
“Nggak bisa. Mau kamu terima atau enggak, aku tetap ingin putus. Terima kasih buat semuanya dan maafkan aku,” ucap Hara sambil beranjak dari tempat duduknya. Sambil mengumpulkan tenaganya untuk tetap tersenyum walau air matanya terus mengalir.
Ha Myung pun ikut berdiri.
Perlahan Hara mulai berbalik dan melangkahkan kakinya untuk pergi dan meninggalkan Ha Myung.
Ha Myung terdiam sambil meneteskan air matanya karena tak kuasa menahan kesedihannya. Bagaimana tidak, ia baru saja ingin merubah dan memulainya karena Hara. Tapi ia harus menghadapi akhir yang seperti ini.
Hara hanya terus berjalan sambil menangis tanpa memperdulikan sekitarnya.
Sesampainya Hara dirumah. Langkahnya begitu lemas, berjalan masuk kedalam. Menyapa ibunya yang sedang bersantai menonton televisi. Setelah menyapa ibunya yang sedang menonton televisi. Hara pun langsung naik ke atas, menuju kamarnya karena ia sudah tidak memiliki daya setelah menangis di sepanjang jalan pulang.
Terduduk di tempat tidur dan terdiam dengan tatapan penuh kesedihan. Sambil menjatuhkan kepalanya duluan dan menutupnya dengan kedua tangannya. “Hkff … hfff … hkff …” perlahan Hara mulai menangis, perasaan sedih yang sudah tidak bisa terbendungkan lagi akhirnya semua air matanya tumpah, Hara menangis sejadi-jadi di dalam kamarnya..
Tubuh benar-benar hancur, semua menjadi sangat menyebalkan dan menyesakkan. jadi seperti ini patah hati pertama. Lebih sakit dibandingkan mengalami cinta sepihak. Malam ini seperti akan menjadi malam yang sangat panjang.
Saat itu aku mengatakan, bahwa kini aku bukanlah Hara si anak kecil yang polos … perlahan aku menjadi si ulat yang berubah menjadi kupu-kupu dewasa .. yang melewati masa-masa sulit untuk mencapainya …
Namun kupu-kupu itu mengalami kecelakaan yang membuat sayapnya patah, hingga ia terjatuh dan tak dapat kembali terbang. Kupu-kupu itu berpikir dengan bodohnya bahwa masa-masa sulit itu sudah menghilang … tapi ternyata setelah ia terbang .. ia malah menghadapi masalah yang lebih kejam dibandingkan sebelum ia terbang.
Lucunya … disaat-saat seperti ini aku teringat pada Donghyuk …
Bukan … aku merindukkan sosok Donghyuk yang selalu ada disaat sedihku …
***
__ADS_1
Membenahi hati yang hancur adalah dengan menyibukan diri dan membuat diri sendiri menjadi lebih baik. Bisa dibilang sedang mengupgrade diri. Setelah lulus kuliah, Hara langsung mendapatkan sebuah pekerjaan sebuah rumah mode yang terkenal. Ia sudah satu tahun bekerja dan bukan lagi anak baru di tempatnya bekerja. Ia menjadi salah satu dari bagian tim desain dari sebuah merek baju yang terkenal bernama ‘ROLALA’. Sebuah brand fashion Korea yang kental dengan gaya anak sekolahan. Rolala sendiri banyak mengeluarkan koleksi dengan gaya preppy, oversized, dengan sentuhan cute.
Setiap pagi harus berlari mengejar bus dan harus berdempetan dengan banyaknya orang-orang pekerja kantor. Berjalan dengan langkah yang cepat sambil memakan Kimbab untuk sarapan dan segelas hot americano. Menyapa para pegawai yang juga baru tiba, Hara selalu datang di penghujung waktu. Anehnya di tidak pernah telat.
Ketua regu tim yang berjalan masuk langsung membuat semua pegawai menyapanya. Dia berteriak sambil berjalan dengan penuh ke anggun menyuruh mereka untuk datang ke ruang rapat. Sontak membuat semua menjadi sibuk bersiap untuk masuk ke dalam ruang rapat.
