Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Sisi Lain Dari Donghyuk


__ADS_3

Tampak Donghyuk yang muncul dari balik pintu.


“Udah pulang …” sapa Arin sambil merentangkan tangannya — sebuah kode agar Donghyuk yang sedang melepaskan sepatunya lalu dengan Donghyuk langsung memeluknya dengan erat hingga membuat tubuh kecil Hara terangkat.


“Kapan kamu datang …?” tanya Donghyuk.


“Kemarin malam, maaf aku nggak bilang, soalnya mau kasih surprise aja,” ucap Hara.


Sambil mengendus-ngedus bau masakan yang tercium sangat harum dan membuat perut seakan dipanggil. “Sup kimchi sama dadar telur, aku lihat ada kimchi dan lauk,” ujar Hara.


Sambil melepaskan pelukannya. “Ahh … tiga hari yang lalu ibu yag kasih,” ucap Donghyuk.


“Yaudah, sana kamu mandi ganti baju.” ucap Hara.


“Emm …” angguk Donghyuk sambil berjalan ke arah kamarnya sedangkan Hara kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatan masaknya.


***


Haru baru saja selesai mandi setelah makan malam bersama Donghyuk. Ia memakai hoodie berwarna hitam milik Donghyuk. Tubuhnya yang kecil dan pendek harus tertelan dengan hoodie milik pacarnya yang berukuran oversize untuknya. Rasanya terlihat aneh di matanya melihat dirinya sendiri mengenakan pakaian kebesaran. Berjalan dengan langkah kecil menghampiri Donghyuk yang tampak duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Malam ini Hara ingin menginap dirumah Donghyuk. Makanya dia mandi dan meminjam baju milik Donghyuk.


Ternyata Donghyuk tidak menonton tv, melainkan sedang membaca berkas kasus yang sedang di periksa membuat Hara sedikit kehilangan mood. Tampaknya ia akan kehilangan perhatian dari Donghyuk yang sepertinya akan lebih fokus sama pekerjaannya.


Hara hanya duduk tanpa suara dengan wajah yang masam — mengganti channel tv untuk mencari acara yang lebih menyenangkan. Sontak membuat Donghyuk langsung sadar akan perubahan suara yang berganti-ganti.


“Kamu kapan duduk disini?” tanya Donghyuk yang terkejut melihat keberadaan Hara yang memilih untuk diam tidak merespon.

__ADS_1


Donghyuk yang menyadarinya langsung meletakan berkas kasus begitu saja dibawa sofa — memperkecil jarak di antara mereka hingga tangan kanan Donghyuk mulai merangkul Hara yang masih tak meresponnya.


“Ternyata bajunya lebih sosok daripada yang aku kira,” ucap Donghyuk mencoba merayu Hara yang masih tidak digubris olehnya. Donghyuk mencoba mencari cara agar Hara tak marah karena dirinya yang lebih memilih pekerjaan di saat sudah waktunya untuk beristirahat. Bahkan Hara sudah meluangkan waktunya untuk datang dan membuatkan makanan.


“Maaf … maafkan aku karena masih memegang kerjaan, padahal aku sudah dirumah sampai nggak sadar kamu sudah sampai sini. Maaf ya …,” ucap Donghyuk mencoba membujuk Hara yang malah sedikit menghindar dari wajahnya yang mulai mendekat.


“Kamu boleh kok kerja lagi, tapi jangan sampai masih ada aku … kalau kamu mau kerja aku bisa pergi,” ucap Hara yang tiba-tiba langsung berdiri yang sontak membuat Donghyuk panik dan segera menghalangi langkah Hara.


“Jangan pergi …, maafkan aku. Aku bakal berusaha untuk nggak melakukan hal yang tadi lagi, janji …!” ucap Donghyuk sambil memberikan jari kelingkingnya.


Hara hanya bisa menghela nafas resah melihat tingkah cowoknya. Wajahnya yang masan perlahan berubah menjadi senyuman yang kemudian memeluk Donghyuk. “Baiklah …, aku terima janjinya.” ucap Hara.


Donghyuk tersenyum melihat Hara tak jadi marah padanya, ia segera membawa Hara kembali ke sofa untuk menikmati sisa malam bersama. Donghyuk merentangkan tangan kanannya agar Hara bisa bersandar dengan nyaman di rangkulannya. Menikmati sisa film yang direkomendasikan oleh Hara.


