
“Kita memang sudah pacaran, tapi aku nggak keberatan jika kamu masih menganggap hubungan ini masih seperti yang dulu agar kamu merasa nyaman. Aku nggak masalah. Kamu nggak perlu mementing masa depan atau kekhawatiran yang bahkan belum tentu terjadi. Jadi kamu lebih baik memfokuskan pada masa kini agar aku nggak menyesalinya, Apa yang kamu pikirkan tentang masa depan itu nggak ada yang salah, itu sebuah pikiran alami alam bawah sadar kita memikirkan hal itu. Sesekali saat kita membicarakan hal yang serius untuk masa depan tidak hal yang baik, tapi jangan sampai kamu memikirkan masa depan kita sendirian karena itu malah membuat kamu dipenuhi kecemasan, bagaimana …,” ujar Donghyuk membuat Hara yang hanya bisa tertegun mendengarnya.
Mencoba menelaah setiap apa yang Donghyuk katanya tidaklah salah, mungkin memang dirinya yang terlalu memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. “Akan aku coba, makasih sarannya.” ucap Hara.
“Aku merasa senang jika kita sering berbicara seperti ini, kamu begitu aku pun begitu, kita bisa sama-sama saling terbuka.” ucap Donghyuk.
“Donghyuk … sejak kapan kamu jadi lebih bijak? Apa karena kamu jaksa …? kamunya dulu selalu mengejek aku dan berbicara semaunya.” ucap Hara sambil meletakkan tangan kanannya ke kepala Donghyuk — mengelusnya dengan perlahan dan tersenyum. “Bangganya …,” ucap Hara sambil tersenyum penuh bangga melihat perubahan besar dari Donghyuk yang benar-benar dewasa setelah ia memulai dengannya.
Rasanya sungguh mengejutkan saat Hara mulai mengelus kepalanya dengan lembut. Tubuhnya menjadi kaku dan jantungnya berdebar lebih cepat. Hara benar-benar seakan mengetahui titik kelemahannya. Senyuman yang tidak pernah berubah tapi selalu membuatnya terus merasa seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta. Donghyuk mulai tak bisa mengendalikan dirinya sendiri, ia mengingin sesuatu yang lebih dari sekedar senyuman manis itu. Kedua matanya mulai menatap bibir Hara yang entah mengapa ia tidak bisa memalingkan pandangannya.
Dirinya akan menginginkan bibir Hara. Hingga akhirnya tuas kontrol pada dirinya pun terlepas — tubuhnya dengan cepat mendekat hanya sepersekian detik — Donghyuk memberikan ciuman pada bibir Hara yang sontak kedua matanya membelalak — terkejut. Dirinya membeku seketika — melihat kedua mata Donghyuk yang terpejam dan ia mulai merasakan gerakan lembut dari bibir Donghyuk yang membuat jantung semakin terpacu dalam debaran. Pikirannya mungkin masih belum bisa menerima tapi tidak dengan tubuhnya. Ciuman membuat tubuh tertarik bagaimana ada medan magnet yang sangat kuat menariknya, hingga membuatnya mulai membalas ciuman Donghyuk.
Sebelum dirinya benar-benar menjadi begitu liar, Donghyuk memaksakan dirinya untuk segera menghentikan ciumannya secara perlahan — bibirnya mulai menjauh tapi tangannya masih membelai lembut rambut Hara yang juga perlahan mulai membuka matanya dengan nafas yang sedikit berat.
Dalam beberapa detik suasana menjadi hening dan penuh ketenangan saat kedua mata saling melihat satu sama lain. Hara yang sadar langsung merundukkan tatapan karena tersipu malu. Tak ingin momen berharga ini terasa menggantung, tanpa berpikir panjang Donghyuk langsung memberikan pelukkan hangat untuk Hara.
“Kamu pasti kaget ya …?” tanya Donghyuk dengan suara yang sangat lemah lembut.
Arin hanya mengangguk dalam pelukkan Donghyuk yang melahap tubuh kecilnya.
__ADS_1
“Kamu harus terbiasa dengan ini, kita ‘kan udah resmi pacaran. Apa kamu bisa …?” tanya Donghyuk.
