
Yang seketika membuat Donghyuk langsung tertegun kaget dengan kejutan yang dibuat Hara hanya untuknya. Haru yang ia rasakan bercampur bahagia. Mendengarkan suara Hara yang sedang bernyanyi untuknya membuat jantungnya terus berdebar-debar.
“Happy birthday to you … Happy birthday to you … Happy birthday … Happy birthday … Happy birthday … to you … YEAH!! Ayo cepet buat permohonan sebelum tiup lilin!” ucap Hara.
Kemudian Donghyuk mulai memejamkan matanya — membuat sebuah permohonan didalam hatinya — kembali membuka mata lalu meniup satu persatu lilin yang menyala.
“Hup … hup … hup ….”
“YEAH … happy birthday!!” ucap Hara.
Donghyuk terus memandangi Hara tanpa berkedip, ia tidak tahu apa yang ia pikirkan dan apa yang ia rasakan tapi yang jelas, saat ini ia merasa bahagia. Ia tak bisa meluapkan kebahagiaannya. Jantunganya terus berdebar-debar cepat. Karena merasa kasihan melihat Hara kedinginan. Donghyuk berdiri dan berjalan ke hadapan Hara.
Harga mendongak sambil menatap bingung. “Kenapa ngeliatinnya begitu?”.
Tanpa memperdulikan pertanyaan Hara, Donghyuk langsung memakaikan jaketnya pada Hara yang terdiam kaku karena canggung dan ia juga merasakan jantungnya berdebar-debar. Pasti sudah gila.
“Lo bisa mati kedinginan, dasar bodoh …!” ucap Donghyuk sambil kembali duduk di ayunan.
Mereka saling memandang satu sama lain beberapa saat lalu kembali memalingkan wajah — mereka ke arah yang lain terdiam dalam kesunyian dan terus bertatapan.
“Lo nggak marah sama gue, karena lupa sama janji gue?” tanya Donghyuk.
“Marahlah … gue hampir mati kedinginan. Tapi … karena ini hari ulang tahun lo jadi gue lepas.” ucap Hara dengan nada bicara yang terdengar kesal.
Donghyuk tersenyum mendengarnya. “Maaf … tadi tiba-tiba teman-teman gue ngajak main basket bareng pas gue baru bangun tidur. Jadinya gue lupa,” ucap Donghyuk sambil menghela nafas karena rasa bersalahnya. “Gue bener-benar minta maaf, udah buat lo menunggu lama …, serius …,” ucap Donghyuk.
“Nggak apa. ‘Kan gue udah bilang … kali ini bisa gue maafin. Ini …” ucap Hara sambil memberikan kado pada Donghyuk. “Hadian buat lo!” ucap Hara.
Donghyuk kembali dibuat tersenyum melihat Hara yang bahkan sampai memberikannya kado. Sambil menerimanya. “Apa ini?” tanya Donghyuk.
__ADS_1
“Bukalah … nanti juga tau,” ucap Hara sambil menunjuk ke arah kotak kado yang dipegang Donghyuk yang terdiam bingung sambil melihat ke arah. Cara kembali menunjukkannya dengan kedua matanya. Donghyuk menurunkan matanya dan kemudian ia membuka kado tersebut.
Dan saat membuka nya Donghyuk terdiam karena tidak percaya, wajahnya terlihat sumringah saat ia mengeluarkan kado tersebut dari dalam kotaknya. “Parfum …?” tanya Donghyuk.
“Gue pilih yang cocok buat lo, yah … sebenernya gue nggak tau selera lo kayak apa. Cuman pas cium bau parfum itu, jadi keingat aja sama lo …,” ungkap Hara.
Donghyuk mulai mencium aroma yang begitu semerbak di hidungnya. Ia sangat terkejut dengan aroma yang tidak terlalu berlebihan.
“Gimana? Enaknya nggak wanginya?” tanya Hara.
“Emm … enak, thank you …” ucap Donghyuk yang langsung menyemprotkan parfum tersebut di beberapa bagian di tubuhnya. “Tapi … ulang tahun lo ‘kan, udah lewat dan saat itu gue belum tau, ada hadian yang lo mau. Yah … walau sangat terlambat sih …,” ucap Donghyuk.
