
Suasana tegang perlahan mulai mencair saat semua emosi sudah meredam. Namun tidak untuk tatapan Eunsun, Yongsoo dan juha Hyerin, menatap Donghyuk dengan tatapan pembunuh. Otak mereka sudah merencanakan sesuatu untuk memberikan pelajaran bagi Donghyuk.
Donghyuk meletakan potongan ayam pada piring ketiga temannya yang sedang emosi satu persatu sebagai tanda perdamaian darinya. Donghyuk juga tidak lupa untuk memberikannya juga pada Hara yang hanya diam menikmati ayam seperti orang kelapanya.
“Makannya pelan-pelan …,” ucap Donghyuk dengan sangat lembut terhadap Hara hingga sontak membuat ketiga cewek yang duduk di hadapan Donghyuk saling melihat satu sama lain dengan satu pikiran yang sama tentang hubungan Hara dan Donghyuk yang selalu membuat mereka curiga.
Hanya Hara satu-satu teman cewek di antara mereka bertiga yang mendapatkan perlakukan yang berbeda dari Donghyuk. Saat berbicara pada yang lain Donghyuk bersikap seakan tidak tertarik dan tidak peduli, tapi saat berhadapan dengan Hara, sifat Donghyuk berubah 180 derajat jauh lebih lembut dan penuh kasih. Sial.
“Gue mau ke toilet, ada yang mau ikut?” tanya Hara sambil beranjak dari tempat duduknya.
Begitu juga dengan Hyerin. Gue ikut!”.
“Ayo!” ajak Hara yang kemudian berjalan keluar dari restoran untuk mencari toilet terdekat.
Saat melihat Hara sudah keluar dari restoran. Yongsoo dan Eunsun saling melihat dan saling memberikan kode untuk melancarkan aksinya kepada Donghyuk yang sedang makan. Dengan cepat mereka menggeser bangku mereka — lebih mendekat ke arah Donghyuk yang sontak dibuat heran melihat tingkah kedua temannya yang sangat mencurigakan.
“Kenapa nih! Kenapa nih! Jangan deket deket! Sana jauh!” usir Donghyuk tapi tidak dihiraukan sama sekali.
“Hya! Kim Donghyuk!” saut Yongsoo.
“Apa?!”
“Lo suka ‘kan sama Hara? Iya ‘kan? Bener ‘kan?” tanya Yongsoo.
“Ngomong apa sih! Sana pergi!” ucap Donghyuk mencoba mengelak, tapi tiba-tiba Eunsun malah mendekatkan wajahnya ke wajah Donghyuk hanya tersisa satu jengkal saja jarak mereka.
“Jawab yang benar. Lo suka’ kan sama Hara?” tanya Eunsun.
“Oh! Iya! Puas!” jawab Donghyuk.
Setelah mendengar jawab Donghyuk perlahan Eunsun dan Yongsoo mulai menjauhkan diri mereka — duduk seperti biasanya.
“Sejak kapan?” tanya Yongsoo.
“Pasti sejak SMA, iya ‘kan?” tebak Eunsun.
“Emm …,” jawab Donghyuk.
__ADS_1
“SERIUS?” ucap Eunsun dan Yongsoo yang serempak dan kencang hingga membuat semua mata yang ada di dalam restoran menoleh ke arah mereka.
“Bisa nggak, nggak berisik?” tanya Donghyuk.
“Ternyata bener, lo suka Arin dari SMA. Tapi lo belum pernah sekalipun nembak Arin?” tanya Eunsun yang merasa bersalah karena sudah bersikap sedikit lancang pada Donghyuk.
“Pernah. Tapi dia anggap itu sebagai candaan … jadi mau bagaimana lagi,” ucap Donghyuk yang sudah pasrah.
“Aigoo … Kasihan banget sih temen gue,” ucap Eunsun sambil merangkul punggung Donghyuk memberikan sedikit semangat.
“Huff … Arin ini nggak peka atau bodoh sih! Padahal kita aja bisa liat kalau lo suka sama dia, masa dia nggak tau dan masih anggap lo temen?” ucap Yongsoo yang kini malah menjadi kesal akan sikap Arin.
“Itu dia. Haff … nggak apa-apa, jadi teman juga baik. Gue masih bisa bareng sama dia,” ucap Donghyuk.
“Jadi itu sebabnya lo selalu putus sama cewek-cewek lo?” tanya Yongsoo.
“Mungkin.”
