
“EH?! Nggak bisa …?” Hara bingung dengan ucapan Donghyuk dan membuatnya langsung mengambil ponselnya. Benar saja ternyata ponselnya mati entah sejak kapan. “Iya … aku nggak sadar kalau mati.”
“Dasar! Bikin orang panik tau nggak? Lagian ngapain sih malah nunggu!! Kalau nggak dia nggak dateng seharusnya lo langsung pulang!!” ujar Donghyuk dengan nada yang penuh emosi.
“Tapi gimana lo bisa tau?” tanya Hara.
Namun Donghyuk hanya diam dan menatap penuh kesal karena khawatir.
“Ayo, pergi! Ini udah malam …,” ajak Donghyuk sambil meraih tangan Hara hanya terdiam.
“Gue lapar …” ucap Hara.
***
Di depan sebuah minimarket 24 jam. Mereka duduk di bangku yang disediakan oleh minimarket sambil menunggu mie cup yang dibuatkan oleh Donghyuk.
“Udah matang mienya, cepat makan lalu pulang!” ucap Donghyuk sambil memberikan sumpit yang sudah dibelah dua olehnya.
“Iya ..”
Hara hanya bisa menuruti perkataan Donghyuk. Sambil meniup mie yang masih panas. “Huff… huff …” kemudian Hara melihatnya secara perlahan. Saat suapan pertama nafsu makan hara mulai meningkat dan ia mulai menikmati mie ramen tersenyum dengan lahap.
“Pelan-pelan saja, nanti tersedak …,” ucap Donghyuk penuh perhatian sambil memberikan Hara sebotol minum. Menatap Hara dengan penuh rasa kesal tapi ia juga merasa khawatir melihat Hara yang menunggu sendirian hingga hampir tengah malam seperti orang bodoh. Apa jadinya jika dirinya tidak segera menyusul Hara.
“Tapi … gimana lo bisa tau gue lagi di luar?” tanya Hara.
“Taeil kirim pesan sama gue,” ucap Donghyuk.
“Apa? Tapi kenapa dia nggak menghubungi gue?” tanya Hara heran.
“Ya karena hp lo mati, dia udah nelpon lo tapi nggak bisa, dasar bodoh!!” ucap Donghyuk yang masih terbawa emosi.
“Cih … dia itu memangnya kemana sih?! Kenapa tiba-tiba nggak dateng, padahal di yang ngajak …” ucap Hara menggerutu kesal.
“Gue juga nggak tau apa yang terjadi sama dia, gue cuman disuruh buat jemput lo …,” ucap Donghyuk.
__ADS_1
Mereka kembali terdiam setelah beradu mulut. Karena merasa haus, Donghyuk beranjak dari bangkunya — pergi untuk membeli air.
“Donghyuk …!” sahut Hara dengan nada yang memelas sontak membuat Donghyuk menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Apa ..?”
“Tolong buatin satu ramen lagi …” ucap Hara dengan wajah memelas seperti anak kucing yang kelaparan.
“Iya …,”
Sektika Hara langsung tersenyum memandangi Donghyuk yang berjalan masuk ke dalam minimarket.
Setelah beberapa menit, Hara sudah menghabiskan dua cup mie ramen dan dua kaleng soda yang ia habisnya dengan cepat. “Wahhh .. kenyangnya perutku ….” ucap Hara sambil bersandar dibangku lantaran ia sangat merasa kekeyangan.
“Hya! Dadan lo kecil tapi makannya banyak sekali ...” ucap Donghyuk yang membuat Hara merasa kesal, dan langsung memberikan tatapan sinis pada Donghyuk.
“Emang kenapa …? Kalau badan kecil nggak boleh makan banyak?” ucap Hara mencoba mempertahankan harga dirinya. Kemudian ia yang teringat sesuatu. “Oh ya, aku lupa! Ini ...” sambil memberikan uang untuk mengganti uang Donghyuk yang terpakai olehnya untuk membeli ramen.
“Terima kasih, karena sudah buatkan aku ramen …” ucap Hara.
Donghyuk terdiam sambil menatap heran ke arah Hara. “Iya …” ucap Donghyuk sambil menerima uang tersebut walau sesungguh ia sama sekali tidak keberatan.
