Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Kembali


__ADS_3

“Oh iya, lusa Donghyuk selesai wamil, lo dateng ‘kan, ke acara penyambutannya dia?” tanya Eunsun mencoba mengalihkan pikiran Hara yang saat ini mungkin sedang kelelahan.


“Nggak tau.”


“Kenapa nggak tau. Datang aja. Lo bahkan selama ini nggak pernah jenguk dia … kalian ‘kan, masih berteman ‘kan?” ucap Eunsun.


“Iya sih. Cuman … cuman …” Hara yang tak bisa mencari sebuah alasan.


“Ya sudah. Kalau itu terserah lo aja, gue nggak akan maksa. Tapi yang terpenting sekarang adalah lo sebaiknya cepet pulang, sebelum lo membeku kedinginan! Ayo cepat pulang!” ucap Eunsun dengan meninggikan suaranya.


“Iya iya … gue pulang. Lo juga sana tidur lagi. Bye,” ucap Hara yang kemudian mematikan sambungan teleponnya. Terdiam dengan tatapan redup mengingat akan ucapan Eunsun tentang Donghyuk yang akan kembali.


Benar. Selama satu setengah tahun, selama Donghyuk wamil, dirinya tidak pernah sekalipun mengunjungi Donghyuk ataupun mengirimkan surat. Mungkin pernah sekali dirinya mengirimkan Donghyuk ucapan ulang tahun dan menitip cake ulang tangan pada Eunsun sebagai penggantinya. Hal itu Hara lakukan karena ia merasa bersalah dan juga malu setelah putus dengan Ha Myung.


Dirinya tidak memiliki muka dan keberanian untuk menghadapi Donghyuk. Hal itu memungkin Donghyuk berpikir dirinya benar-benar tidak lagi menganggap nya sebagai teman. Sakit rasanya, tapi tak ada yang bisa diperbuat.


***


“SELAMAT DATANG KEMBALI DONGHYUK!”

__ADS_1


Mereka begitu meriah menyambut kedatangan Donghyuk yang baru saja menyelesaikan tugas militernya selama satu setengah tahun. Donghyuk terlihat malu-malu kucing tapi ia juga sangat senang melihat teman-temannya yang tidak ia sangka melakukan hal seperti ini.


Sambil menghampiri Donghyuk dan memberikan pelukan. “Lo udah bekerja keras selama satu setengah tahun, gue yakin lo pasti menderita di sana,” ucap Eunsun.


“Emm … thank you,” ucap Donghyuk yang memilih untuk tidak membalas pelukan Eunsun karena ia masih menghargai suaminya Eunsun yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam. Kemudian Eunsun pun melepaskan pelukannya. Namun belum saja ia sempat bernafas, tiba-tiba Hyerin langsung memeluknya dengan sangat ekstrim hingga hampir membuat tulang punggung retak karena pukulan nya.


“Donghyuk! Sorry gue nggak pernah jenguk lo kesana, soalnya gue lagi sibuk-sibuknya. Sebagai gantinya gue kasih lo kupon makan di beberapa restoran yang udah gue kumpulin sejak lama,” ucap Hyerin sambil melepaskan pelukannya.


“Oh … thank you,” ucap Donghyuk dengan tatapan jengkel, lantaran ia hampir saja mati di tangan Hyerin.


“Syukur lo pulang dengan selamat, welcome,” ucap Yongsoo sambil menepuk punggung Donghyuk.


“Sudah …. sudah … sebaiknya kita langsung makan, sebelum jadi dingin! Ayo Donghyuk!” ajak Eunsun sambil menarik tangan Donghyuk sampai ke meja yang sudah disiapkan khusus untuk temannya itu.


***


Berat melangkah lebih jauh. Hara hanya terdiam di depan pintu masuk restoran Eunsun. Ia mendengar suara-suara teman-temannya yang ada di dalam. Namun dirinya masih dikuasai oleh keraguan dan harga diri yang rendah. Otaknya pun dikuasai dengan pikiran yang bahkan belum terjadi. Hara hanya sedang takut akan sebuah penolakan. Bagaimana jika ia masuk malah hanya merusak suasana kegembiraan mereka.


