
Hal itu langsung membuatnya sangat jengkel dan kesal. Hara memilih untuk mengabaikannya. Namun telepon itu kembali datang. Khawatir ada telepon dari atasannya, Hara beranjak dari tempat duduk — mengambil ponsel miliknya — sontak Hara terdiam, karena ternyata yang menghubunginya adalah Donghyuk.
“Iya, hallo. Kenapa lo telepon?” tanya Hara yang sedang terburu-buru mengantri.
“Lo sibuk?”
“ … nggak. Kenapa?” tanyanya.
“Ah … bisa tolong datang ke perpustakaan?’ tanya Donghyuk.
“Di mana? Tapi kenapa tiba-tiba ke perpustakaan?” tanya Hara bingung.
“Cepat datang ke alamat yang sudah kirim.” tanya Donghyuk.
“Apa? Tapi —”
Belum saja Hara ingin melanjutkan ucapannya, Donghyuk langsung mematikan telepon.
“Halo! Halo! Yah dimatiin? Kenapa tiba-tiba ke perpustakaan?” tanya Hara yang kesal dan juga terheran-heran dengan sikap Donghyuk yang menjadi aneh. Namun yang lebih anehnya, Hara langsung bergegas pergi kekamar mandi untuk menyusul Donghyuk.
***
Sesampainya Hara di sebuah perpustakaan yang begitu luas dan memiliki dua lantai. Hara terus berjalan melewati rak-rak yang dipenuhi buku dengan aroma khas yang membuat para orang-orang yang menyukai buku pasti sangat menyukainya. Suasana disini sangat sunyi, itu sudah pasti. Hara terus berjalan menaiki anak tangga, lantaran Donghyuk saat ini berada di lantai dua, di sana tempat yang di untuk membawa dan belajar, Difasilitasi dengan meja panjang yang berderet dan adapun ruang privat.
Terlihat cukup banyak orang yang tampak begitu fokus belajar atau membaca. Hingga akhirnya Hara menemukan sosok Donghyuk yang duduk bersama dengan beberapa orang di sampingnya. Hara pun segera duduk tanpa menyapa agar tidak mengganggu yang lain.
Tuk … tuk …
Dengan pelan Hara mengetuk meja untuk memberikan tanda.
“Gue udah sampai,” bisik Hara sontak membuat Donghyuk menoleh.
Lalu ia memberikan sebuah paper bag coklat pada Hara yang sontak kebingungan. “Ini apa?” bisik Hara.
__ADS_1
“Baju jas gue, hadiah dari lo. Sedikit robek, jadi tolong perbaiki,” bisik Donghyuk.
“Apa?! Lo suruh gue kesini cuman buat benerin baju lo?” bisik heran Hara yang sedikit tidak terima dengan perlakukan Donghyuk yang seperti memang sedang mengejeknya.
“Eung. Tolong ya,” ucap Donghyuk sambil memperlihatkan senyuman bodohnya dengan sengaja lalu dalam dua detik wajahnya langsung berubah menjadi sangat datar.
Karena sudah terlanjur datang ke perpustakaan dan terlalu sayang jika ia harus kembali ke rumah, sebuah perang antar diri sendiri yang begitu rumit. Hara langsung mengeluarkan buku sketsa dan pensil warna, barang-barang yang digunakan Hara untuk merancang pakaian.
Sontak Donghyuk menoleh ke arah Hara, karena di sekelebat matanya melihat Hara yang begitu sibuk. Ia bingung dengan Hara yang tiba-tiba Mengeluarkan sebuah buku sketsa dan pensil warna. Karena penasaran, Donghyuk menuliskan pesan di sebuah selembar kertas note.
| Ngapain?
Cara melihat not tersebut dan lalu ia membalasnya.
| Bukan urusan lo!
Donghyuk yang membacanya sontak hanya diam menggelengkan kepala dengan heran lalu melanjutkan aktivitasnya yang sedang belajar untuk mengejar ketertinggalannya. Benar. Karena kuliahnya tertunda karena wamil, jadi setelah ini Donghyuk akan kembali melanjutkannya. Donghyuk mengumpulkan kembali materi-materi yang tertinggal selama ia wamil.
