
Di jalan yang sepi dan sunyi, hari sudah malam karena waktu menunjukkan pukul 22.00 malam. Hara dan Donghyuk berjalan menuju rumah Hara. Ia mengantar hara hingga depan rumah. Mereka terlihat langsung dan terdiam satu sama lain.
Sepanjang jalan hingga akhirnya sampai di depan mereka masih terdiam dan saling canggung. Hara masih beberapa kali melirik kearah Donghyuk, tapi tidak dengan Donghyuk yang terlihat sama sekali tak melihatnya.
“Terima kasih, karena sudah mengantar pulang dan juga sampaikan kembali ucapan terima kasihku pada Kak Jaehyuk.” ucap Hara.
“Iya.” jawab singkat Donghyuk.
Kembali mereka terdiam di keheningan malam.
Hara merasa sedikit bingung dan khawatir saat melihat ekspresi wajah Donghyuk yang berubah sejak ia berada dirumah Dong Hyuk hingga ia pulang. Hara merasa jika Donghyuk kesal karena ia mengunjungi rumahnya.
“Masuklah! Gue pergi …,” ucap Donghyuk.
“Iya, hati-hati …” ucap Hara.
Kemudian Donghyuk pun pergi begitu saja meninggalkan jejak kecanggungan dan kebingungan pada Hara yang terdiam memandang Donghyuk yang melangkah semakin jauh. Rasanya aneh jika Donghyuk tiba-tiba bersikap acuh, seperti hatinya tersayat kertas yang bahkan tak terlihat bisa menyakiti seseorang. Hara akhirnya berjalan masuk kedalam saat melihat Donghyuk yang tidak lagi menoleh ke belakang.
Saat Donghyuk merasa kalau Hara sudah masuk kedalam, karena mendengar suara gerbang yang tertutup. Langkahnya berhenti dan ia terdiam — membalikkan badan — menatap ke arah rumah Hara. Satu helaan nafas yang begitu berat, merasa menyesal karena bersikap acuh pada Hara yang tampaknya menyadarinya.
“Aku memikirkan apa yang aku rasakan begitu aneh dan membuatku menjadi gila. Perasaan yang membingungkan. Perasaan dimana sesaat aku merasa kalau aku menyukai Hara, sesaat aku merasa canggung dan salah tingkah dihadapan Hara, dan perasaan dimana aku hanya sebagai teman Hara.” ungkap Donghyuk dalam pikirannya sambil melangkah pergi.
“Dan saat-saat dimana yang membuatku semakin merasa bingung. Ketika aku melihat Hara tersenyum melihat seseorang yang sudah lama yang tak bertemu.”
“Hya ..,! KIM TAE IL …!!” dengan wajah yang terkejut bahagia, Hara berlari menghampiri Taeil yang baru saja sampai di Korea setelah menghilang selama hampir satu minggu membuat hara begitu khawatir akan keadaannya.
“Perasaan dimana aku sangat merasa marah dan tidak ingin melihat Hara bersama orang yang paling aku benci di dunia. Tapi apa yang bisa aku perbuat. Karena aku tidak bisa mencuri seseorang yang sudah menjadi satu.”
Kemudian Donghyuk pun memilih untuk pergi duluan, masuk kedalam sekolah. Berjalan melewati dua orang yang sedang melepas rasa rindu mereka. Sungguh menyebalkan.
“HYA …! Lo baik-baik saja ‘kan selama di Amerika? Kenapa nggak kasih aku kabar? Terus kapan kamu sampai Korea?” tanya Hara yang tak memberikan kesempatan untuk Taeil menjawab semua pertanyaannya.
__ADS_1
Rasanya begitu tersentuh melihat ada yang mengkhawatirkan dirinya. Tatapan teduh yang diberikan Hara yang begitu tulus mengkhawatirkan dirinya. Ingin rasanya ia segera memeluk Hara, tetapi Taeil menahannya.
“Maaf … karena keadaan mendesak, aku nggak bisa menghubungi siapa-siapa. Akan aku ceritakan nanti, sebaiknya kita masuk dulu …,” ajak Taeil sambil merangkul Hara — berjalan pergi menuju kelasnya.
***
***
Sesampainya Donghyuk di kamar, dia langsung melempar tasnya dan membantingkan tubuhnya keatas ranjang. Entah mengapa hari ini ia merasa sangat kesal, saat ini ia ingin sekali memukul seseorang, beberapa kali Donghyuk menghela nafasnya karena mencoba untuk menghilangkan kekesalannya.
