Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Sebuah Impian


__ADS_3

Di sebuah restoran all you can eat tteokbokki yang cukup terkenal di kalangan anak remaja, dimana mereka bisa makan sepuasnya dan memasak sendiri. Jika bermain dengan dua cewek ini sudah otomatis dirinya akan menjadi pembantu untuk mereka. Di saat Hara dan Eunsun sedang asik mengambil desert Donghyuk sibuk memasak di meja sembari menunggu mereka yang akhirnya kembali.


“Wah … kelihatannya enak banget!” ucap Eunsun terpukau melihat tteokbokki yang sedang dimasak Donghyuk. “Nggak nyangka lo bisa masak,” ucap Eunsun sambil duduk dibangkunya. Begitu juga dengan Hara yang langsung menyiapkan alat makan untuk teman-temannya.


“Iyalah … apa sih yang nggak gue bisa!!” ucap Donghyuk penuh kesombongan sambil mengecilkan kompor karena sudah matang. “Udah matang!”.


“Yeah … selamat makan!” seru Hara dan Eunsun secara bersamaan seperti dua anak TK yang sedang kelaparan.


“Makannya pelan-pelan dong!” ucap Donghyuk heran melihat dua cewek yang duduk di hadapannya, terlihat seperti babi yang kelaparan. Jika bermain dengan mereka rasanya seperti sedang mengasuh anak TK. Harus dijaga dengan baik dan diberikan perhatian lebih. Hingga membuatnya kesulitan makan dengan benar.


“Emm … enak!’ ucap Eunsun.


“Iya ‘kan …?” ucap Donghyuk lagi-lagi bangga dengan dirinya sendiri.


Donghyuk dengan pekanya melihat Arin yang tampak belepotan saat makan, ia langsung memberikan tisu padanya dan membuka susu kotak untuk mengurangi rasa pedas. “Apa rasanya kepedesan?” tanya Donghyuk khawatir melihat Arin yang kesulitan makan karena pedas.


“Nggak pedes kok, cuman panas aja,” ucap Arin.


“Oh ya! Gue mau tanya sama kalian,” ucap Eunsun yang mencoba memulai pembicaraan yang lebih serius.


“Apa?” tanya Donghyuk


“Tanya apa?” tanya Hara.


“Kalian langsung pergi ke universitas?” tanya Eunsun.


“Tentu saja! Gue bisa mati digantung jika nggak masuk kuliah,” ucap Donghyuk.


“Sebenarnya juga belum yakin sih … apa lagi dengan nilai gue yang pas-pasan, pasti sulit buat bisa masuk ke universitas. Ibu sama ayah nyuruh gue buat kuliah apapun itu, kalau bibi gue bilang lakukan yang gue mau, tapi gue juga masih bingung gue mau ngapain kalau nggak kuliah,” ungkap Arin merasa sedikit berat jika memikirkan masa depannya.

__ADS_1


“Lo emang mau ngambil jurusan apa?” tanya Eunsun pada Donghyuk.


“Hukum,” ucap Donghyuk.


“Uhh … hukum, keren!”.


“Huff … kalau kalian kuliah lalu aku harus apa?” tanya Eunsun.


“Emang nggak ada hal yang mau lo lakuin?” tanya Hara yang khawatir akan keresahan Eunsun.


“Ibu rumah tangga. Aku mau jadi dirumah tangga, apa aku nikah muda saja ya .. udah capek belajar mulu …” ucap Eunsun dengan penuh percaya dirinya tapi tidak untuk kedua temannya yang hanya diam saling memandang bingung akan pikiran Eunsun yang di luar jalur.


“Wah … bener-bener yah, pikiran lo emang very very simple. Sampai orang yang dneger cuman bisa anguk-angguk tau nggak!” ucap Donghyuk.


“Ngeledek lo!!” kecam Eunsun sambil meraih kerah baju Donghyuk yang sontak langsung mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.


“Itu bukan impian yang buruk. Hanya saja … mungkin agak sedikit agresif. Tapi nggak apa-apa itu ‘kan, pilihan lo. Jadi jangan sampai lo membanding-bandingkan standar pilihan lo dengan orang lain. Ya ‘kan?”. ucap Hara dengan bijak.


Donghyuk yang kalah hanya bisa terdiam sambil melanjutkan memakan tteokbokki.


