Cinta Itu Apa, Sih?

Cinta Itu Apa, Sih?
Kehidupan Menjadi Mahasiswa


__ADS_3

Setelah kami  melewati masa-masa sulit di SMA, kami masih melanjutkan perjalan hidup kami di dunia berikutnya. Kami masih mencari jati diri kami yang sebenarnya, terkadang kami masih bermain-main dan tidak memedulikan kenyataan, tapi kami juga terkadang mencoba untuk bersikap dewasa untuk menghadapi kenyataan.


Karena ingin mengejar cita-citaku, aku Han Hara. Melanjutkan pendidikanku perguruan tinggi di Seoul. Aku mengambil jurusan fashion design. Awalnya Ibu menentangku dan menyuruhku untuk masuk jurusan menegemen, tapi aku menolak keras, dan berusaha menyakinkan kepada Ibu dan Ayah kalau aku bisa sukses dalam bidang kesukaanku.


Begitu juga keempat temanku, Yongsoo dan Hyerin melanjutkan sekolah mereka di Universitas yang berbeda, Eunsun masih saja sibuk bekerja dan sambil mengambil kursus keahlian memasak, sedangkan Donghyuk pun melanjutkan sekolahnya di Universitas yang sama denganku. Yang lebih mengejutkan lagi, Donghyuk mengambil jurusan hukum, bahkan ia selalu mendapatkan nilai bagus dan membuatnya cukup terkenal dikalangan mahasiswa, walau tidak seterkenal itu.


Saat mereka mengetahui jika aku adalah teman baiknya Donghyuk, mereka mulai meminta bantuan padaku, entah itu menitipkan sesuatu untuk diberikan pada Donghyuk atau kencan buta. Walau merepotkan, tapi terkadang Donghyuk memberikan semua kado dari para gadis-gadis itu padaku jadi aku tidak keberatan.


Saat ini aku dan Donghyuk sedang menikmati makan di kantin, tapi Hara tidak bisa menikmati makan siangnya dengan tenang saat para gadis-gadis itu mencoba untuk memberikan hadian ulang tahun pada Donghyuk. Benar hari ini adalah hari ulang tahunnya.


Harta hanya bisa memandang sinis melihat kelakukan menyebalkan Donghyuk dan ia mencoba untuk menutup kuping dengan mendengarkan musik dan melanjutkan makan siang. Setelah memberikan semuanya, mereka pun satu-persatu pergi. 


“Hya!! Jangan dengerin musik kalau lagi makan!!” ucap Donghyuk sambil melepaskan salah satu earphone milik Hara yang sontak menatapnya dengan sinis.


“Jangan ganggu gue!” ucap Hara kesal.


“Lo marah? Kenapa?” tanya Donghyuk.


“Gue nggak keberatan kalau lo mau berinteraksi dengan mereka. Tapi bisakah, pas nggak ada gue. Lo tau! Bahkan tadi sedok gue jatuh gara-gara mereka!” omel Hara mencoba mengajukan protes.


“Iya gue paham. Jangan marah … nanti gue bakal kasih mereka jarak. Jangan dipikirin, makan …” ucap Donghyuk.


Arin bisa menghela nafas pasrah.


“Ngomong-ngomong, lo mau kado apa?” tanya Hara.


“Nggak ada. Lagi pula gue udah dapat banyak kado,” ucap Donghyuk membuat Hara sedikit kecewa karena tampaknya perlahan-lahan dirinya mulai tersingkirkan.

__ADS_1


“Cukup, traktir gue makan. Gimana kalau nanti malam?” tanya Donghyuk.


Hara diam-diam tersenyum saat mendengar Donghyuk yang tidak benar-benar melupakannya. “Oke.” jawab Hara.


***


Hara tampak sedang sibuk mengerjakan tugas di ruang studio. Ruangan dimana dipenuhi dengan mesin jahit, manekin, dan juga bahan-bahan kain yang tampak berserakan. Di meja kerjanya, Arin sedang membuat sebuah desain gaun yang harus dibuat untuk tugas bulanan. Menjadi anak fashion tidak mudah dibandingkan yang ia pikirkan saat ingin masuk jurusan fashion design. Namun dirinya telah salah, bahkan jika tidak memiliki ide saat sedang banyak tugas, Arin bisa tidak tidur 2 hari full di dalam studio tanpa mandi.