Ketika ia ingat kembali ekspresi wajah Hara terlihat sangat senang bertemu dengan Taeil. Ia merasa marah, tapi ia juga tidak tahu kenapa ia marah. Kenapa ia harus marah saat melihat teman yang baru bertemu.
Tuk tuk tuk …
Dari luar Jaehyuk membuka pintu kamar adiknya yang terlihat begitu murung.
“Muka lo kenapa? Apa terjadi sesuatu …?” tanyanya.
“Kak Jaehyuk …!” sahut Donghyuk dengan tatapan memelas.
“Kalau kakak melihat Kak Yoona bertemu dengan cowok lain dan dia terlihat sangat bahagia. Tapi kau merasa hal itu sangat jengkel, hingga rasanya ingin merusak wajahnya. Itu berarti apa?” tanay Donghyuk.
“Kenapa? Apa Hara bertemu dengan teman laki-laki yang lain selain kamu ...?” tanyanya yang membuat Donghyuk langsung menatapnya dengan tatapan terkejut.
Jaehyuk tersenyum. “Lihat diri lo deh!! Gampang banget ditebak.” ucap Jaehyuk.
“Kalian kenapa mengatakan hal yang sama sih!!” gumam Donghyuk kesal melihat kelakuan kedua kakaknya yang mirip.
“Siapa?”
“Siapa lagi, kakak sama kak Yoona, kalimat kalian tuh persis.” ucap Donghyuk merajuk seperti anak kecil.
__ADS_1
“Jadi … seorang Hara lagi dekat dengan cowok lain, maksud kamu?” tanya Jaehyuk.
“Kurang lebihnya,”
“Makanya … kalau jadi laki-laki itu harus gerak cepat. Lihat! kamu kecolongan start ‘kan?” ucap Jaehyuk semakin membuat Donghyuk murung. “Bersikaplah baik pada Hara, jangan mengecewakannya, karena sikap kamu itu dia jadi nggak percaya jika kamu suka sama dia. Kalau kamu mau dia tau, maka tunjukkan dengan tindakan. Sama seperti apa yang dilakukan si cowok itu,” ungkap Jaehyuk.
Donghyuk termenung sambil memikirkan semua perkataan para kakaknya.
“Semangat ya …!!” ucap kak Jaehyuk yang kemudian pergi meninggalkan Donghyuk yang masih termenung dalam pikirannya yang begitu rumit.
***
Siang yang sedikit mendung dan dingin. Hara sudah siap untuk pergi kerumah sakit menjenguk mama Taeil yang sudah kembali dari Korea setelah berobat hingga ke Amerika. Setelah mengalami masa sulit, dirawat di Amerika, akhirnya mama Taeil sudah bisa kembali di korea. Hara sudah tidak sabar untuk menjenguknya.
Harga perbaikkan baik hari ini. ia begitu ceria dan bersemangat. Ia baru saja turun dari kamarnya, untuk berpamitan dengan Bibinya yang sedang bersantai menonton televise.
Sambil mengenakan sepatu. “Bibi …!! Hara pergi ya …,” ucap Hara.
“Hati-hati ya!!”
Sesampainya Hara di depan rumah sakit, Hara pun kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari kamar rawatnya. Walau sedikit repot karena harus membawa karangan bunga dan sejumlah tonik. Hingga membuat kedua tangannya penuh. Hara baru saja keluar dari live, dan kembali mencari kamar rawat, nyonya,
“Kim Yong Shin 245 VIV ..”. ucap Hara sambil membaca papan nama yang ada di depan pintu.
“Akhirnya ketemu juga!!” ucap Hara yang akhirnya berhasil menemukkan kamarnya.
Kemudian dengan perlahan ia membuka pintunya dan mengucapkan salam.
“Halo … selamat siang.” sapa Hara sambil membungkukkan kepalanya.
“Hara …?” sahut Taeil sambil berjalan menghampiri Hara.
__ADS_1
“Hallo, selamat siang …" sapa Hara sambil menundukkan kepalanya pada ibunya Taeil sebagai tanda sapaan yang sopan.
"Apa anda masih ingat pada saya? Han Hara …,” tanya Hara yang sudah berdiri di hadapan mamanya Taeil.