
Sejak pertemuan terakhir bersama teman-temannya perasaan Hara menjadi serba salah dan tak nyaman. Perubah yang begitu signifikan hanya karena dirinya menutupi satu rahasia yang seharusnya bukan masalah besar. Namun kenapa rasanya ia telah melakukan dosa besar jika melihat tatapan ketiga temannya.
Untuk pertama kalinya ia pacaran dengan orang yang pernah ia sukai. Cinta tak terbalas tapi kini terbalas, bahkan mereka tidak bisa sedikit memahami perasaannya dan hanya menyatakan secara tidak langsung, jika pacaran dengan Ha Myung adalah sebuah kesalahan besar.
Hara emang tau Ha Myung yang dulu itu seperti apa. Bahkan Yongsoo, temannya sendiri pun pernah di kecewakan oleh Ha Myung, tapi itu adalah dia yang dulu. Ha Myung yang sekarang benar-benar berbeda, apa hanya aku yang buta. Ragu dan terus ragu seakan jalan yang tidak ada ujungnya. Lalu kemana harus pergi?
Di sebuah restoran mewah Hara dan Ha Myung sedang menikmati makanan mereka, tapi di sela-sela obrolan mereka, tiba-tiba ponsel milik Ha Myung berdering, sontak hal itu membuat ekspresi wajah Ha Myung tampak begitu terkejut.
Hara bertanya-tanya dan bingung dengan sikap Ha Myung yang entah sedang terkejut atau sedang ketakutan.
“Tunggu sebentar ya, aku jawab panggilan dulu,” ucap Ha Myung sambil mengambil ponselnya dan berjalan pergi keluar restoran.
Harga terdiam dan penasaran, di dalam pikirannya, kenapa Ha myung menjauh saat mengangkat panggilan ayahnya. Sepertinya ada masalah atau memang dia menyembunyikan sesuatu. Harga juha melihat ekspresi wajah Ha Myung yang juga sangat serius. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun dan menunggu Ha Myung menjelaskannya.
Tak lama kemudian Ha Myung kembali dan duduk.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Hara.
“Nggak kok, nggak ada masalah apa-apa,” ucap Ha myung mencoba untuk tetap bersikap biasa dan tersenyum, ia tidak ingin samai Hara mengetahuinya.
“Oh iya, bagaimana dengan teman-temanmu. Apa mereka sudah tau tentang hubungan kita?” tanyanya.
“Udah sih, tapi … ada sedikit masalah di antara kami, jadi semua terjadi di luar kendali,” ucap Hara.
“Begitu ya, pasti mereka masih salah paham tentang aku. Ya … itu wajah, aku nggak akan memaksa mereka.” ucap Ha Myung dengan mudahnya membuat Arin kembali ketipu.
__ADS_1
***
Eunsun yang baru saja tiba di sebuah kedai di pinggir jalan, menghampiri Donghyuk yang tampak sedang menikmati minumannya sendirian. Dia tampak begitu sedih, bahkan punggungnya pun tampak begitu menyedihkan. Eunsun berjalan menghampiri Donghyuk — duduk di hadapan Donghyuk yang sontak berhenti minum.
Sambil menghela nafas berat. “Kenapa minum banyak benget sih! Dasar bodoh!” ucap Eunsun.
“Ternyata lo beneran dateng, dia nggak ramah?” tanya Donghyuk yang sudah setengah mabuk sambil kemudian menengguk segelas soju dengan sekali tegukkan.
“Makanya, kenapa lo biarin Hara jatuh ke tangan cowok kayak Ha Myung. Ya … gue tau, Arin bilang kalau Ha Myung udah berubah. Hya! Orang itu nggak semudah itu berubah, ah … dasar Arin bodoh!” ucap kesal Eunsun.
“Lo juga sama saja, kenapa lo biarin Hara bisa jatuh ke tangan cowok br_ngsek itu, cih!” ucap Donghyuk.