“Hya! Coba lo beneran pacaran sama orang yang serius suka sama lo, siapa tau lo bisa langgeng. Kalau udah pacaran jangan dahulukan Arin, dahulukan dulu pacar lo. Jangan kayak waktu lo pacaran sama Haram,” ucap Eunsun.
“Betul. Kita lihat seberapa Arin kehilangan lo,” ucap Yongsoo.
“Sama saja. Huff … nggak tau ah! Pusing gue!” ucap Yongsoo.
***
Karena rumah mereka searah dari restoran, Hara dan Donghyuk terus menyusuri jalan di malam hari menuju halte bus. Terlihat Hara yang berjalan seperti kehilangan arah, dia benar-benar mabuk setelah menghabiskan lima gelas bir. Hara yang berjalan terus kedepan sambil bersenandung, sedangkan Donghyuk berjalan tepat dibelakang Hara, menjaga Hara dari belakang.
Tiba-tiba Hara menghentikan langkahnya dan terdiam, Donghyuk pun ikut berhenti melangkah.
Hara terdiam dengan wajah diam karena bingung, ia menggaruk-garukkan kepala belakangnya. Kemudian Hara tiba-tiba terduduk seperti orang yang tidak waras. Melihat tingkah Hara membuat Donghyuk khawatir, ia pun segera menyusul Hara dan berdiri di hadapannya.
Ia terdiam beberapa saat sambil memandangi Hara yang tidak sadarkan diri dengan kepala yang terus mengangguk–angguk. “Hya!! Lo ngapain!! Ayo bangun!!” ucap Donghyuk dan membuat Hara perlahan mendongakan kepalanya keatas.
“OH! Ada Donghyuk. Temanku Donghyuk! Hehe,” ucap Hara sambil tersenyum cengegesan seperti orang bodoh, dia benar-benar tidak sadar karena mabuk.
Donghyuk hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Arin yang selalu menyusahkan saat mabuk. “Ayo bangun!” ucap Donghyuk.
__ADS_1
“Nggak bisa! Gue nggak bisa berdiri, semua berputar-putar …,” ucap Arin.
Jika terus dibiarkan seperti ini di cuaca yang dingin dia bisa membeku kedinginan. Dengan terpaksa Donghyuk menggendong Arin yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Menghela nafas berat — Donghyuk berbalik lalu mengambil posisi setengah jongkok di hadapan Arin.
“Ayo naik! Dingin,” ucap Donghyuk.
Hara terdiam menatap punggu Donghyuk dengan tatapan setengah sadar.
“Nggak mau!” tolak Hara.
“Kenapa!! Ayo cepat, kita harus pulang, dingin tau! Ayo cepat!” ucap Donghyuk.
“Gue bilang, gue nggak mau!” ucap Arin sambil mendorong Donghyuk yang hampiri tersungkur ke depan. “Kalau gue naik, gue jadi berdebar. Gue nggak mau berdebar karena lo!” ucap Arin sambil kembali mendorong Donghyuk yang tampak tertegun mendengar pengakuan Arin.
Rasanya sangat senang mendengarnya, tapi bersamaan dengan itu ia juga merasa sedih. Untuk pertama kalinya Hara menolak untuk digendong, karena biasanya saat mabuk dirinya selalu menggendong Hara hingga sampai depan rumahnya. Tapi kali ini dirinya pun kembali tertolak.
“Nggak bakal berdebar. Cepat naik!” ucap Donghyuk.
“Serius?!”
“Eum … serius. Jadi, ayo cepat naik ke punggung gue!” ucap Donghyuk.
Akhirnya Arin menuruti perkataan Donghyuk dan mulai merangkak — menaiki punggung Donghyuk, merangkul erat leher Donghyuk agar tidak jatuh. Dengan perlahan dan hati-hati Donghyuk mulai berdiri — langkahkan kaki dimalam yang entah mengapa begitu tenang.
“Donghyuk …,” saut Arin yang tiba-tiba bangun dari tidurnya.
“Eum … kenapa?” tanya Donghyuk.
“Kamu nggak capek gendong gue?” tanya Arin.
“Nggak apa, lo nggak berat kok.” ucap Donghyuk.
“Serius. Itu berarti diet gue berhasil, yeah!” ucap Arin yang masih setengah mabuk.
“Donghyuk …,” saut Arin membuat Donghyuk heran.
“Kenapa lagi?”
__ADS_1
“Makasih … karena masih mau jadi teman gue, dan juga … maafin gue … karena … nggak bisa suka sama lo …,” ucap Arin yang kemudian langsung tertidur tak sadarkan dirinya disaat Donghyuk yang terguncang mendengar perkataan itu.