Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Hubungan kembali akur


__ADS_3

Setelah mendapatkan jawaban dari Hara, Donghyuk kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. “Iya. Dia mau,” ucap Donghyuk. Sontak terdengar suara sorakkan kakaknya yang merasa senang Hana akan datang kerumahnya setelah sekian lamanya. Entah mengapa kakaknya itu sangat menyukai Hara dibandingkan dirinya yang merupakan adik kandungnya sendiri.


“Ya sudah. Aku matiin ya. Bye,” ucap Donghyuk yang langsung mematikan panggilan tersebut.


***


Di perjalan pulang ke rumahnya setelah makan malam di rumah kakaknya Donghyuk yang sudah lama tidak ia jumpai. Di sepanjang jalan mereka hanya saling diam, terhanyut dengan pemikiran mereka masing-masing.


Hara hanya bisa menatap luar jendela mobil sambil memikirkan apa yang saat ini Donghyuk pikirkan tentangnya. Sikapnya benar-benar sangat berubah setelah pulang dari wamil. Lebih menjadi pria yang dingin dan acuh. Membuat Hara menjadi ragu untuk memulai pembicaraan, walau ia sebenarnya tidak atau apa yang harus dikatakan. Perpisahan satu setengah tahun seakan membuat dinding tinggi yang membatasi dirinya dengan Donghyuk.


Tidak beda jauh dengan Donghyuk yang saat ini memang sedang berusaha untuk membuat jarak dengan Hara agar dirinya bisa melihat sudut pandang Hara terhadap dirinya.


“Ah …! Gue lupa, makasih buat hadiahnya,” ucap Donghyuk sontak membuat Hara menoleh ke arahnya.


“Nggak kok, seharusnya gue memberikannya langsung sama lo, tapi gue khawatir malah menghancurkan acara,” ucap Hara.


“Gue denger, lo putus sama Ha Myung?” tanya Donghyuk yang sengaja membahas tentang hal itu, walau secara garis besar ia mengetahuinya tapi ia ingin mendengarnya langsung dari Hara yang masih tidak merespon ucapanya.


“Eung. Iya gue putus nggak lama dari lo masuk wamil.” jawab Hara dengan berat hati.


“Syukurlah,” ucap Donghyuk yang kemudian berhenti berucap membuat sebuah kebingungan yang ambigu bagai Hara.

__ADS_1


“Apa? Tanpa perlu menggunakan kekerasan, dia pergi dengan sendirinya. Gue ‘kan pernah bilang nggak setuju sama keputusan lo dengan Ha Myung,” ucap Donghyuk mencoba untuk bersikap santai sebelum ia kembali masuk ke dalam ruang aula yang sudah begitu banyak saksi yang malah membuat saudara istrinya ia akan benar-benar sedih.


“Cih! Donghyuk emang nggak akan pernah berubah,” ucap Hara, bersamaan dengan sesampainya mereka tepat di depan rumah Hara yang sontak menoleh ke luar. “Oh! Sudah sampai ternyata,” ucap Hara sambil melepaskan seat belt, tapi Hara mengalami kesulitan saat ingin menariknya. “Kenapa nggak bisa copot?” tanya Hara sontak membuat Donghyuk menoleh.


“Ah … ini mobil lama milik Kak Jaehyuk, jadi mungkin agak macet, sini aku bantu,” ucap Donghyuk langsung mengambil alih menggenggam pengait seat belt, tapi hal itu membuat dua kepala saling bertemu dan begitu dekat.


Hara langsung menyadarinya. Anehnya jantungnya mulai berdebar saat Hara merasakan rambut Donghyuk yang menyentuh rambutnya. Apa yang terjadi padanya? Kenapa ia berdebar hanya karena Donghyuk. Hingga tanpa sadar Hara malah menatap Donghyuk dengan lekat bersamaan dengan Donghyuk yang tiba-tiba mengangkat kepalanya dan membuat mereka saling bertatapan muka dengan jarak tiga jari saja.


“Udah,” ucap Donghyuk yang seketika terdiam saat kedua matanya bertemu dengan mata Hara yang entah sejak kapan menatapnya begitu dalam.


Atmosfer di antara mereka mulai berubah menjadi ketengangan. Udara disekitar mereka semakin sedikit. Keduanya seakan tidak ingin saling mengalihkan pandangan satu sama lain. Namun Hara langsung menyadarkan dirinya saat melihat sorot tatapan Donghyuk mulai berubah begitu teduh, sebelum dirinya akan benar-benar jatuh dalam tatapan itu.


