Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Marahan


__ADS_3

“Kamu memangnya nggak berniat buat nikah sama aku?” tanya Donghyuk yang tiba-tiba ekspresinya berubah begitu serius membuat Hata terdiam.


“Kita bahkan sudah resmi pacaran. Tapi kamu kasih aku batasan, lalu apa bedanya saat kita cuman temanan?” tanya Donghyuk yang membuat Hara merasa bersalah mendengarnya dan melihat ekspresi wajah Donghyuk yang penuh kekecewaan.


“Tadi ‘kan aku bilang, kita bisa melakukannya pelan-pelan …,” jawab Hara yang membuat Donghyuk semakin kecewa.


“Aku akan mendengarkan apa saja yang kamu bilang, aku bisa menyukai apa yang kamu sukai dan aku akan menurutinya. Tapi … satu hal yang tidak aku suka, pelan-pelan. Aku sangat tidak suka sesuatu yang dilakukan dengan pelan-pelan, maka dari itu …” ucap Donghyuk yang mencoba memberikan sudut pandangnya pada Hara yang malah hanya terdiam merundukkan kepalanya.


“Aku mau pulang …,” ucap Hara dengan wajah yang sedang marah membuat Donghyuk perlahan melonggarkan rangkulan tangannya. Ia tidak percaya jika Hara yang seakan tidak menyukai pendapatnya dan tidak ingin mendengarkan pendapatnya.


Hara segera beranjak dari sofa saat tangan Donghyuk sudah melepasnya — mencoba untuk menahan emosinya melihat sikap Donghyuk yang membuatnya sedikit tertekan. Mengambil tas dan ponselnya — berjalan pergi meninggalkan Donghyuk yang sudah tidak bisa lagi berkata-kata.


Namun akal sehat dan rasa empatinya masih berpengaruh besar dibandingkan emosinya saat ini. Bagaimana bisa ia membiarkan wanita itu pergi sendirian di waktu tengah malam yang penuh dengan bahaya ini. Tanpa pikir panjang, Donghyuk langsung mengambil kunci mobilnya — mengejar Hara secepat mungkin.


Namun untungnya Donghyuk belum kehilangan Hara yang baru saja masuk ke dalam lift. Donghyuk bergegas untuk menahan lift tersebut agar pintu tidak tertutup. Kedua mata saling menatap, Donghyuk melihat kemarahan dan kekecewaan dari kedua mata Hara.

__ADS_1


“Biar aku antar kamu pulang,” ucap Donghyuk sambil berjalan masuk ke dalam walau Hara tidak meresponya.


***


Percekcokkan yang membuat suatu hubungan menjadi mendingin. Malam yang mungkin tidak mudah mereka lupakan walau disibukkan dengan pekerjaan. Menjalani hari-hari yang sibuk, walau dengan sesaat bisa melupakan emosi tersebut tapi saat semua menjadi hening, emosi yang tak selesaikan itu kembali datang pada Hara dan Donghyuk yang terus memikirkan apa yang salah dari mereka dan apa yang harus diselesaikan.


Donghyuk terus merenungkan kesalahannya. Kini ia sadar bahkan sikapnya malam itu benar-benar egois. Bahkan dirinya sendiri yang sudah sepakat untuk menjalankan hubungan yang pelan-pelan bersama Hara, tapi karena hawa nafsu ia menjadi lupa akan apa yang seharusnya sudah disepakati bersama. Namun apa salahnya jika dalam suatu hubungan memiliki sesuatu yang intens agar bisa saling memahami dan ada rasa kepercayaan akan sebuah cinta.


Hara berjalan menuju rumahnya di saat hari sudah malam. Sepanjang jalan ia memikirkan kejadian malam itu, dirinya yang memilih pergi tanpa memberikan kesempatan untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Dirinya hanya belum memiliki kesiapan dalam menjadi hubungan yang mendalam.


