
“Serius lo?? Sampai Donghyuk dateng ke rumah lo??!! Wah … interesting …,” ucap Eunsun yang tidak percayakan akan ucapan Hara.
“Serius!! Dia bahkan kasih gue cake,” ucap Hara sambil meletakkan cake pemberian Donghyuk di atas meja belajar.
Mereka sedang berbicara lewat telepon. Saat Hara sedang berjalan menuju rumahnya yang hanya tinggal beberapa meter lagi, tiba-tiba Eunsun menghubunginya. Hara menceritakan kejadian yang baru saja terjadi. Sebenarnya ia abis pergi membeli pembalut di supermarket karena pembalut milik telah habis. Salah satu alasan mengapa hari itu Hara menjadi begitu sensitif karena ternyata ia sedang datang bulan di hari pertama. Tidak disangka jika orang santai seperti Donghyuk sampai memikirkan hal-hal kecil dengan meminta maaf secara langsung dan memberikan sepotong cake.
“Gue bakal foto, sebentar!” ucap Hara sambil memfoto cake pemberian Donghyuk sebagai sebuah bukti pada Eunsun yang masih tidak percaya.
“Oh iya, juga ya …” ucap Eunsun yang baru saja melihat bukti yang diberikan oleh Hara. “Dia kok, jadi aneh ya …, jangan-jangan dia suka kali sama lo!!” ucap Eunsun tanpa berpikir panjang.
“Jangan ngomong yang aneh-aneh deh, apalagi kalo ada gue terus di depannya ada Donghyuk. Tau ‘nggak, apa yang kalian lakukin bisa buat hubungan gue sama Donghyuk canggung.
“Iya iya … maaf, nggak bakal gitu lagi …,” ucap Eunsun.
“Bisa aja ‘kan Donghyuk nggak nyaman di ledekin sama kalian, begitu juga dengan Taeil. Jangan pernah sekali-sekali bersikap seakan mereka tertarik sama gue. Titik!” ujar Hara dengan nada bicara yang tegas,
“Tapi ‘kan, bisa aja emang beneran mereka tulus suka sama lo, siapa yang bakal lo pilih?.” tanya Eunsun yang lagi-lagi membuat Hara menghela nafas heran.
“Sudah cukup! Gue mau mandi dulu. Bye!” ucap Hara yang langsung mematikan ponsel sebelum semuanya semakin tidak jelas.
***
Di dalam Bus, Hara sedang duduk sambil mendengarkan musik, bus berhenti beberapa saat untuk mengangkut penumpang di halte Bus. Beberapa orang naik ke dalam, termasuk Taeil yang terlihat tersenyum senang saat melihat Hara didalam. Ia pun langsung duduk disamping Hara yang seketika terkejut.
“Hai …!”
“ Oh! Taeil …!” saut Hara yang masih merasa tidak percaya akan kemunculan Taeil yang tiba-tiba, kemudian Hara melepaskan headset yang ia kenakan.
“Hara …”
“Emm …? Kenapa?” tanya Hara.
“Aku boleh minta tolong?”
__ADS_1
“Iya, tapi minta tolong apa?” tanya Hara.
“Temani aku bolos sekolah sehari saja …,” ucap Taeil.
“Eh?! Bolos …?” sontak Hara terkejut mendengarnya.
“Nggak bisa ya, ya sudah nggak apa-apa, aku bolos sendirian aja,” Taeil yang tampak murung.
Melihat ekspresi Taeil, membuat Hara merasa sepertinya telah terjadi sesuatu pada Taeil. Sebuah masalah yang tidak bisa diceritakan oleh siapapun. Tatapan mata yang menyimpan kesedihan, membuat Arin merasakan hal yang sama.
“Ayo! Aku bisa bolos, tapi setengah hari saja ya … terus kita balik ke sekolah lewat gerbang belakang. Bagaimana?” tanya Hara.
Seketika raut wajah Taeil langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Tapi kita mau bolos kemana?” tanya Hara.
“Nanti kamu juga tau …,” ucap Taeil yang tampak begitu bersemangat.