“Itu dia. Gue terlalu sibuk hingga nggak nyangka Ha Myung bakal datang saat kita lengah. Haff …” ucap Eunsun kembali menghela nafas berat — meneguk segelas soju yang entah mengapa terasa manis.
Eunsun yang tak tega melihatnya langsung merampas botol soju itu dari tangan Donghyuk. “Berhentilah minum! HYA!! KIM DONGHYUK SADARLAH!!” bentak Eunsun sontak membuat Donghyuk terdiam, hingga orang-orang disekitarnya ikut diam karena kaget.
“Pergilah liburan!” ucap Eunsun.
“Apa?!” tanya Donghyuk bingung.
“Menghilanglah dari hadapan Hara hingga dia mencarimu, seperti waktu itu.” ucap Eunsun.
Donghyuk masih terdiam dalam kebingungan, ia kesulitan untuk mencerna ucapan Eunsun.
“Waktu lo ilang tiba-tiba karena ayah lo sakit, Hara benar-benar resah setiap harinya. Dia terus mencari lo, itu berarti Hara sudah mulai tergantung sama lo,” ujar Eunsun.
__ADS_1
“Jangan ngarang! Berhenti mengatakan hal-hal yang buat gue berharap, karena lo kasih harapan dan sampai gue nembak Hara, tapi apa … ucapan lo salah!” ucap Donghyuk sambil menunjuk-nunjuk kesal ke arah Eunsun.
“Coba saja! Lagian nggak ada salahnya lo liburan. Iya ‘kan?” tanya Eunsun membuat Donghyuk akan yang diucapkannya.
***
Setelah memikirkan ucapan Eunsun dengan matang-matang. Akhirnya Donghyuk menyetujui hal tersebut. Bahkan Donghyuk sampai mengajukan cuti kuliah. Di sebuah taman — ayunan taman bermain, dimana dirinya sering disana saat masih SMA bersama dengan Hara.
Menunggu walau cuaca terasa sangatlah dingin. Tak lama Hara datang dan langsung duduk di sampingnya tanpa mengatakan apapun. Mereka bahkan sempat terdiam satu sama lain. Saat musim dingin tidak akan terdengar suara serangga malam, tidak seperti saat musim panas jadi terasa sangatlah sunyi.
“Kita udah lama nggak ke tempat ini,” ucap Donghyuk yang memulai percakapan — menghancurkan keheningan yang membuat mereka canggung.
“Iya juga,” ucap Hara.
“Kenapa suara lo nggak bersemangat?” tanya Donghyuk.
“Cuman … lagi agak sibuk aja,” jawab Hara.
“Hara,” saut Donghyuk dengan suara yang begitu rendah — menoleh ke arah Hara yang saat ini juga melihatnya. “Lo tau ‘kan, gue suka sama lo … tapi kenapa lo berpura-pura? Apa lo tahu, gue emang terlihat biasa saja dihadapan lo layaknya lo dan Eunsun. Tapi … satu persatu hati gue hancur dan gue nggak tau bakal sampai kapan gue bisa bertahan kalau kita sebatas teman dekat.” ujar Donghyuk yang membuat Hara merunduk karena rasa bersalah.
“Tapi nggak apa. Menjadi teman lo bukan hal buruk. Gue bisa lindungi lo … tapi kalau sekarang sosok gue udah gak diperlukan lagi buat lo. Kenapa …? Karen sekarang lo udah ada pria yang bakal ngelindungin lo. Maka dari itu … aku bakal mengubah karakter yang cocok buat lo yaitu sebagai teman jauh,” ungkap Donghyuk.
Hara masih terdiam — menatap Donghyuk yang seakan sedang mengucapkan salam perpisahan dengannya.
Sambil beranjak dari ayunan — berjalan menghampiri Arin — berdiri di hadapannya. Sambil mengulurkan tangan. “Hara … makasih karena jadi teman dekat gue. Jangan diri lo baik-baik … bye …!!” ucap Donghyuk sambil mengusap kepala Hara sebanyak tiga kali sebelum ia kemudian pergi meninggalkan Hara seorang diri di taman.
__ADS_1