“Oh iya, kabarnya Taeil gimana? Apa dia nggak terlalu lama di Amerika? Padahal sebentar lagi mau ujian akhir sekolah,” tanya Eunsun yang tiba-tiba teringat akan Taeil yang sudah lama tidak masuk kelas.


“Aku juga belum dapet kabar dari Taeil, beberapa kali kirim pesan nggak pernah dibales." ucap Hara menjadi murung saat mengingat Taeil.


***


"Dah! Kalau sudah sampai telpon ya," ucap Eunsun sambil mengeluarkan kepalanya — melambaikan tangan saat bus mulai melaju menjauhi Hara dan Donghyuk yang berdiri di halte bus.


"Ayo!" ajak Donghyuk.

__ADS_1


Hara dan Donghyuk berjalan di pinggir jalan trotoan. Hati sudah tampak gelap dan dingin. Saking dinginya udara di sekitar mulut mengeluarkan asap putih karena terlalu dingin. Donghyuk sekilas menoleh ke arah Hara yang tampak menggigil kedinginan lantaran mengenakan rok pendek di tengah cuaca sedingin ini, membuatnya merasa khawatir.


“Lo nggak kedinginan?” tanya Donghyuk.


“Dingin,” jawab Hara.


“Besok-besok pakai celana panjang,” ucap Donghyuk dengan nada bicara yang acuh dibalik rasa khawatirnya.


“Nggak usah khawatir, gue masih bisa tahan dingin kok,” ucap Hara, walau sejujurnya saat ini dia benar-benar kedinginan.


“Christmas nanti lo dimana?” tanya Donghyuk.


“Rumah. Orang tua guemaish liburan sampai tahun baru, bibi mungkin pergi ke rumah mertuanya saat malam natal. Dia pasti nyuruh gue buat ikut, tapi kumpul sama keluarga dari pihak suami bibi rasanya agak aneh, yah … paling cuman dirumah. Kalau lo …?” tanya Hara sambil menoleh ke arah Donghyuk.


“Sama …, Kakak gue pasti kencan sama pacarnya. Pulang ke rumah orang tua jauh … paling setelah makan malam aku cuman sendirian dir rumah,” ucap Donghyuk sambil menyembunyikan maksud dirinya membahas tentang malam natal. Sesungguhnya ia sangat ingin mengajak Arin untuk pergi bersama saat malam natal, tapi ia merasa ragu karena takut akan penolakan.


“Apa … gue boleh … main kerumah lo, pas malam natal?” tanya Donghyuk yang sudah pasrah akan penolakan Hara,


“Silahkan …,” ucap Hara.


Seketika Donghyuk tersenyum lebar saat mendengarnya. “Oke, gue bakal ke rumah lo pas malam natal,” ucap Donghyuk berusaha untuk tetap bersikap santai walau sebenarnya saat ini ia sangat ingin berjingkrak-jingkrak riang.


***


Setelah mengantar bibi dan keponakannya sampai terminal, Hara berjalan kembali menuju rumahnya. Di cuaca yang sangat dingin — salju turun dengan cantiknya menghiasi langit malam. Sepanjang jalan menuju rumahnya banyak sekali lampu-lampu hias di setiap toko membuat jalan jauh lebih terang dibandingkan hari biasa. Beberapa orang sedang sibuk membersihkan tumpukkan salju yang menutupi jalanan. Polisi pun terlihat sibuk mengatur lalu lintas untuk menghindari terjadi kecelakaan yang cukup rentan terjadi jika salju turun.


Jalannya yang ramai perlahan-lahan menjadi sepi saat ia mulai melintasi jalan yang lebih sempit. Jarak ke rumahnya hanya tinggal 10 menit berjalan kaki. Langkahnya mulai melambat saat melihat sosok cowok yang berdiri dibawah lampu jalan di persimpangan jalan menuju rumahnya. Tanda disadari oleh dirinya sendiri, Hara tersenyum saat ia langsung mengetahui siapa cowok tersebut. Mulai mempercepat langkah kakinya — hingga ia berdiri di hadapan Donghyuk yang tampaknya sudah menunggu cukup lama, karena dia terlihat menggigil kedinginan sambil memeluk dirinya sendiri.


“Udah lama nunggunya?” tanya Hara.

__ADS_1


“Nggak. Ayo! Dingin!” ucap Donghyuk.


__ADS_2