
Hara berjalan menghampiri Donghyuk yang entah sejak kapan menunggunya. Langkah yang riang tanpa memperdulikan sekitar. Ternyata memang benar, orang yang sedang jatuh cinta hanya akan berfokus pada dunia mereka saja.
“Udah nunggu lama ya?” tanya Hara dengan manja sambil meraih tangan Donghyuk yang langsung menggenggamnya.
“Nggak. Baru aja dateng,” ucap Donghyuk sambil memasukkan tangan Hara ke saku jas nya, karena tanganya begitu dingin karena cuaca yang juga semakin dingin.
“Uhh … dingin …,” ucap Hara yang menggigil kedinginan.
“Mau makan apa?” tanya Donghyuk.
“Emm … apa ya? Enaknya dingin-dingin makan kalguksu … tapi aku juga mau bibimmyeon, sama kimchi chige.” ucap Hara.
“Aku tau restoran yang jual itu semua, mau ke sana?” tanya Donghyuk.
“Eung!” angguk Hara yang terus saja bersikap manja, seperti anak kecil jika berhadapan dengan Donghyuk yang tentu saja sangat menyukainya. Rasanya sungguh ingin mencubit pipi tembamnya itu, gemes.
***
Sesampainya di sebuah restoran makanan Korea, dimana ia sering datang ke sini bersama rekan-rekan kerjanya. Mereka melepaskan jaket tebal yang mereka pakai. Donghyuk dengan cepat membantu Hara untuk menggantungkan jaketnya disaat Hara duduk di kursi. Restoran tampak cukup ramai, Hara diam menunggu Donghyuk yang sedang mengambil air dan gelas.
“Permisi! Kami mau pesan!” sahut Donghyuk sambil mengacungkan tanganya memberi tanda lalu duduk kembali setelah mengambil air untuknya dan Arin.
Tak lama pegawai restoran pun datang menghampirinya.
“Iya silakan.”
“Kami pesan, satu kalguksu, kimchi chige, sama telur dadarnya dua porsi,” ucap Donghyuk dengan cepat memilih menu membuat Hara sangat bangga.
“Baik. Tunggu sebentar ya …,” ucap pegawai tersebut yang kemudian berjalan pergi.
__ADS_1
“Di sini ramai sekali …,” ucap Hara sambil memperhatikan sekitar nya.
“Di sini memang selalu ramai ….”
“Kenapa aku baru tahu tempat ini ya, bahkan temen-teman di kantor satupun nggak ada yang tau,” ucap Hara.
“Yaudah, sekarang ‘kan kamu bisa kasih tau teman kamu.”
“Eum, jadi nggak sabar sama makanannya!” ucap Hara.
Tak lama kemudian seorang pegawai yang tadi menerima pesanan mereka kembali datang dengan membawa nampan yang berisikan makanan. Wangi makanan nya yang begitu semerbak sontak membuat Hara terpesona dan begitu menghayati aroma masakan yang persis dengan masakan rumah.
“Silakan menikmati,” ucap pegawai tersebut.
“Iya … terima kasih,” ucap Donghyuk sedangkan Hara tampak ternganga melihat meja makan yang begitu penuh dengan porsi yang cukup sabar untuknya yang hanya orang biasa atau mungkin mereka yang sudah terbiasa.
“Selamat makan!” ucap Hara sambil mengambil sendok yang sudah disiapkan Donghyuk tadi, mengambil sup kimchi yang masih panas.
“Umm … Uwah … enak,” ucap Hara yang terpukau akan rasa dari sup kimchi tersebut yang sesuai dengan lidahnya. “Kayak buatan nenek …,” ucap Hara yang kemudian begitu lahap memakannya.
“Iya ‘kan, enak …, syukurlah kamu suka,” ucap Donghyuk.
***
Setelah makan, karena terlalu kenyang Hara dan Donghyuk berjalan-jalan di taman dekat sungai Han sambil menikmati pemandangan malam yang masih tampak ramai orang. Tempat ini tidak akan pernah sepi pengunjung. Walau hanya sekedar melamun dan tidak melakukan apapun.