Setelah selesai menggambar Arin menutup buku sketsanya, ia baru sadar jika langit sudah tampak gelap dan waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ia langsung menyalakan ponselnya, saat sedang bekerja Hara selalu mematikan ponsel agar bisa lebih fokus. Kedua mata terbelalak saat melihat sebuah pesan dari Donghyuk yang tampaknya sudah menunggunya sejak tadi. Tanpa pikir panjang Arin langsung mengambil matel dan tasnya, berlari seperti orang gila — menyusul Donghyuk yang saat ini sudah berada di restoran tempat udon yang letaknya tak jauh dari kampus.


Arin berlari di malam musim dingin melewati banyaknya orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Hingga sampainya Hara di depan sebuah kedai udah yang masih terlihat begitu klasik khas Jepang. Sebuah restoran yang sering Hara dan Donghyuk kunjungi.


Saat Hara menggeser pintu, bersamaan dengan terdengarnya bunyi lonceng yang diletakkan di atas pintu, sehingga saat ada yang membuka pintu lonceng itu secara otomatis akan ikut berbunyi. Restoran yang tampak terlihat tenang dan jarang pengunjung, bukan karena makanannya tidak enak, mungkin karena letaknya yang begitu terpelosok membuat orang jarang mengetahuinya.


Kedua mata Hara melihat Donghyuk yang duduk di tempat biasa mereka duduk, di bangku yang menghadap langsung ke arah dapur dimana para pegawai sedang memasak setiap pesanan pengunjung.


“Maaf terlambat,” ucap Hara sambil duduk di samping Donghyuk yang sontak menoleh.


“Belum. Udah pesen?” tanya Hara.


“Belum. Nungguin lo,” ucap Donghyuk.


“Pesan yang biasa aja …,” ucap Hara.


“Permisi! Pak tolong Udon yang biasanya dua ya!” saut Donghyuk.


“Siap.”

__ADS_1


Bahkan pemilik disini sudah mengenal mereka berdua karena saking sering datang keresotoran hingga mereka sudah mengetahui apa yang di pesan tanpa menyebutkan apa pesanan mereka. Donghyuk menuangkan segelas air untuk Hara yang tampak kelelahan karena berlari. Donghyuk berusaha untuk tidak marah walau Hara terlambat.


Mereka menjadi lebih tenang saat sedang menikmati makan malam mereka. Hara tampak begitu lahap, karena lapar setelah menguras otaknya menggambar sketsa baju untuk tugasnya.


“Pelan-pelan makanya,” ucap Donghyuk yang khawatir melihat Hara.


“Gue laper … hehe,” ucap Hara — terkekeh malu.


“Mau pesan lagi?” tanya Donghyuk.


“Nggak perlu, nanti gue gendut,” tolak Hara.


“Emang kenapa sih? Tambah juga nggak bakal merubah apapun,” ucap Donghyuk. Memang terdengar menyebalkan, tapi itu rasa dia menunjukkan kekhawatirannya pada Hara yang belakangan ini berusaha untuk diet karena sedang dekat dengan seseorang.


“Cih! Gue itu lagi menjalankan hidup sehat, bukan mau diet ekstrim,” ucap Arin mencoba membela dirinya tapi tidak dihiraukan Donghyuk. Namun tiba-tiba Hara teringat sesuatu yang ia lupakan. “Ah! Gue lupa, hadiah punya lo ketinggalan di studio,” ucap Hara.


“Hadiah?”.


“Eung! Hadiah. Ya udah nanti kita balik ke studio ya, habis makan,” ucap Hara.


“Besok aja sih … lo udah kelihatan capek,” ucap Donghyuk.


“Nggak kok, siapa yang capek … kalau lo nggak mau, yaudah gue ambil sendiri, lo tunggu di sini sampai gue datang. Gimana?” tanya Hara.


“Kita ambil bareng.” ucap Donghyuk yang akhirnya mengalah, walau sebenarnya ia hanya ingin Hara langsung pulang agar bisa beristirahat. Ia tahu jika belakangan ini Hara jadi jarang tidur, terlebih lagi dia mengurangi porsi makan. Khawatir saat dirinya tidak ada, terjadi sesuatu pada Hara.


“Nah … gitu dong!” ucap Hara yang kemudian kembali melanjutkan makannya.

__ADS_1


“Cuaca diluar lagi dingin. Bisa nggak pake baju yang lebih hangat. Kalau lo mati kedinginan gimana?” ucap Donghyuk tiba-tiba mengomel — mengalihkan pembicaraan.


“Kenapa tiba-tiba malah bahas baju sih! Nggak jelas!” kesal Hara mencoba mengabaikan celotehan Donghyuk yang suka bersikap aneh belakangan ini padanya.


__ADS_2