“Akan aku usahakan,” ucap Hara dengan polosnya membuat Donghyuk terkekeh lucu.
“Baiklah … kita lakukan pelan-pelan ya …,” ucap Donghyuk — mempererat pelukannya begitu juga Hara.
***
Di sebuah pabrik penjahitan. Hara dan salah satu rekan kerjanya sedang dikirimkan tugas untuk memeriksakan kembali desain yang sesuai dengan yang timnya inginkan untuk peluncuran baju musim semi tahun depan.
Meneliti salah satu sampel baju yang sudah jadi untuk kembali memastikan baju jadi itu sudah sesuai dengan desain atau belum. Hara harus menjadi orang yang teliti, karena jika tidak makan akan menjadi fatal. Hara akan menandai dan langsung mendiskusikan jika ada tidak sesuai dengan standar yang ia berikan.
Tak lupa Hara juga menjelaskan dengan detail dengan baju simple dengan gambar yang ia tunjukkan. Jika berurusan dengan baju Hara akan menjadi sosok yang berbeda.
“Kami akan segera hubungi anda, kalau begitu saya permisi. Hati-hati dijalan …,” ucap manajer pegawai pabrik tersebut.
Pintu masuk sudah tertutup kembali. Hara dan rekan kerjanya Junghwan berjalan kembali menuju kantor. Dia pegawai magang yang baru datang saat Hara pulang ke rumahnya. Wajahnya yang imut tapi tidak dengan suaranya yang terdengar seperti orang dewasa lainnya.
“Sampai sekarang aku masih terpukau melihat Bu Hara bekerja.” ucap Junghwa.
__ADS_1
“Aku belum seberapa. Masih banyak pekerjaan yang lebih melelahkan,” ucap Hara sambil membuka pintu mobil saat ia sudah sampai depan mobilnya. Hara masuk ke dalam — mengenakan seat belt — menyalakan mesin mobil bersamaan dengan Junghwan yang baru saja masuk kedalam.
“Bu Hara, saya boleh bertanya sesuatu ….?” tanya Junghwan.
Sambil melajukan mobil, Hara menjawab. “Silahkan …,”.
“Bu Hara udah punya pacar …?” tanya Junghwan dengan wajah penuh pengharapan.
“Ada. Aku punya pacar. Dia seorang jaksa,” ucap Hara dengan penuh percaya dirinya tapi bukalahkan sebuah kesombongan semata.
Namun hal itu membuat perasaan Junghwan kecewa dan putus harapan untuk bisa mendapatkan Hara yang merupakan tipenya. “Yah … sayang sekali.” gumam Junghwa. “Jaksa … wah … pasti di orang yang tegas dong …?” ucap Junghwa.
“Betul. Tapi … dia orang yang sangat sangat romantis.” ucap Hara lagi-lagi membanggakan Donghyuk.
***
Hara yang pulang lebih awal dibandingkan Donghyuk, ia sengaja ke rumah pacarnya yang kini masih sibuk bekerja. Hara yang sudah mengetahui kata sandi rumah Donghyuk, membuatnya lebih bebas mondar-mandir ke rumahnya.
Dengan membeli bahan makanan dan beberapa stok makanan dan air mineral untuk mengisi kulkas Donghyuk yang terakhir ia lihat tidak ada apapun. Kalau mau beli malah jadi dua puluh lima ribu,” jawab Hara.
__ADS_1
Setelah cuci tangan, Hara mulai memakai apron untuk melindungi bajunya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Mengeluarkan semua bahan makanan yang ada di dalam dua kantong plastik berukuran besar. Dengan cepat Hara sudah menyelesaikan misi mengisi penuh kulkas. Hara mulai memotong-motong berbagai sayuran dan daging, karena ia sedang ingin membuat masakan rumahnya seperti tangan ibu.
Jam malam malam memang sudah lewat sejak dua jam yang lalu dan hampir 80 persen masakannya sudah jadi. Ragu akan rasanya, tapi saat memasaknya rasanya nggak terlalu buruk, pikir Hara. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka pertanda Donghyuk sudah pulang. Hara bergegas menghampiri pintu untuk menyambut Donghyuk,