
Donghyuk hanya bisa tertegun dana perasaan yang kesal tapi juga ia merasa bersalah dengan sikapnya pada Hara.
“Lo inget ulang tahun lo, gue sama Yongsoo bawa cake? Yang belikan cake itu Hara. Padahal dia pengen banget ikut, tapi karena takut lo nggak suka, makanya kami berbohong. Semua makanan yang kita bawa buat lo itu semuanya pemberian Hara. Di khawatir sama lo … dia juga pasti kangen sama lo. Setelah putus dengan Ha Myung, sikapnya jadi jauh lebih dewasa. Si Ha Myung sampah sialan itu!! Awas aja dia kalau ketemu sama gue!” ucap Eunsun yang tiba-tiba menjadi kesal saat mengingat kembali saat-saat betapa sulitnya Hara setelah putus dengan Ha Myung.
“Kenapa mereka bisa putus?” tanya Donghyuk.
“Si Cowok sampah itu, diam-diam punya tunangan. Bahkan Ha Myung masih bersikap biasa saja padahal hari itu Hara sudah tau jika Ha Myung bakal pergi ke Jeju buat bertunangan. Lo tau apa yang lebih menjijikan? Ha Myung nggak mau melepas Hara tapi dia tetap bertunangan, udah gila itu orang!” ucap Eunsun yang benar-benar emosi.
Begitu juga dengan Donghyuk yang masih tidak percaya jika Ha Myung melakukan hal itu pada Hara di saat dirinya sedang wajib militer. Namun tidak ada yang bisa diperbuat, semua sudah berlalu.
“Syukurnya, Hara bangkit dengan cepat hingga sampai ke titik ini. Tapi … hanya satu yang membuat Hara sedih, yaitu lo …,” ucap Eunsun — menghela napas berat. “Gue bukanya ikut campur dan itu semua juga hak lo, tapi apa lo nggak mau kasih Hara kesempatan? Lo ‘kan, masih suka sama dia,” ucap Eunsun sambil melihat ke arah Donghyuk yang sejak tadi hanya dia menatap bunga yang dipegangnya.
“Lo nggak tau ‘kan, mungkin perasaan lo udah terbalas. Jadi nggak ada salah kalian kembali memulainya dari awal. Bagaimana?” tanya Eunsun mencoba membujuk dan membuka hati dan pikiran Donghyuk.
***
Sepulang bekerja, seperti biasanya dia kan selalu mampir ke restoran Eunsun walau hanya dengan meminum segelas bir. Terlebih lagi, sebenarnya ia ingin mengetahui kabar Donghyuk, karena semalam ia tidak datang ke acara penyambutan Donghyuk.
Sambil membuka pintu yang tampak tidak begitu ramai. “Eunsun! Gue datang!” saut Hara sambil berjalan menghampiri Eunsun yang berada di meja koki.
“Lo dateng? Bukannya lagi sibuk?” tanya Eunsun.
“Nggak apa-apa, gue cuman mau mampir,” ucap Hara sambil tersenyum bodoh.
“Nggak maksain buat senyum.” ucap Eunsun sambil memberikan segelas bir untuk Hara.
__ADS_1
“Thank you …, acar selama bagaimana?” tanya Hara.
“Kenapa tiba-tiba tanya tentang semalam. Lo aja nggak dateng, gue suruh datang juga!” omel Eunsun.
“Gue datang. Cuman sampai depat pintu, terus pergi. Hehe,” ucap Hara sambil terkekeh seperti orang bodoh.
Hingga Hara tidak sadar saat tiba-tiba Donghyuk yang muncul dari balik pintu masuk. Eunsun langsung menyadarinya, tapi ia hanya berpura-pura tidak menyadarinya agar Hara tidak menoleh ke belakang.
“Terus gimana? Seru nggak? Keadaannya Donghyuk gimana?” tanya Hara dengan tatapan berharap pada Eunsun yang tiba-tiba terdiam dan hanya menatapnya.
“Kabar gue baik,” ucap Donghyuk dari belakang Hara yang sontak langsung mematung saat menyadari jika suara itu milik Donghyuk yang entah bagaimana bisa begitu pas timingnya. Terlintas dalam benanyanya jika semua ini rencana Eunsun — sontak Hara pun menoleh dengan kedua mata yang tajam ke arah Eunsun yang berpura-pura tidak tau — mengabaikannya.
