
Jika dibayangkan, mungkin setelan jas pemberiannya akan benar-benar terasa sempit jika dipakai oleh Donghyuk. “Nggak boleh! Nanti kita kerumah gue buat ngukur badan lo,” ucap Hara.
“Gue bilang nggak perlu. Cukup perbaiki saja!” ucap Donghyuk dengan tegas.
“Iya. Baju yang itu gue perbaiki, tapi gue bakal buat yang versi baru. Lebih terupgrade, oke!” ucap Hara dengan penuh percaya dirinya.
“Terserah …,”
“OKEY!”
***
Donghyuk menghentikan mobil saat berhenti tepat di depan rumah Hara yang terlihat sudah melepas seat belt nya. Entah mengapa hal ini membuat Donghyuk sangat gugup karena ia sudah sangat lama tidak datang ke rumah Hara ataupun menyapa kedua orang tuanya.
“Kenapa malah bengong?” tanya Hara sontak memecahkan ketengan Donghyuk yang saat ini sedang berpikir bagaimana ia harus menyapa kedua orang tua Hara.
“Ayo masuk!! Orang tua gue lagi ke Namhae, sahabat dekat Ayah meninggal kemarin lusa, jadi dia pergi kesana. Ayo!” ajak Hara sambil melangkah ke luar.
Seketika rasanya tiba-tiba menjadi sangat lega mendengarnya. “Oh … oke,” jawab Donghyuk yang tidak bisa menahan senyumannya. Namun ia sedang memasang wajah datar saat berjalan menyusul Hara.
“Lo tunggu di sini, gue ke atas buat ambil peralatan,” ucap Hara yang menyuruh Donghyuk untuk menunggu di ruang tengah selagi ia pergi ke lantai dua — ke kamarnya.
Selagi Hara pergi, Donghyuk sedikit berjalan-jalan mengelilingi ruangan yang sudah lama tidak ia lihat. Ternyata tidak banyak perubahan hanya sebuah foto yang membuat Donghyuk tertegun dengan cukup lama. Menatap sebuah foto dimana Hara yang mengenakan pakain wisuda, wajahnya yang tersenyum cerah bersama kedua orang tuanya. Jika bukan karena wajib militer mungkin dia sudah lulus sama seperti Hara.
“Lo ngapain?” tanya Hara yang terheran melihat Donghyuk yang terdiam begitu lama di tempat yang sama.
__ADS_1
“Bukan apa-apa, udah diambil?” tanya Donghyuk sambil berjalan menghampiri Hara yang sudah duduk di sofa ruang tengah.
Hara sedang sibuk mencari alat pengukur di dalam sebuah kotak yang dipenuhi benang jahit dan peralatan jahit lainnya. Donghyuk hanya menunggu diam.
“Ketemu!!” ucap Hara sambil beranjak dari sofa — berdiri di hadapan Donghyuk yang tidak ia sangka lebih tinggi dibandingkan ia ia kira. “Kenapa lo, tinggian?” tanya Hara yang harus mendongak saat menatap Donghyuk yang entah sejak kapan menjadi lebih tinggi.
“Nggak tuh. Gue masih sama aja, lo kali yang menciut,” ledek Donghyuk.
Karena kesal Hara langsung menginjak kaki Donghyuk yang sotak merintih kesakitan.
“Makanya kalau punya mulut dijaga, sebelum gue jahit mulut lo,” ucap Hara dengan tatapan sinis.
“Sejak kapan lo jadi jahat begini? Lo lam-lama mirip Eunsun, tau nggak?” ucap Donghyuk terheran-heran melihat sikap Hara yang bahkan tidak merasa bersalah setelah menginjak kakinya dengan sangat keras.
Karena tangan terlalu pendek hingga tanpa Hara sadari wajahnya malah sampai menempel tepat di dada tengah Donghyuk yang sontak tergerar — membeku diam — mencoba untuk menenangkan diri agar suara jantungnya yang berdebar tidak terdengar.