***
“Ngomong-ngomong, dimana Hara dan Taeil ...? Kenapa mereka belum datang?” tanyanya yang membuat mereka bertanya-tanya.
Namun tidak ada satupun yang menjawab pertanyaannya.
“Padahal dia siswa baru, tapi sudah tidak masuk kelas. Ya sudah, kita lanjut pelajaran kemarin …! Buka buku pelajaran kalian halaman 112!” ucapnya yang kemudian mulai menerangkan materi.
***
Sebuah tempat pemakaman yang berada di atas bukit. Hara masih bingung kenapa tiba-tiba Taeil mengajaknya datang ke tempat seperti ini. Bahkan saat ini Taeil membawa seikat bunga. Hara tidak ingin bertanya dan hanya menunggu hingga Taeil menceritakan pada dirinya.
Sampailah mereka di depan sebuah makam yang bertuliskan nama, ‘Kang Hanna. 1977 - 2010’. Sebuah makam dimana ibunya terbaring di sana setelah kecelakan maut yang membuatnya pergi meninggalkan Taeil. Hara terdiam di belakang Taeil yang sedang berdoa lalu meletakkan bunga tersebut di atas makam.
“Dia ibuku … sapalah,” ucap Taeil.
__ADS_1
Lantas Hara tertegun kaget mendengarnya. Ia mencoba berdiri dengan sopan untuk memberikan sebuah penghormatan dan doa. Kembali melangkah mundur — menyamakan dengan Taeil.
“Maaf … pasti kamu kaget ya, tiba-tiba di bawa ke tempat seperti ini,” ucap Taeil.
Namun Hara hanya diam karena tidak tahu harus menjawab apa.
“Sebenarnya, hari ini adalah peringatan kematian ibuku. Setelah pindah ke Amerika, ini pertama kalinya lagi aku datang mengunjunginya.” ungkap Taeil.
“Ibu kamu cantik sekali …,” ucap Hara yang melihat sebuah foto kecil yang diletakan di atas makam.
“Emm … kamu benar, ibuku memang sangat cantik dan baik.” ucap Taeil.
Mereka kembali terdiam terbawa suasana haru akan Taeil yang sedang merindukan sosok ibunya.
“Ayo, kita kembali ke sekolah!!” ajak Taeil.
“Emm …” angguk Hara.
***
Sebenarnya ini pertama kalinya Hara bolos sekolah. Namun ia pernah diceritakan oleh Donghyuk jika ada tempat rahasia yang bisa masuk tanpa melewati gerbang. Namun jalannya sangat sulit dan harus memanjat tembong yang cukup tinggi. Terlihat Hara dan Taeil yang hanya bisa terdiam menatap tembok dengan tinggi sekitar 2 meter di hadapan mereka.
“Kamu yakin lewat sini?” tanya Taeil.
“Emm … sebenarnya, aku juga nggak tau. Tapi hanya ini jalan satu-satu agar nggak ketahuan,” ucap Hara.
Taeil mencoba mencari sesuatu untuk dirinya bisa memanjat. Ia menoleh ke arah kanan dan kiri, hingga kedua matanya melihat sesuatu di dekat tempat sampah. Sebuah tangga kecil yang sudah setengah rusak, tapi tampaknya ia bisa digunakan untuk membantunya memanjat ke atas. Taeil bergegas mengambilnya — meletakkannya di depan tembok.
“Apa itu?” tanya Hara — bingung.
“Kita coba naik pakai ini. Sekarang aku naik terlebih dahulu, lalu kamu, biar saat jatuh nanti aku bisa tangket kamu dari dalam, okey!” ujar Taeil mencoba menjelaskan rencananya.
Hara hanya bisa mengangguk — mempercayai rencana Taeil.
__ADS_1
Kemudian Taeil mulai menaiki tangga tersebut satu persatu-satu. Sebuah rencana yang sempurna untuk Taeil yang akhirnya berhasil melewati tembok.
“Ayo!! Sekarang kamu yang naik, hati-hati ya …!!” ucap Taeil yang menunggu Hara dari bawah.