Sambil bergegas membuka pintu mobil. “Terima kasih atas tumpangan,” ucap Hara yang langsung melangkah keluar setelah pintu berhasil terbuka. Tanpa menoleh kebelakang — berjalan begitu cepat kedalam rumah. “Hati-hati di jalan,” ucap Hara yang meninggikan suara agar terdengar lantaran langkahnya semakin jauh hingga ia berhasil masuk ke dalam rumah.


Suara pintu yang tertutup dengan keras.


Donghyuk masih terdiam di posisi yang sama. Bohong jika ia merasa tidak menginginkan hal yang lebih dari kesempatan yang begitu dekat. Menghela nafas berat, Donghyuk menyandarkan kepalanya ke punggung kursi. “Yang tadi itu apa?” tanya Donghyuk.


Hara masih berdiri membelakangi pintu setelah berhasil kabur dari Donghyuk. Gelagatnya seperti orang yang habis dikejar-kejar oleh hantu hingga nafasnya terengah-engah.


“Apa itu? Lo mikir apa tadi, Han Hara! Sadar woi! Sadar!” ucap Hara sambil menampar kedua pipinya dengan ke tangannya sendiri agar cepat sadar.

__ADS_1


“Kamu ngapain di sana?” tanya ibunya yang sontak membuat Hara kembali terkejut.


“HAH! Ahh … mama! Kaget tau! Jangan tiba-tiba muncul dong!” omel Hara yang kesal karena dirinya benar-benar hampir kehilangan nyawa karena serangan jantung.


“Lagi kamu ngapain di sana?! Udah kayak abis di kejar-kejar hantu aja!” ucapnya yang ikut mengomel. “Cepat mandi! Mama siapkan makan malam!” ucapnya.


“Nggak usah, tadi aku udah makan,” ucap Hara sambil berjalan menghampiri tangga, karena kamarnya berada di lantai dua.


“Udah makan?”


“Iya. Aku ke kamar …,” ucap Hara sambil melangkah menaiki anak tangga.


Hara menghempaskan tubuh ke kasur setelah selesai mandi. Dengan mengenakan pakaian tidur yang nyaman Hara termenung sambil menatap tembok langit-langit kamarnya. Tiba-tiba otaknya kembali memutar ingatan kejadian saat di mobil tadi. Itu sungguh hal yang sangat memalukan, bagaimana jika Donghyuk menyadarinya pasti dia akan mengolok-olok dirinya. Saat seperti di SMA, Donghyuk selalu menjahilinya.


Namun setelah dipikir-pikir, perubahan sikap Donghyuk yang tiba-tiba mendekat duluan seakan sedang menundukkan tembok pembatas satu setengah tahun antara dirinya dan Donghyuk. Bukan hal ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk memperbaiki hubungan. Sungguh ia mungkin akan benar-benar kehilangan sosok seorang teman hanya karena cinta yang malah menghancurkan separuh dunia dan ekspektasinya.


***


Hari minggu, waktunya untuk Arin menjadi orang termalas di dunia ini. Ia akan menghabiskan waktunya sepanjang hari berada di kamar, tidur, makan, menonton televisi lalu kembali tidur. Sebuah rencana hari minggu yang sempurna untuk seorang introvert seperti Hara. Waktu menunjukkan pukul 2 siang, Hara bahkan baru bangun sekitar 1 jam yang lalu, tanpa mencuci muka, dia langsung duduk di sofa dengan santai dengan satu setengah bulatan semangka merah sambil menonton acara tv.


Saking tidak ingin mengganggu waktu healing nya, sampai-sampai, Hara tidak peduli dengan keadaan kamarnya yang saat ini mirip dengan kandang hewan ternak atau kamar yang habis terkena maling. Baru, tas, sepatu berserakan. Handuk bekas dan juga kaus kaki yang menyangkut di meja-meja. Hal ini sudah menjadi terbiasa bagi Hara yang selalu rutin seperti itu setiap hari minggu.

__ADS_1


Hingga tiba-tiba suara ponselnya berdering. Tapi ponsel itu tergeletak di lantai dan jauh dari tempat ia sedang bersantai. “Ahh! Siapa lagi? Ganggu aja!” gumam kesal Hara.


__ADS_2