Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Kencan Pertama


__ADS_3

“Rasanya enak … wah … keren,” ucap Donghyuk sambil memberikan dua ibu jarinya sebagai apresiasi kerja keras Hara yang sudah membuatkan makanan yang bahkan rasanya tak jauh beda dengan yang sering dibeli di restoran.


“Syukurlah, sesuai dengan selera kamu. Makan yang banyak ya …,” ucap Hara.


“Tentu saja! Aku bisa menghabiskannya semua!” ucap Donghyuk yang begitu semangat karena ia senang akan masakan Hara.


Perut yang sudah terisi hingga tidak ada satupun yang tersisa. Tak lupa Donghyuk membereskan tempat makannya sebelum Hara yang melakukannya. Hara sedang pergi membeli es krim. Selagi Hara pergi Donghyuk menyiapkan apa yang ingin ia berikan juga pada Hara, sebuah kejutan kecil dimana ia akan memberikan sebuah cincin sebagai hadiah. Rasanya sangat gugup padahal ini bukan sebuah lamaran.


Tak lama kedua mata Donghyuk melihat sosok Hara yang sedang berjalan menghampirinya dengan membawa dua es krim di tangannya.


“Sudah habis semuanya …?” tanya Hara yang terkejut melihat tempat makannya yang sudah kembali terbungkus rapi sambil membuka sepatu.


“Emm … udah habis.” jawab Donghyuk sambil mengambil es krim dari tangan Hara yang sedang duduk di sampingnya. Tak lupa Donghyuk memberikan es krim tersebut pada Hara. Mereka duduk memandangi sungai Han yang ada dihadapan mereka sambil menikmati es krim vanilla. Kencan pertama yang sederhana namun romantis.


“Hara …” saut Donghyuk dengan sangat lembut.


“Iya …,”.

__ADS_1


“Lihat ini …” ucap Donghyuk sambil mengulurkan sebuah kotak kecil yang sontak membuat Hara terdiam saat melihatnya.


“Apa ini …?” tanya Hara — bingung.


“Hadiah …,” jawab Donghyuk sambil membuka penutup kotak tersebut hingga sontak membuat Hara terkejut saat melihat ke dalamnya.


Hara tidak bisa berkata-kata saat melihat cincin hadiah yang Donghyuk berikan. Namun kedua matanya mulai berkaca-kaca karena terharu melihatnya.


“Kamu ‘kan, memang belum berencana ingin menikah dan ingin menjalani prosesnya. Apapun keputusanmu aku mencoba untuk memahami dan menerimanya. Tapi … kenapa aku ingin memberikanmu cincin, agar tidak ada yang berani mengambil kamu dari aku. Anggap saja ini sebagai tanda kalau kamu ada yang punya. Sebenarnya aku ingin sekali melamar kamu, tapi aku rasa kamu akan menolaknya dan tetap ingin pada hubungan ini …, tapi apa bisa kamu menerima yang satu ini …?” tanya Donghyuk.


“Aku akan menerimanya …,” ucap Hara tanpa perlu memikirkannya terlalu lama yang sontak membuat Donghyuk tersenyum bahagia karena kini Hara benar-benar sudah resmi menjadi kekasihnya. “Aku juga suka jika ini lamaran …,” ucap Hara sambil mengambil cincin tersebut — memakaikannya di jadi manisnya. Namun ucapan Hara membuat Donghyuk terdiam dalam kebingungan akan maksud dari kata-kata yang terdengar ambigu.


“Aku juga suka kalau ini lamaran. Ayo kita menikah …! Bukan deh! Kamu mau menikah dengan aku?” ucap Hara sambil mengulurkan salah satu cincin yang memang berpasangan pada Donghyuk yang masih dalam kondisi syok tidak percaya.


Bagaimana bisa dirinya yang dilamar oleh wanita. Sungguh sikap pemalu Hara menyimpan banyak keberanian yang tertahan. Bahkan Hara terlihat sama sekali tidak gugup, tidak seperti dirinya tadi.


