Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Kecemburuan


__ADS_3

Ini sedikit membuat Hara takut, tapi tak ada cara lain. Dirinya harus memberanikan diri dan membuang rasa takutnya. Dengan tekad, Hara mulai naik satu persatu tangga hingga ke yang paling atas, kini Hara hanya tinggal meloncat ke bawah di mana Taeil yang tampak sudah siap untuk menangkapnya.


“Sekarang, kamu tinggal loncat! Ayo …!!”


Sesungguh Arin memiliki ketakutan pada ketinggian, tiba-tiba rasa takut yang mencengkramnya begitu erat hingga membuat tembok dengan tinggi 2 meter berubah menjadi 20 meter di pandangan matanya. Tangannya menjadi gemetaran dan ketakutan yang luar biasa.


“Hara …! Hara …!! Hara …!” Taeil mencoba menyadarkan Hara yang tampaknya tak sadarkan diri.


“Nggak apa-apa, ada aku disini! Jangan takut!!” ucap Taeil mencoba menyakinkan Hara.


“Kalian berdua ngapain disini?”


Seketika Taeil terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul dari belakang. Taeil pun berbalik karena ia khawatir jika yang datang itu seorang guru, tapi ternyata dia Donghyuk yang datang dengan tiba-tiba.


“Lo sendiri ngapain disini?” tanya Taeil.


“Bukan urusan lo!” sinis Donghyuk yang bingung melihat Hara yang tampak ketakutan di atas tembok pembatas. “Hara! Ngapain lo di sana!!” sahut Donghyuk.


Namun, tiba-tiba Hara mulai kehilangan keseimbangannya membuat dua orang yang ada di bawah panik dan mencoba untuk menanggapi Hara yang sepertinya akan terjatuh.


BRUKK!!


Seketika Hara langsung tersungkur di atas tubuh Donghyuk dan Taeil, tepat di tengah-tengah antara mereka. Tubuhnya yang langsung terasa sakit semua, Hara hanya bisa meringkuk ketakutan seperti anak kecil.


Taeil mencoba untuk bangun — melihat Hara yang terlihat meringkuk di pelukkan Donghyuk. Rasanya sungguh menjengkelkan melihatnya. Tapi melihat Hara yang ketakutan ia juga merasa bersalah.


Berjalan masuk ke dalam kelas bersamaan, ketiganya tampak canggung satu sama lain. Terlebih lagi Hara yang masih gemetaran karena rasa takutnya terhadap ketinggian. Lutut dan sikunya pun ikut terluka karena jatuh tadi.


Eunsun yang melihat Hara seketika langsung heboh. “Hya!! Lo dari mana aja sih!!” bentak Eunsun karena khawatir.


Namun Hara hanya terdiam dan duduk di bangkunya.


“Hya! tangan sama lutut lo kenapa? Habis jatuh??” tanya Hyerin yang langsung menyadarinya.


Akan tetapi Hara tampak masih tetap membungkam mulutnya dengan wajah muram dan tangan yang gemetaran.


“Jangan diajak ngomong dulu, dia masih shock,” ucap Taeil.

__ADS_1


Bel pulang sekolah sudah berbunyi dua menit yang lalu. Namun Eunsun, Hyerin, dan Yongsoo masih duduk dibangkunya mendnegarkan Hara yang masih menceritakan apa yang terjadi hingga dia sampai terluka. Mereka yang awalnya khawatir dan kesal kini mulia memahami apa yang yang dilakukan oleh Hara. Bahkan Eunsun mulai membatu Hara untuk mengobati lukanya.


“Lain kali, jangan sampai lupa bawa hp. ‘Kan gue jadi khawatir!” ucap Eunsun.


“Sorry … gue nggak bakal begitu lagi,” ucap Taeil.


“Jadi … selama ini sikap Taeil sama lo itu begitu, karena ternyata di teman lo pas di TK?” tanya Hyerin yang masih tidak percaya akan cerita Hara.


“Iya, aku juga baru tahu. Tapi aku sama sekali nggak ingat, ini lihat …” ucap Hara sambil menunjukkan sebuah foto dua anak kecil yang sedang duduk berdekatan, tampak begitu ceria.


“Ini lo sama Taeil?” tanya Yongsoo.


“Emm … Taeil yang kasih ini,” jawab Hara.