***
Sesampainya Hara di dalam kelas yang tampak begitu ramai. Langkah kakinya berhenti saat melihat meja Taeil yang masih kosong, itu berarti Taeil belum datang ke sekolah. Tidak seperti biasanya, Taeil selalu datang lebih dulu dibandingkan dirinya, membuat Hara bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Taeil.
Berjalan menghampiri ketiga temannya yang sedang mengobrol. “Good morning …” sapa Hara sambil duduk dibangkunya. “Tumben pada dateng pagi …” ucap Hara.
“Lo nya aja yang kesiangan …” celetus Hyerin membuat Hara hanya terkekeh.
“Taeil belum datang?” tanya Hara.
“Kayaknya belum …” ucap Eunsun sambil menoleh ke belakang. “Iya juga ya … biasanya dia datang lebih dulu daripada kita, kemana dia jam segini belum datang …” ucap Eunsun sambil kembali membalikkan badannya.
Bel masuk berbunyi, para murid bergegas duduk di bangku masing-masing saat Guru Han masuk ke dalam kelas. “PAGI SEMUA …!!”
__ADS_1
“PAGI PAK …!!”
“Kenapa suaranya lemes banget? Masih pagi harus semangat dong!! Bapak absen dulu ya …” ucapnya yang kemudian mulai menyebutkan satu persatu nama murid-muridnya.
“Taeil …!! Ah … saya lupa. Hari ini sampai sekitar beberapa ke depan, Taeil nggak masuk sekolah karena dia harus pergi ke Amerika … jadi tolong bilang ke guru yang lain ya …” ucapnya.
Sontak hal itu membuat Hara terhenyak kaget mendengar. Kini ia mengetahui alasan kenapa malam itu Taeil tidak datang dan tidak bisa di hubungi. Itu karena Taeil pergi ke Amerika. Perasaan bersalah mulai membuat Hara terdiam dengan raut wajah sedih. Hara mulai merasa khawatir akan keadaan Taeil saat ini, entah apa yang terjadi disana hingga membuat Taeil tiba-tiba pergi tanpa sempat memberitahukannya.
***
“Pantas saja … dia tadi nggak datang, ternyata sekarang dia di America.” ucap Eunsun yang memulai pembicaraan saat mereka dengan menikmati makan siang di kantin.
“Tapi … kira-kira kenapa ya … apa ada masalah penting sampai dia izin seminggu?” tanya Yongsoo.
Hara hanya terdiam mendengarkan pembicaraan teman-temannya. Bahkan ia merasa tidak nafsu makan karena mengkhawatirkan Taeil. Tidak ada yang menyadari hal itu kecuali Donghyuk yang terus memperhatikan Hara yang terus saja murung dan bahkan tidak sedikit pun menyentuh makan siangnya.
“Kenapa nggak di makan …?” tanya Donghyuk sontak membuat semua mata tertuju pada Hara yang langsung tersadar.
“Kenapa …? Lo sakit?” tanay Eunsun.
“Iya … nggak biasanya, ini ‘kan menu kesukaan lo,” ucap Hyerin.
“Nggak apa-apa kok …” uca Hara mencoba untuk tetap tersenyum dan melahap sesuap nasi agar teman-temannya tidak merasa khawatir akan apa yang ia pikirkan saat ini.
***
Di depan kelas, Hara menatap ke arah jendela dengan tatapan melamun seorang diri. Setelah selesai makan, ia kembali ke kelas disaat teman-teman main ke kelas lain. Hara masih memikirkan keadaan Taeil, bahkan ia kembali mencoba menghubungi Taeil atau mengirimkan pesan. Namun tidak ada satupun balasan yang ia terima.
Dari kejauhan, Donghyuk melihat Hara yang tampak melamun di pinggir jendela koridor seorang diri. Ia berjalan menghampiri Hara sambil membawa sekotak susu coklat untuk ia berikan pada Hara yang mungkin saja bisa membantu memulihkan mood gadis itu.
“Kenapa bengong …?” tanay Donghyuk sontak mengejutkan Hara.
“Ahh … enggak kok,” elak Hara.
“Ini … minum,” ucap Donghyuk sambil mengulurkan susu coklat pada Hara yang kemudian menerimanya.
__ADS_1
“Nggak usah terlalu khawatir. Dia pasti punya alasan sendiri kenapa nggak kasih kabar …” ucap Donghyuk.
“Semoga saja …”.