Tampaknya ia memiliki sebuah trauma setelah putus dengan Ha Myung yang membuatnya memiliki banyak ketakutan dan ketidaknyaman. Ini sungguh perasaan dan pikiran yang sangat rumit. Hara paham jika ini hanya sebuah kesalahpahaman, Tapi bagaimana ia memulainya kembali di saat dirinya yang melarikan diri malam itu.


Sudah hampir satu minggu mereka lost kontak. Tampaknya ego dan harga diri mereka begitu kuat satu sama lain hingga tidak memiliki keberanian untuk memulai menyelesaikan masalah. terlebih lagi keduanya begitu sibuk dengan pekerjaan. Hubungan ini sungguh tidak jelas arahnya. Saling rindu satu sama lain, tapi terlalu malu untuk memulai.


Di kedai malam yang buka hampir 24 jam di pinggiran jalan yang letaknya tak jauh dari apartemen. Rasa frustasi yang begitu membuat Donghyuk kesulitan untuk konsentrasi dan akhirnya memilih untuk meminum soju sendirian. Donghyuk bahkan sudah menghabiskan satu botol sendirian. Ia sudah setengah mabuk, bahkan untuk duduk saja sudah mulai kehilangan keseimbangannya.

__ADS_1


Tak lama seorang pria datang dengan wajah yang khawatir — duduk di hadapan Donghyuk. “Lo kenapa minum sendirian, anjir …?” tanya Jongin sambil menghela nafas melihat Donghyuk yang terlihat tidak baik-baik saja. “Tolong satu gelas kosong sama telor dadar …!” saut Jongin pada penjual.


Ia melihat Donghyuk yang menuangkan soju untuk dirinya sendiri, Jongin yang melihatnya langsung merampas botol soju di tangan Donghyuk. “Emangnya apa yang terjadi?” tanya Jongin sambil menungkannya untuk temannya itu.


Donghyuk meneguk langsung soju di dalam gelas kecil tersebut dan membanting gelas tersebut dengan cukup keras. Menghela nafas dalam — terdiam dalam pikiran yang berat. “Apa gue orang yang egois …?” tanya Donghyuk.


“Kenapa lo mikir gitu?” tanya Jongin.


“Apa dalam hubungan meminta sesuatu yang lebih itu salah? Karena gue terlalu suka dengan dia, sampai-sampai gue nggak bisa mengendalikan diri dan selalu menginginkan yang lebih, apa aku terlalu egois?” tanya Donghyuk.


“Hara nolak lo?” tanya Jongin.


“Oh. Tapi … dia minta gue buat pelan-pelan buat menjalankan hubungan ini. Bahkan saat gue tanya, ‘Apa lo nggak mau nikah sama gue nantinya?’. Terus dia jawab, ‘Aku mau pulang!’, dia bilang begitu. Kayaknya di dalam hubungan ini cuman gue yang sayang dan cinta sama dia. Apa gue masih cinta bertepuk sebelah tangan?” tanya Donghyuk.


“Nggak. Gue rasa Hara yang benar.” ucap Jongin yang membuat Donghyuk heran lantaran temannya lebih berpihak pada Hara.

__ADS_1


“Terkadang perempuan itu lebih berhati-hati, itu karena dia bukan karena dia nggak sayang atau nggak cinta sama lo, tapi seperti itulah cara dia mengekspresikan rasa sayangnya yang dia mau perasaan itu bertahan jauh … jauh … lebih lama. Yah … walaupun nggak semua wanita seperti itu. Gue juga nggak begitu kenal dengan Hara. Tapi lo sama Hara sudah berteman sampai belasan tahun, dari sana saja udah ada kasih sayang. Dan Hara sempat nolak lo karena apa? Karena dia takut dan khawatir rasa sayang yang dia udah simpan selama ini hanya karena kesalahpahaman seperti ini bisa hancur.” ujar Jongin membuat Donghyuk tertejun dalam pikirannya menelaah setiap perkataan Jongin.


__ADS_2