“Wah … kalian berdua udah kaya di drama aja, jangan-jangan memang kalian sudah ditakdirkan bersama lain. Emm … iri …,” ucap Yongsoo sambil menggoda Hara.


“Nggak kok …,” elak Hara.


“Yah … nggak ada yang tau kali. Lagi pula Taeil keliatan baik, perhatian, pokoknya ideal banget buat jadi boyfriend,” ucap Eunsun.


“Tapi sedih juga sih, hari ulang tahunnya sama dengan hari kematian ibunya …, huff … pasti selama ini dia sedih banget setiap kali ulang tahun.” ucap Eunsun merasa simpati dengan keadaan Taeil.


“Belum, tapi tadi aku beliin dia sup rumput laut instan di minimarket, terus kita makan siang disana … hehe,” ucap Hara yang terkekeh.


“Good job … kok tumben lo pinter sih!” ledek Eunsun sambil mengelus kepala Hara hanya hanya tertawa kecil.


“Ya udah, kita balik yuk! Gue ada janji sama mama gue.” ucap Hyerin.


***


Hara masuk ke dalam kamarnya setelah selesai makan malam dengan keluarganya di bawah. Ia harus segera kembali menyalin catatan pelajaran yang ia tinggalkan karena bolos tadi. Ia meminjam buku milik Eunsun.


Saat ia ingin memulai belajar, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari Taeil.


| Kamu lagi apa?


Segera Hara membalasnya.

__ADS_1


| Belajar,,


| Aku ada di depan rumah kamu, bisa keluar sebentar?


Seketika Hara langsung menjatuhkan ponsel karena terkejut akan pesan tersebut. Tanpa pikir panjang Hara langsung berlari keluar sebelum kedua orang tuanya tahu.


Saat Hara membuka gerbangnya — berjalan keluar — ia bingung karena tidak ada siapapun disana. Ternyata Taeil bukan berdiri di depan rumahnya melainkan di dekat pertigaan jalan menuju rumahnya. Dia berdiri dibawah lampu jalan sambil melambaikan tangannya. Segera Hara berlari menghampiri Taeil.


“Jangan lari …”


Tampaknya Taeil sudah telat untuk mengatakan lantaran Hara yang sudah berlari menghampirinya.


“Kenapa datang? Ada apa?” tanya Hara yang baru saja sampai di hadapan Taeil dengan nafas yang sedikit terengah-engah setelah berlari.


“Kenapa lari, nanti kalau jatuh gimana. Luka kamu saja belum sembuh …” ucap Taeil — khawatir dengan keadaan Hara karena dirinya.


“Nggak apa-apa, nggak terasa sakit kok. Kenapa datang kesini?” tanya Hara.


Sambil mengulurkan sekotak cake pada Hara yang sontak bingung.


“Apa ini? Cake? Kenapa kamu kasih aku cake? ‘Kan kamu yang ulang tahun,” ucap Hara heran namun tangannya tetap menerima pemberian itu.


“Sebagai ucapan maaf karena udah buat kamu jatuh dan terluka dan terima kasih buat hari ini, karena udah nemenin aku ke makam ibuku dan buatin sup rumput laut buat aku,” ucap Taeil.


“Kamu nggak ada sesuatu yang diinginkan? buat hadiah ulang tahun kamu,” ucap Hara.


“Hadiah …?”


Taeil mencoba memikirkan sesuatu.


“Nggak perlu hadiah. Cukup kita nonton film, bagaimana?” tanya Taeil.


“Oke, nanti biar aku yang traktir kamu,” ucap Hara.


“Aigo … lucunya,” ucap Taeil sambil mengelus lembut kepala Hara karena terlalu gemas dengan tingkah lucu Hara yang seperti anak kecil.


“Ya sudah, kalau begitu aku pulang ya …,” ucap Taeil.

__ADS_1


“Emm …, hati-hati dijalan!” ucap Hara sambil melambaikan tangan pada Taeil yang berjalan menjauh meninggalkannya.


Namun sebenarnya dari kejauhan, dibalik sebuah mobil terlihat Donghyuk yang sejak tadi melihat kedekatan Hara dengan Taeil. Dirinya yang berniat untuk memberikan obat untuk Hara tapi dirinya lagi-lagi terlambat satu langkah dari Taeil. Perasaan marah akan dirinya sendiri.


__ADS_2