Biasanya jika kekenyangan paling cocok berjalan kaki untuk melancarkan pencernaan. Walau udara cukup dingin, tapi tidak membuat orang enggan untuk datang. Rasa rindu yang masih kuat di antara mereka, bahkan Donghyuk menggenggam tangan Hara begitu erat dan memasukkannya ke dalam saku jaket agar tetap hangat.
“Kaki kamu nggak apa-apa? Nggak dingin?” tanya Donghyuk khawatir melihat Hara yang hanya mengenakan rok pendek dan jaket tebal berbulu.
__ADS_1
“Dingin sih, tapi nggak apa-apa, sesekali aku pakai yang seperti ini.” ucap Hara sambil tersenyum seakan dia baik-baik saja walau sesungguh tidak, sial hari ini kenapa sangat dingin, pikir Hara dalam hatinya.
“Ayo kita ke mobil saja, sekalian aku beliin kopi, mau?” tanya Donghyuk.
“Eung! Aku maunya chocolate latte,” jawab Hara.
“Emm … oke, ayo!” ajak Donghyuk sambil berjalan ke arah mereka pergi, menuju parkiran karena cuaca yang tidak memungkinkan.
Hara menunggu Donghyuk yang sedang membeli kopi di cafe yang letaknya tak jauh dari tempat parkiran. Menyalakan pemanas mobil dan memakaikan lip balm karena bibirnya terasa kering setelah cukup lama berada di luar dengan udara yang dingin.
Hara menoleh tersenyum saat melihat sosok Donghyuk yang berjalan mendekati mobil — pintu mobil terbuka dan Donghyuk masuk kedalam sambil memberikan choco latte pesanan Hara yang juga langsung menerimanya.
“Thank you,” ucap Hara.
Mereka mula menikmati minuman hangat mereka di dalam mobil dengan tenang dan nyaman. Melihat salju yang tampak mulia turun. Ini bukan salju pertama, tapi memang tiba-tiba salju itu turun menghiasi pemandangan alam.
“Tuh ‘kan, apa kata aku, bakal turun salju,” ucap Hara.
“Iya juga. Woah … aku nggak sempat lihat salju pertama, untuk aku bisa lihat yang ini,” ucap Donghyuk.
“Ini juga nggak kalah cantik … udah gitu kamu ‘kan liatnya bareng sama aku,” ucap Hara mencoba untuk membuat susana jauh lebih nyaman dengan sedikit candaan.
“Mungkin juga,” ucap Donghyuk.
“Apa kamu ingat waktu malam natal? Kamu ke rumah aku?” tanya Hara.
“Tentulah inget, gimana aku nggak ingat. Saat itu kayaknya aku mulai sadar akan perasaan aku, waktu itu aku bener-benar canggung tau … cuman nggak keliatan aja,” ucap Hara sambil meletakan minumannya. “Sebenarnya sampai saat ini aku masih takut, kita ini teman sangat dekat tanpa rasa canggung, kalau misalnya kita berdua putus … aku benar-benar nggak bisa membayangkan hal itu …, karena ku terlalu takut setelah kita putus kita akan jadi orang asing, seperti kebanyakan orang di sekitarku … mereka saling suka lalu pacaran, saat mereka putus mereka benar-benar seperti orang asing dan aku nggak bisa membayangkan jika kamu bersikap seperti itu …. ya … memang aku udah terlalu banyak melukai perasaanmu karena selalu aku tolak, aku hanya takut bukan nggak suka …,” ungkap Hara dengan apa yang selama ini ia pendam.
Sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Hara — meraih tangan yang terasa masih dingin. Donghyuk mencoba memberikan kehangatan akan kecemasan Hara saat ini. “ Hara …,” saut Donghyuk.
__ADS_1
Sambil menoleh. “Saat kamu bersama aku, jangan terlalu memikirkan hal-hal yang memberatkan kamu, cobalah untuk berpikir sederhana,” ujar Donghyuk.
Hara masih belum bisa menerima sepenuhnya perkataan Donghyuk yang memang terdengar mudah. Mungkin karena belakangan ini dirinya sedang sedikit stress karena pekerjaan membuat Hara menjadi sangat pesimis dan kebingungan. Rasanya sedikit memalukan berbicara seperti ini dengan Donghyuk.