeleng untuk menyadarkan diri.
"Mulai lagi deh gue," gumam Lika.