“Laut …?”.


“Eung. Laut … udah lama aja aku nggak lihat laut,” ucap Hara sambil membayangkan sebuah laut di imajinasinya.


“Mau kesana …?” tanya Haru.


“Sekarang …? Jam segini …?” tanya Hara bingung.


“Kalau kamu mau, kita bisa berangkat sekarang.” ucap Donghyuk, terlihat begitu santai.


“Besok ‘kan harus kerja,”

__ADS_1


“Ya itu memang benar, tapi kalau kamu mau semua bisa. Kita pergi buat lihat matahari terbit, lalu pulang langsung berangkat kerja. Bagaimana …? Mudah ‘kan?” ucap Donghyuk.


“Nggak!” tolak Hara dengan wajah yang serius hingga ia langsung menghadapkan tubuhnya pada Donghyuk yang sontak terdiam. “Mudah dari mananya? Coba kita pikir. Laut paling dekat dari tempat kita sekitar 45 menit. Ya … memang dekat, tapi kita harus begadang sepanjang malam, lalu besoknya kita langsung pergi kerja. Kamu juga ‘kan ada sidang penting, kalau kamu nggak tidur terus capek, terus sidang kamu nggak berjalan lancar gimana? Aku nggak mau sampai itu terjadi! Kesehatan kamu juga penting, kita nggak boleh sering begadang …!” ujar Hara yang merasa jika sudut pandanganya adalah yang terbaik untuk dirinya dan Donghyuk. Salahnya tiba-tiba mengatakan laut pada Donghyuk yang menganggap mudah dimatanya.


“Tapi …” Donghyuk yang sengaja berhenti mengatakan kalimat yang tertahan di mulutnya hingga membuat Hara sontak menoleh. “Kita ini ‘kan udah pacaran. Kita udah pegangan tangan, pelukan … dan juga kita juga udah ciuman. Kalau kita tidur bareng bukannya sama dengan begadang …?” ucap Donghyuk dengan nada bicara yang begitu sensual menatap Hara penuh dengan mata yang teduh tapi penuh dengan keliaran di dalamnya.


Sontak Hara pun terdiam, dia membutuh beberapa detik untuk memproses maksud dari perkataan Donghyuk. Saat ia mulai memahami maksud begadang dalam perspektif Donghyuk membuat wajah Hara langsung memerah merona karena sangat tersipu malu. Itu hal yang sangat sensitif disaat pria dan wanita di dalam satu ruangan.


“Jangan mikir yang aneh-aneh deh!” betak Hara yang terlepas begitu saja karena salah tingkah, ia berusaha menghindari tatapan Donghyuk yang penuh dengan nafsu.


“Memangnya aku pikir apa …?”ucap Donghyuk yang sengaja menggoda Hara.


“Pikiran mesum kamu! Memang aku nggak tau kamu!” ucap Hara sambil mengetuk-ketuk pelan kening Donghyuk. “Disini penuh dengan pikiran kotor …,” ucap Hara yang membuat Donghyuk hanya bisa tersenyum lantaran dirinya sudah tertangkap basah.


“Memangnya aku nggak boleh mikir begitu? Ini ’kan, pikiran aku. Terus memangnya kenapa …?” tanya Donghyuk.


“Kalau kamu lagi bareng sama aku, itu nggak boleh. Itu dilarang!” ucap Hara dengan tegas.


“Dilarang …?” sontak Donghyuk tak terima.


“Eung. Dilarang!” ucap Hara dengan menekankan setiap hurufnya.


Dengan tiba-tiba Donghyuk langsung merangkul pinggang Hara dari belakang — menariknya ke arahnya agar bisa lebih dekat. Hal itu sontak membuat Hara terkejut saat wajahnya hanya berjarak tiga jari dari wajah Donghyuk yang menatapnya dengan intens. Rangkulan itu begitu kuat hingga membuat Hara sulit untuk melepaskan dirinya.


“Lepas nggak!! aku bilang lepas …!” ucap Hara sambil mendorong Donghyuk menjauh tapi usahanya tidak berhasil. Donghyuk terus mempererat rangkulannya, dia tidak berniat untuk melepaskannya. Hara cukup terkejut dengan sisi lain dari Donghyuk yang ia kenal.

__ADS_1


__ADS_2