Sambil duduk di samping Hara. “Gue juga mau bir, sama makanan yang cocok sama bir,” ucap Donghyuk yang bersikap dingin dan tidak menghiraukan Hara.
“I — i — iya baik kok. Lo sendiri?” tanya Hara dengan perasaan yang masih syok dan membuatnya menjadi serba salah.
“Seperti yang lo liat sendiri,” ucap Donghyuk bersamaan dengan datangkan Eunsun yang memberikanya bir dan semangkok pancake tradisional Korea Selatan. “Thank you,” ucap Donghyuk
“Ya sudah, kalian ngobrol dulu, gue mau ke dapur,” ucap Eunsun yang kemudian berjalan meninggalkan Hara yang hanya bisa pasrah walau dia sudah berusaha untuk membujuk Eunsun untuk tetap bersamanya.
Suasana canggung yang begitu membuat mereka hanya bisa terdiam satu sama lain. Walau begitu banyak yang ingin dikatakan, tapi tiba-tiba semua menjadi hilang di pikirannya saat duduk bersebelahan dengan Donghyuk yang terlihat tenang tapi tidak dengan raut wajahnya yang sangat datar.
“Kenapa lo sekalipun nggak pernah jenguk gue?” tanya Donghyuk.
Sontak membuat kedua mata Hara terbelalak — bingung bagaimana harus mencari jawabannya.
__ADS_1
“Maaf … gue takut lo nggak suka gue datang, gue harap lo nggak salah paham.” ucap Hara — merenung bersalah — merundukkan kepalanya tak memiliki keberanian menghadapi Donghyuk.
“Gue nggak salah paham. Siapa juga yang salah paham,” ucap Donghyuk sambil menoleh ke arah Hara yang masih saja merundukkan kepalanya. Membuat Donghyuk pun merasa rasa bersalah. “Jangan merunduk. Wanita dewasa harus punya kepercayaan diri yang tinggi.”.
Mendengar hal tersebut membuat perlahan mulai menegakkan kepalanya. Walau masih tidak yakin dengan sikap ramah Donghyuk sudah memaafkannya. Namun Hara merasa jauh lebih lega mendengarnya.
***
Karena cuaca hari ini tidak bersahabat, membuat mereka berdua harus berada di dalam satu payung. Mereka berjalan menuju halte bus, setelah keluar dari restoran milik Eunsun. Hara tak menyangka bahwa hari ini akan turun hujan, tapi untungnya Donghyuk membawa payung.
“Ternyata firasatku itu sangat kuat ya,” ucap Donghyuk dengan penuh percaya diri.
“Cih! Itu cuman kebetulan saja,” ucap Hara.
“Begitu ya ….”
Kemudian mereka terdiam beberapa, terhanyut dalam hujan yang membuat pikiran mereka jauh lebih tenang. Tanpa memikirkan apa pun. Kosong dan menyejukkan dengan aroma hujan yang khas di musim dingin.
Tiba-tiba keheningan mereka dipecahkan oleh suara dering telepon milik Donghyuk yang kemudian segera menjawabnya. “Iya, kenapa kak?” tanya Donghyuk sambil mendengarkan kakaknya yang sedang berbicara.
“Gue di luar. Sama Hara. Apa?!! Nggak ah! Dia juga nggak bakal mau …,” ucap Donghyuk yang menjawab setiap ucapan kakaknya yang sedang mencoba membujuk Donghyuk untuk mengundang Hara datang kerumahnya saat dia tau jika adiknya sedang bersama dengan Hara. Sambil menghela nafas berat karena jengkel, Donghyuk menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Hara … Kak Jaehyuk nyuruh lo buat kerumah, lo mau?” tanya Donghyuk.
“Kak Jaehyuk?” tanya Hara — terkejut mendengarnya. Kemudian terdiam beberapa saat untuk memikirkan ajakan tersebut. “Ya sudah, boleh.” jawab Hara masih sedikit ragu karena ia tak enak hati pada Donghyuk yang sepertinya tak mau dia sampai menerima tawaran tersebut.
__ADS_1