Bekerja dari pagi hingga malam, seperti sebuah roda yang tak berhentinya berputar di tempat yang sama. Sangat melelahkan. Ada hari dimana Hara harus datang langsung ke pabrik untuk mengecek bahan yang akan digunakan proyek peluncuran baju musim dingin terbaru. Haru bolak-balik kantor — pabrik — kantor.
Seperti tidak mengenal waktu. Ada hari dimana dirinya harus tetap bekerja walau tidak enak badan dan flunya tiba-tiba kumat di musim dingin. Membuatnya harus diasingkan dengan teman sekantor demi keberlangsungan bersama.
Hara baru saja keluar dari pabrik setelah bahan berhasil di acc oleh perusahaan dan bisa langsung masuk ke garmen untuk proses pembuatan. Beristirahat sejenak di pinggir jalan sambil memakan sebungkus roti. Kakinya yang di pijat-pijat setelah berjalan seharian. Rasanya kakinya seperti akan putus, sakit dan pegal.
Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari salah satu rekan kerjanya yang membuat Hara segera menjawab panggilan tersebut walau harus melepeh kembali roti yang sudah setengah ia kunyah di mulutnya. “Iya halo,” saut Hara sambil membuang lepehan roti itu ke dalam tong sampah.
“Iya? Ahh … baik bu, iya saya sudah bawa sampel bahan yang buat design kedua. Iya. Sayang segera ke kantor. Iya … baik, Bu.” ucap Hara kemudian sambungan pun terputus. Sontak Hara pun langsung bergegas untuk segera kembali ke kantor.
Aku melupakan Ha Myung …. perasaan itu hilang begitu saja …
Namun sesekali aku masih memikirkan Donghyuk. Apa dia baik-baik saja?
***
Malam yang melelahkan setelah pulang kerja. Walau cuaca dingin tapi kepalanya terasa sangat panas hingga akhirnya Hara nekat membeli es krim dan memakannya di taman bermain yang tak jauh dari rumahnya. Di ayunan, tempat terakhir kali ia berpisah dengan Donghyuk.
Kedua mata yang melamun menatap ayunan di sampingnya. Benar. Biasanya Donghyuk yang duduk disana. Ini sudah hampir satu setengah tahun ia tidak bertemu dengan Donghyuk yang mungkin saat ini masih di tempat pusat militer karena sedang menjalani wajib militer.
__ADS_1
Sambil mengeluarkan ponselnya. Melihat kalender yang ditandai sebagai pulangan Donghyuk dari wajib militer yangmaish dua hari lagi. Hal itu membuat Hara menghela nafas berat. “Kesepian gue …” gumam Hara.
Terlintas di pikirannya untuk menelepon Eunsun untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Walau ia tidak yakin akan dijawab atau tidak karena jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.
Tut … tut … tut …
Telepon menyambung.
“Emm … kenapa?” tanya Eunsun yang terdengar setengah sadar. Sepertinya dia memang sudah tertidur dan terbangun karena telepon darinya.
“Lo lagi tidur ya …?” tanya Hara.
“Emm … ini jam berapa? Apaan ini, tengah malam. Ada apa? Apa ada masalah? Suaranya kayak masih di luar?” tanya Eunsun.
“Nggak kok. Ya udah sana lanjut tidur aja,” ucap Hara.
“Nggak kok. Nggak apa-apa, gue juga udah terlanjur bangun,” ucap Eunsun,
“Maaf … udah ngebangunin lo,” ucap Hara bersalah.
“Sekarang lo masih diluar? Bukannya malam ini diluar suhunya minus 10 derajat. Lo ngapain masih di luar? Ayo cepet pulang!!” omel Eunsun — karena khawatir pada Hara.
“Gue baru pulang kerja. Lagi cari angin aja, abis pengap rasanya …” ucap Hara.
“Ada masalah sama kerjaan lo?” tanya Eunsun.
__ADS_1
“Nggak kok. Yah … cuman rasanya kok kayak jenuh aja,” ucap Hara dengan tatapan kosong — bahkan dia saja tidak memahami apa yang sedang dirasakan.