Semua materi yang dia pinjam dari teman kuliahnya yang disalin pun sudah selesai, Donghyuk langsung merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal — wajahnya menoleh ke arah Hara yang tidak ia sangka tengah tertidur nyenyak di atas sebuah sketsa gambar yang seperti dia gambar tadi dengan begitu sibuk. Donghyuk melihat jam di jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, itu berarti ia sudah hampir 5 jam berada di perpustakaan. Hingga membuat Hara tertidur.
Tanpa sadar ia malah tertegun saat melihat Hara yang tertidur seperti anak bayi. Wajah yang sudah ia rindukan setelah satu setengah tahun dirinya tidak pernah melihatnya. Kenapa dia terlihat lebih kurus dibandingkan terakhir ia lihat. Tatapan mata teduh — seakan sedang menatap kebahagian. Bahkan jantung saat ini berdebar dengan cepat. Bagaimana bisa wanita kecil ini masuk ke dalam hidupnya begitu lama. Hara benar-benar wanita yang hebat.
Donghyuk langsung menegakkan tubuhnya saat melihat Hara yang tampaknya akan segera bangun. Benar saja. Terlihat Hara yang mulai mengangkat kepalanya dengan mata yang masih tertutup — dia menguap sambil merenggangkan tubuhnya.
“Udah bangun?” tanya Donghyuk dengan suara pelan.
Sontak Hara menoleh. “Oh …, sorry … gue nggak bisa nahan ngantuk,” ucap Hara sambil tersenyum cengengesan. “Lo udah selesai belajarnya?” tanya Hara.
“Em … ayo kita pergi buat cari makan malam!” ajak Donghyuk sambil memakai tas ranselnya setelah selesai memasukan buku-buku ke dalam tas.
“Eung … tunggu gue!” ucap Hara sambil bergegas merapikan bukunya — dimasukkan kedalam tas — berjalan cepat menyusul Donghyuk.
***
__ADS_1
Mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran makanan rumahan Korea yang terlihat begitu ramai saat jam makan malam. Seorang pegawai yang berusia paruh baya mengantarkan makan mereka — meletakkan satu persatu menu dan juga lauk di atas meja.
Donghyuk yang sibuk menyiapkan peralatan makan untuk Hara dan dirinya sendiri, ia juga tidak lupa menuangkan air. Sedangkan Hara hanya sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang sedang ia lakukan hingga wajahnya begitu serius.
“Jangan main hp dulu, cepat makan!” ucap Donghyuk sontak membuat Hara langsung buru-buru meletakkan ponselnya dan menggantinya dengan sumpit.
“Wah … kayaknya makannya enak!” ucap Hara yang langsung terpesona saat melihat banyak makanan di meja makan. “Maaf tadi aku harus balas pesan kerjaan, tapi sekarang sudah selesai,” ucap Hara.
“Cepat makan!”
“Siap!”
“Tapi ngomong-ngomong, lo belajar buat balik kuliah lagi?” tanya Hara.
“Iya. Gue mau langsung lanjutin. Cuti kulian gue besok selesai, jadi gue harus buru-buru rekap materi yang tertinggal,” ucap Donghyuk.
“Kalau ada yang perlu dibantu bilang saja, siapa tau aku bisa bantu.” ucap Hara mencoba menawarkan bantuan.
“Nggak perlu. Fokus saja sama pekerjaan lo,” tolak Donghyuk.
“Cih! Hya! Lo itu masih adik kelas tau! Karena lo adik kelas gue, kalau lo butuh ongkos tinggal bilang kakak ya,” ucap Hara dengan tatapan meledek.
“Baiklah. Gue bakal minta ongkos sama lo kalau duit ongkos gue kurang,” ucap Donghyuk sambil menggelengkan kepala — heran.
“Baju yang lo kasih masih muat emang? apa cuman perlu diperbaiki?” tanya Hara yang tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.
“Cuman perlu di perbaiki,” ucap Donghyuk.
“Serius?” tanya Hara tak percaya.
“Eung,” angguk Donghyuk.
Namun Hara masih ragu, karena ia merasa jika postur tubuh Donghyuk yang dulu dan sekarang memiliki sedikit perubahan.
__ADS_1