“Nggak perlu. Udah lewat juga … nggak apa,” tolak Hara yang sibuk memakan cake milik Donghyuk karena ia merasa lapar.
“Apanya yang nggak apa-apa! Bilang aja … gue bakal beliin dan kasih lo apa saja, yang malah juga bakal gue beliin. Serius …!” ucap Donghyuk mencoba membujuk Hara.
Hara terdiam saat mendengar hal itu. Sebenarnya memang ada satu barang yang sudah sangat lama diinginkan. Bahkan Hara rela mengumpulkan uang dari uang jajannya untuk membeli barang tersebut. Sayangnya uangnya sampai saat ini masih tidak cukup, terlebih lagu sudah kepotong untuk membeli kado dan cake untuk Donghyuk. Memang Donghyuk tidak peduli dengan harganya, tapi sebagai teman ia juga sadar diri, barang yang diinginkan terlalu berlebihan untuk dijadikan sebuah kado.
***
Keesokkan harinya. Karena bangun kesiangan Hara, hampir saja terlambat. Walau dengan keadaan yang masih mengantuk, akhirnya Hara sampai juga di kelas. Donghyuk yang melihat Hara masuk sambil menguap, ia merasa bingung dan bertanya-tanya. Hara terus berjalan hingga ia sampai bangkunya.
“Hya!! Muka lo kenapa? Kayak orang nggak tidur?” tanya Eunsun yang merasa bingung melihat Hara yang baru datang langsung tidur dibangku dengan kepala yang ia sandarkan pada salah satu tangannya yang ia renggangkan.
Sambil menoleh ke belakang. “Dia kenapa?” tanya Hyerin.
“Nggak tau.” jawab Eunsun — bingung sambil menggelengkan kepalanya.
Begitu juga dengan Yongsoo yang ikut menoleh kebelakang. “Dia tidur?”.
__ADS_1
“Kayaknya?” jawab Eunsun sambil mencoba memeriksa Hara dengan mengangkat rambut yang menutupi wajah Hara yang ternyata benar-benar langsung tertidur pulas.
Kemudian tak lama Guru Han datang dan membuat mereka kelabakkan kembali kebangku mereka. Eunsun berusaha membangunkkan Hara, yang kemudian terbangun walau beberapa kali yang memejamkan matanya, tapi ia berusaha untuk tidak tertidur.
“Selamat pagi semua!!”.
“ PAGI PAK!!”.
“Hari ini kita oper tempat duduk ya,” ucapnya yang seketika membuat mereka terkejut dan menolaknya.
“Kenapa harus dioper sih, Pak? Memangnya kita anak kecil ..” eluh Namjoo.
“Sudah lakukan saja!! Sekarang ambil nomor bangku kalian, saya sudah memberikan nomor pada meja kalian, kalian lihat …?” tanyanya.
“IYA!!” jawab mereka tidak bersemangat.
Suara itu sontak membuat Hara tersadar — terbangun dari rasa kantuknya.
Kemudian satu persatu dari mereka mengambil kertas yang berisi nomor bangku.
“Kalau sudah ambil nomor langsung pindah ketempat baru kalian!!” ucapnya.
Saat semua temannya sibuk mencari tempat sebangku mereka masing-masing. Hara yang masih setengah sadar, Hara mencari tempat duduknya setelah mengambil nomor. Ternyata, ia kembali duduk di belakang pojok jendela. Tapi seketika Hara terkejut saat ia melihat teman sebangkunya adalah Donghyuk yang sudah duduk terlebih dahulu.
“Lo? Di sini?” ucap Donghyuk.
Seketika rasa kantuk Hara hilang dalam sekejap. Ia kembali melihat kertas yang tertulis nomor di dalamnya dan mengeceknya. Ternyata memang benar ia duduk dibangku ini.
Saat semuanya sudah duduk di tempat mereka masing-masing hanya Hara dan Donghyuk yang belum duduk karena masih bingung,
__ADS_1
“Han Hara! Kim Dong Hyuk! Kenapa kalian tidak duduk?” tanyanya yang membuat Hara dan Donghyuk sontak menoleh bersamaan.
“Iya, Pak.” saut Hara yang kemudian langsung duduk di bangku — bersama dengan Donghyuk di samping.