Namun sepertinya usaha Donghyuk gagal saat kedua mata Hara terbelalak kaget mendengar dentuman detak jantung Donghyuk yang begitu cepat. Anehnya getaran itu sama dengan detang jantungnya saat ini. Ada apa ini?
Hara mendongakkan kepalanya untuk bertanya, tapi tampaknya Hara melakukan kesalahan yang membuat kedua mata saling bertemu dalam ketenangan. Waktu yang seakan berhenti berputar, suara jantung yang saling bersahutan. Dua orang yang jatuh dalam lubang yang semakin dalam hingga tidak ada yang bisa mengendalikan mereka lagi. Tubuhnya bergerak begitu saja mengikuti insting manusia yang sedang menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik.
Kedua mata Donghyuk perlahan mulai kehilangan fokusnya, semakin turun kebawah tepat melihat bibir Hara yang terlihat begitu manis seperti buah persik. Sial. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Kedua matanya tidak bisa berhenti menatap. Seakan ada yang mendorong dirinya dari dalam untuk melakukannya. Tapi apakah ini hal yang diperbolehkan?
“Mau sampai kapan mengukurnya?” tanya Donghyuk yang disadarkan oleh sedikit akal sehatnya sebelum ia semakin jauh tersesat dan kehilangan kendali.
Hara pun ikut tersadar dan sontak mendorong dirinya menjauh dari Donghyuk. Sial. Memalukan. Sadarkan dirimu Hara, pikir Hara yang berusaha mengalihkan pandangan dari Donghyuk. Mencoba kembali mengukur ke bagian lengan.
__ADS_1
“Sudah selesai!” ucap Hara sambil melangkah menjauh — mencatat semua ukuran milik Donghyuk di dalam sebuah buku memo. “Kenapa baju yang lama nggak di buang saja, pasti sudah nggak muat ‘kan?” tanya Hara.
“Gimana gue bisa buang, itu ‘kan baju pertama lo,” ucap Donghyuk sambil duduk santai di sofa.
Hara tertegun mendengarnya. Itu berarti Donghyuk benar-benar sangat menghargai apa yang dia berikan, bahkan sampai sedetail itu. Hatinya terenyuh mendengarnya. Bagaimana bisa dirinya melupakan baju pertama yang ia buat.
“Emangnya baju yang baru mau dipakai buat apa?” tanya Hara sambil duduk disamping Donghyuk.
“Tentu saja, saat gue udah kerja sebagai jaksa penuntut umum. Lo ‘kan yang bilang sendiri, makanya gue minta lo buat dibenarkan saja. Nggak usah dibuat yang baru. Masih muat kok, emang cuman agar sempit aja,” ujar Donghyuk.
“Yang lama kamu simpan saja. Aku buatkan yang lebih baik. Oke,” ucap Hara.
“Eung.”
Mereka kemudian saling terdiam.
HIngga terlintas sebuah kalimat yang ingin disampaikan pada Donghyuk. “Buat waktu itu, gue minta maaf … dan juga gue minta maaf karena nggak pernah jenguk lo,” ucap Hara merasa bahkan ia harus mengatakannya secara langsung agar tidak ada lagi sebuah penyesalan nantinya.
“Minta maaf buat yang mana? Waktu lo nolak gue?” tanya Donghyuk.
Hara masih terdiam — ragu untuk mengatakannya dengan perasaan yang mudah. “Eung. Waktu itu,” ucap Hara.
“Nggak perlu. Lo ‘kan, hanya mencoba untuk jujur dengan perasaan lo, begitu juga dengan gue. Ada juga gue yang minta maaf, karena udah buat lo merasa bersalah sama gue dan buat hubungan pertemanan kita menjadi jauh.” ungkap Donghyuk — menghela napas — sambil menenggak tubuhnya — mencondong ke arah Hara.
“Waktu itu gue belum sepenuh dewasa, sampai-sampai gue hanya memikirkan diri gue sendiri. Maafin gue … kita bisa ‘kan kembali jadi teman yang seperti dulu?” tanya Donghyuk — menatap Hara untuk memberikan sebuah keyakinan dan membuat Hara bisa memberikannya ruang agar bisa mempercayai dirinya lagi.
__ADS_1