Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Perubahan sikap


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, Hara tinggal dengan bibinya karena kedua orang tuanya sedang menikmati bulan madu yang tertunda ke pulau Jeju. Tiba-tiba Hara ingin berjalan-jalan mencari angin sambil makan Mandu di pinggir jalan di daerah sungai Han. Dengan menggunakan pakaian tebal, tak lupa mengenakan syal merah memberikan kado Eunsun dua bulan yang lalu, Hara berjalan keluar kamarnya.


“Bibi … aku mau pergi main ya …” ucap Hara sambil melewati bibi yang sedang bersantai menonton televisi bersama anak perempuannya yang berusia 8 tahun.


“Mau kemana …?” tanyanya.


“Paling ke dekat sungai Han, aku mau sepedaan, udah lama juga nggak naik sepeda sekalian olahraga lemak udah numpuk.” ucap Hara yang sedang mengenakan sepatu di depan pintu.


“Pulang beliin bibi mangdu ya ..,” ucapnya.


“Iya, aku juga rencana mau makan mandu.” ucap Hara sambil beranjak dan menunggu bibinya yang berjalan mendekatinya untuk memberikan uang.


“Jangan-jangan kamu mau jalan sama cowok ya …?” ucapnya dengan tatapan sinis penuh kecurigaan sambil memberikan uang untuk beli mandu.


Sambil mengambil uang tersebut dengan sedikit kasar. “Nggak tuh!” ucap Hara.


“Cih! Lebih bagu punya pacar! Sudah sana! Hati-hati loh …!” ucapnya.


“Iya … aku pergi …!!” sahut Hara yang kemudian berjalan keluar.


Mengambil sepeda yang diletakkan di teras rumahnya. Hara mulai melajukan sepeda menuju sungai Han. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai jalan di dekat sungai Han yang tampak cukup ramai orang-orang berlalu-lalang. Ada yang bersepeda, ada juga yang berlari untuk olahraga, dan ada juga yang sekedar duduk menikmati angin musim dingin bersama orang terkasih. Walau sebenarnya di cuaca sedingin ini tidak cocok untuk bersepeda, hanya saja karena dirinya sudah lama tidak melakukan ini, jadi ia ingin mencobanya.


Setelah cukup jauh memutari jalan. Hara berhenti di sebuah kedai yang menjual odeng dan tteokbokki. Di sana terlihat cukup ramai. Hara menyapa penjual dengan ramah yang kemudian ia langsung diberikan segala kuah odeng yang masih panas. Hara perlahan menyeruput untuk menghangatkan tubuhnya yang sangat kedinginan setelah bersepedah. Ia juga mengambil satu tusuk odeng yang langsung dari panci yang mengabulkan uap putih. Memang odeng sangat cocok dimakan di musim dingin seperti ini.


Saat Hara dengan enak menikmati odeng, tiba-tiba seseorang menyenggol pundaknya dari belakang hingga membuat Hara hampir menumpaskan kuah odeng yang sedang ia pegang.


“Hai!”


Sontak Hara menoleh ke arah orang tersebut dengan sinis, tapi seketika kedua mata Hara terbelalak saat melihat Donghyuk yang berdiri di sampingnya sedang memesan tteokbokki.


“Tolong tteokbokki nya satu …!!” ucap Donghyuk yang menggigil kedinginan.


“Lo ngapain ada disini?” tanya Hara yang merasa heran akan kemunculan Donghyuk yang sangat kebetulan bisa bertemu di tempat ini dari sekian banyaknya kedai.


“Nggak liat, gue beli tteokbokki?” ucap Donghyuk — mengambil segelas air odeng yang diberikan oleh penjual. “Terima kasih …” ucap Donghyuk bersamaan dengan tteokbokki pesanannya sudah dibuatkan. Donghyuk sengaja mengabaikan Hara yang tampak masih heran akan kehadirannya yang memang adalah sebuah kebetulan. “ disini yang paling enak,” ucap Donghyuk sambil menusukkan satu potong — lalu memberikannya pada Hara. “Aaa … buka mulutnya,”

__ADS_1


Dengan polosnya Hara membuka mulutnya mengikuti ucapan Donghyuk yang kemudian memasukkan tteok itu kedalam mulutnya. “Enak ‘kan ..?” ucap Donghyuk.