Menunduk — melihat ke arah hadiah yang ia bawa untuk di berikan pada Donghyuk dan karangan bunga. Namun sepertinya hadiah ini tidak akan bisa sampai langsung ke tangan Donghyuk karena ia tidak bisa memberikannya. Berjalan mendekati sebuah bangku di samping pintu cafe. Diam dan merenung. Mencoba mengumpulkan keberanian yang seperti membutuhkan waktu.

__ADS_1


“Iya … lagi makan bareng teman-teman,” ucap Donghyuk yang berbicara dengan kakak iparnya lewat telepon sambil berjalan keluar cafe. “Mungkin agak telat pulangnya,” ucap Donghyuk yang berdiam di depan pintu cafe — menoleh ke arah kirinya — melihat sebuah bangku kayu yang terdapat sebuah paper bag berwarna putih dengan karangan seikat bunga yang seperti tertinggal disana, entah milik siapa. Sontak Donghyuk menoleh ke arah sekitar untuk mencari pemiliknya. Namun tidak ada siapa-siapa disana.


“Iya … emm,” sahut Donghyuk pada kakak iparnya yang kemudian sambungan pun terputus. Donghyuk mulai mendekati bunga tersebut. Mungkin ini sedikit tidak sopan, tapi ia hanya ingin memastikan sesuatu yang ada di dalam sebuah kartu ucapan yang selip di antara bunga-bunga.


| Selamat datang kembali Kim Donghyuk!! Maaf buat semuanya -Hara-


Seketika Donghyuk tertegun saat mengetahui jika pemilik bunga dan bingkisan itu adalah miliknya yang diberikan Hara tapi entah kemana dia pergi saat ini. Hara hanya meninggalkannya di sana tanpa bertatap muka terlebih dahulu padanya setelah sekian lamanya tidak bertemu.


“Kenapa dia langsung pergi? Dia itu benar-benar ….” Donghyuk yang tak bisa melanjutkan perkataannya — menghela napas kecewa akan sikap Hara yang bahkan tidak mau melihatnya.


Tiba-tiba pintu cafe terbuka. Dia Eunsun yang langsung menghampiri Donghyuk yang masih tertegun memandangi pemerian Hara. “Lo ngapain di sini? Apa itu? Dari siapa?” tanya Eunsun yang langsung teralihkan dengan apa yang saat ini Donghyuk tatapan. “Apa jangan-jangan … Hara?’ tebak Eunsun.


“Emm … dia,” jawab Donghyuk sontak membuat Eunsun terkejut.


“Wah … Anak itu benar-benar, bukanya masuk malah pergi gitu aja!” omel Eunsun, walau ia sebenar memang sudah menduga jika Hara tidak akan berani datang. Eunsun khawatir saat melihat ekspresi wajah Donghyuk — berjalan menghampiri bangku — duduk di samping hadiah pemberian Hara.


“Selama lo pergi wamil … dia mengalami banyak masa sulit, jangan terlalu menyalahkan dia …,” ucap Eunsun sambil menepuk bangku untuk menyuruh Donghyuk duduk di sampingnya.


Donghyuk melangkah — duduk di samping Eunsun dan terdiam tanpa ekspresi karena memang itu yang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


“Semua orang juga mengalami masa sulit,” ucap Donghyuk dengan sinis.


Eunsun hanya bisa tersenyum bingung dengan ucapan Donghyuk yang sepertinya masih belum berdamai dan salah paham dengan Hara. “Ucapan lo nggak ada salahnya … benar semua orang pasti lelah dan memiliki kesulitan masing-masing. Huff …” ucap Eunsun sambil kembali memikirkan kata-kata yang tepat untuk ia katakan. “Hara … sangat khawatir dan sangat ingin ketemuan sama lo, tapi … dia takut lo bakal bersikap seperti ini …,” ucap Eunsun yang di akhirnya dengan satu helaan napas berat.


__ADS_2