“Baiklah. Ayo kita menikah …,” ucap Donghyuk yang mengenakan cincin yang diberikan Hara.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang akan rasa kebahagiannya, Donghyuk langsung memeluk Hara dengan sangat erat. Hari yang begitu cantik kini akan benar-benar menjadi momen yang tidak akan pernah dilupakan. Tak lupa Donghyuk juga memberikan kecupan lembut pada kening Hara dan juga bibirnya — kembali memeluk seakan tidak ingin melepaskannya.


Keduanya saling melepaskan pelukan. Dorongan yang tidak tertahankan untuk mencium bibir Hara. Donghyuk berbicara melalui matanya, bertanya pada Hara apakah saat ini ia boleh menciumnya. Hara pun mengedipkan matanya secara perlahan seakan dia juga sudah siap. Secara perlahan Donghyuk mulai mendekatkan bibirnya — mencium lembut bibir Hara yang membalas ciumannya juga. Ciuman kedua yang jauh lebih dalam dan lupa akan kecanggungan. Jantung yang berdebar — hembusan nafas yang menyatu mereka lupa akan sekitar mereka. Banar. Dunia ini hanya terasa milik mereka berdua. Disela-sela ciuman mereka saling tersenyum sebagai sebuah kebahagian yang mereka rasakan.


Hari berubah menjadi malam. Tidak seperti malam sebelumnya, kali ini Hara benar-benar akan menginap dirumah Donghyuk. Menghabiskan malamnya bersama pria yang sudah ia lamar. Ciuman di Sungai Han tadi tampak belum cukup untuk pasangan yang sedang kembali jatuh cinta karena musim semi yang akhirnya menyatukan mereka setelah perjalanan panjang. Di dalam kamar milik Donghyuk dengan satu lampu meja yang masih menyala, malam itu Hara sudah memberikan semua yang ia miliki pada Donghyuk.


Hingga langit berubah menjadi pagi. Tampaknya malam itu membuat mereka kelelahan hingga tak menghiraukan langit dan matahari yang sudah membentang tinggi dilangit. Masih tertidur dibalik selimut putih yang menutupi keduanya. Donghyuk mulai membuka matanya, menoleh ke arah Hara yang masih tampak tertidur pulas. Tersirat senyuman kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan. Malam yang tak akan pernah dilupakan. Donghyuk mengenakan celana boxernya — tubuhnya berotot susah payah ia buat agar terlihat sempurna di mata Hara — Donghyuk mengenakan kaos lalu mulai membereskan baju milik Hara yang berserakan. Setelah meletakkan di dekat kasur agar mempermudahkan Hara mengambilnya — Donghyuk berjalan keluar kamar untuk membuatkan sarapan.


Berselang beberapa menit, Hara pun mulai terbangun dari tidurnya. Ia bingung saat melihat tidak ada Donghyuk di sampingnya. Hara melamun beberapa saat untuk mengumpulkan nyawanya, tapi ingatan semalam mulai memenuhi otaknya yang sontak membuat Hara malu-malu kucing. Terlebih lagi dirinya yang saat ini hanya mengenakan kemeja putih yang entah sejak kapan ini dipakaikan di badannya. Lantas pertanyaan itu mulai menunjuk pada Donghyuk yang kembali membuat Hara kelabakan seperti cacing kepanasan karena mau.


Sambil mengambil satu helaan nafas panjang — Hara berdiri didepan pintu — mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak gugup. Benar buat apa dirinya gugup, semalam bahkan dirinya sudah melakukannya. Benar. dirinya sudah bukan lagi anak remaja tapi wanita dewasa yang sudah dilamar. Hara mencoba untuk membuat dirinya agar tempat stay cool saat berhadapan dengan Donghyuk.


Perlahan Hara mulai berjalan menghampiri Donghyuk yang sedang sibuk membuatkan sarapan untuknya.


“Udah bangun …?” tanya Donghyuk sambil berbalik ke dapur setelah meletakan sepiring sarapan roti untuk Hara yang tetap masih malu-malu kucing walau sudah bertekad tadi.


“Eum … buat sarapan apa?” tanya Hara sambil berjalan mendekati meja makan.

__ADS_1


“Roti panggang. American style, yang simple … nggak apa-apa ‘kan?” tanya Donghyuk.


“Aku ‘kan bukan yang suka pilih-pilih makanan,” ucap Hara sambil duduk di meja makan menunggu Donghyuk yang akhirnya duduk di hadapannya.


__ADS_2