Hara hanya bisa mengunyah dengan pikiran yang masih bingung kenapa dirinya seakan sedang terhipnotis. kemudian Hara memilih untuk melupakan pertanyaannya pada Donghyuk dan kembali mengambil odeng dari dalam panci dan memakannya.


“Lo habis sepedaan …?” tanya Donghyuk.


“Emm … udah lama nggak naik sepeda.” jawab Hara.


“Gue abis nganter berkas kakak gue di daerah sini, nggak sengaja liat lo … dan pas benget lo gue emang mau makan tteokbokki di sini,” ungkap Donghyuk.


“Ahh … begitu, kalau begitu lo tau nggak tempat jual mandu yang enak?” tanya Hara.


“Mandu …? Emm … ada, mau kesana? Tapi agak jauh dari sini,” ucap Donghyuk.


“Nggak apa-apa …”


“Oke … setelah habiskan ini kita kesana.”


“Tunggu. Tadi lo bilang kakak, lo punya kakak?” tanya Hara.


“Kok, gue baru tahu. Gue kira lo anak tunggal …”.


“Sepeda lo bisa buat boncengan?” tanya Donghyuk sambil menunjuk ke arah sepeda milik Hara.


“Bisa …”.


“Oke.”


***


Berdiri di depan sebuah restoran mandu untuk menunggu pesanan milik Hara yang sedang dibuatkan. Mereka terdiam tanpa memikirkan apapun pun, tetapi mata mereka sibuk melihat orang yang berlalu-lalang di depan mereka. Asap putih ngebul terus keluar bersamaan dengan hembusan nafas mereka. Hara mulai menggigil kedinginan karena terlalu lama berada di luar.


“Dingin?” tanya Donghyuk.


“Emm … dingin,” ucap Hara.

__ADS_1


“Gue juga kedinginan …,” ucap Donghyuk.


“Donghyuk …, ulang tahun lo kapan?” tanya Hara hanya sekedar mengatakan apa yang muncul dalam pikirannya.


“Ulang tahun gue? 26 Desember.” jawab Donghyuk sambil menoleh ragu ke arah Arin. “Lo sendiri, kapan?” tanya Donghyuk merasa sedikit canggung saat menanyakannya.


“1 September, udah kelewat. Ini hadiah dari Eunsun …,” ucap Hara sambil memamerkan syal merah pemberian dari Eunsun. “Cantik ‘kan?” tanya Hara.


“Emm … cantik, syal nya .” ucap Donghyuk.


“Cih!”


“Pesanan nya …!!” sahut penjual yang sontak membuat Hara langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengambil madu pesanan dirinya.


“Terima kasih …” ucap Hara yang kembali berjalan menghampiri Donghyuk yang sudah siap naik sepeda.


“Ayo, naik!” ajak Donghyuk.


Namun Hara terdiam bingung beberapa saat.


“Lo mau nganter gue pulang?” tanya Hara.


“Cepet naik!!” ucap Donghyuk sedikit memaksa karena dirinya tidak tega membiarkan Hara yang dingin membawa sepeda sendirian. Akhirnya Hara pun naik di bangku belakang dan setelah itu Donghyuk mulai melajukan sepeda miliknya.


Butuh waktu 45 menit untuk mereka sampai di depan rumah Hara. Donghyuk turun dari sepeda setelah Hara yang tampak diam menatapnya lekat-lekat. Setelah memarkirkan sepeda milik Hara, Donghyuk ingin bergegas untuk pergi.


“Gue pergi …,” ucap Donghyuk.


“Tunggu dulu!!” sahut Hara sontak membuat Donghyuk menghentikan langkahnya.


“Kenapa?” tanya Donghyuk.


“Kenapa belakang ini lo jadi bersikap baik sama gue? Aneh tau nggak?” ucap hara dengan nada yang sedikit mengomel lantaran ia merasa curiga pada Donghyuk.


“Kenapa? Nggak boleh?” tanya Donghyuk dengan tatapan teduh membuat Hara kembali terheran-heran.

__ADS_1


“Bukannya nggak boleh. Cuman aneh aja, biasanya ‘kan, lo selalu jail sama gue. Tapi beberapa hari ini lo jadi lebih seperti manusia … maksud gue, lo lebih perhatian aja. Apa jangan-jangan lo lagi menyembunyikan sesuatu ya?” ucap Hara dengan tatapan penuh rasa curiga akan perubahan sikap Donghyuk.


__ADS_2